Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan

Baru 15 Pejabat di Klaten Serahkan Laporan Kekayaan

KLATEN--Baru 15 pejabat di Kabupaten Klaten, Jateng yang telah menyerahkan laporan harta kekayaan dari 221 pejabat yang dinyatakan wajib lapor di Kabupaten Klaten. Rendahnya kesadaran pejabat yang diwajibkan melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi akan memperlambat upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Waluyo saat menghadiri Pengukuhan Deklarasi Barisan Indonesia di Kabupaten Klaten, Selasa (3/4) mengatakan apabila baru 15 pejabat penyelenggara negara di Kabupaten Klaten yang menyerahkan laporan harta kekayaan, berarti hanya 6,71 persen pejabat yang ada telah menjalankan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.

Jumlah pejabat penyelenggara negara yang melaporkan harta kekayaannya tersebut cukup rendah dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah. Sekitar 87 persen penyelenggara negara di Provinsi Jawa Tengah telah melaporkan harta kekayaannya, sementara di Cilacap (88 persen), Banyumas (82 persen), dan Demak (92 persen).

Divisi pencegahan di KPK sendiri, menurut Waluyo, sangat membuka diri terhadap pengarahan dan bimbingan teknis pengisian laporan harta kekayaan penyelenggara negara. Selain itu, KPK juga menawarkan upaya pencegahan korupsi dalam bentuk tata kelola pemerintah yang baik. Bimbingan dan pengarahan itu gratis atau tanpa dipungut biaya.

Waluyo mengemukakan, di seluruh Indonesia, pelaporan harta kekayaan oleh penyelenggara baru sekitar 60 persen dari 116.000 pejabat yang dinyatakan wajib lapor. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan kesadaran yang tinggi terhadap kewajiban yang telah diinstruksikan oleh presiden.

Pihaknya yang diberikan wewenang sebagai penerima laporan harta kekayaan oleh pejabat penyelenggara negara, hanya dapat memberikan sanksi administratif apabila pejabat yang dinyatakan wajib lapor tidak memenuhi instruksi presiden tersebut. “Namun sebelum dikenakan sanksi terlebih dahulu diberikan peringatan hingga tiga kali,” ujarnya.

Ditanya adakah batas waktu pengumpulan laporan harta kekayaan tersebut, Waluyo mengatakan menurut aturan, pejabat yang dinyatakan wajib lapor harus menyerahkan laporan harta kekayaan paling lambat dua bulan setelah pejabat tersebut menempati jabatan yang baru. (Agustina Liliasari)

Sumber: Kompas, Rabu, 4 April 2007

Eksistensi Lurik Tradisional Terancam Tak Ada Generasi Baru

Klaten, Jateng - Tenun lurik tradisional merupakan produk unggulan di Kabupaten Klaten. Bahkan, kain khas Kabupaten Klaten tersebut tak hanya dikenal di tingkat lokal. Namun juga skala nasional, bahkan mulai merambah level internasional.

Meski makin terkenal, eksistensi produk budaya ini mulai terancam.

Betapa tidak, tenun lurik khas Klaten yang diproduksi menggunakan peralatan tenun tradisional atau lebih dikenal Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) kini semakin surut. Hal itu dipengaruhi semakin sedikitnya tenaga penenun tradisional.

Merosotnya jumlah sumber daya manusia (SDM) di kerajinan tenun lurik tersebut terjadi, lantaran kurangnya regenerasi penenun tradisional.

Saat ini sebagian besar penenun memasuki usia lanjut, sementara bidang tersebut kurang diminati generasi penerusnya.

Kondisi ini berdampak pada produksi tenun lurik tradisional. Walaupun pangsapasar besar, jumlah penenun tradisional yang terbatas, membuat produksi tak dapat memenuhi kebutuhan pasar secara cepat.

