Tampilkan postingan dengan label Maluku Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maluku Utara. Tampilkan semua postingan

Masyarakat Negeri Tulehu Punya Tradisi Gedong Kambing Saat Idul Adha

Tulehi, Malut - Banyak cara dilakukan untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Tak terkecuali dengan masyarakat Negeri Tulehu, Maluku Tengah, yang merayakan kaul dan abda’u sesaat setelah melaksanakan salat Idul Adha secara berjamaah. Ada adegan gendong kambing pula dalam rangkaian perayaan ini.

Kaul dan abda’u adalah tradisi adat puncak dari serangkaian parade budaya yang dilakukan masyarakat Negeri Tulehu. Tak hanya satu desa, tapi juga melibatkan masyarakat dari desa-desa sekitarnya. Tradisi ini sudah berlangsung cukup lama. Tercatat sejak abad ke-17.

Tradisi kaul lazimnya prosesi penyembelihan yang banyak dilakukan di berbagai tempat. Bedanya, di sini prosesi penyembelihannya dilakukan sebanyak dua kali. Yang pertama dilakukan selesai salat. Yang kedua adalah penyembelihan khusus, di mana ada seekor kambing inti dan dua kambing pendamping.

Sebelum disembelih, ketiga kambing itu digendong dengan kain oleh pemuka adat dan agama untuk diarak keliling Negeri. Diiringi shalawat dan takbir, ketiga kambing itu dibawa menuju ke pelataran Masjid Negeri Tulehu.

Penyembelihan langsung dilakukan oleh imam besar Masjid Negeri Tulehu. Dari atas masjid, kelompok ibu-ibu menabur bunga yang harum baunya. Sementara darah cipratan kambing yang disembelih diperebutkan oleh pemuda anggota adat abda’u, simbol bahwa pemuda Tulehu rela berkorban untuk kebenaran.

Abda’u simbol kemakmuran

Pasca-penyembilan, proses abda’u (ibadah) dilangsungkan. Pesertanya sebagian besar adalah para pemuda. Mereka hanya berkaus singlet, berikat kepala warna putih, dan berjalan beramai-ramai menuju rumah imam Negeri Tulehu.

Setelah para pemuda abda’u sampai, imam besar menyerahkan bendera hijau berenda benang bewarna kuning emas. Hijau melambangkan subur, dan kuning adalah kemakmuran. Bendera inilah yang nantinya bakal diperebutkan oleh ratusan pemuda yang mengikuti upacara ini.

Sekilas terkesan ada chaos, karena mereka akan saling pukul, saling injak, dan saling dorong untuk memperebutan panji. Tapi tak perlu khawatir, sebelum prosesi rebutan bendera dilakukan, para pemuda ini terlebih dahulu disiram air khasiat oleh Imam Besar yang konon membuat tubuh mereka kuat dan terbebas dari rasa sakit.

Tapi justru ini lah yang mencuri perhatian khalayak. Orang-orang di sekeliling berteriak, menyoraki, sembari tetap memberi dukungan kepada para pemuda agar berhasil mendapatkan bendera lambang kesuburan dan ketentraman.

Sambut Lailatul Qadar dengan Tradisi Ela-ela di Kesultanan Ternate

Ternate, Malut - Masyarakat Kota Ternate, Maluku Utara, menyambut malam Lailatul Qadar dengan menggelar tradisi Ela-ela, Jumat (1/7/2016) malam.

Pembakaran obor atau Ela-ela merupakan tradisi masyarakat Kota Ternate setiap malam 27 Ramadhan. Nuansa Islam menyambut malam seribu bulan itu begitu kental terlihat di Kedaton Kesultanan Ternate.

Pembakaran obor dilakukan serentak oleh perangkat adat kesultanan Ternate yang diawali oleh Jogugu H Zulkiram Mahcmud bersama Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman serta Dandim 1501/Ternate.

Setiap sudut halaman kesultanan Ternate hingga luar diterangi dengan cahaya obor. Ela-ela juga menerangi setiap rumah warga.

Dari keraton, seluruh perangkat kesultanan kemudian menuju Masjid Sultan dengan berjalan kaki dan membawa lampu.

Jogugu Kesultanan Ternate, H Zulkiram Mahcmud menjelaskan, peringatan malam Lailatul Qadar merupakan tradisi Ternate.

“Ela-ela ini sebagai kepercayaan kita bahwa malaikat turun ke bumi untuk segala urusan umat manusia dengan segala kebajikan,” kata Zulkiram.

Obor ini, katanya, sebagai simbol menerangi bahwa pada malam ini akan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt.

“Maka untuk menerangi bumi ini dibakarlah obor atau Ela-ela sebagai tanda kita menyambut alam ini dengan cahaya-cahaya dimana cahaya itu melambangkan ilmu pengetahuan, dan bagaimana negeri ini mendapatkan keberkahan dari Allah,” kata Zulkiram lagi.

Berbagai Festival Akan Digelar di Morotai

Ternate, Malut - Plt Bupati Morotai Weni R Paraisu mengatakan saat ini sudah ada investor yang menjajaki Pulau Morotai, Maluku Utara, untuk berinvestasi.

"Tahun ini hingga 2019 nanti akan dibangun home stay di Morotai berjumlah 10.000 unit. Ini diharapkan sebagai penunjang utama buat kami untuk membangun pariwisata Morotai," kata Weni.

Staf Khusus Bidang Pariwisata Morotai, Muhammad Bintaher menambahkan bahwa pihaknya akan menggelar berbagai festival di Pulau Morotai di antaranya festival desa pesisir, festival Pulau Dodola, festival perang dunia II, dan festival budaya.

"Jadi kita akan mulai dengan kegiatan festival desa pesisir yang nantinya kita upayakan untuk launching di tanggal 1 Agustus 2016. Salah satu kegiatan yang nanti digelar yakni lomba balap sepeda dan nantinya di tanggal 17 Agustus kita akan rayakan HUT RI di Desa Cendana Kecamatan Morotai Jaya," ujarnya.

Tradisi Kaul Kurban Hingga Atraksi Abda’u di Negeri Tulehu

Negeri Tulehu, Malut - Setiap merayakan Idul Adha, warga Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah selalu menggelar sejumlah ritual. Diantaranya kaul kurban dan atraksi Abda’u yang tahun ini berlangsung Kamis (24/9).

Ritual ini selalu dilakukan usai me­laksanakan salat setiap tahun secara rutin di tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan sudah berlangsung selama ratusan tahun yang lalu setelah terbentuknya pemerintahan otonom yang bersyariat islam sekitar tahun 1600 masehi.

Saat perayaan Idul Adha 1436 Hijriah, Kamis (24/9), warga Negeri Tulehu juga me­lak­sanakan ritual tersebut. Atrakasi Kaul Kur­ban atau penyembelihan kurban ternak merupakan sebuah prosesi ritual dan sakral setelah terinspirasi dari Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Daging kurban ternak dibagikan kepada fakir miskin dan atau mereka yang menerimanya sesuai dengan hukum syariat Islam.

