Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Tengah. Tampilkan semua postingan

KPK Didesak Usut Bupati Pulang Pisau

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak segera mengusut kasus dugaan korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh Bupati Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng), Achmad Amur. Koordinator Barisan Muda Anti Korupsi (Brantas) Iwan Dwilaksono mengatakan, laporan dugaan korupsi tersebut sudah dilayangkan dua kali ke KPK. Namun sejauh ini belum juga ada tanggapan dari KPK.

"Kita sudah dua kali melaporkan kasus ini ke KPK, yakni tanggal 13 Mei 2008 dan 23 Mei 2008. Karena itu kita mendesak KPK mengusut dugaan kasus tersebut," kata Iwan usai memimpin demonstrasi di Gedung KPK, kemarin.

Dia menambahkan, dokumen yang dilayangkan ke KPK itu diperkuat dengan surat hasil pemeriksaan khusus Tim Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) Kalteng bernomor 700/11/LHP-2005/BPD. Selain itu, surat Gubernur Kalteng kepada Bupati Pulang Pisau tertanggal 29 Agustus 2005 menguatkan hal itu.

"Kita juga melampiri laporan dengan temuan BPK RI kwartal pertama tahun 2007 Provinsi Kalteng," ucapnya.

Beberapa penyimpangan yang diduga melibatkan Achmad Amur di antaranya; pembangunan kantor Bupati dan Gedung DPRD Kabupaten Pulang Pisau. Proyek tersebut diduga merugikan negara sebesar Rp4 miliar. Achmad Amur juga diduga melakukan penyelewengan anggaran belanja bantuan untuk Lembaga Keuangan Keagamaan (LKK) sebesar Rp3,6 miliar. Penyelewengan juga diduga terjadi pada belanja bantuan keuangan tahun anggaran 2006 pada Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pulang Pisau yang tidak sesuai dengan ketentuan sebesar Rp1,5 miliar. Selain itu, dia juga diduga menyelewengkan dana proyek pengembangan tambak rakyat di Desa Papuyu III, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau yang menelan dana Rp23 miliar. (Ahmad Baidowi/Sindo/sis)

Sumber : http://news.okezone.com Jumat, 30 Mei 2008

KPK Kunker ke Kapuas

Wakil Ketua Bidang Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Dr. Mochammad Yasin melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kapuas, Rabu (16/4) pagi. Didampingi Bupati Kapuas Ir. HM Mawardi MM dan Wakil Bupati Kapuas Suraria Nahan Dpl ATP ST serta ketua DPRD Kapuas Iber H Nahason SE, Mochammad Yasin dan Deputi Bidang Akuntanbilitas Kementerian Pelayanan Aparatur Negara Ir. Heriyana M.Si dan rombongan meninjau sarana pelayanan publik di Kapuas.

Sarana pelayanan publik yang ditinjau masing-masing Kantor samsat, RSUD Dr. H Somarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, Unit Pelaksana Dinas Pendapatan Daerah/kantor bersama Samsat dan Unit Pelayanan Perizinan Terpadu (UPPT).

Dalam kunjungannya, rombongan dipimpin Muhammad Yamin sempat melakukan dialog dengan para petugas UPPT tentang bagaimana pelayanan perizinan, lama waktu memberikan pelayanan dan besarnya biaya administrasi dalam mengurus perizinan.

Bupati Kapuas Ir. HM Mawardi MM mengatakan, kunjungan wakil ketua bidang pencegahan KPK RI beserta rombongan ke Kabupaten Kapuas bertujuan meninjau sarana pelayanan publik dalam rangka kegiatan evaluasi pelaksanaan Good Governance di Kabupaten Kapuas.

“Sebagaimana saya laporkan pada rapat evaluasi pelaksanaan Good Governance di Palangka Raya tanggal 15 April 2008, Pemkab Kapuas telah menerapkan tujuh program Good Governance dijajaran Pemkab Kapuas dengan berbagai kegiatan,” kata Mawardi dalam sambutan pada acara kunjungan kerja tersebut di Aula BPPPMD Kapuas, Rabu (16/4) siang.

Dikatakannya, kegiatan tersebut meliputi bidang peningkatan kapasitas pemerintah daerah, bidang penerapan pengelolaan anggaran berbasis kinerja, bidang peningkatan pelayanan sektor publik, bidang pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan korupsi dalam pengadaan barang dan jasa, bidang pengembangan dan pelaksanaan peningkatan kemampuan teknis aparatur, bidang kesadaran anti korupsi di jajaran aparatur Pemda dan masyarakat, bidang pengembangan mekanisme dan penanganan pengaduan masyarakat serta peningkatan kapasitas dan kualitas kinerja auditor.

“Upaya-upaya perbaikan yang dilakukan melaksanakan evaluasi terhadap program yang telah dilaksanakan, melanjutkan dan memantapkan hal-hal yang telah berjalan serta memperbaiki hal-hal yang belum sempurna untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan tugas serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” kata Mawardi.