Sendratari Ramayana Bertahan Ditengah Gempuran Jaman

Klaten, Jateng - Kesenian tradisional tetap bertahan ditengah gempuran hiburan modern yang terus berkembang. Tak dapat dipungkiri seni klasik masih menjadi magnet bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, salah satunya yakni Sendratari Ramayana. Sanggar Tari Kusuma Aji (STKA) Klaten salah satunya yang hingga saat ini tetap konsisten mempertahankan kebudayaan adiluhung tersebut.

Pimpinan STKA Klaten, Tejo Sulistyo mengatakan, untuk menyajikan tontonan yang menarik perlu mempersiapkan dengan matang. Baginya pencapaian terbesar yakni manakala dapat melestarikan budaya daerah dan penonton merasa terhibur dengan apa yang ditampilkan.

“Semua komponen melakukan hal yang terbaik. Latihan dan latihan terus kami lakukan untuk menyajikan yang terbaik bagi penonton,” kata Tejo di Klaten, Rabu (23/03/2016).

Tejo Sulistyo mengerahkan sebanyak 70 penari dari sanggar yang dipimpinya, sehingga pentas full story Ramayanan benar-benar memikat penonton. Cerita penuh Ramayana tersebut dipentaskan dalam empat babak yang menceritakan perjuangan cinta rama dan Shinta.

Menurut Tejo Sendratari Ramayana yang sering adipentaskan di Kompek Candi Prambanan merupakan penggabungan antara tari dan drama tanpa dialog. Cerita diangkat dari kisah Ramayana, yakni perjalanan Rama menyelamatkan istrinya Dewi Shinta yang diculik Raja Rahwana.

Besok, Pesta 6 Ton Apem di Klaten

Klaten, Jateng - Perayaan tradisi Yaa Qawiyyu di Kecamatan Jatinom-Klaten, dirayakan satu minggu penuh. Dibuka pada Kamis (04/12/2014), puncak acara ini baru dihelat pada Jumat (12/11/2014) depan. Adapun, pada puncak tradisi tersebut, akan disebar sekitar 6 ton kue apem.

Ketua panitia acara Yaa Qawiyyu Kusnin mengatakan, selama tujuh hari tradisi tersebut akan diisi dengan berbagai acara. Mulai dari festival drum band, budaya, reog, panahan tradisional hingga pagelaran wayang dengan dalang cilik.

Ia menambahkan antusiasme masyarakat terhadap acara tersebut terbilang sangat tinggi. Hal itu terbukti dari jumlah calon pengisi acara yang membludak. "Kami sampai harus menolak pengisi acara, dari Jathilan drumband dan sebagainya. Sebab kalau tidak, kami kewalahan dibuatnya," imbuhnya.

Adapun kue apem tersebut berasal dari sumbangan warga Jatinom dan diluar wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten Joko Wiyono mengungkapkan, ajang Yaa Qawiyyu sudan merupakan agenda pariwisata skala Jawa Tengah. Oleh karena itu pihaknya, tak segan menggelontorkan dana sebesar Rp 50 juta.

"Untuk kali ini kepanitiaan diserahkan langsung kepada pemerintah Kecamatan Jatinom," tuturnya.

Adapun tradisi Ya Qawiyyu merupakan, tradisi yang dilakukan warga Klaten semenjak kedatangan Ki Ageng Gribig, sang penyebar Agama Islam di wilayah tersebut. Puncak acara akan ditandai dengan arak-arakan kue apem, yang kemudian disebar kepada masyarakat di Sendang Plampeyan.

Hingga kini, masyarakat percaya dengan kue apem tersebut sebagai berkah. Secara harfiah, apem berasal dari kosakata Arab Affun, yang berarti maaf.

Sambut Maulud Nabi, 27 Group Rebana Ikuti Festival

Klaten, Jateng - Menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW, sebanyak 27 group rebana, Minggu (12/1) mengikuti Festival Rebana di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ceper.

Tidak hanya group rebana dari Ceper, namun mereka yang ikut festival juga berasal dari Kecamatan Ngawen, Kalikotes, Trucuk dan Pedan.

