Tampilkan postingan dengan label Serang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serang. Tampilkan semua postingan

Terlibat Korupsi Rp 5 Miliar Mantan Pjs Bupati dan Sekda Serang Ditahan

Serang—Ahmad Rivai, mantan Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Serang dan Aman Sukarso, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Serang kini berada di Rumah Tahanan (Rutan) Serang sebagai tahanan Kejaksan Tinggi (Kejati) Banten. Keduanya ditahan dalam dugaan kasus korupsi pembangunan jalan lingkungan Pasar Rawu, Kota Serang senilai Rp 5 miliar.

Penahanan kedua mantan pejabat itu dilakukan Kejati Banten, Selasa (8/4), setelah menerima berkas dari Polda Banten dan barang buktinya, sekitar pukul 10.00 WIB. Kedua mantan pejabat itu diperiksa selama dua jam di ruang Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) dengan pemeriksa jaksa M Hidayat dan Sukoco.

Usai pemeriksaan, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten, Lari Gau Samad, langsung mengeluarkan surat perintah penahanan dengan Nomor 160/0.6/FT.I/04/2008 untuk Ahmad Rivai dan Nomor 159/0.6/FT.I/04/2008 untuk Aman Sukarso pada pukul 15 00 WIB. Para tersangka pun langsung dibawa ke Rutan Serang dengan menggunakan mobil tahanan bernomor A 277 A.

Menurutnya keterlibaan mantan Pjs Bupati Serang, Ahmad Rivai, adalah memerintahkan pembayaran Rp 5 miliar untuk pembangunan jalan lingkungan Pasar Rawu yang tidak dianggarkan dalam APBD murni maupun perubahan Kabupaten Serang tahun 2004-2005. Uang itu dibayarkan ke PT Sinar Ciomas Raya Contractor (SCRC), perusahaan milik Chasan Sochib, ayah Atut Chosiyah, Gubernur Banten.

Mantan Sekda Kabupaten Serang, Aman Sukarso, karena dia memerintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk membayarkan proyek ilegal itu dengan menggunakan dana dari pos anggaran untuk pemeliharaan jalan di DPU Serang yang besarnya Rp 1 miliar.

“Keduanya saat ini diancam dengan pasal 2 dan 3 Undang-undang No 31/1999 jo UU No 20/2001,” ujarnya.

Kuasa Hukum dua tersangka, Gusti Endra menyatakan, akan segera melayangkan surat permohonan penangguhan penahanan kepada Kejati Banten. “Karena penangguhan penahanan adalah hak klien kami, maka hal itu akan segera dilakukan,” tuturnya.

Terkait tuduhan yang dilakukan penyidik, kedua kliennya mengaku tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi. “Mereka tidak melakukan hal itu, dan untuk pembuktian kami akan lakukan nanti di pengadilan,” tambahnya.

Kasus korupsi ini mulai diusut oleh Polda Banten sekitar September 2005. Kasus ini berawal dari proyek pembangunan jalan lingkungan Pasar Rawu yang diperbaiki untuk kepentingan kunjungan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 30 Juli 2004. Berkas kasus ini sudah bolak-balik dari Polda ke Kejati Banten sebanyak tiga kali.

Nilai proyek sebesar Rp 9,5 miliar itu dikerjakan PT SCRC tanpa adanya surat perintah kerja (SPK). Namun, Ahmad Rivai dan Aman Sukarso tetap memerintahkan untuk mengaluarkan dana tersebut untuk membayar kepada pihak pengusaha, walaupun dia mengetahui proyek itu tidak dianggarkan dalam APBD Kabupaten Serang.(iman nur rosyadi)

Sumber : SinarHarapan : 09 April 2008

Tersangka Kasus Raskin di Serang Bertambah

TEMPO Interaktif, SERANG:- Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan beras untuk keluarga miskin (Raskin) Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang bertambah. Menurut Kepala Sub Seksi Penuntutan Kejaksaan Negeri Serang Rudi Rosyadi, ada tiga pihak yang diduga kuat terlibat dalam kasus itu. “Selain tiga mantan kepala desa, juga ada pihak ketiga atau penadah dan dari Bulog Divre Banten” kata Rudi Rosyadi di kantornya, Senin.