Ada dua pelaksanaan penyem­belihan kurban ternak yaitu penyem­belihan secara umum yaitu dilaksa­nakan setelah salat dan penyembe­lihan secara khusus, yaitu tiga ekor kambing (satu ekor inti dan dua ekor sebagai pendamping), yang pelak­sa­naan penyembelihan setelah salat ashar dan merupakan Kaul Negeri un­tuk menolak bala, musibah dan memohon rahmat dan barakah dari Allah SWT bagi seiisi Negeri Tulehu.

Proses pengkaulannya dilaksana­kan di rumah Imam Masjid Negeri Tulehu oleh sekolompok ibu-ibu. Selanjutnya dengan kain salele di arak keliling negeri. Alunan dzikir dan salawat ke Nabi Muhammad SAW mengiringi langkah demi langkah menuju pelataran Masjid Negeri Tulehu untuk dilakukan penyembelihan.

Prosesi arak-arakan kurban ter­sebut, juga disertai prosesi ritual Abda’u. Saat itu ratusan pemuda berkaos singlet, berikat kepala warna putih berjalan beramai-ramai menuju rumah Imam Negeri Tulehu. Rambut dan tubuh mereka basah seusai dimandikan oleh imam negeri supaya raga kuat dan bebas dari rasa sakit selama mengikuti ritual Abda’u yang membuka perayaan Idul Adha.

Para pemuda itu berkumpul sambil menunggu acara pembukaan Abda’u. Imam pun ke luar dari rumah dan memberi petuah kepada para pemuda yang akan melak­sanakan ritual abda’u.

Imam kemudian menyerahkan bendera hijau yang diikatkan ke tongkat kayu sepanjang dua meter. Warna hijau melambangkan kesubu­ran dan kemakmuran.

Bendera inilah yang akan dipere­butkan oleh ratusan pemuda dengan sekuat tenaga. Mereka berdesak-desakan, ada yang melompat dari atas pagar atau atap rumah supaya bisa berada di atas kerumunan dan berjalan di atas tubuh-tubuh yang sedang berebut bendera. Tak jarang, mereka yang berdiri di atas tubuh teman-temannya jatuh ke tanah dan terinjak kerumunan yang sedang bersemangat tinggi.

Rebutan bendera ini dilakukan sambil mengeliling negeri hingga berakhir di Masjid Raya Negeri Tulehu. Perebutan bendera ini paling menarik perhatian masyarakat yang menaksikan. Setiap kali para pemuda berebut bendera, penon­ton menyoraki, menyemangati pemuda yang didukung.

Para penonton berkumpul di sepanjang jalan negeri, bahkan ada yang duduk-duduk di atap rumah karena jalan penuh orang. Yang aneh dari rebutan bendera yang sangat keras ini, tidak ada satupun pemuda yang terluka.

Tradisi Abda’u, berasal dari kata abada yang artinya ibadah. Abda’u me­rupakan sebuah pengabdian se­orang hamba kepada Sang Pencipta. Pemuda negeri Tulehu menyatakan mengabdi kepada Allah yang telah mencipta jagat raya dan isinya.

Asal usul tradisi Abda’u ini diper­kirakan dimulai sekitar tahun 1500 Masehi, seabad setelah masuknya Islam ke Jazirah Leihitu. Abda’u diselenggarakan secara rutin setiap Hari Raya Idul Adha karena dua alasan. Pertama, abdau merupakan refleksi nilai sejarah yang terinsirasi dari sikap pemuda Ansar yang de­ngan gagah dan gembira menyambut hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa itulah yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Alasan kedua, Abda’u merupa­kan refeksi dari masyarakat Tulehu tempo dulu yang hidup berke­lompok di hena-hena (kampung-kampung kecil) di antara Gunung Salahutu hingga bukit Huwe, yang belum mengenal agama samawi. Mereka me­nyambut para ulama yang mem­bawa ajaran agama Islam dengan rasa syukur, ikhlas, dan gembira. Masuknya agama Islam di Jazirah Leihitu, khususnya di Uli Solemata di bagian timur Salahutu adalah sebuah proses perubahan perada­ban manusia menjadi lebih baik.

Setelah berkeliling negeri, maka arak-arakan pun tiba di pelataran Negeri Tulehu. Saat detik-detik Imam Masjid Negeri Tulehu mulai mela­kukan penyembelihan ternak kurban. Usai penyembelihan, ratusan pemuda yang mengikuti prosesi abda’u pun bergegas pulang meninggalkan mas­jid.

Sekuat apapun sikutan dan pu­kulan yang mereka terima saat berebut ben­dera, tak menyebabkan luka, bah­kan memar. Mereka tetap bisa tersenyum dan tertawa, sangat akrab dengan sesama peserta. Se­mangat persauda­raan ini meru­pakan cerminan makna tradisi Abda’u.

Festival Ela-ela Tampilkan Tradisi Islam di Ternate

Ternate, Malut - Festival ela-ela yang akan digelar di Ternate, Maluku Utara (Malut) pada 13 Juli 2015 atau malam 27 Ramadhan menampilkan kekhasan tradisi Islam dalam menyambut malam Lailatul Qadar.

"Masyarakat Islam di Ternate sejak ratusan tahun silam memiliki tradis dalam setiap menyambut malam lailatul qadar yang disebut ela-ela. Tradisi ini lah yang kita tampilkan pada festival ela-ela tanggal 13 Juli nanti," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate Anas Conoras di Ternate, Rabu.

Pada festival ela-ela yang telah menjadi kegiatan rutin Pemkot Ternate tersebut di tampilkan ritual penyambutan malam lailatul qadar yang diawali dengan pembacaan doa di Kedaton Kesultanan Ternate selesai pelaksanaan shalat tarawaih di masjid Kesultanan Ternate.

Kegiatan selanjutnya dalam festival ela-ela tersebut, menurut Anas Conoras adalah pembakaran obor yang dalam bahasa daerah Ternate disebut ela-ela oleh wakil dari Kesultanan Ternate dan Pemkot Ternate yang kemudian diikuti oleh seluruh masyarakat, baik yang ada di lingkungan kedaton kesultanan maupun di seluruh wilayah Ternate.

Seluruh warga di Ternate memasang obor di halaman rumah sampai pagi, ada pula warga yang sekaligus membakar damar sehingga hampir seluruh wilayah Ternate tercium aroma harum bau damar, yang umumnya merupakan damar kualitas terbaik dari wilayah Halmahera.

