Menteri PDT Buka Festival Muharram di Bondowoso

Bondowoso, Jatim - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini membuka Festival Muharram 1434 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jatim, Minggu.

Sebelum membuka acara tahunan untuk memeriahkan datangnya tahun baru Islam itu, Menteri PDT diarak keliling kota penghasil tapai tersebut dengan menggunakan dokar (delman).

Menteri berada dalam satu dokar dengan Bupati Bondowoso Amin Said Husni, sedangkan pejabat lainnya di dokar belakangnya.

Dalam sambutannya Helmy mengatakan bahwa Bondowoso yang tergolong kota kecil memiliki beragam potensi yang bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut, katanya, menjadi daya tarik masyarakat lain untuk datang. Oleh karena itu, ia berjanji untuk terus memberikan bantuan anggaran kepada Pemkab Bondowoso dalam rangka memajukan pembangunan sehingga kabupaten tersebut bisa bertambah maju dan sejajar dengan wilayah-wilayah lainnya.

Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengatakan, Festival Muharram itu merupakan komitmen pemerintah daerah untuk menyuguhkan hiburan kepada masyarakat setempat dan memperkenalkan berbagai potensi budaya kepada masyarakat luar.

"Dengan adanya festival ini kami harapkan potensi kabupaten ini semakin dikenal oleh masyarakat luas dan masyarakat Bondowoso sendiri semakin mengenal potensi yang dimiliki," katanya.

Festival Muharram yang dipusatkan di Alun-alun Bondowoso itu menampilkan berbagai acara, seperti lomba membaca Al Quran untuk dewasa dan anak-anak, festival hadrah, lomba peragaan busana muslim, pergelaran drum band, lagu keroncong, dan tembang kenangan, campur sari, dan tari tradisional.

Kegiatan yang termasuk bazar tersebut akan berlangsung hingga 1 Desember 2012.

1 Muharram, Masyarakat Jawa di Aceh Kenduri Suroan di Jalan

Lhoksukon, NAD - Peringatan 1 Muharram 1434 Hijriyah, beragam kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat dalam merayakanya. Ada yang melakukan dengan pawai di jalan raya, mengadakan ceramah keagamaan, takbir Akbar dan berbagai macam kegiatan lainya.

Namun dalam istilah tradisi Jawa, tahun baru Islam ini lebih dikenal dengan istilah Suroan, dimana pada hari itu sebagaian mereka merayakanya dengan cara berdo'a bersama-sama di tempat umum seperti di persimpangan jalan dengan membawa makanan nasi tumpeng, dan aneka makanan khas Jawa lainya.

Hal ini seperti di kampung Buket Hagu, Lhoksukon, Aceh Utara, Kamis (15/11/2012). Seluruh masyarakat baik dari anak kecil sampai orang tua memadati di persimpangan jalan, guna menggelar acara kenduri, dan kemudian pada malamnya menggelar pertunjukan Kuda Lumping.

Menurut sesepuh kampung tersebut, Mbah Sunu, saat berbincang dengan The Globe Journal mengatakan, kenduri tersebut dilakukan untuk memohon do'a keselamatan kepada Allah, agar dihindarkan dari segala balak dan sebagainya.

"Di kampung kami kenduri ini memang dilakukan di tempat yang terbuka, dan setiap tahunya kami rayakan tepat di persimpangan jalan," tukas Mbah Sunu.

Sementara itu Ki Wono Sentono, selaku tokoh adat setempat mengatakan, tradisi 'Suroan' ini menurutnya hari yang sangat sakral sekali bagi masyarakat Jawa. Kata dia, pada tahun ini umat manusia harus banyak-banyak memohon do'a dan meminta ampunan kepada Gusti Allah.

"Karenanya, acara ritual ini harus digelar ditempat yang terbuka biar do'anya cepat sampai," katanya

"Mudah-mudahan dengan digelarnya acara kenduri peringatan tahun baru Islam ini menjadi awal yang baik buat kita semua, terkhusus untuk keselamatan dan kesejahteraan rakyat Aceh," harap Ki Wono Sentono

Festival Tabot untuk Lestarikan Budaya

Bengkulu - Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah mengatakan, Fesvital Tabot yang merupakan agenda budaya bernuansa religi menjadi media yang potensial untuk melestarikan seni budaya lokal.