Sebelumnya Kejari Serang telah menetapkan 3 tersangka mantan kepala desa, yaitu berinisial AP (mantan kades Kampung Baru), SKJ (mantan kades Pasir Limus) dan PRK

(mantan kades Binong) kecamatan Pamarayan. Para tersangka itu akan didakwa melakukan pidana korupsi seperti diatur dalam UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi "Hari ini (Senin) kita akan sita dokumen-dokumen dari para tersangka," katanya.

Kasus penggelapan raskin dikecamatan Pamarayan, telah diusut Kejari Serang sejak 2006 lalu berdasarkan laporan warga. Warga mengeluhkan banyaknya jatah beras murah yang tidak sampai kepada warga berhak menerimanya.

Menurut Kepala Seksi Kejari Serang, Agus Kurniawan, pada 2006 lalu Bolog Divrey Banten menyalurkan raskin sekitar 54 ton untuk 2 bulan . Raskin itu diperuntukkan untuk 9 desa di Kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang. Namun jatah raskin tersebut disinyalir telah dijual oleh oknum kepala desa kepada pedagang, "Kami akan akan usut kasus ini sampai tuntas," ujar Agus.

Sumber : TempoInteraktif.com : 07 April 2008

Dewan Kesenian Banten Jadi Tuan Rumah Pertemuan Penyair Nusantara X

Serang, Banten - Pertemuan Penyair Nusantara merupakan forum yang dipandang penting bagi para penyair negara-negara serumpun. Acara ini berfungsi untuk mempertemukan para penyair dan berbagi informasi mengenai perkembangan perpuisian, juga guna untuk memperkuat akar puisi masyarakat Melayu modern.

Pada Pertemuan Penyair Nusantara IX di Tanjung Pinang, forum memberikan keputusan bahwa Dewan Kesenian Banten menjadi pelaksana Pertemuan Penyair Nusantara X.

Dalam surat keputusan dan rekomendasi Musyawarah Pertemuan Penyair Nusantara tertanggal 16 Desember 2016, Dewan Kesenian Banten juga diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan pihak Pemerintah Provinsi Banten.

Ketua Dewan Kesenian Banten Chavcay Saefullah kepada merahputih.com mengatakan, hajat besar para penyair tersebut rencananya dilaksanakan akhir tahun, antara November sampai Desember.

"Surat keputusannya ditandatangani oleh Djamal Tukimin, yang merupaka wakil negara Singapura yang menjabat sebagai Ketua Komite Pemantau Pertemuan Penyair Nusantara," katanya, Rabu (4/1). (Ctr)

Berita lain tentang Dewan Kesenian Banten dibaca juga di DKB Desak Pemprov Banten Segera Realisasikan Taman Budaya

Sekretaris Daerah Serang Jadi Tersangka Korupsi

Serang–Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Serang, RA Syahbandar, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan jalan simpang susun (interchange) di Desa Julang, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, senilai Rp 14 miliar.

Selain Syahbandar, Kejaksaan Tinggi Banten juga menetapkan tujuh tersangka lainnya, antara lain HM IKA, spekulan tanah, Heru Utomo, mantan Camat Cikande, Edi S Hidayat, Camat Cikande.

"Hasil penyelidikan, para tersangka terindikasi kuat telah melakukan pelanggaran dalam proyek pengadaan lahan tersebut," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Banten, Mustakim, Rabu (5/9).

"Soal penahanan terhadap para tersangka, kami masih menunggu berkas penyidikan selesai agar tidak batal demi hukum," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tanggal 30 Mei lalu enam pejabat Pemkab Serang diperiksa Kejakasaan Tinggi Banten terkait dugaan kasus pengadaan lahan interchange senilai Rp 14 miliar. Para pejabat yang diperiksa adalah RA Syahbandar, Asisten Daerah (Asda) I Ismail Ismanto, Asda III Alam Darussalam, Kepala Bagian Umum Ujang Jumala, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Fairu Jabadi, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Arslan.

Kasus ini diusut Kejati Banten karena diduga dana pengadaan lahan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banten tahun 2006 sebesar Rp 8 miliar dan APBD Serang tahun 2006 sebesar Rp 6 miliar telah digelembungkan.

Dana sebesar Rp 14 miliar tersebut dialokasikan untuk membayar ganti rugi tanah warga seluas 12 hektare. Namun, setelah memeriksa sejumlah saksi, diketahui tim sembilan yang menangani pembebasan lahan hanya dapat membebaskan lahan seluas 7 hektare.