Dengan kunjungan tersebut, Bupati berharap masukan berupa saran dan pendapat dalam perbaikan dan penyempurnaan pelayanan publik yang dilaksanakan ketiga pelayanan publik, sehingga terwujud pelayanan publik berkualitas sesuai tuntutan masyarakat.***

Sumber : Kalteng Pos, 17 April 2008

Korupsi, Kepala Bappeda Katingan Ditahan

Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah (Kalteng) menahan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Katingan, Supardi DJ Nihin, atas tuduhan korupsi pada Sekretariat DPRD Katingan tahun anggaran 2003-2004.

Tersangka yang masih mengenakan seragam PNS dibawa petugas Kejaksaan ke Rumah Tahanan kelas IIA Palangka Raya, Rabu (23/4) sekitar pukul 15.00 WIB, usai menjalani pemeriksaan selama lima jam di Kantor Kejati Kalteng.

"Supardi DJ Nihin ditahan karena diduga terlibat dalam perkara korupsi tunjangan kesehatan anggota dewan yang dilakukan saat masih menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Katingan," kata Asisten Kejati Kalteng, Didik Supardi.

Saat dibawa memasuki mobil tahanan, Supardi sama sekali tidak nampak gelisah, bahkan sesekali tertawa sambil berbisik pada jaksa penyidik yang mengawalnya.

Tersangka ditahan dengan Surat Penahanan Nomor PRINT-212/Q.2/Fd.1/04/2008, yang ditandatangani oleh Kepala Kejati Kalteng Daniel Tombe Marrung, terhitung tanggal 23 April 2008.

Dakwaan primer terhadap tersangka didasarkan pada Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999.

Didik mengakui, kasus tersebut sempat mengendap selama hampir empat tahun sebelum dilakukan penahanan terhadap tersangka. Tersangka juga sempat diperiksa pada tanggal 10 Juli 2006 dan 26 Agustus 2006 lalu.

Sementara tersangka lain, yakni mantan Ketua DPRD Katingan, Berkat Setiawan, sebelumnya juga telah divonis penjara oleh pengadilan dalam kasus serupa.

Dalam perkara korupsi yang melibatkan tersangka itu, negara diperkirakan mengalami kerugian sebesar Rp 1.529.710.000.

"Kemungkinan masih akan ada tersangka lain yang menyusul," kata Didik.

Tersangka, bersama sejumlah pihak lain, diduga menyalahgunakan uang tunjangan kesehatan anggota dewan yang duduk di DPRD Katingan periode 2004-2009 dalam bentuk asuransi, hanya untuk kepentingan pribadi.

Penahanan tersangka dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan lanjutan, dan menghindari kemungkinan penghilangan alat bukti atau melarikan diri. Masa penahanan awal ditetapkan selama 20 hari, yang dapat diperpanjang. (kpl/rif)

Sumber : http://www.kapanlagi.com Rabu, 23 April 2008

HUT Kapuas, Pemkab Gelar Budaya Tingang Menteng Panunjung Tarung

Kualakapuas, Kalteng - Memeriahkan Hari Jadi ke-211 Kota Kualakapuas dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Pemerintah Kabupaten Kapuas, serta melakukan pembinaan dan menumbuhkembangkan daya cipta kreatifitas para pelaku seni dan seniman dalam berkarya terlebih untuk melestarikan dan memperkaya budaya bangsa dalam hal ini budaya daerah, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga rencananya menggelar Festival Budaya Tingang Menteng Panunjung Tarung.

Adapun maksud dan tujuan dari diadakan festival ini, menurut Kepala Dinas Kebpora, Tatang Lesmana melalui Bidang Kebudayaannya, Saudara Gawang, Jumat (3/3/2017), adalah untuk mengembangkan apresiasi seni masyarakat, pelaku seni dan para penikmat seni untuk lebih mengenal dan membangun budaya yang bermartabat.

Setidaknya, dengan kegiatan dimaksud dapat memberikan kesempatan kepada para sanggar-sanggar seni yang ada di Kapuas untuk dapat berkompetisi dan sudah barang tentu akan dapat lebih mempopolerkan seni budaya di kalangan masyarakat luas termasuk sekolah sanggar dan lingkungan keluarga.

Kirab Budaya Pemuda Nusantara "Diwarnai" Hujan Lebat

Palangka Raya, Kalteng - Acara Kirab Budaya Pemuda Nusantara yang dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi di kawasan Bundaran Besar, Kota Palangka Raya, Kamis diwarnai hujan lebat mengguyur ibu kota provinsi Kalimantan Tengah itu.

"Alhamdulillah hujan sudah mulai turun. Jangan khawatir, ini adalah hujan berkah dan sekaligus ini adalah cara tuhan menyambut wakil-wakil terhebat dari 34 provinsi se-tanah air," kata Menpora menyemangati peserta kirab pemuda tersebut.

Imam mengajak peserta pawai serta masyarakat yang menyaksikan menjadikan acara kirab sarana memperkokoh pertatuan dan kesatuan di tengah perbedaan di Indonesia.

"Melalui acara ini, agar rasa ke-Indonesiaan semakin kokoh dan kuat agar tidak mudah terpecah belah, oleh isu-isu murahan, oleh isu politik," katanya.