"Masyarakat Ternate membakar obar dan damar pada malam 27 Ramadhan itu karena sesuai keyakinan yang diwariskan sejak ratusan tahun silam, pada malam itu para malaikat turun dari langit dan untuk itu masyarakat menyambutnya dengan cara menerangi kampung menggunakan obor dan mengharumkannya menggunakan damar," katanya.

Untuk menyemarakan festival ela-ela tersebut, Pemkot Ternate menggelar lomba ela-ela antar-kelurahan dengan penilaian dititikberatkan pada kesemarakan obor dan lampion serta partisipasi masyarakat di setiap kelurahan dalam kegiatan itu.

Ia menambahkan, festival ela-ela tersebut telah dijadikan salah satu kegiatan wisata religi di Ternate dalam setiap bulan Ramadhan dan sesuai pengalaman tahun-tahun sebelumnya cukup menarik perhatian wisatawan.

Ternate Dianugerahi sebagai Kota Kebudayaan

Ternate, Malut - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktorat Jenderal Kebudayaan RI memberikan penghargaan kepada tiga daerah yang ditetapkan Tim Penilai, salah satunya Kota Ternate sebagai Kota Kebudayaan.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Sekretaris Daerah Kota Ternate Sutopo Abdullah di Ternate, Jumat (27/6), mengatakan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan melalui surat bernomor 954/F.F6/LL/2015 memberikan penghargaan Kota Kebudayaan kepada Pemerintah Kota Ternate.

Dia menjelaskan, pihaknya menghargai semua daerah yang telah bersungguh-sunggu berupaya memelihara dan terus mengangkat nilai-nilai yang hidup di daerahnya masing-masing sebagai landasan dalam membangun peradaban Bangsa Indonesia.

"Tiga derah itu diantaranya Kota Ternate, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Banyuwangi dan surat resmi dari Kemendikbud Direktorat Jenderal Kebudayaan, Ternate adalah Kota yang memiliki sejarah panjang terkait dengan eksistensi ke-Indonesiaan antara lain, Kota penghasil rempah-rempah yang dikenal sejak masa Hindia Belanda.

Hal ini ditandai dengan adanya peninggalan situs purbakala berupa benteng dan bangunan-bangunan khas kolonial, khususnya peninggalan masa Portugis dan Belanda.

Kemudian Pemerintah Kota memiliki komitmen yang kuat melakukan pelestarian bukan saja pada revitalisasi peninggalan budaya benda, namun juga budaya tak benda.

Dia mencontohkan, ada kegiatan barifola yang mengandung nilai kegotong royongan dan toleransi, dimana melalui barifola, warga setempat secara sukarela bahu-membahu membantu membangun rumah bagi mereka yang kurang mampu.

Untuk itu, dirinya berharap, ketiga Pemda yang telah ditetapkan ini dapat menyiapkan berkas kelengkapan data kekaryaan untuk keperluan teknis proses acara pada tanggal 21-22 September mendatang dan berkas kelengkapan dimaksud adalah karya kebudayaan di daerah masing-masing.

Festival Teluk Jailolo Digelar

Ternate, Malut - Festival Teluk Jailolo (FTJ) VII di Halmahera Barat, Maluku Utara, digelar pada Senin yang dibuka dengan upacara tradisi membersihkan laut.

Upacara dilakukan dengan mengitari Pulau Babua sebanyak tiga kali dengan iring-iringan kapal hias dan tabuhan musik tradisonal, serta doa yang dipimpin Sultan Jailolo, kata Ketua Panitia FTJ, Abjan Sofyan di Ternate, Senin.

Dia menyatakan upacara itu bertujuan membersihkan laut dari niat buruk, menghormati leluhur dan meminta izin kepada alam untuk memulai perayaan dengan niat tulus.

Pembukaan FTJ itu juga ditandai dengan peresmian Patung Saloi yang terletak di samping area pelabuhan Jailolo, Desa Gufasa oleh Bupati Halmahera Barat Namto Hui Roba.

FTJ adalah acara tahunan yang secara konsisten dilaksanakan oleh Pemda Halmahera Barat untuk mempromosikan daerah itu sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia Timur.

Festival ini mengedepankan keindahan alam, aneka kuliner, potensi bawah laut, adat istiadat, dan keragaman budaya.

Menurut Abjan, pemerintah daerah terus mempromosikan potensi wisata baik melalui FTJ maupun kegiatan lain bertaraf nasional dan internasional.

Abjan menambahkan, Halmahera Barat juga telah ditunjuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Kejurnas "Open Tournament Fin Swimming" diikuti atlet dari 33 pengurus Pemrov POSI, pengurus Kabupatan Jaring Kota, Posi dan Komunitas Selam.

Ternate Cetak Rekor MURI Menari Soya-soya Terpanjang

Ternate, Malut - Sedikitnya 6.432 anak-anak di Ternate mencatat rekor MURI menari soya-soya estafet terpanjang di Indonesia, Minggu, 19 April 2015. Tak tanggung-tanggung, jarak rekor yang dipecahkan sejauh 42 kilometer mengelilingi Gunung Gamalama.

Paulus Pangka, SH, Senior Manager Museum Rekor Dunia Indonesia, mengatakan tarian soya-soya yang dilakukan secara estafet ini merupakan rekor baru tarian terpanjang di Indonesia dengan kriteria superlatif. Rekor ini merupakan yang keempat yang dicatat Kota Ternate.

Sebelumnya, Ternate juga mencatat rekor MURI seperti lomba baca puisi dengan juri terbanyak pada 2011. Tarian soya-soya dengan jumlah penari terbanyak pada 2013 dan penyajian nasijaha terpanjang sejauh 10 kilometer pada 2013.

“Dengan demikian, rekor baru yang tercatat ini menjadi rekor keempat kali yang dicatat Kota Ternate. Lebih menarik lagi, rekor baru ini melibatkan anak-anak untuk menari,” kata Paulus kepada Tempo.

Menurut Paulus, rekor MURI yang dicatat Kota Ternate diyakini belum akan terpecahkan untuk jangka waktu 2-3 tahun, lantaran jarak menari yang dilakukan sejauh 42 kilometer mengelilingi Gunung Gamalama. “Saya bahkan memprediksi tarian ini akan mampu membangkitkan semangat anak-anak untuk mencintai budaya lokal. Apalagi, melihat rekor ini, antusiasme dan semangat anak-anak yang menari terlihat jelas,” ujar Paulus.

Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman mengatakan tarian soya-soya yang diperagakan ribuan anak-anak di Kota Ternate merupakan tarian yang telah berusia lebih dari 400 tahun. Tarian ini menjadi tarian wajib untuk menjemput tamu besar. Karena itu, Pemerintah Kota Ternate telah mencanangkan tarian soya-soya menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah.

“Harapan kami, ke depan akan banyak anak-anak di Ternate yang semakin mencintai seni tarian lokal Maluku Utara. Apalagi sudah ada prestasi yang dicatat. Semoga rekor tersebut bisa menjadi rangsangan,” tutur Burhan.