"Ada upaya penggelembungan atau mark up anggaran pembebasan lahan," kata Mustakim. Modusnya dengan menaikkan harga Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dari Rp 30 ribu per meter persegi menjadi Rp 380 ribu per meter persegi serta mengubah jenis dan status lahan dari Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi hak milik.

RA Syahbandar yang dihubungi terpisah menolak berkomentar. "Kita lihat sajalah siapa yang benar dan siapa yang tidak benar. Saya tidak mau banyak komentar," katanya.

Sumber : Tempointeraktif.com : 05 September 2007

Seren Taun Kasepuhan Banten Kidul Resmi Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

Serang, Banten - Pemerintah propinsi Banten berhasil menggoalkan penetapan Seren Taun Kasepuhan Banten Kidul sebagai warisan budaya tak benda sebagai salah satu kekayaan budaya nusantara.

Menurut kepala dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah propinsi Banten Opar Sochari, dinasnya mewakili pemerintah propinsi Banten berupaya untuk mengajukan argumen-argumen dan bukti-bukti otentik agar pihak kementerian dan kebudayaan RI menerima ritual masyarakat adat di selatan Banten tersebut sebagai salah satu warisan budaya tak benda.

"Para ahli yang diantara terdiri dari antropolog dan arkeolog menyatakan sepakat, sehingga dengan resminya Seren Taun sebagai warisan budaya tak benda, layak dijadikan even berskala nasional," terangnya, Senin (19/9).

Sementara itu, kepala seksi kesenian dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah propinsi Banten Rohaendi yang mengawal sidang penetapan warisan budaya tersebut mengatakan, penetapan tersebut ditandatangani pada tanggal 14 September 2016.

"Pemprop berupaya dalam sidang untuk mempertahankan di hadapan para penguji dari kementerian pendidikan dan kebudayaan, dan sampel yang digunakan adalah upacara adat Seren Taun Kasepuhan Cisungsang yang merupakan bagian dari Kasepuhan Banten Kidul," terangnya.

Ia juga mengatakan, selain Seren Taun yang merupakan Ritual Masyarakat, ada warisan budaya tak benda lainnya yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dari Banten, jenisnya adalah kuliner.

Korupsi Raskin, Dua Pejabat Kabupaten Serang Dicopot

Serang–Dua pejabat Pemerintahan Kabupaten Serang, yakni Kepala Bagian Perekonomian Abdul Hanan dan Endang Budi Wahono, camat Walantaka dicopot dari jabatan mereka masing-msing. Mereka menjadi tersangka korupsi beras miskin sebanyak 105 ton di Kecamatan Cikeusal.

Pencopotan tersebut, menurut Sekretaris Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepegawaian Pemda Serang, Sulchi Choir, dilakukan guna mengoptipmalkan penyelidikan pihak Kepolisian. “ntuk memudahkan proses tersebut,” Sulchi.

Sebelum dicopot, Abdul Hanan sempat menghuni Mapolres Serang selama seminggu sebagai tahanan. (faidil akbar/TNR)

Sumber : Tempointeraktif.com 06 Agustus 2003

Masyarakat Peduli Cagar Budaya Bersihkan Keraton Kaibon

Serang, Banten - Kelompok masyakat yang menamakan dirinya Masyarakat Peduli Cagar Budaya Banten (MPCBB) melaksanakan bakti sosial dengan membersihkan Keraton Kaibon, Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Minggu, (20/3).

Kegiatan bakti sosial ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan cagar budaya akan pentingnya kebersihan dan perawatan cagar budaya.

Koordinator MPCBB, Amar Asan, mengatakan, bahwa kelompok masyarakat yang dibentuknya bersama warga masyarakat Kasunyatan dan Banten ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya bennda cagar budaya yang ada di sekitar mereka.

“Saat ini kondisi benda cagar budaya di Banten, Kasunyatan dan sekitarnya masih sangat memprihatinkan terutama dengan persoalan kebersihan,” ujar Amar.