Gubenur Sugianto Sabran yang mendampingi Menpora juga mengajak pemuda di seluruh Indonesia dan di Kalimantan Tengah khususnya untuk bersatu berperang melawan narkoba.

"Karena narkoba akan merusak masa depan bangsa, merusak generasi muda penerus Indonesia dan terus mengerogoti apa yang kita miliki. Untuk itu, mari bersama-sama kita memberantas narkoba. Pemerintah Kalimantan Tengah pun berkomitmen untuk itu," katanya.

Dia mewacanakan menjadikan acara Kirab Budaya Pemuda sebagai acara rutin Kalimantan Tengah.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, hujan yang mengguyur lokasi pelepasan peserta kirab membuat sejumlah warga yang menyaksikan acara mencari tempat berteduh.

Meski demikian, keadaan itu tidak mengendurkan semangat peserta kirab untuk memberikan penampilan terbaiknya. Sejumlah warga lain pun tetap terlihat tidak beranjak dari posisinya meski hujan bertambah lebat.

Begitupun, jumlah warga yang menyaksikan pergelaran tingkat nasional tersebut tidak seramai acara serupa tingkat provinsi seperti pada Festifal Budaya Isen Mulang dan pada acara Festival Palangka Fair.

Warga Palangka Raya pun menyayangkan pergelaran Kirab Budaya Pemuda Nusantara yang diikuti pemuda dari 34 provinsi di Indonesia tersebut sepi pengunjung.

"Saya tidak tahu jika ada acara ini. Saya ke sini diajak teman. Sangat disayangkan acara setingkat nasional ini tidak dipromosikan dengan maksimal. Saya pun merasa promosi yang dilakukan pemerintah kurang karena kita bisa liat penontonnya pun tidak serame ivent lokal kita," katanya.

Dia berharap pemerintah dapat menggencarkan promosi setiap kegiatan yang dilakukan apalagi yang bertaraf nasional.

Pertahankan Keragaman Budaya Lewat Festival Keraton Nusantara 2016

Kutawaringin, Kalteng - Penyelenggaraan Festival Keraton Nusatara (FKN) X 2016 sebagai upaya mempertahankan kebhinekaan dan keragaman budaya bangsa. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dikalangan kerajaan dan kesultanan Nusantara menjadi sarana menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Perpecahan dan silang pendapat dikalangan para elit politik terus terjadi tiada henti mengakibatkan rakyat menjadi korban. Kondisi tersebut musti diselamatkan dan diharapkan pelaksanaan FKN tahun ini memberikan penyadaran bagi kita semua untuk tetap menjaga kebhinekaan dan keragaman budaya bangsa sebagai sarana mempersatu bangsa dan negara kita,” ujar Menteri Luar Kesultanan Kutawaringin Pangkalan Bun, Pangeran Muasdjidinsjah, selaku Ketua Pelaksana FKN X 2016, Senin (10/10/2016) petang di Istana Inderasari Keraton Lawang Kuning, Bukit Indera Kencana, Pangkalan Bun, Kutawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Perhelatan FKN yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali, menurut Muasdjidinsjah, menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan dikalangan raja dan kesultanan diseluruh Indonesia maupun negara serumpun (Melayu). Melalui FKN pula, berbagai informasi tentang segala hal dalam mempertahankan budaya kerajaan dan kesultanan yang semakin tersisihkan dunia politik dapat dipertahankan.

Sementara Sekjen Forum Komunikasi Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN), GR Kanjeng Ratu Wandansari, mengatakan FKN X 2016 yang dipusatkan di Istana Kuning dan Lapangan Sampuraga, Pangkalan Bun, Kutawaringin Barat, Kalimantan Tengah diikuti 43 kerajaan dan kesultanan dari seluruh Indonesia, juga kesultanan negara serumpun dari Singapura dan Malaysia.

“Pelaksanaan FKN ke 10 tahun (2016) ini dianggap sebagai ajang membangkitkan semangat kebinekaan atau keberagaman budaya bangsa, karena dalam perhelatan ini terdapat beragam budaya dari masing-masing kerajaan atau kesultanan yang dibingkai dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tengah didera berbagai permasalahan perpolitikan,”: ujar Wandasari.

Pelaksanaan FKN X 2016 tanpa dihadiri pihak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ataupun badan dan lembaga yang mewakili. Bahkan Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran yang sedianya membuka diwakili Asissten I, Ketut Widi Wirawan.

Perhelatan FKN X 2016 dimulai dengan Kirab Pasukan Kerajaan dari 43 peserta pada pukul 15.00 WIB yang dilepas langsung Sultan Kutaringin XV Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, dari Lapangan Sampuraga. Dari Lapangan Sampuraga Kirab Pasukan Kerajaan menyusuri Jalan Sutan Syahrir, Hasanuddin dan Jalan Pangeran Antasari, untuk kemudianberakhir di Lapangan Tugu Taman Istana Kuning.