Kepala KUA Kecamatan Ceper, H. Muhammad Sofyan Tsauri, mengungkapkan, Festival Rebana untuk menghimpun potensi generasi muda dalam seni hadrah agar mereka tidak terjerumus dalam hal yang negatif.

“Festival rebana ini baru perdananya dilakukan di Ceper, dan rencananya akan diselenggarakan setiap tahunnya,” ujar M. Sofyan Sauri kepada Timlo.net.

Sementara itu, Ketua Panitia, Sunarso, menambahkan, Festival Rebana diperuntukkan bagi masyarakat umum, sehingga yang ikut tidak hanya pelajar namun banyak kaum ibu yang ikut tampil. Untuk kriteria pemenag lomba diantaranya akan dinilai dari kekompakan peserta, keharmonisan vokal serta reativitas dalam menyanyi. Sedangkan bagi Peserta terbaik akan mendapatkan hadiah berupa piala dan uang pembinaan.

Peringati Yaa Qowiyyu, Ribuan Warga Rebutan 4 Ton Kue Apem

Klaten, Jateng - Sedikitnya 4 ton kue apem diperebutkan warga, saat digelar ritual saparan Yaa Qowiyyu, Jumat (20/12). Ribuan warga dari berbagai kota memperebutkan kue yang terbuat dari tepung beras, yang disebar di samping makam Ki Ageng Gribig, Jatinom, Klaten Jawa Tengah.

Meski hujan, ribuan pengunjung tetap memadati area Sendang Plampeyan. Mereka sekadar ingin mengalap berkah dari apem Yaa Qowiyyu. Mereka masih mempercayai dengan memakan kue apem, bisa mendatangkan berkah dalam kehidupannya.

Pantauan merdeka.com, ribuan warga sudah memadati area digelarnya ritual Yaa Qowiyyu sejak pagi. Usai salat Jumat ritual yang telah berlangsung secara turun temurun sejak zaman Ki Ageng Gribig itu, diawali dengan mengarak 2 gunungan apem jaler (pria) dan estri (putri). Kedua gunungan tersebut sebelumnya disemayamkan selama semalam di kompleks Masjid Besar Jatinom. Selanjutnya keduanya diarak menuju oro-oro kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig.

Usai didoakan oleh ulama, puluhan ribu warga menyerbu 2 gunungan apem tersebut. Tak sampai 10 menit kedua gunungan ludes diperebutkan warga. Untuk mengantisipasi warga yang belum memperoleh apem, panitia menyebar seberat sekitar 4 ton atau sebanyak 38 ribu biji, yang dilakukan dari 2 menara yang sudah dipersiapkan ditengah oro-oro.

"Saya dapat 3 ini. Saya percaya nanti akan mendapatkan keberuntungan dan rezeki selama setahun ke depan," ungkap Rohadi (46) warga Karanganyar.

Sementara itu Camat Jatinom, Anang Widjatmoko mengatakan tradisi Yaa Qowiyyu di Jatinom sudah dilakukan secara turun temurun setiap hari jumat pada bulan sapar.

"Tradisi Yaa Qowiyyu yang artinya ’mohon kekuatan kepada Tuhan’ ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman Kyai Ageng Gribig. Beliau itu masih mempunyai garis keturunan ke-5 dari Kerajaan Mataram. Desa Jatinom sendiri adalah awal mula tempat bertapanya Kyai Ageng Gribig yang pada saat itu masih berupa hutan jati," paparnya.

Lebih lanjut Anang mengemukakan, Kyai Ageng Gribig, pada waktu ziarah ke Mekkah tepat pada tanggal 15 bulan Sapar, mendapat apem yg masih hangat. Apem tersebut dibawa pulang ke Jatinom untuk. Dibagikan kepada anak cucunya. Dan ternyata apem masih tetap hangat. Tapi berhubung apem buah tangan itu tidak mencukupi untuk anak cucunya maka istrinya membuat apem lagi agar dapat merata pembagiannya. Kemudian Kyai Ageng Gribig memerintahkan kepada warganya agar setiap bulan Sapar menyedekahkan hartanya.