Menurut Amar, benda cagar budaya seharusnya selalu dalam kondisi bersih dan rapi. Namun, kenyataannya benda cagar budaya di Banten hampir semuanya tidak terawat. Salah satunya adalah Istana Kaibon, tampak tidak terawat, dalam kondisi kotor, banyak sampah berserakan, dan rumput-rumput yang mulai meninggi.

“Melihat kondisi seperti ini kami merasa prihatin. Karena itu kami melakukan kegiatan bakti sosial untuk membersihkan Istana Kaibon, Banten Lama,” jelasnya.

Amar mengatakan, jika masyarakat sadar akan potensi yang ada, maka kawasan yang sangat bersejarah ini akan memiliki dampak ekonomi yang lebih besar bagi penduduk yang tinggal di sekitar benda cagar budaya.

“Untuk itu, MPCBB akan terus melakukan kegiatan bakti sosial dan kampanye pelestarian benda cagar budaya yang saat ini masih tersisa demi masa depan anak cucu, generasi penerus,” katanya.

Sementara itu, Ketua ICMI Kota Serang, Rohman, menyambut baik kepedulian yang ditunjukkan oleh MPCBB. Kelompok ini lahir dari masyarakat sekitar kawasan Banten Lama dan ini merupakan hal yang sangat positif karena mereka yang berhubungan langsung lingkungan sekitar.

“Bila benda cagar budaya yang ada bisa dirawat dengan baik, manfaat ekonomi pasti akan dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Akhir Oktober, Banten Gelar Festival Tanjung Lesung

Serang, Banteng - Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten akan menggelar Festival Tanjung Lesung dengan menyajikan berbagai kegiatan "sport tourism", dalam upaya mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan pantai selatan daerah itu.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten M. Ali Fadilah di Serang, Senin (19/10/2015) mengatakan, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara, pihaknya akan menggelar "Festival Tanjung Lesung 2015" yang dijadwalkan pada 30-31 Oktober 2015 menampilkan perlombaan baru di dunia yakni "Bagan Race" atau balap perahu menyusuri pantai di kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang.

"Kita ingin membuat kreasi atau terobosan baru. Ini diharapkan menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang akan menyaksikan festival tersebut," kata Ali Fadilah.

Ali mengatakan, "Bagan Race" diharapkan akan menjadi salah satu daya tarik Festival Tanjung Lesung 2015. Pasalnya perlombaan perahu bagan belum pernah dilakukan, dan dapat dikatakan sebagai yang pertama kalinya di dunia kepariwisataan.

"Nanti akan bertambah lagi satu warisan budaya Provinsi Banten yaitu Perahu Bagan," kata Ali.

Menurutnya, "Bagan Race" akan dimulai dari Pantai Kerang, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang dan finis di Beach Club, pantai yang berada di dalam kawasan Pariwisata Tanjung Lesung.

Ada tiga kategori yang diperlombakan dalam "Bagan Race" tersebut, yaitu pemenang yang tercepat, kemudian pemenang yang paling indah mendekorasi atau menghias bagan, dan terakhir pemenang yang berhasil membawa ikan sebanyak-banyaknya ketika sampai di garis finis.

Selain itu, kata Ali, dalam Festival Tanjung Lesung 2015, selain "Bagan Race" ada beberapa kegiatan lain disajikan untuk menarik wisatawan yang hadir di acara diantaranya, Parade Nelayan dan Festival Budaya, Parade Sepeda Hias, Pameran Produk UMKM, serta pertunjukan film hasil kreasi para sineas muda Banten dari Kremov Pictures, yakni film "Jawara Kidul" dan "Perempuan Lesung".

"Insya Allah salah satu film hasil kreasi teman-teman sineas muda Banten akan diikutkan dalam nominasi Festival Film Indonesia 2015 yang akan digelar di ICE Kota Tangerang Selatan, Banten," katanya.

Dalam Festival Tanjung Lesung 2015, juga akan digelar Pesta Bakar Ikan di pinggir pantai Beach Club Tanjung Lesung, penanaman terumbu karang di Pulau Liwungan, yang rencananya dipimpin Gubernur Banten Rano Karno. Festival Tanjung Lesung 2015 akan melibatkan sekitar 20.000 masyarakat, baik dari Kabupaten Pandeglang maupun dari kabupaten atau kota di Banten.