Festival Legu Gam Tampilkan Pameran Batu Mulia

Ternate, Malut - Festival Legu Gam yang akan digelar di Ternate, Maluku Utara, selain menyuguhkan berbagai kekhasan budaya daerah, juga akan menampilkan pameran batu mulia dari berbagai wilayah di provinsi ini.

Ketua Umum Panitia Festival Legu Gam 2015 Arifin Djafar mengatakan di Ternate, Selasa, Festival Legu Gam yang semula digelar tanggal 1-14 April 2015, namun kemudian diundur menjadi 11-30 April 2015 itu sengaja menampilkan pemeran batu mulia untuk mempromosikan kekhasan batu mulia Malut.

Panitia Festival Legu Gam telah mengundang para pengusaha dan pengrajin batu mulia dari semua kabupaten/kota di Malut, seperti dari Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Timur dan Kota Ternate untuk ambil bagian dalam pameran batu mulia itu.

Menurut Arifin Djafar, Malut memiliki kekayaan potensi batu mulia, namun belum semuanya dikenal secara luas, baik di dalam maupun luar negeri, oleh karena itu melalu pameran batu mulia di Festival Legu Gam tersebut diharapkan semuanya bisa dikenal luas.

Batu mulia Malut yang selama ini sudah dikenal luas di dalam dan luar negeri, baru batu bacan asal Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya untuk jenis batu doko dan batu palamea, yang harganya bisa mencapai puluhan rupiah untuk ukuran batu cincin.

Sementara itu, salah seorang pengrajin batu mulia di Ternate Ibrahim menyambut baik adanya pameran batu mulia di Festival Legu Gam tersebut, karena akan menjadi saran bagi mereka untuk memperkenalkan hasil kerajinanannya sekaligus memasarkannya kepada para pengunjung.

Oleh karena itu, ia telah menyiapkan berbagai jenis batu mulia hasil karyanya, yang umumnya berupa batu cincin dengan harga bervariasi yakni khusus untuk batu doko dan batu palamea mulai dari harga Rp5 juta per buah sampai Rp40 juta per buah tergantung kwalitasnya.

Festival Legu Gam yang digelar Kesultanan Ternate telah menjadi kalender tahunan kegiatan pariwisata Kementerian Pariwisata dan selalu dihadiri ribuan pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri.

Festival Legu Gam Ternate Akan Tonjolkan Budaya yang Terancam Punah

Ternate, Malut – Festival Legu Gam yang akan digelar di Ternate, Maluku Utara, pada 1-14 April akan lebih menonjolkan kegiatan budaya, terutama budaya tradisional yang keberadannya terancam punah.

“Pada Festival Legu Gam tahun-tahun sebelumnya selain menampilkan kegiatan budaya juga kegiatan yang bersifat hiburan, seperti mendatangkan grup band, tetapi tahun ini hanya berupa kegiatan budaya,” kata Ketua Umum Panitia Festival Legu Gam 2015 Arifin Djafar di Ternate, Sabtu.

Pertimbangan utama pada Festival Legu Gam 2015 lebih menonjolkan kegiatan budaya adalah karena Kesultanan Ternate sebagai penyelenggara festival tahunan itu sedang berduka atas wafatnya Sultan Ternate Mudhafar Sjah pada 19 Februari 2015.

Ia mengatakan, khusus untuk kegiatan budaya yang akan ditampilkan pada Festival Legu Gam yang telah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata nasional tersebut, beberapa kegiatan di antaranya tetap sama dengan tahun sebelumnya seperti ritual mengelilingi Pulau Ternate dengan obor dan ritual mengelilingi Pulau Ternate melalui laut.

Khusus untuk kegiatan ritual perayaan ulan tahun Sultan Ternate Mudhafar Sjah yang tahun-tahun sebelumnya menjadi kegiatan puncak dalam penyelenggaraan Festival Legu Gam itu akan diganti dengan kegiatan tabliq akbar untuk mendoakan almarhum Sultan Ternate agar mendapat tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Esa.

“Pada Festival Legu Gam 2015, ada pula sejumlah kegiatan budaya yang baru pertama kali ditampilkan selama penyelenggaraan Festival Legu Gam, di antaranya budaya basunat yakni tradisi masyarakat Kesultanan Ternate dalam melakukan sunat kepada anak lelaki,” katanya.

Tradisi basunat yang menggunakan peralatan tradisional belakangan ini tidak dipraktikkan lagi masyarakat Kesultanan Ternate, karena sudah ada cara sunat yang lebih modern di rumah sakit.

Ia menambahkan, panitia Festival Legu Gam 2015 telah mengundang sejumlah pejabat terkait di pemerintah pusat, termasuk sejumlah sultan dan raja di Indonesia serta sejumlah perwakilan negara asing di Jakarta.

Izin Pemeriksaan Bupati Halmahera Barat Belum Turun

Maluku Utara - Polres Maluku Utara mengaku kesulitan memeriksa dua saksi kunci, karena izin untuk memeriksa mereka dari presiden belum juga turun. Kedua saksi kunci itu adalah Bupati Halmahera Barat Gahral Syah dan mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Halmahera Barat yang kini menjadi caretaker Bupati Halmahera Selatan Arief Yasin Wahid.

``Izin untuk memeriksa dua pejabat tersebut belum turun dari presiden. Padahal, surat permohonan untuk memeriksa mereka telah kami ajukan sejak Juli 2004,`` kata Kapolres Maluku Utara Ajun Komisari Besar (AKB) Andy Bambang Sky, kemarin.

Kasus korupsi yang menjadikan 11 anggota panitia khusus (pansus) dan tim kerja DPRD Halmahera Barat periode 1999-2004 sebagai tersangka itu, diduga melibatkan beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat.

Andy mengatakan, meski pemeriksaan terhadap Bupati dan mantan Sekda Halmahera Barat terhambat, namun proses pemberkasan 11 mantan anggota DPRD yang telah ditetapkan sebagai tersangka pada Agustus lalu terus dilakukan.

``Untuk 11 mantan anggota DPRD Halmahera Barat yang terlibat dalam penyelewengan dana itu, berkasnya telah lengkap dan sudah kami serahkan ke Kejaksaan Negeri Ternate. Selanjutnya berkas bupati dan mantan sekda akan kami ajukan kemudian kalau sudah diperiksa,`` ujarnya.

Sebanyak 11 mantan anggota Dewan yang berkasnya telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Ternate adalah mantan Ketua DPRD Halmahera Barat Syaiful Bahri Ruray bersama tiga wakilnya; Abdurahim Fabanyo, Salim Halid, dan Agil Bopeng, serta tujuh anggota yaitu Hamid Usman, Facri Lantu, Yusman Arifin, Syaifuddin Do Soleman, Samsul Hadi, Alex Manggolo, Ali Ode Sami.