"Itulah sejarahnya, hingga sekarang menjadi tradisi di wilayah kami," pungkasnya.

Warga Klaten Tumpah Ruah Saksikan Tari Gambyong Kolosal

Klaten, Jateng - Warga Klaten, Jawa Tengah, tumpah ruah di jalan raya pusat kota dan sejumlah wilayah, Minggu (27/10), untuk menyaksikan pentas tari gambyong kolosal yang melibatkan 52.000 siswa sekolah.
Tari gambyong kolosal digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-209 Kota Klaten, HUT ke-68 RI, dan HUT ke-63 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten. Pentas tari tradisional Jawa itu dibuka oleh Bupati Sunarno.
Pentas tari gambyong di Klaten kota dipusatkan di Jalan Pemuda. Sedangkan di wilayah lainnya digelar di 19 kecamatan. Jumlah seluruh penari yang terlibat dalam atraksi itu sebanyak 52.000 orang yang terdiri siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).
Dari jumlah penari tersebut, 14.000 di antaranya tampil di Jalan Pemuda. Mereka adalah siswa sekolah dari tujuh kecamatan di wilayah kota. Sedangkan 38.000 penari lainnya pentas di 19 kecamatan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Klaten Sugeng Haryanto mengatakan pentas tari gambyong pare anom dan pangkur kolosal  itu bertujuan melestarikan seni budaya Jawa.
Sementara itu, masyarakat menyambut positif gelar seni budaya itu. "Ini patut didukung. Jangan sampai generasi muda melupakan budaya
bangsa sendiri," kata Endang, warga Klaten.

Beragam Seni Ramaikan Gelar Budaya Unggulan di Klaten

Klaten, Jateng - Arena Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Pemuda, Klaten, Minggu (18/8) pagi berlangsung berbeda. Arena itu tak hanya dipenuhi warga yang berolahraga dan bersepeda saja, tapi mereka bisa menikmati suguhan kesenian dalam Gelar Seni Budaya Uggulan Daerah.

Ada 24 dari 26 kecamatan yang menyajikan kesenian tradisional. Kecamatan Klaten Selatan dan Polanharjo tak mengirimkan duta seninya. BUMD, RS dan lembaga lain ikut ambil bagian. Ada yang menampilkan kesenian wayang kulit, pertunjukkan tari panen, jatilan, kesenian hadrah, seni bela diri, hiburan musik keroncong dan band Koes Plus Mania.

Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Jadi Kabupaten Klaten ke-209, hari ulang tahun RI ke-68 dan Hari Jadi Pemkab Klaten ke-63. Sayangnya, tak banyak warga Klaten yang mengetahui bila ada Gelar Budaya sehingga pengunjungnya hanya sebanyak acara CFD biasa.

Tampak hadir Bupati Klaten H Sunarna, jajaran Muspida, para pejabat pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan tamu undangan. Mereka meninjau sejumlah stan yang menjadi peserta gelar seni budaya di sepanjang Jalan Pemuda. Di sekitar lokasi juga banyak pedagang aneka makanan dan berbagai barang.

"Ada 24 kecamatan yang mengirimkan delegasi, ada dua kecamatan yang tak mengirim karena kami tak mewajibkan kecamatan mengirimkan duta seni budaya. Yang mengirimkan, kami bantu stan," kata Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Klaten Sugeng Haryanto, Minggu (18/8).

Sugeng Haryanto mengakui jumlah pengunjung tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan CFD biasa. Pihaknya akan mengevaluasi publikasi kegiatan. Sebenarnya, panitia sudah melakukan publikasi di sejumlah lokasi strategis di Klaten. Namun saat acara, ternyata belum banyak yang tahu.

-

Arsip Blog

Recent Posts