Menurutnya, sejumlah wisatawan dari luar Banten juga dipastikan hadir dalam acara tersebut, termasuk wisatawan dari Malaysia dan Singapura. Wisatawan yang datang merupakan para pelaku pariwisata yang akan hadir untuk mengikuti pertemuan forum bisnis yang melibatkan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (Asppi).

Festival Tanjung Lesung 2015 Digelar 30-31 Oktober

Serang, Banten - Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten akan menggelar Festival Tanjung Lesung dengan menyajikan berbagai kegiatan sport tourism. Hal ini dilakukan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan pantai selatan daerah itu.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten M. Ali Fadilah mengatakan, pihaknya akan menggelar Festival Tanjung Lesung 2015 pada 30-31 Oktober. Di acara ini, menampilkan perlombaan baru di dunia yakni Bagan Race atau balap perahu menyusuri pantai di kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang.

"Kita ingin membuat kreasi atau terobosan baru. Ini diharapkan menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang akan menyaksikan festival tersebut," kata Ali Fadilah, Senin (19/10) kemarin.

Ia mengatakan, Bagan Race tersebut akan menggunakan sarana perahu nelayan yang di atasnya terdapat kerangka bagan (tempat menangkap ikan) yang dapat ditumpangi sebanyak 20 orang penumpang. Panitia Festival Tanjung Lesung 2015 menyiapkan sebanyak sepuluh unit perahu bagan untuk diperlombakan.

"Para peserta lomba adalah stakeholder kepariwisataan, termasuk masyarakat setempat," ujarnya.

Ali mengatakan, Bagan Race diharapkan akan menjadi salah satu daya tarik Festival Tanjung Lesung 2015. Pasalnya perlombaan perahu bagan belum pernah dilakukan, dan dapat dikatakan sebagai yang pertama kalinya di dunia kepariwisataan.

"Nanti akan bertambah lagi satu warisan budaya Provinsi Banten yaitu Perahu Bagan," kata Ali.

Bagan Race ini akan dimulai dari Pantai Kerang, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang dan finis di Beach Club, pantai yang berada di dalam kawasan Pariwisata Tanjung Lesung.

Ada tiga kategori yang diperlombakan dalam Bagan Race, yaitu pemenang yang tercepat, kemudian pemenang yang paling indah mendekorasi atau menghias bagan, dan terakhir pemenang yang berhasil membawa ikan sebanyak-banyaknya ketika sampai di garis finis.

Dalam Festival Tanjung Lesung 2015, selain Bagan Race ada beberapa kegiatan lain yang juga disajikan, diantaranya Parade Nelayan dan Festival Budaya, Parade Sepeda Hias, Pameran Produk UMKM, serta pertunjukan film hasil kreasi para sineas muda Banten dari Kremov Pictures, yakni film "Jawara Kidul" dan "Perempuan Lesung".

"Insya Allah salah satu film hasil kreasi teman-teman sineas muda Banten akan diikutkan dalam nominasi Festival Film Indonesia 2015 yang akan digelar di ICE Kota Tangerang Selatan, Banten," katanya.

Dalam Festival Tanjung Lesung 2015, juga akan digelar Pesta Bakar Ikan di pinggir pantai Beach Club Tanjung Lesung, penanaman terumbu karang di Pulau Liwungan, yang rencananya dipimpin Gubernur Banten Rano Karno.

Festival Tanjung Lesung 2015 akan melibatkan sekitar 20.000 masyarakat, baik dari Kabupaten Pandeglang maupun dari kabupaten/kota di Banten.

Menurutnya, sejumlah wisatawan dari luar Banten juga dipastikan hadir dalam acara tersebut, termasuk wisatawan dari Malaysia dan Singapura. Wisatawan yang datang merupakan para pelaku pariwisata yang akan hadir untuk mengikuti pertemuan forum bisnis yang melibatkan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (Asppi).

Hasil Penelusuran Sejarah Banten, Ditemukan Ratusan Peta dan Sketsa

Serang, Banten - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten mengklaim temukan sejumlah fakta baru dari hasil penelusuran naskah dan arsip tentang sejarah Kesultanan Banten di Belanda dan Prancis, beberapa waktu lalu.

"Data-data yang diperoleh ini sangat penting untuk melengkapi buku sejarah Banten. Selama ini sejarah Banten ditulis hanya dari referensi lama saja. (Temuan) ini menjadi sumber primer, untuk penyusunan semua periode sejarah Banten," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banten M Ali Fadillah.