Dari 11 orang itu, dua di antaranya kini menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, yaitu Syaiful Bahri Ruray dan Abdurahim Fabanyo. Sedangkan satu orang terpilih kembali menjadi anggota DPRD Halmahera Barat periode 2004-2009, yaitu Agil Bopeng.

Menurut Andy, rencananya pemeriksaan terhadap Bupati dan mantan Sekda terkait dengan kebijakan pengeluaran dan penyerahan uang sebesar Rp23.5 miliar itu ke Pansus dan tim kerja. ``Meski yang menggunakan uang itu adalah anggota DPRD, namun yang memiliki kebijakan mengeluarkan uang itu adalah bupati.``

Dia juga mengatakan, tidak tertutup kemungkinan setelah pemeriksaan terhadap bupati dan mantan Sekda jumlah tersangka akan bertambah. (BR/EM/SG/N-2)

Sumber: Media Indonesia, 30 Oktober 2004

Festival Kora-kora Diupayakan Masuk Agenda Pariwisata Nasional

Ternate, Malut - Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut), akan mengupayakan Festival Kora-kora yang digelar di Ternate setiap pertengahan Desember masuk kalender pariwisata nasional.

Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Ternate, Sutopo Abdullah di Ternate, Senin (8/12/2014) mengemukakan Festival Kora-kora layak masuk kalender pariwisata nasional, karena selain menampilkan berbagai kegiatan menarik, juga telah menjadi agenda tetap kegiatan kepariwisataan di Kota Ternate.

Festival Kora-Kora yang digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Jadi Ternate, umumnya diisi dengan kegiatan bahari sehingga sekaligus sebagai sarana untuk membangkitkan semangat bahari di masyarakat Ternate.

Sutopo Abdullah mengatakan, pada Festival Kora-kora dalam rangka memperingati Hari Jadi Ternate yang ke-764 tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat telah menyiapkan sejumlah kegiatan menarik, seperti lomba mancing tradisional, lomba foto bawah laut, lomba dayung perahu kora-kora dan pawai perahu kora-kora hias.

Fesitval Kora-Kora yang akan berlangsung tanggal 13-14 Desember 2014 itu dipusatkan di Pantai Ternate, sedangkan khusus lomba foto bawah laut tersebar di sejumlah titik penyelaman yang selama ini dikenal memiliki panorama bawah laut yang sangat menarik, di antaranya di Pulau Hiri.

"Wisatawan yang akan menyaksikan Festival Kora-kora tersebut dipastikan tidak akan menyesal, karena mereka akan melihat kekhasan perahu tradisional Ternate, yakni kora-kora yang digunakan dalam semua kegiatan di festival itu," katanya.

Wisatawan juga dapat menikmati berbagai obyek wisata lainnya di Ternate, seperti obyek wisata peninggalan Kesultanan Ternate, obyek wisata peninggalan kolonial, di antaranya berupa benteng, keindahan Danau Tolire serta Pantai Sulamadaha.

Ia menambahkan, di Ternate juga tersedia berbagai cenderamata khas, seperti batik tradisional yang bermotif buah pala dan cengkeh, berbagai jenis batu mulia, seperti batu bacan, batu obi, batu maba dan loloda serta kerajinan besi putih.

Maitara Festival 2014 Siap Digelar

Tidore, Malut - Salah satu kegiatan tahunan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, provinsi Maluku Utara dalam hal ini Dinas Pariwisata adalah Maitara Festival. Kegiatan ini siap digelar pada 13-14 Desember 2014 mendatang.

Dalam rangkaian kegiatan ini meliputi bersih-bersih pantai, lomba renang selat Maitara dan Tidore, lomba tarian kreasi daerah dan lomba melukis. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada dua tempat yakni kawasan wisata Maitara dan Rum Balibunga.

Dalam persiapan menjelang Maitara Festival ini, Walikota Tidore Kepulauan Ahmad Mahifa mengeluarkan edaran yang menghimbau kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi vertikal, camat dan lurah agar bersama-sama melaksanakan kegiatan kerja bhakti di lokasi kegiatan pada 9 Desember.

Selain itu, surat edaran nomor 556/2090/2014 itu menghimbau agar warga memasang bendera pelangi dan umbul-umbul sepanjang jalan dan rumah-rumah penduduk mulai 11-17 Desember 2014. Khusus kecamatan Tidore Utara, dihimbau melakukan pembersihan lingkungan masing-masing desa dan kelurahan.

Lokasi kerja bhakti yang akan dilakukan instansi diantaranya pantai Pulau Maitara, pantai Rum Balobunga dan kawasan wisata Rum di Pulau Tidore.

Soya-Soya dan Bambu Gila Diusulkan menjadi Warisa Dunia

Ternate, Malut - Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara mengusulkan Tari Soya-Soya dan atraksi budaya Bambu Gila sebagai warisan budaya dunia yang terdaftar di Unesco (Organisasi PBB dibidang Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan).

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Kota Ternate Rinto Thaib mengatakan di Ternate, Sabtu, bahwa kedua jenis kesenian tradisional Ternate tersebut diusulkan menjadi warisan dunia karena dinilai memenuhi kriteria itu.

Ia mengatakan, prinsip dasar yang digunakan Unesco untuk menetapkan suatu kesenian atau atraksi budaya sebagai warisan dunia adalah unik, tidak tergantikan dan penting, yang jika dikaitkan dengan Tari Soya-Soya dan atraksi budaya Bambu Gila ketiga kriteria itu terpenuhi.

Tari Soya-Soya, menurut Rinto Thaib, merupakan tarian yang bisa dimainkan banyak orang yang semuanya laki-laki dengan perlengkapan berupa salawaku (perisai) dan ngana-ngana (sejenis daun pohon enau), sedangkan musik pengiringnya berupa tifa (gendang kecil) dan gong.

Soya-Soya yang selalu di tampilkan untuk penyambutan tamu kehormatan ini menggambarkan semangat kepahlawanan Sultan Babullah ketika berusaha membebaskan jenazah ayahnya Sultan Khairun yang dibunuh pasukan Portugis di Benteng Rostra Sinor Derosario tahun 1857.

Sedangkan atraksi budaya Bambu Gila dimainkan oleh seorang pawang dengan peralatan sepotong bambu yang kemudian dipegang sejumlah orang. Bambu itu seperti memiliki kekuatan magis bergerak sendiri mengikuti asap dupa sang pawang, ujarnya.

Ritual Khas Ramadhan di Ternate

Kota Ternate, Malut - Berkunjung di Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), pada bulan Ramadhan akan melihat berbagai ritual khas Ramadhan, yang digelar masyarakat sebagai rasa syukur kepada Allah dan penghormatan terhadap bulan suci itu.

