Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan

Pesona tradisi Petik Laut Sendang Biru yang memikat wisatawan

Malang, Jatim - Petik laut merupakan tradisi tahunan para nelayan dan warga Pantai Sendang Biru yang diselenggarakan tiap 27 September. Tahun 2016 ini, pelaksanaan tradisi petik laut yang pun kini telah menjadi agenda wisata budaya ini berlangsung meriah dan penuh kesakralan.

Berbagai macam arak-arakan hasil bumi, gunungan nasi tumpeng, dan tari-tarian menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Acara penyambutan Petik Laut diselenggarakan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap, desa Tambakrejo, Sendangbiru, kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. H. Abdul Malik, M.Si dalam sambutannya menyampaikan, acara Petik Laut ini merupakan sebuah tradisi sekaligus simbol penghargaan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat nelayan Sendangbiru dengan hasil lautnya yang melimpah.

"Petik Laut ini juga sebagai salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Malang yang perlu dilestarikan yang mejadikan daya tarik tersendiri bagi Kabupaten Malang khususnya wilayah selatan di samping wisata pantai yang lain," ungkap Abdul Malik.

Abdul Malik menambahkan, peningkatan sektor penangkapan ikan menjadi salah satu embrio untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Malang.

"Mudah-mudahan acara Petik Laut ini dapat menggugah semangat kita untuk mengurangi kemiskinan dan juga meningkatkan tali silahturahim bagi kita semuanya", lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tambakrejo, Sudarsono menyampaikan rasa bahagia lantaran acara Syukuran Nelayan dan Petik Laut Tahun 2016 ini berjalan lancar seperti yang diharapkan.

“Dengan acara ini juga diharapkan dapat menaikkan perekonomian masyarakat Desa Tambakrejo dan juga selalu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Malang agar tentunya mendapatkan bimbingan dan arahan agar program kepariwisataan yang ada d Desa Tambakrejo ini dapat terus dikembangkan dan dilestarikan", tutur Sudarsono.

Perlombaan pasar rakyat yang ditutup dengan pagelaran wayang kulit pun turut meramaikan tradisi tahunan Petik Laut ini.

Sebelum Pelepasan Larung Sesaji ke laut lepas dilakukan, Abdul Malik selaku Sekda Kabupaten Malang menyerahkan bantuan secara simbolis berupa sarana penangkapan ikan kepada H. Umar Hasan, Ketua Nelayan Rukun Jaya Sendangbiru.

Kegiatan ini kemudian disambut dengan penyerahan sertifikat atas hak tanah sebanyak 100 bidang untuk nelayan desa Tambakrejo. Pembudidaya ikan di desa Jambuwer, kecamatan Kromengan, dan desa Maguwan, kecamatan Ngajum pun mendapatkan hak yang serupa. Masing-masing desa mendapatkan 50 bidang tanah.

Acara ini ditutup dengan penyerahan penghargaan atas terlaksananya program tax amnesty dan PBB sektor perikanan tangkap di Sendangbiru, penyerahan kartu peserta BPJS kepada nelayan Sendangbiru, dan penyerahan bantuan peralatan UPR kepada kelompok pembudidaya ikan tuna Tirta Abadi Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Festival Kampung Cempluk, Begini Cara Warga Kabupaten Malang Melestarikan Budaya Leluhur

Malang, Jatim - Seolah tak ingin meninggalkan budaya, warga Dusun Sumberejo, Desa Kalisongo, Kecamata Dau, Kabupaten Malang, kembali menggelar agenda tahunan. Yakni Festival Kampung Cempluk ke-7. Kegiatan ini diadakan selama lima hari, mulai Selasa (20/9/2016) hingga Sabtu (24/9/2016). Bermacam-macam kegiatan yang mengangkat tradisi budaya turut meramaikan festival ini.