Penelusuran dilakukan di beberapa tempat yakni Missions Etrangères de Paris, Leiden University, dan Moyen Age. Hasilnya, beberapa temuan yang didapat yaitu foto naskah babad Banten, foto sketsa site plant kesultanan Banten, 296 peta dan sketsa masa kesultanan Banten, daftar haji orang-orang Banten pada masa lalu. Kemudian buku-buku tua tentang peperangan Sultan Haji, buku tua terbitan abad ke-16 dan ke-17, serta dokumen berbentuk microfisch mengenai birokrasi pemerintahan kolonial di Banten pada awal abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Sayangnya, tim peneliti tidak menemukan sketsa wajah Sultan Ageng Tirtayasa. Namun, paling tidak benda-benda yang ditemukan nantinya akan menjadi koleksi di Museum Banten.

“Kami belum menemukan sketsa wajah Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan sultan-sultan lain juga belum ditemukan. Akan tetapi, kami sedang menunggu dokumen yang baru akan dikirimkan pada Agustus mendatang. Mudah-mudahan sketsanya ada,” katanya.

Menurut dia, jika arsip sejarah tersebut sudah bisa diterjemahkan dan jika dianggap penting untuk dibaca oleh masyarakat, bisa juga disimpan di perpustakaan daerah untuk mengisi Banten Corner.

"Nanti kan dipilih mana saja untuk museum, jika dianggap tidak layak untuk museum bisa disimpan di Perpustakaan Daerah," kata Ali.

Ketua Tim Peneliti dari Bantenologi Mufti Ali mengatakan, dokumen yang diambil dengan cara direpro ini hampir semuanya tidak ada di Banten maupun nasional. “Ini menjadi referensi baru untuk mengetahui sejarah kesultanan Banten," kata Mufti Ali didampingi Helmi Fauzi.

"Selama 11 hari di Belanda dan Prancis sejak 30 Mei lalu, kami benar-benar manfaatkan waktu se-efektif mungkin untuk bisa mencari dan mengambil dokumen-dokumen sejarah ini," katanya.

"Dalam satu hari kami satu persatu memotret buku setebal 1.749 itu. Kenapa? karena membeli hasil cetak ulang di sana, harganya cukup mahal," katanya.

Dia mengatakan, butuh dana sekira Rp2 miliar agar temuan sejarah tersebut bisa dikoversi sedemikian rupa dari sisi bahasa maupun gambar, sehingga bisa dinikmati masyarakat. “Rata-rata buku tua di sana itu kan masih menggunakan bahasa Inggris tua, bahasa Prancis tua, bahasa Belanda tua. Belum tentu dalam satu tahun bisa diterjemahkan,” katanya.

Korupsi Raskin, Dua Pejabat Kabupaten Serang Dicopot

Serang–Dua pejabat Pemerintahan Kabupaten Serang, yakni Kepala Bagian Perekonomian Abdul Hanan dan Endang Budi Wahono, camat Walantaka dicopot dari jabatan mereka masing-msing. Mereka menjadi tersangka korupsi beras miskin sebanyak 105 ton di Kecamatan Cikeusal.

Pencopotan tersebut, menurut Sekretaris Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepegawaian Pemda Serang, Sulchi Choir, dilakukan guna mengoptipmalkan penyelidikan pihak Kepolisian. “ntuk memudahkan proses tersebut,” Sulchi.

Sebelum dicopot, Abdul Hanan sempat menghuni Mapolres Serang selama seminggu sebagai tahanan. (faidil akbar/TNR)

Sumber : Tempointeraktif.com 06 Agustus 2003

Untirta Gelar Pesta Seni Budaya Tradisional

Serang, Banten - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paguyuban Seni Budaya Tradisional Mahasiswa (Pandawa) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan festival budaya bertajuk Tirtayasa Traditional Festival (TTF) 2014. Gelaran tahunan UKM Pandawa tersebut terdiri dari berbagai lomba dan pertunjukan seni.

"Ada pertunjukkan seni tari dan silat dari Pandawa. Untuk lomba, ada silat dan tari untuk SMP dan SMA, lomba poster untuk SMP, SMA dan mahasiswa. Ada juga Lomba Karya Tulis Seni Budaya (LKTSB) untuk mahasiswa," kata panitia TTF 2014, Elis Nopiyanti di Teater Terbuka Untirta, Rabu (12/11/2014).