"Salah satunya seni `barong landong` yang sudah lama tidak dimainkan oleh masyarakat Bengkulu, terutama warga Suku Lembak, pada festival Tabot tahun ini kembali dihidupkan," katanya di Bengkulu, Kamis.

Seni "barong landong" yang berarti boneka besar mirip dengan kesenian ondel-ondel di Suku Betawi, Jakarta.

Setelah 40 tahun tidak pernah dimainkan, masyarakat Suku Lembak di Bengkulu kembali menghidupkan seni budaya tersebut dengan membentuk kelompok penggiat seni tersebut.

Junaidi mengatakan, Festival Tabot yang digelar selama 10 hari akan menampilkan seni budaya masyarakat Bengkulu yang terancam punah karena tergilas zaman.

"Ada seni `bubu gilo` yang juga sudah lama tidak dimainkan oleh masyarakat dan seni tari piring dari Kabupaten Kaur juga semakin jarang ditemui, dalam Festival Tabot berikutnya seni budaya yang terancam punah harus ditampilkan," katanya menerangkan.

Sedangkan pada pembukaan Festival Tabot pada Rabu (14/11) malam di Tugu Kampung, Kota Bengkulu sejumlah atraksi budaya seperti tari jari-jari yang mengawali upacara Tabot dan tari jampin yang merupakan pernyataan orang-orang Bengkulu bahwa mereka termasuk dalam rumpun Melayu.

Plt Gubernur mengatakan selain bertujuan melestarikan seni budaya dari berbagai kabupaten dan kota di daerah ini, Festival Tabot juga sekaligus sebagai ajang promosi pariwisata Bengkulu.

Festival Tabot 2012 dibuka secara resmi oleh Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah dan dihadiri kepala daerah kabupaten dan kota antara lain Bupti Kepahiang Bando Amin, Bupati Bengkulu Utara, Imron Rosyadi, dan Wali Kota Bengkulu, Ahmad Kanedi.

Pembukaan festival tahunan yang digelar menyambut Tahun Baru Hijriah itu juga dihadiri Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol Beny Mokalu, Danrem 041 Gamas Bengkulu, Kol Inf Teguh Pambudi, Sekda Provinsi Bengkulu, Asnawi A Lamat dan sejumlah kepala dinas di jajaran Pemkot dan Pemprov Bengkulu.

Tabuik Awali Tahun Baru Hijriyah di Pariaman

Pariaman, Sumatera Barat - Warga Pariaman, Sumatera Barat, mengawali tahun baru Hijriyah dengan menggelar ritual budaya Tabuik pada Kamis sore.

"Prosesi tersebut dilakukan dalam dua kelompok yaitu kelompok tabuik Pasa dan kelompok tabuik Subarang yang akan diiringi oleh arakan serta ditemani dengan dentuman gandang tasa," kata Tuo (sesepuh) Tabuik, Nasrul Syam.

Ritual yang digelar bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1434 Hijriyah itu dimulai dengan upacara "mambiak tanah," pengambilan tanah dari dasar sungai yang berbeda dan berlawanan arah oleh dua kelompok Tabuik.

Prosesi itu dilakukan oleh seorang laki-laki dari keluarga pengurus tabuik. Dia mengenakan pakaian putih, melambangkan kejujuran kepemimpinan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

"Ritual ini tidak hanya sekedar pengambilan tanah saja, tetapi merupakan simbol dari pengambilan jasad Husein yang mati syahid dalam perang Karbala melawan penguasa Yazid Bin Muawiyah," tutur dia.

Lebih lanjut dia menuturkan, tanah yang diambil tersebut kemudian dibungkus dengan kain putih seolah-olah mengafani jasad Husein, lalu dimasukkan ke dalam panci yang kemudian juga dibungkus dengan kain putih.

"Kemudian panci yang sudah dibungkus kain putih tersebut akan diletakkan di Daraga (tempat pembuatan tabuik)," jelas dia.

Penampilan kesenian daerah di Sumatera Barat dan sekitarnya dan bazar pemerintah kota memeriahkan pesta Tabuik tahun ini.

Tari Giring-giring

Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh suku-suku yang berdiam di Kalimantan adalah tari giring-giring. Utama suku Ma’anyan yang menetap di daerah Barito, Kalimantan Selatan. Oleh masyarakat setempat, tarian giring-giring juga disebut dengan nama Ganggereng.