Festival Kampung Cempluk ke-7 dibuka dengan pawai budaya. Pawai budaya ini wajib diikuti oleh perwakilan setiap RT dan RW. Ada sekitar 14 RT dan 2 RW yang mengikuti pawai budaya. Mereka masing-masing memamerkan kepawaiannya dalam berbusana dan menari. Ada yang memakai budaya adat Bali, pakaian kerja PNS seperti polisi dan dokter, memakai topeng malangan, bahkan ada yang memakai konsep arak-arakan putri dan raja. Mulai dari anak kecil, remaja, orang tua, hingga paruh baya ikut memeriahkan kegiatan ini.

Ketua Panitia Festival Kampung Cempluk, Nicko Nurdiansyah mengatakan, kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun berkali-kali. Tujuannya ialah untuk terus mempertahankan budaya dan menjadikan benteng dari arus globalisasi. Dengan diadakannnya festival budaya semacam ini, juga secara otomatis membangun identitas Kampung Cempluk itu sendiri tanpa mengubah yang asli.

“Tiap tahun memang beda konsep dan tema. Tapi tetap dalam lingkup budaya. Kali ini, anak-anak muda yang menghandle kegiatan. Kami ingin anak-anak muda ini berkreasi dengan kreatifitas. Bedanya, kali ini akan mengulas sejarah tentang Kampung Cempluk yang sempat terlupakan. Juga ada prosesi pemotongan ayam,” tuturnya.

Ia menyatakan, kegiatan ini juga diikuti oleh beberapa peserta dari luar daerah, seperti Kalimantan Timur, Jawa Barat, Banyuwangi, Tulungagung. Hal ini karena jaringan dari festival nusantara. Di sepanjang jalan, juga ada stand milik warga Kampung Cempluk yang menjajahkan makanan serta mainan zaman dulu.

Beberapa kegiatan ini seperti Pentas Kampung Cempluk, Cempluk Bersastra, Wahana Budaya, Zona Foto, serta ada Permainan Tradisional yang bisa diikuti oleh semua kalangan sekaligus sebagai ajang mempertahankan dolanan tradisional.

Suku Tengger Gelar Upacara Grebeg Tirto Aji

Malang, Jatim - Masyarakat suku Tengger di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang di sekitar Gunung Bromo menggelar upacara Grebeg Tirto Aji, Minggu (10/4). Upacara itu, merupakan wujud keteguhan mereka menjaga tradisi leluhurnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada Upacara Grebeg Tirto Aji tahun ini hanya dihadiri sesepuh dan masyarakat Suku Tengger dari 7 desa yang ada di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

Mereka umumnya mengenakan baju adat dengan warna hitam dipadu kain panjang bermotif batik. Ritual yang digelar di mata air Wendit di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang pada Minggu (10/4), itu ditandai dengan pengambilan satu kendi air suci dari sendang Widodaren.

Setelah sambutan Bupati Malang Rendra Kresna yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) H Abdul Malik, acara dilanjutkan dengan menuju ke sendang Widodaren. Sejumlah warga suku Tengger pun berbondong-bondong menuju sendang.

Setelah ada rangkaian doa-doa, air sendang yang baru saja ditaburi dengan bunga mawar didatangi undangan yang datang. Setelah diiringi dengan doa, sembilan wanita yang melambangkan bidadari ini menyerahkan kendi berisi air kepada sesepuh suku Tengger. Selanjutnya air itu dibawa ke dusun dan desa masing-masing.

Baru, setelah itu warga Tengger bergantian mengambil air dari sendang itu dalam botol plastik bekas air mineral yang habis ditenggak, lalu diisi lagi dengan air sendang. Air sendang ini nanti selain diminum keluarganya, juga akan dibawa ke ladang.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya mengatakan kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahun.

“Air di sumber Wendit adalah bagian dari sumber air Widodaren di Gunung Bromo. Kegiatan mengambil mata air Wendit tersebut adalah acara turun-temurun dari leluhur," kata Made Arya.

Dijelaskan dia, suku Tengger selama ini mengandalkan hidup dengan bercocok tanam dan meyakini air suci itu mampu membawa hal baik dalam bercocok tanam. Selain itu, juga membawa kesuburan bagi tanah sepanjang tahun bahkan selama musim kemarau.