Ritual menarik terkait Ramadhan yag bisa dinikmati jika berwisata di kota bekas pusat pemerintahan Kesultanan Ternate ini pada bulan Ramadhan, di antaranya prosesi penyambutan malam lailatul qadar atau malam turunnya Al Quran.

Menurut Waki Wali Kota Ternate Arifin Djafar, prosesi penyambutan malam lailatul qadar selalu digelar pada malam 27 Ramadhan, karena masyarakat di daerah ini sejak zaman dulu meyakini bahwa pada malam itulah turunnya lailatul qadar.

Prosesi penyambutan malam lailatul qadar di pusatkan di kedaton Kesultanan Ternate, yang diawali dengan mengantar Sultan Ternate ke Masjid Kesultanan untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih dengan cara diusung ditandu oleh pasukan adat.

Perjalanan Sultan Ternate dari kedaton kesultanan ke Masjid Kesultanan yang berjarak sekitar 300 meter dikawal pasukan adat dengan membawa obor serta tabuhan gending (gong kecil) yang konon merupakan pemberian dari salah seorang walisongo, Sunan Gunung Jati.

"Puncak prosesi penyambutan malam lailatul qadar dilaksanakan usai shalat tarawih dengan menggelar berbagai ritual, seperti pembacaan doa dan dzikir di kedaton Kesultanan Ternate, yang dihadiri seluruh perangkat adat dan masyarakat setempat," ujar Arifin Djafar.

Pada malam prosesi penyambutan malam turunnya lailatul qadar tersebut lingkungan di sekitar kedaton Kesultanan Ternate, termasuk di wilayah kota ini dipenuhi dengan lampion dan obor serta wewangian dari pembakar damar sebagai simbol kebahagiaan masyarakat setempat menyambut turunnya lailatul qadar.

Pemkot Ternate sendiri juga pada malam 27 Ramadhan tersebut menggelar festival lailatul qadar, di antaranya diisi dengan lomba keindahan dan kesemarakan lampu lampion antar-kelurahan se-kota Ternate.

Arifin mengatakan, ritual menarik lainnya yang dapat disaksikan saat berwisata di Kota Ternate pada Ramadhan adalah prosesi shalat tarawih di masjid kesultanan Ternate yang masih menerapkan aturan sejak zaman dulu, seperti pria yang shalat tarawaih itu harus mengenakan celana panjang dan penutup kepala.

Selain itu, tempat shalat tarawih pria dan perempuan di masjid itu terpisah pada gedung yang berbeda. Beberapa tahun lalu, yang diizinkan shalat tarawih maupun shalat wajib di masjid ini hanya kaum pria.

Di masjid yang telah berusia ratusan tahun dengan ciri khas adanya tiang alif itu, juga ada tempat khusus untuk Sultan Ternate ketika mengikuti shalat berjemaah, baik saat shalat tarawih maupun shalat wajib lima waktu.

Gendang sahur

Berwisata di kota yang terkenal dengan produksi pala dan cengkih sejak ratusan tahun silam ini juga akan menyaksikan ritual membangunkan masyarakat untuk sahur yang dikenal dengan nama gendang sahur.

Setiap malam mulai pukul 01.00 hingga 03.00 WIT para remaja berkeliling dari satu rumah ke rumah lain akan membangunkan pemilik rumah dengan cara menyanyikan lagu-lagu religi diiringi dengna tabuhan rebana.

"Tradisi gendang sahur ini sudah ada sejak zaman dulu dan biasanya si pemilik rumah yang terbangun setelah terdengar gendang sahur itu akan memberikan uang sebagai tanda terima kasih kepada kelompok gendang sahur bersangkutan," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ternate Husen Alting.

Berbagai jenis kuliner khas Ternate, seperti asida, lalampa, waji serta aneka minuman dari bahan air kelapa serta gula aren juga bisa ditemui di berbagai lokasi di Kota Ternate menjelang berbuka puasa.

Selain menikmati berbagai ritual terkait Ramadhan, wisatawan yang berkunjung di Ternate juga bisa menyaksikan berbagai objek wisata lainnya, baik wisata peninggalan sejarah maupun wisata bahari dan panorama alam.

Menurut Husen Alting, objek wisata peninggalan sejarah yang bisa disaksikan di Ternate di antaranya belasan benteng peninggalan kolonial, seperti Benteng Orange, Benteng Kalamata, Benteng Toloko dan Benteng Kastela serta berbagai peninggalan kesultanan Ternate di Kedaton Kesultanan Ternate.

Salah satu peninggalan Kesultanan Ternate yang sangat khas dan merupakan satu-satunya di dunia adalah mahkota emas berambut. Rambut pada mahkota ini terus tumbuh tambah panjang layaknya rambut yang tumbuh di kepala manusia.

Sedangkan, objek wisata bahari yang bisa dijumpai di Ternate di antaranya Pantai Sulamadah, Pantai Tobololo dan sejumlah titik penyelaman di sekitar perairan Ternate serta keindahan panorama Gunung Gamalama dan Danau Tolire.

Sarana akomodasi di Kota Ternate, menurut Husen Alting, cukup memadai, baik berupa hotel berbintang maupun hotel melati, begitu pula restoran dan rumah makan bisa dijumpai dihampir setiap lokasi kota ini, termasuk rumah makan yang menyajikan khas Ternate.

Akses untuk mencapai Ternate juga cukup lancar, baik melalui jalur laut maupun jalur udara. Khusus untuk melalui jalur udara tersedia sedikitnya tujuh kali penerbangan setiap hari untuk rute berbagai kota di Indonesia dan kini tengah dijajaki pula penerbangan langsung ke Filipina dan Jepang.

Ketika akan meninggalkan Ternate dan ingin membawa cinderamata, di Ternate juga terdapat berbagai kerajinan khas, seperti perhiasan besi putih, batu bacan, batik ternate, sirup pala dan berbagai kerajinan tangan lainnya, yang dijual di sejumlah tokoh kerajinan di kota ini.

Pesta Makanan Tradisional di Festival Teluk Jailolo 2014

Jailolo, Malut - Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) di Provinsi Maluku Utara menyimpan keragaman budaya, kuliner, dan ditunjang alam yang indah. Dalam Festival Teluk Jailolo 2014, seluruh potensi Kabupaten Halbar dalam menarik wisatawan ditampilkan.

Kamis (29/5/2014), berbagai jenis makanan khas Halbar yang berbahan dasar sagu, ubi, dan ikan ditampilkan di Festival Teluk Jailolo 2014. Ini merupakan festival keenam kalinya digelar. Festival yang rutin diadakan setiap tahun ini bertujuan untuk mengangkat budaya suku-suku di Halbar, potensi kulinernya serta obyek pariwisatanya.