Tari giring-giring merupakan jenis tarian yang menggambarkan suasanan gembira, sehingga tarian ini biasanya digunakan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.

Selain itu, tarian giring-giring juga ditampilkan pada acara-acara dengan suasana gembira dan acara selingan. Dan terkadang juga dijadikan tarian pergaulan oleh para muda-mudi Kalimantan.

Tata Cara Pementasan Tari Giring – giring

Pada penampilan tari giring-giring, biasanya penari akan membawa alat yang disebut dengan giring-giring. Giring-giring ini biasanya terbuat dari bambu yang tipis (telang).

Sebelum digunakan dalam tari giring-giring, bambu ini biasanya diisi dengan biji ‘piding’ sehingga ketika digunakan dalam pertunjukan tari giring-giring, bambu ini akan menghasilkan suara yang berirama dengan alunan gamelan.

Cara menarikan tari giring-giring adalah dengan menghentakan giring-giring atau bambu ke lantai dan mengoyang-goyangkan bambu agar mendapatkan bunyi yang ritmis.

Tongkat yang dihentakan ke lantai adalah tongkat yang dipegang dengan tangan kiri, sedangkan bambu yang digoyang-goyangkan adalah bambu yang dipegang oleh tangan kanan.

Ketika menhentakan dan mengoyangkan bambu, kaki penari biasanya akan bergerak maju-mundur seirama dengan irama yang dihasilkan oleh bambu dan irama lagu yang mengiringi tarian tersebut.

Keserasian antara ritme musik dan gerakan penarinya itulah yang menjadi daya tarik bagi orang menonton pertunjukan tari giring-giring. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/budaya-kalimantan-tari-giring-giring | Foto: melayuonline.com

Tari Cokek

Tari cokek merupakan salah satu budaya Betawi yang dipengaruhi oleh budaya etnik China. Walaupun merupakan salah satu kekayaan budaya Betawi, tarian ini sebenarnya tarian khas Tangerang. Tari cokek merupakan salah satu jenis tarian pergaulan yang biasanya dibawakan oleh 10 orang penari wanita dan 7 orang penari laki-laki.

Sedangkan untuk musik pengiringnya biasanya menggunakan orkes gamang kromong untuk mengiringi pertunjukan tari cokek.

Untuk kostumnya sendiri biasanya penari tari cokek hanya memakai baju urung dan celana panjang dari bahan sejenis sutra dengan warna yang cerah dan mencolok.

Biasanya penari juga akan memakai selendang yang disebut cokek. Fungsi dari selendang ini adalah untuk mengajak para penonton untuk ikut penari.

Dalam pertunjukanya biasanya penari akan menarik tamu yang dianggap paling terhormat untuk ikut menari bersama atau ngibing.

Cara mengajaknya adalah dengan mengalungkan selendangnya ke tamu terhomat dan bila tamu tersebut bersedia untuk menari bersama, maka mereka akan mulai menari bersama.

Secara sepintas, pertunjukan tari cokek hampir sama dengan pertunjukan tari sintren dari Cirebon atau tari ronggeng dari Jawa Tengah.

Sejarah Tari Cokek

Tari cokek disinyalir telah berkembang di daerah Tanggerang, Banten sejak abad ke–19. Menurut beberapa berkas, tarian ini pertama kali diadakan oleh tuan tanah Tionghoa.

Awalnya cukong atau tuan tanah Tionghoa yang tinggal di sekitar wilayah Tangerang terkadang mengadakan pentas hiburan atau pentas seni.

Untuk meramaikan pentas seni tersebut kemudian salah satu tuan tanah, Tan Sio Kek mengikutsertakan 3 orang penari cantik dalam pentas seni tersebut.

Berawal dari keikutsertaan mereka dalam pentas seni tersebut, kemudian penari tersebut menjadi terkenal hingga akhirnya mereka mendirikan kelompok tari sendiri.

Tariannya yang dibawakan oleh penari tersebut kemudian dinamakan dengan tari cokek sebagai penghargaan terhadap Tan Sio Kek karena telah mengilhami pertunjukan tersebut. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/budaya-betawi-tari-ngibing-cokek/4763/ | Foto: gambang.wordpress.com
-

Arsip Blog

Recent Posts