Pada FKN X 2016 Jawa Barat dipimpin Ketua Delegasi Wahyu Iskandar, membawa perwakilan dari Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan dan Keprabonan. “Tahun ini kita melihat dan mempelajari apa-apa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan (FKN), karena tahun depan (2017) Jawa Barat yang akan menjadi tuan rumah,” ujar Wahyu Iskandar yang juga menjabat Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

Festival IMBT Mesti Dilestarikan

Muara Teweh, Kalteng - Anggota DPRD Kabupaten Batara, Henny Rosgiaty Rusli SP MM turut menyaksikan sejumlah pertunjukan festival budaya Iya Mulik Bengkan Turan (IMBT). Anggota Komisi B ini mengharapkan festival semacam itu menjadi sebuah even yang dilestarikan.

“Kegiatan tersebut dapat menggali, memasyarakatkan, mengembangkan serta melestarikan seni budaya tradisional Kabupaten Batara,” terang Henny, baru-baru ini. Anggota dewan dari daerah pemilihan (Dapil) I itu, menyambut baik terhadap penyelenggaraan festival budaya IMBT.

Henny mengutarakan, Kabupaten Batara memiliki keanekaragaman suku, adat istiadat, bahasa dan budaya. Lalu kekayaan khazanah seni budaya tradisional tersebut, hendaknya dapat menjadi suatu kebanggaan dan potensi yang mendukung didlaam pembentukan etika, budaya dan moral mayarakat Batara.

Kadisbudparpora Batara Ir Inriaty Karawaheni MAP disela festival menyampaikan, banyak olahraga tradisional yang dipertandingan. “Tujuan penyelenggaraan kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke 66 Kabupaten Batara,” ucapnya.

Selain itu, melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisonal yang ada di wilayah Batara, serta menumbuhkembangkan dan memerlihara rasa persaudaraan diantara peserta.

Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan

Muara Teweh, Kalteng - Bupati Barito Utara (Batara) H Nadalsyah membuka secara resmi Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan (FBIMBT) tahun 2016. Festival diikuti sembilan kecamatan se Kabupaten Batara. Festival diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke 66 Kabupaten Batara, di Lapangan Hijau Muara Teweh, Kamis (21/7).

Nadalsyah mengutarakan, FBIMBT setiap tahun rutin diadakan. Dia berharap kegiatan ini dapat menjadi sebuah event untuk menggali, memasyarakatkan, mengembangkan dan melestarikan seni budaya tradisional yang dimiliki.

Lebih lanjut, diutarakan bupati, kabupaten dengan motto Iya Mulik Bengkang Turan ini, memiliki keanekaragaman suku, adat istiadat, bahasa dan budaya daerah. Kekayaan khasanah seni budaya tradisional tersebut tentunya dapat menjadi suatu kebanggaan dan potensi, yang mendukung berbagai seni budaya tradisional, yang memiliki ciri khas tersendiri dalam pembentukan etika, budaya dan moral bagi masyarakat Batara.

“Diharapkan kebanggaan dan kecintaan terhadap seni budaya tradisional ini, akan dapat memupuk dan memelihara sikap nasionalisme yang dilandasi semangat Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI yang tercinta,” tuturnya.

Dia berharap, kepada seluruh masyarakat Batara dan peserta FBIMBT tahun 2016, agar bersama-sama mensukseskan serta mendukung kegiatan ini. Menciptakan suasana aman, kondusif dan tertib didalam pelaksanaannya agar seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan baik.

Warga Padati Halaman Museum Balanga Saksikan Festival Budaya

Palangkaraya, Kalteng - Ratusan warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah , maupun turis asing dan warga Indonesia dari berbagai provinsi, Kamis (19/5/2016) ramai berkumpul di Halaman Museum Balanga, Jalan Tjilik Riwut Palangkaraya.

Kedatangan, mereka ke lokasi tersebut, karena ditempat tersebut digelar berbagai macam kegiatan seni dan budaya lokal Kalimantan Tengah, seperti, kegiatan kesenian dan budaya.

"Ada tradisi maneweng, manetek, main balugu, bagasing dan lainnya, sehingga memang menarik untuk disaksikan, karena kegiatan semacam ini, hanya setahun sekali dilakukan." sebut Munawir, salah satu penonton kegiatan seni dan budaya khas Kalteng di Museum tersebut.

Tarian dan Pakaian Khas Dayak Jadi Magnet Festival Budaya Isen Mulang

Palangkaraya, Kalteng - Suasana kawasan Bundaran Besar Palangkaraya Kalimantan Tengah, Rabu (18/5/2016) semarak.

Ribuan warga Kalimantan Tengah tumplek disepanjang jalan lokasi pawai budaya.

Jalan yang dilalui rombongan karnaval budaya dengan pakaian khas adat dayak Kalteng ini dipenuhi para penonton yang ingin menyaksikan event tahunan yang sudah masuk dalam kalender budaya nasional ini.

Kegiatan pawai budaya tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan untuk Festival Budaya Isen Mulang tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

Kegiatan pembukaan tersebut secara resmi dibuka oleh Pj Gubernur Kalimantan Tengah, Hadi Prabowo, Rabu (18/5/2016) siang menjelang sore.

Persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut sudah terlihat dengan dibangunnya tenda untuk kegiatan pawai budaya di Kawasan Bundaran Besar Palangkaraya, Selasa (17/5/2016) kemarin.

Festival Budaya Isen Mulang dimulai tanggal 18-21 Mei 2016 di Kota Cantik Palangkaraya.

Kegiatan Festival budaya ini merupakan upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah ini, sehingga tidak pupus ditelan zaman.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan dalam setiap tahunnya di antaranya menggelar berbagai event budaya, seperti Lomba Balogo, Lomba Manewang, Manetek, Manyila Kayu, Lomba Lagu Budaya Karungut, Sepak Sawut, Besei Kambe dan lainnya.

Event budaya tersebut akan dilaksanakan di sejumlah tempat di Palangkaraya, yakni Sungai Kahayan tepatnya di bawah Jembatan Kahayan, Lingkungan Museum Balanga, ‎Lapangan Temanggung Tilung yang akan diikuti oleh 13 Kabupaten dan satu Kota se Kalimantan Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Yuel Tanggara, mengatajan, perayaan tahun ini dilaksanakan cukup meriah yang dihadiri bukan hanya warga lokal tetapi banyak juga turis asing.

"Kegiatan ini, diikuti kabupaten dan kota di Kalteng mereka mengirimkan perwakilannya untuk memeriahkan festival ini." katanya.

Ritual Adat dan Hukum Positif Perlu Dipertahankan

Tamiang Layang, Kalteng - Konsep ritual adat dan hukum positif perlu keselarasan. Pasalnya, selama ini proses ritual adat Hindu Kaharingan kerap menjadi kontroversi.

Hal ini berkenaan dengan permainan dadu gurak , sabung ayam yang kerap kali dilaksanakan mengatas namakan Adat. Namun, ketika ditinjau dari segi budaya dan kepercayaan merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari ritual adat, tetapi dipandang dari hukum positif, mengandung unsur perjudian.

Menurut anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Barito Timur, Undriu Ngubel, di Tamiang Layang, Senin(21/3), menilai perbedaan persepsi ini memang diperlukan kearifan dan kebijaksanaan karena kerap menjadi polemik dilingkungan masyarakat.

Ia mencontohkan salah satu Adat yang memang resmi ada kegiatan judi yakni pada saat Mia Misaya atau Marabia Wara.

“Pada dasarnya kita memahami penjelasan tokoh adat yang menyatakan dadu adalah permainan untuk mengantarkan roh menuju tempat peristirahatannya. Disisi lain kami juga mengerti bahwa di mata hukum, dadu gurak, dadu pusing dan sabung ayam dianggap mengandung unsur perjudian,” ungkap Undriu pada saat menghadiri acara Mia Misaya di Desa Karang Langit Kecamatan Dusun Timur, pekan kemaren.

Diakuinya, ada unsur dilematis dari perbedaan persepsi tersebut, yaitu ritual kepercayaan bahwa roh tidak akan sampai ke surga tanpa adanya permainan tersebut. Pada dasarnya yang berkenaan dengan ritual keyakinan agama, dan tentu dilindungi pemenuhan haknya oleh negara.

Namun, paling tidak pihak tokoh adat hendaknyaa meninjau lebih jauh sebelum memberikan izin ritual, dan memang sesuai dengan pemenuhan kepercayaan, sehingga tidak ada kemungkinan ditunggangi kepentingan oknum tertentu.

Tetapi hendaknya, suatu kegiatan tersebut harus difahami dengan mengkaji, serta mempertimbangkan kebenaran pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Pada prinsipnya upacara ritual Hindu Kaharingan kerap identik dengan permainan judi. Akan tetapi tidak semuanya seperti itu. Namun hendaknya, hal itu dipahami bersama sebagai sebuah prosesi yang dianut pemeluk kepercayaan di kabupaten. Karna semuanya ini merupakan warisan budaya secara turun temurun dari para pendahulu kita,’’ kata Undriu Ngubel lagi.

Tari Kolosal Akan Meriahkan Festival Gerhana Matahari di Palangkaraya

Palangkaraya, Kalteng - Tari kolosal yang diikuti oleh 150 penari dan pemusik akan memeriahkan pagelaran Festival Gerhana Matahari Total di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada Maret mendatang. Gerhana Matahari Total sendiri akan berlangsung pada 9 Maret 2016.

Rangkaian kegiatan seni dan budaya tradisional Dayak digelar untuk menarik minat wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Sajian tari kolosal berjudul Nantilang Dahyang Jangkarang Matan Andau itu rencananya akan ditampilkan di Stadion Sanaman Mantikei, Palangkaraya pada Selasa (8/3/2016) malam atau satu hari sebelum gerhana matahari total terjadi di Palangkaraya.

“Nantilang Dahyang Jangkarang Matan Andau artinya menghindarkan segala petaka atau bahaya,” kata Chendana Putra Syaer Sua koreografer tari kolasal itu, di Palangkaraya, Jumat (19/2/2016).