Dalam pembukaan pesta kuliner Festival Teluk Jailolo 2014 yang bertemakan "Culture, People, Nature of West Halmahera", Bupati Halbar Namto H Roba mengaku bangga dengan gelar kuliner ini. "Ini bukan soal untuk memuaskan rasa lapar, tapi merupakan warisan budaya yang perlu disosialisasikan dan dilestarikan," ujarnya.

Pesta kuliner ini melibatkan 9 kecamatan dengan menampilkan sebanyak 82 kuliner khas Halbar yang bergizi. Yang menarik, para ahli kuliner dari Tim Maharasa yang dipelopori chef Ragil Imam Wibowo dan Adzan Tri Budiman. Mereka dilibatkan agar makanan yang disajikan lebih menarik dan layak dikonsumsi wisatawan.

Namanya pesta kuliner, pelabuhan Jailolo pun menjadi ramai para ibu-ibu yang menggelar makanan mereka. Ada pisang mulut bebek. Ini merupakan pisang khas Halmahera Barat yang hanya tumbuh di daerah ini. Pisang mulut bebek bisa digoreng atau direbus dengan santan sehingga dinamakan pisang santang.

Di Halbar pisang ini bukan digunakan sebagai makanan penutup tapi sebagai makanan utama, seperti nasi. Dinamakan pisang mulut bebek, karena menurut orang Halbar bentuk pisang ini mirip dengan lengkungan mulut bebek. Rasanya manis dan padat. "Saya sudah coba tanam di Bogor dan Jogja, tapi rasanya beda," kata Namto H Roba.

Ada lagi acar kuning, ikan bakar rica dan paniki. Paniki adalah daging kelelawar yang sudah dibumbui. Ketika daging paniki digigit, rasa bumbu begitu meresap di mulut. Paniki di Halbar berasal dari Kecamatan Tabaru.

Cobalah boko-boko, semacam nasi yang dibakar dalam bambu. Namun isi bambu terdiri dari ikan, singkong dan kelapa parut. Lantas dibakar selama 5-10 menit. Satu batang bambu kurang dari semeter dihargai Rp 30.000.

Yang dicari-cari wisatawan tentu gohu ikan. Ramon Y Tungka, pemandu acara 100 Hari Keliling Indonesia (HKI) Kompas TV tampak asyik menikmati gohu ikan Halbar. "Enak, yuk cobain," katanya sambil menyodorkan sepiring gohu ikan kepada Kompas Travel.

Ada yang menyebutnya sebagai sashimi Jailolo karena ikan yang digunakan adalah ikan mentah. Ikan yang masih segar ini dibersihkan, dilumuri garam dan dipotong kecil-kecil seperti dadu. Selanjutnya potongan ikan mentah ini dicampur dengan bumbu kenari, bawang dan cabai atau rica burung. Dinamakan rica burung karena bibit cabai disebar oleh burung. Cabai khas Halbar lebih kecil dari cabai rawit. "Amisnya ikan hilang berkat adanya lemon cui," kata Irine Yusiana Roba Putri, putri Bupati Halbar.

Menurut Irine, biasanya ikan yang digunakan ikan tuna. Lantas ditambahi sagu yang dibentuk seperti roti bakar dan pisang mulut bebek yang dimasak dengan santan. Sangat jarang ditampilkan dengan nasi.

Anda merasa haus? Cobalah saguer, minuman khas setempat yang berasal dari pohon enau. Minuman ditempatkan dalam sebatang bambu dan dituangkan ke dalam cangkir. Selesai menyantap gohu ikan, dilanjutkan dengan meminum saguer, rasanya sungguh nikmat mencoba kelezatan makanan dan minuman khas Halbar siang itu

Keunikan Budaya Ternate Dikagumi Wisatawan Mancanegara

Ternate, Malut - Wisatawan mancanegara ternyata mengagumi keunikan seni budaya Ternate, termasuk dari daerah lainnya di Maluku Utara (Malut), baik tarian maupun ritual adat yang ditampilkan pada Festival Legu Gam di daerah itu.

"Wisman mengaku sangat mengagumi keunikan budaya Ternate, termasuk dari daerah lainnya di Malut karena nuansa tradisional sangat menonjol dan tidak ada kemiripannya dengan budaya di daerah lain di Indonesia," kata Ketua Panitia Festival Legu Gam 2014, Nita Budi Susanti di Ternate, Kamis (17/4/2014).

Festival Legu Gam yang digelar selama dua minggu, 13-26 April 2014 untuk memeriahkan ulang tahun ke-79 Sultan Ternate Mudhafar Sjah tersebut merupakan kegiatan tahunan Kesultanan Ternate dan telah masuk kalender wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Nita Budi Susanti yang juga permaisuri Sultan Ternate itu menjelaskan, salah satu budaya yang telah ditampilkan pada Festival Legu Gam dan dinilai sangat unik oleh wisatawan mancanegara adalah ritual adat mengelilingi Pulau Ternate dengan membawa obor.

Ritual adat yang menandai dimulainya Festival Legu Gam tersebut melibatkan ratusan peserta yang terdiri dari perangkat adat Kesultanan Ternate dan masyarakat umum. Menurut Nita Budi Susanti, budaya lainnya yang juga dinilai unik oleh para wisatawan mancanegara tersebut adalah berbagai jenis tarian yang ditampilkan pada pembukaan Festival Legu Gam karena setiap gerakan dalam tarian itu, termasuk alat musik yang mengiringinya dinilai sarat dengan pesan sosial dan nuansa magis.

Masih banyak lagi kegiatan budaya yang akan ditampilkan selama pelaksanaan Festival Legu Gam, diperkirakan akan menarik bagi wisatawan, di antaranya penampilan busana adat Malut yang melibatkan ratusan remaja dengan cara berjalan kaki sepanjang tiga kilometer.

Selain itu, kata Nita Budi Susanti, kegiatan yang juga sangat menarik adalah ekspedisi Kie Raha, yakni mengunjungi empat kesultanan di Malut yakni Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan menggunakan armada laut untuk melihat lebih dekat serta mengetahui lebih banyak mengenai keberadaan keempat kesultanan itu.

Wah, Mahkota Sultan Ternate Bertabur 113 Batu Permata

Ternate, Malut - Bukan hanya keraton dan struktur pemerintahan kerajaan yang menjadi peninggalan turun temurun di Kesultanan Ternate, Maluku Utara. Kesultanan yang berdiri sejak 1257 dengan Raja pertama yaitu Baab Mansyur Malamo, ternyata memiliki satu benda pusaka yang telah dijaga dan disakralkan, yakni mahkota sultan.

Vanyira Kadato atau Kepala Wilayah Keraton Kesultanan Ternate, Rizal Effendi, mengatakan bahwa mahkota tersebut sudah ada sejak sultan pertama ini. Mahkota itu terbuat dari rambut, lempengan emas, dan dihiasi oleh kurang lebih 113 batu permata. Batu permata itu antara lain safir, intan, berlian, zamrud, dan batu-batu dari seluruh penjuru dunia.