TTF 2014 yang dibuka hari ini dan berlangsung hingga Jumat, 14 November mendatang diawali dengan penyerahan piala bergilir oleh Rektor Untirta, Prof. Sholeh Hidayat. Piala bergilir tersebut akan diperebutkan oleh para peserta lomba.

"Selain acara tahunan Pandawa, kami ingin dengan adanya acara ini mahasiswa dan masyarakat dapat lebih mengenal dan mencintai budaya tradisional, khususnya budaya Banten, agar budaya tradisional tidak hilang," ucap Elis.

TTF 2014, lanjut Elis, tidak hanya menyuguhkan seni tari dan silat, namun juga seni musik tradisional. Hal tersebut tampak sepanjang acara yang selalu menyertakan musik tradisional untuk mengiringi berbagai pertunjukan seni yang disuguhkan.

Setidaknya ada 20 padepokan silat se-Banten ambil bagian dalam acara ini. Para peserta juga terdaftar di lomba-lomba yang digelar UKM Pandawa. Tampak pula jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten turut hadir menyaksikan acara.

"Hari ini digelar perlombaan silat, poster dan LKTSB. Sedangkan Kamis dan Jumat nanti akan ada perlombaan tari dan silat," kata Elis.

2.000 Seniman akan Ramaikan "Festival deBus Banten 2014"

Serang, Banten - Sebanyak 2.000 seniman debus di Banten akan mengikuti "Festival deBus Banten 2014" yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten pada 23 Agustus 2014.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten Endrawati di Serang, Jumat mengatakan, festival yang ditargetkan mampu memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) itu, akan diikuti 6 kabupaten/kota se-Banten. Dua daerah lainnya yakni Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak ikut serta dalam kegiatan tersebut.

"Festival deBus Banten 2014 akan dilaksanakan pada 23 Agustus 2014 di Mercusuar, Anyer, Kabupaten Serang. Sebanyak 6 kabupaten/kota akan mengirimkan para seniman debus dari sejumlah sanggar yang ada untuk menampilkan kreasi debus Banten di hadapan tim pemberi rekor MURI," kata Endrawati.

Ia mengatakan, masing-masing kabupaten/kota akan mengirimkan perwakilannya untuk menampilkan kreasi debus yang juga akan disaksikan langsung wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf).

Menurutnya, 2.000 seniman debus se-Banten yang akan mengikuti festival tersebut di antaranya meliputi Kabupaten Serang sebanyak 500 orang, Kabupaten Lebak sebanyak 500 orang, Kota Cilegon sebanyak 400 orang dan Kabupaten Pandeglang sebanyak 300 orang. Sementara, Kota Tangerang dan Kota Serang belum memberikan konfirmasi terkait jumlah peserta yang akan diikutsertakan dalam festival.

"Kota Tangsel dan Kabupaten Tangerang tidak ikut festival karena tidak punya sanggar debusnya. Tapi, prediksi kita memang akan diikuti sekitar 2.000 sampai 2.500 seniman untuk memecahkan rekor MURI," kata Endrawati.

Menurut Endra, setiap perwakilan peserta festival dari kabupaten/kota harus menampilkan kreasi debus yang berbeda dengan peserta lainnya. Sehingga, masyarakat yang menyaksikan dapat mengetahui seni bela diri debus dengan segala kekayaannya.

Namun demikian, kata dia, penampilan debus akan dibatasi pada tingkat kesulitan yang ringan hingga sedang saja. Hal ini untuk menghindari adanya insiden yang tidak diinginkan ketika dilangsungkan festival.

"Debus kan punya tingkat kesulitan yang berbeda-beda, ada yang ringan, sedang sampai berat. Tapi, kami hanya memberi toleransi untuk yang ringan dan sedang saja. Khawatir kalau terlalu berat atraksinya, kami tidak bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Endrawati.

Endrawati menambahkan, festival debus hanya akan berlangsung selama satu hari. Festival tersebut dianggap penting dilakukan lantaran debus telah disahkan menjadi warisan seni budaya milik Provinsi Banten. Sehingga, wajib untuk dilestarikan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas.