Tarian itu didukung oleh sanggar seni Palangka Hadurut, Tut Wuri Handayani, Tunjung Nyaho, Darung Tingang, Tanjung Riak Bulan, Betang Batarung, Riak Renteng Tingang, Lunuk Ramba, Balanga Tingang, Intan Manuah, Kahanjak Huang, dan Marajaki.

Selain itu, tarian itu juga didukung oleh Komunitas Soul Break, Central Borneo Breakers, Cosplayer Palangkaraya, Kelompok Teater Terapung, Teater Lawang Suri, Teater Antang Batuah, Teater Tunas, Teater Srikandi, dan Institut Tingang Borneo.

Latihan sudah berlangsung 7 kali dan dilaksanakan di Gedung Olah Seni Kota Palangkaraya pada malam hari. Latihan pada Jumat malam berlangsung meriah dan kompak di bawah arahan Chendana dan didampingi Kambang sebagai sutradara dan Ridwansyah sebagai penata musik.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya Afendie menyampaikan, selain tarian kolosal, ada pula kegiatan parade busana etnik, pagelaran rampai nusantara, dan penampilan perkusi khas Dayak, dan ritual adat menyambut gerhana. Diharapkan ada 1.000 wisatawan yang datang ke Palangkaraya.

Dilintasi Gerhana Matahari, Palangkaraya Siapkan Gelaran Seni Budaya

Palangkaraya, Kalteng - Menyambut fenomena alam Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bakal mengadakan berbagai gelaran.

Palangkaraya, merupakan salah satu kota yang akan dilintasi gerhana mataharu selain Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan beberapa kota lainnya di Indonesia.

Momen langka ini, dimanfaatkan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kota Palangkaraya dengan menggelar Festival Eclips atau Festival Gerhana .

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palangkaraya, H Affendie, Rabu (3/2/2016) mengatakan, ada beberapa event yang dilaksanakan untuk memeriahkannya, terutama seni dan budaya lokal.

Semuanya terpusat di Lapangan Senaman Mantikai Palangkaraya, ada Fashion Street, Perkusi Penampilan Khas Dayak, Tarian Kolosal, dan lainnya." katanya seraya menegaskan, moment tersebut akan ramai, karena banyak turis asing yang datang ke Palangkaraya untuk menyaksikan kejadian alam tersebut.

Barito Utara Peringati Maulid Nabi dengan Baayun Maulid

Muara Teweh, Kalteng - Panitia Peringatan Hari Besar Islam Barito Utara, Kalimantan Tengah, menggelar tradisi Baayun Maulid untuk memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sebanyak 51 bayi dan anak disertakan dalam acara Baayun Maulid yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kamis.

"Peserta baayun atau batuyang tahun ini meningkat, sebelumnya hanya 25 anak," kata Ketua Panitia Hari-Hari Besar Islam Barito Utara Yaser Arapat di Masjid Jami Muara Teweh.

Ia menuturkan, tradisi tahunan mengayunkan anak pada bulan Maulud ditujukan untuk mendoakan anak agar menjadi anak sehat yang mengikuti tauladan Nabi Muhammad SAW.

Pada saat bayi atau anak bahkan orang dewasa yang mengikuti

Dalam tradisi baayun, bayi dan anak diayun sambil dibacakan shalawat dan syair yang mengagungkan akhlakul karimah Nabi yang menjadi tuntunan bagi umat Islam.

Bupati Barito Utara Nadalsyah dan istrinya melakukan tradisi tampung tawar kepada anak-anak yang batuyang di masjid itu.

Tampung tawar dipercaya warga dapat menghidarkan anak-anak dari sakit serta gangguan mahkluk halus.

"Harapannya agar para balita saat dewasa nanti mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW dan mendapat berkah dari Allah SWT," kata Nadalsyah

Tradisi Baayun Maulud atau Baayun Maulid dalam masyarakat Suku Banjar di Kalimantan merupakan bagian dari rangkaian upacara daur hidup yang meliputi kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak menjelang dewasa, perkawinan dan kematian.

Tradisi baayun untuk anak-anak usia nol sampai lima tahun sebenarnya sudah ada sebelum Islam menyebar di tanah Banjar.

Upacara baayun yang merupakan asimilasi budaya urang Banjar yang didasarkan pada ajaran Keharingan dan agama Islam kini digelar setiap peringatan Maulid nabi.

Dalam tradisi baayun, anak-anak secara massal diayun dengan iringan bacaan doa dan salawat.

Pesan Maulid

Bupati Nadalsyah mengatakan Rasulullah SAW hadir di muka Bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar bertaqwa kepada Allah SWT serta berlaku baik kepada sesama manusia dan mahluk-mahluk ciptaan-nya.

"Dengan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan Allah SWT yang semakin dalam, Insya Allah hidup kita berakhir dengan khusnul khotimah (akhir yang baik)," kata Bupati.

"Kita utamakan hidup ini untuk meraih khusnul khotimah dengan amalan saleh dan istiqomah hingga ajal datang menjemput," katanya.