Keunikan dari mahkota ini adalah rambut yang senantiasa memanjang. Sehingga selalu dilakukan ritual pemotongan rambut, biasanya bertepatan dengan hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban. Rizal mengatakan bahwa sebelum dilakukan pemotongan, Sultan dan perangkat adat akan melakukan thalilan atau sembahyang bersama.

"Tidak ada benda pusaka atau alat khusus untuk memotong rambut, hanya gunting biasa saja," kata Rizal.

Mahkota yang disakralkan ini tidak selalu diperlihatkan kepada orang. Benda tersebut baru diperlihatkan hanya pada acara-acara khusus atau ketika ada tamu kehormatan datang ke Kesultanan Ternate.

Kompas.com berkesempatan melihat mahkota sultan secara langsung pada saat pembukaan Festival Legu Gam 2014, di Keraton Kesultanan Ternate, Minggu (13/4/2014). Mahkota tersebut disimpan di dalam kamar yang dijaga oleh seorang juru kunci.

Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke sana. Tamu hanya diperkenankan melihat dari luar kamar yang dibatasi oleh pagar kayu kecil. Mahkota tersebut disimpan dalam kotak kaca. Disekitarnya ada dua buah keris dan satu stempel milik sultan.

"Jadi kamar itu, selain oleh juru kunci, hanya boleh dimasuki oleh Sultan dan beberapa perangkat adat. Itupun sultan bisa masuk ketika dia ingin menyepi atau bermunajat. Selain itu kamar tersebut akan terkunci," kata Rizal Effendi, Rabu (16/4/2014).

Menariknya, meskipun disebut sebagai mahkota sultan, Sultan hanya mengenakan mahkota sekali, yaitu pada saat dilantik menjadi sultan. Setelah itu, mahkota akan disimpan kembali.

Dengan jumlah batu permata yang banyak dan rambut yang cukup tebal serta masih ada lempengan emas, mahkota ini bisa dikatakan amat berat. Sayang Rizal tidak tahu persis berapa berat mahkota tersebut.

"Cuma saya masih ingat ketika Sultan Mudaffar Syah diangkat menjadi sultan, beliau tidak bisa lama-lama melayani permintaan fotografer untuk berpose lama, beliau mengeluh mahkotanya berat," kata Rizal.

Ramainya Pasar Malam di Festival Legu Gam

Ternate, Malut - Festival Legu Gam ke-13 bukan sekedar festival budaya atau ajang menampilkan tarian khas daerah. Setidaknya bagi masyarakat Kota Ternate, Maluku Utara, festival ini juga membuat roda perekonomian di Ternate bergairah.

Hal ini dikarenakan selama festival berlangsung, warga yang berada di sekitar Ternate bahkan dari Tidore, Jailolo, hingga Sofifi datang ke Ternate untuk turut memeriahkan Festival Legu Gam dengan berjualan di sekitar Festival.

"Festival Legu Gam selalu menjadi acara yang dinantikan oleh warga Ternate. Bukan hanya karena ingin bersama-sama merayakan hari ulang tahun Sri Sultan Mudaffar Syah, tapi juga selama festival berlangsung warga bisa mendapatkan keuntungan dengan berdagang di sekitar lokasi festival," kata Permaisuri Sultan sekaligus Ketua Panitia Festival Legu Gam 2014, Boki Ratu Nita Budhi Susanty, di Keraton Sultan Ternate, Sabtu (12/4/2014).

Pengamatan Kompas.com, sejak sore ruas jalan Kapak Dua menuju lapangan Ngara Lamo ditutup kedua ruasnya. Di sepanjang jalan inilah pedagang dari sejumlah daerah di sekitar Ternate menggelar dagangannya untuk berjualan.

Kondisinya persis seperti pasar malam, di salah satu sudut ada arena bermain. Pengunjung anak-anak bisa bermain pancing ikan atau kereta api, sedangkan pengunjung remaja dan dewasa bisa adu tangkas melempar bola untuk mendapatkan hadiah. Hanya dengan uang Rp 5.000, pengunjung mendapatkan tiga kali kesempatan melempar bola tenis untuk menjatuhkan tumpukan kaleng.

Sedangkan di sepanjang jalan Kapak Dua, pengunjung bisa menemukan pedagang pakaian, jam tangan, poster hingga tas. Untuk menarik pengunjung pedagang memberikan sejumlah potongan harga untuk item tertentu.

Tidak heran jika kemudian banyak warga Ternate yang meminta Festival Legu Gam lebih sering dilakukan, tidak hanya satu tahun sekali. Di Maluku Utara sendiri, ada festival lainnya seperti Festival Teluk Jailolo dan Festival Gura Ici di Kayoa.

Festival Legu Gam 2014 akan berlangsung hingga Sabtu, 26 April 2014. Selama pelaksanaan akan diadakan sejumlah kegiatan budaya seperti kirab, fashion show, pemilihan Jojaru Ngongare atau pemilihan putra-putri Maluku Utara sebagai duta budaya, hingga jelajah Samudera Kie Raha atau berjelajah menggunakan perahu untuk mengunjungi empat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Pawai Obor Awali Festival Legu Gam

Ternate, Malut - Festival Legu Gam ke-13 resmi dimulai di kota Ternate, Maluku Utara, Minggu (13/4/2014). Festival tersebut merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Kesultanan Ternate didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Permaisuri Boki Ratu Nita Budhi Susanty, mengatakan festival ini merupakan ajang bagi rakyat Ternate untuk berpesta dan bersuka cita merayakan ulang tahun ke-79 Sri Sultan H Mudaffar Syah. Selain itu festival ini juga menjadi ajang promosi bagi pariwisata di Kota Ternate.

Dimulainya festival ini ditandai dengan pawai obor "Gam Ma Cahaya" yang dilakukan pada Sabtu malam atau sehari sebelum acara pembukaan dimulai. Obor menjadi simbol penerang yang diberikan oleh Sultan kepada rakyat Ternate.

Pada acara pawai obor tersebut, Sri Sultan menyalakan obor pertama dan kemudian obor tersebut akan dibawa berkeliling kota Ternate oleh seorang abdi. Ratusan orang turut serta dalam pawai tersebut dan sebelum berangkat mereka didoakan agar memiliki kekuatan berjalan kaki mengelilingi Kota Ternate.

Pada Minggu pagi, Sultan Ternate didampingi Permaisuri mengikuti ritual doa, kemudian diarak menuju panggung rakyat pada siang harinya.

Festival yang berlangsung hingga Sabtu (26/4/2014) ini akan diisi dengan kirab budaya, fashion street, hingga jelajah Samudera Kie Raha - berjelajah menggunakan perahu untuk mengunjungi empat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

-

Arsip Blog

Recent Posts