Pertemuan Sastrawan 10 Provinsi di Banten

Serang, Banten - Lebih kurang 70 sastrawan dari 10 provinsi mengikuti pertemuan sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) VIII yang digelar di Hotel Ratu Bidakara, Serang, Provinsi Banten.

Para sastrawan mengikuti kegiatan berupa seminar bertemakan "Misistisme dalam Kesusastraan Indonesia", sarasehan "Dinamika Kesusastraan Mutakhir", dan serangkaian kegiatan di Ciboleger dan Gajeboh, Lebak, yang merupakan tempat tinggal suku Baduy.

Temu Sastrawan MPU VIII ini dibuka pada Jumat malam, 15 November 2013, dan sedianya ditutup pada Senin, 18 November 2013. Peserta yang datang di antaranya penyair Acep Zam-Zam Noor, Deden Abdul Azis dari Jawa Barat, Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Hamdi S. (Yogyakarta), dan Isbedi Setyawan (Lampung).

Dari Banten, selain Ayu Cipta, ada juga Chafchay Saifullah, Ibnu Megananda, Trip Umiuki, dan Muhamad Rois Rinaldi. Sedangkan lainnya mewakil Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, dan NTB.

Acara dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Endrawati. Dihadapan peserta MPU VIII, Endrawati mengatakan, kegiatan ini merupakan pelaksanaan tim teknis, sedangkan tim kebijakan telah dilaksanakan dalam pertemuan 10 gubernur yang tergabung dalam MPU di Surabaya.

"Saya berharap para sastrawan betah di Banten dan menginap lebih lama di sini untuk mengunjungi daerah wisata," kata Endrawati.

Pembukaan pertemuan sastrawan MPU VIII sendiri berlangsung cukup semarak, ditandai dengan tarian selamat datang Wali Jamaliyah dari sanggar tari di Serang juga penampilan apik paduan suara SMAN Pandeglang. Sayangnya, Atut yang dijadwalkan membuka acara urung hadir. Dia diwakili Endrawati dan Asisten Daerah Bidang Umum, Yanwar.

Generasi Muda Diminta Lestarikan Seni Tradisional Banten

Serang, Banten - Pendiri Sangar Tari Raksa Budaya, Maya Rani Wulan, berharap generasi muda di Banten dapat ikut melestarikan kesenian tradisional Banten agar nantinya tidak diklaim negara lain.

"Tidak perlu harus menjadi praktisi, cukup mengenal dan mencintai budaya sendiri sudah memberi kontribusi dalam melestarikan budaya asli Banten," kata Maya di Serang, Jumat.

Menurut dia, kesenian tradisional Banten yang ada saat ini harus diajukan dan dicatat dengan baik ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk tingkat nasional.

Maya mengharapkan, seluruh kekayaan seni dan budaya Indonesia sudah memiliki hak cipta dan Hak Atas Kekayaan Intelektual.

Hal itu akan dapat terwujud seandainya terdapat sinergi antara masyarakat dengan pemerintah, sehingga seni budaya asli daerah memiliki wadah dan dapat terpublikasikan.

Maya mengaku tidak menjadi masalah, kalau ada negara asing yang kemudian mempertunjukkan kesenian tradisional Banten.

"Justru itu merupakan salah satu publikasi terhadap adanya kesenian kita yang begitu beragam. Seperti negara Singapura dan Malaysia sempat mempertunjukan kesenian tradisional debus yang sempat disaksikan oleh warga Indonesia yang ada di sana. Tapi itu biasa saja, bukan berarti diklaim," ujarnya.

Lebih jauh, Rahmat Heldy, budayawan Banten, turut menanggapi mengenai kesenian tradisional Banten agar tidak diklaim oleh negara asing maka masyarakat harus mulai perhatian.

"Sudah saatnya masyarakat Banten mulai dari level terendah hingga di level atas, turut menjaga kesenian Banten agar tidak hilang bersama sejarah dan masyarakat," ujar dia.

Rahmat mengatakan komunitas-komunitas kesenian, guru, dosen seni sudah saatnya melakukan ekspansi secara terus menerus tanpa kenal lelah mendekatkan kesenian dan budaya Banten pada masyarakat, agar kita tidak kehilangan identitas dan cirinya.

-

Arsip Blog

Recent Posts