Ia mengatakan peringatan Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk menguatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

"Dengan perbuatan nyata yang mencerminkan kecintaan itu," ujarnya.

Bahasa Bukan Sekadar Indentitas

Palangka Raya, Kalteng - Bahasa sebagai salah satu identitas bangsa patut menjadi perhatian. Pasalnya sebagai sebuah bangsa, Indonesia dituntut memiliki identitas agar memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya.

“Agar berkembang, bahasa jangan hanya sekadar menjadi identitas. Namun juga sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” terang Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Dr Sugiyono saat membuka seminar nasional kewilayahan bahasa dan sastra di Hotel Aquarius, Selasa (24/11) malam.

Menurutnya, bahasa itu juga harusnya dinamis mengikuti perkembangan. Bahasa itu bukan hanya Bahasa Indonesia tapi juga bahasa daerah dan bahasa asing yang ada di Indonesia.

“Kita tidak bisa menyebut bahasa daerah yang menghambat mencerdaskan kehidupan bangsa atau bahasa Inggris memajukan kecerdasan kehidupan bangsa. Itu salah. Yang benar harus ketiga-tiganya,” ucapnya.

Tujuannya, lanjutnya, untuk membentuk insan Indonesia multi lingual. Tentu tidak semua. Sesuai dengan keperluan sosial mereka. “Tidak bisa memaksakan orang di suatu daerah harus menggunakan bahasa Indonesia. Kalo bahasa daerah mereka cukup, ya silahkan saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Kalteng Drs Sumadi MHum mengatakan, sesuai dengan tema yang diusung, yakni “ Bahasa dan Sastra Memperkuat Identitas Keindonesiaan serta Memperkukuh Integrasi Bangsa Indonesia” diharapkan dapat menjadi semacam tonggak untuk menegaskan identitas Indonesia. Selain itu juga untuk memperkukuh integrasi bangsa dalam kerangka NKRI.

“Kami percaya, seminar ini akan menjadi pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi seluruh peserta,” ucapnya.

Masyarakat Diajak Palangka Raya Kembangkan Seni Budaya

Palangka Raya, Kalteng - Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya mengimbau dan mengajak masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangka Raya, Afendie mengatakan, seni dan budaya harus terus dikembangkan, karena bisa menjadi sarana yang dapat mempersatukan masyarakat.

Karena perbedaan seni dan budaya akan memperkaya nilai kebersamaan serta kesatuan kehidupan masyarakat di ibu kota provinsi yang dijuluki Bumi Tambun Bungai ini.

“Ini penting karena wilayah Palangka Raya memiliki latar belakang masyarakat dari berbagai suku sehingga budayanya juga beragam,” kata Afendie, belum lama ini.

Menurut Afendie, adat dan budaya menjadi sarana yang efektif untuk menyatukan seluruh masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang dan daerah agar bisa hidup berdampingan.

“Palangka Raya bukan cuma dihuni suku Dayak atau Banjar saja, tapi banyak suku lain. Kita ini bersaudara, makanya harus saling menghargai satu sama lain. Budaya menjadi salah satu sarana perekat persatuan dan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Masyarakat suku Dayak merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan. Masyarakat dalam kehidupannya cinta damai dan sangat menghargai perbedaan. Mereka yakin bahwa hal serupa juga menjadi kebiasaan semua suku bangsa.

“Berbagai perbedaan yang dimiliki antar suku, jangan sampai dijadikan permasalahan yang justru memicu perpecahan yang akhirnya bisa mengganggu kerukunan hidup berbangsa dan bermasyarakat yang berdomisili di daerah ini,” imbuhnya.

Serunya Karnaval Babukung, Aksi Ribuan Penari Topeng Suku Dayak

Palangkaraya, Kalteng - 111 Peserta yang merupakan pelajar dan masyakarat ikut meramaikan [Karnaval](tari topeng tradisional asli Suku Dayak Tomu "") Babukung yang digelar untuk kali ke-2 ini di Kabupaten Lamandau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Karnaval Babukung ini mendapat animo yang luar biasa dari warga.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Jumat (16/10/2015), ribuan warga Lamandau dan ratusan turis lokal dan asing berkumpul di pusat Kota Nangka Bulik, untuk menyaksikan Karnaval Babukung yang dihelat oleh Pemerintah Kabupaten Lamandau.

Selain menampilkan 12 jenis bukung atau topeng, Karnaval Babukung ini juga menampilkan seni dan budaya khas daerah yang ada di Kabupaten Lamandau, seperti seni budaya Jawa dan Sunda.

Karnaval tahunan ini berhasil masuk Museum Rekor Indonesia, karena menampilkan lebih dari seribu penari.

Babukung merupakan tari topeng tradisional asli Suku Dayak Tomun, Kabupaten Lamandau. Topeng yang digunakan dalam tari ini memiliki cira khas tersendiri dengan wujud hewan tertentu. Tari ini biasanya digelar pada ritual adat kematian Suku Dayak Tomun pada masanya.

Jangan Biarkan Budaya Lokal Pudar

Palangka Raya, Kalteng - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palangka Raya menggelar dialog budaya, Senin (3/8) pagi. Alasannya, untuk meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya lokal, sehingga tidak pudar.

Sebab, seiring perkembangan zaman tak sedikit dari masyarakat Kalteng khususnya Palangka Raya, yang betul-betul mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang ada di daerahnya sendiri.

“Peserta yang hadir merupakan tenaga pendidik. Sementara, narasumbernya merupakan budayawan,” kata Kepala Disdikbud Kota melalui Kabid seni budaya Sonto, di aula pertemuan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota.

Menurutnya, menumbuh kembangkan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat sangat penting dilakukan. Bahkan, kecintaan akan budaya ini harus dimiliki oleh seluruh masyarakat Kalteng.

“Dengan adanya kegiatan ini kami ingin mencoba membahas hal apa saja yang dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya itu sendiri,” jelasnya.

Dikatakannya, tenaga pendidik seperti kesenian daerah dan muatan lokal di tiap tingkatan pendidikan sudah mumpuni, sehingga dalam pengenalan akan nilai-nilai budaya kepada peserta didik sudah dapat diajarkan sejak dini.

“Kita inginnya, wawasan akan budaya tidak hanya dikenal saat dewasa, tapi juga saat generasi kita duduk di bangku sekolah dasar,” urainya.

Sementara, Ketua Panitia Winfried menuturkan, dalam rangka meningkatkan pariwisata melalui seni dan kebudayaan, dirinya berharap agar para peserta yang hadir dalam kegiatan ini dapat memberikan masukkan.

“Peserta harus terlibat aktif memberikan masukan bersama dengan budayawan sebagai narasumber yang hadir, dalam rangka menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya di masyarakat kita,” tuturnya.

Balangan Kembali Gelar Festival Tanglong

Paringin, Kalteng - Seperti tahun sebelumnya, Pemkab Balangan melalui Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) kkembali akan menggelar Festival Tanglong pada bulan suci Ramadan 1436 H sekaligus bagarakan sahur.

Kepastian digelarnya event tahunan ini, disampaikan langsung oleh Kepala Disporaparbud HM Hifni Effendi. "Ramadan kali ini sama seperti tahun sebelumnya, kami tetap menggelar acara tanglong tepatnya pada tanggal 14 Juli nanti," ujarnya.

Untuk rangkaian acara sendiri, kata Hifni tidak akan berubah banyak dari tahun kemarin. Lebih jauh dirinya mengatakan, pihaknya akan terus mempertahankan kegiatan Tanglong ini serta berharap setiap tahun pelaksanaannya lebih dikembangkan lagi.

"Kami sempat tidak ingin melaksanakan kegiatan ini, namun karena animo masyarakat cukup tinggi maka diputuskkan akan tetap digelar," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk rute acara tanglong sendiri, direncanakan rute yang ditempuh sepanjang kurang lebih 6 km dengan mengambil garis start dari Lapangan Martasura menuju Lingkar Timur dan kembali finish ke Lapangan Martasura.

Tumbuhkan Gerakan Ketahanan Budaya Lokal

Puruk Cahu, Kalteng - Bupati Murung Raya (Mura) Perdie M Yoseph meminta agar budaya lokal tetap dipertahan, hal tersebut agar budaya lokal tidak mudah luntur dan dapat menangkal masuknya budaya luar yang tidak sesuai dengan kearipan budaya lokal.

“Perlu sebuah gerakan ketahanan budaya lokal terhadap masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar yang tidak semuanya sesuai dengan budaya dan kerarifan lokal yang kita miliki,” ungkap Perdie pada kegiatan kebudayaan di Puruk Cahu, belum lama ini.

Untuk melaksanakan gerakan ini, kata Perdie bisa digunakan di bidang pendidikan baik dengan cara formal maupun nonformal seperti memasukan mata pelajaran di sekolah-sekolah ataupun membuat sanggar seni budaya yang mengajarkan dan melatih seni budaya lokal yang dapat menjadi wadah sosialisasi budaya-budaya lokal kepada generasi muda.

“Tentu saya mengharapkan kepada Dinas Pariwisata supaya proaktif dalam mempertahankan maupun mengembangkan budaya yang kita miliki, karena budaya ini sebuah kebanggaan dan suatu kehormatan yang kita miliki dari peninggalan nenek moyang terdahulu,” terang Bupati alumnus STPD angkatan 01 ini.

Karena budaya suatu sejarah yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari sehingga perlunya diresapi dicinta dan dilestarikan apa-apa yang sudah menjadi budaya masyarakat di Kabupaten Mura.

Bahkan jelas Perdie, perkembangan dan peradaban masyarakat modern sekarang ini ditandai dengan globalisasi yang dapat menyebabkan pergeseran dan perubahan pularisasi budaya.

Bahkan, orang nomor satu di Bumi Tana Malai Tolung Lingu ini kemajuan teknologi melahirkan media-media sosial baru seperti internet yang dapat memicu pudarnya perhatian terhadap budaya-budaya lokal yang ada utamanya di kalangan generasi muda.

-

Arsip Blog

Recent Posts