“Air yang mereka bawa nantinya akan di masukkan ke tandon desa untuk digunakan bersama-sama dan akan digunakan untuk bercocok tanam dan kebutuhan lain untuk dimasak,” katanya. ‎

Setelah kegiatan pengambilan air suci di sendang, tumpeng dan jolen-jolen dari warga Tengger yang berisi hasil bumi yang berisi labu siam, tomat, bawang prei jadi rebutan warga dan pengunjung yang terlihat sejak pagi sudah berjubel untuk ngalap berkah dari acara Grebeg Tirto Aji tersebut.

Kebijakan Jokowi Dinilai Rugikan Perajin Batik

Malang, Jatim - Pemerintah telah mengeluarkan aturan pegawai negeri sipil menggunakan seragam hitam putih setiap hari Kamis. Kebijakan itu diprotes para perajin batik tulis Celaket Kota Malang.

Protes itu diwujudkan dengan sindiran membatik Jokowi. Dimana kewajiban menggunakan seragam putih hitam otomatis merubah seragam batik yang biasa PNS gunakan pada hari Kamis. Kebijakan itu dinilai tidak pro terhadap perajin batik.

"Ini sebagai rasa gregetan saya kepada Presiden Jokowi dan sebagai rasa protes saya kepada kebijakan yang tidak bijak bagi para perajin batik," ujar Hanan Djalil pemilik Sentra Batik Tulis Celakat (BTC) Malang, Rabu (3/2/2016).

Hanan mengatakan sejak kebijakan itu diperlakukan dua bulan yang lalu, berdampak pada penjualan batik di tempat usahanya. Jika biasanya ia mampu menjual 100 lembar kain batik kini ia hanya mampu menjual 50 lembar kain dalam sebulan. Omzetnya pun menurun berkisar 30-50% perbulannya.

"Kesederhanaan yang di usung Jokowi tidak haruslah seperti itu. Baju putih hitam sederhana, menggunakan batik juga sederhana. Kenapa Jokowi menghilangkan batik yang justru menjadi identitas bangsa," tegasnya.

Ia menambahkan hal serupa juga dirasakan para perajin batik di seluruh Indonesia. Hanan menjelaskan jika mayoritas pembeli dan pengguna batik miliknya adalah PNS. "Selama ini banyak yang membeli batik memang PNS mereka beli untuk seragam," imbuhnya.

Selain itu ia berharap kepada Presiden Jokowi agar merevisi kebijakan terkait penggunaan seragam putih hitam di hari Kamis. "Semoga Jokowi merubah kebijakannya. Siapa lagi yang memperhatikan kalau bukan pemerintah, apalagi ini sekarang MEA kita tidak butuh modal tapi butuh kebijakan yg berpihak," tukasnya.

Lukisan Princess Pakai Batik Jadi Spot Selfie

Malang, Jatim - Rasa-Rasanya selfie sudah tidak bisa lagi dilepaskan dari gaya hidup. Tidak peduli dimana saja, asal handphone di tangan dan nemu obyek yang bagus bisa langsung jepret untuk abadikan moment.

Seperti halnya dalam pameran lukisan tunggal yang bertajuk Tokoh Princess dan Batik Klasik, yang digelar Selasa (12/1) di Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) UB. Dalam pameran lukisan tunggal ini, dipajang lima buah lukisan dengan ukuran yang besar.

Obyek lukisan ini adalah para putri dalam cerita kartun yang digarap oleh studio animasi kenamaan Walt Disney. Namun uniknya, gaun yang digunakan digambar dengan menonjolkan motif batik. Mulai dari batik kawung, batik sidomukti, parang rusak hingga batik mega mendung.

Para putri Disney seperti si Frozen Elsa, Cinderella, Ariel, Snow White hingga Putri Jasmine semuanya digambarkan menggunakan batik. Tak ayal, setiap pengunjung yang mengunjungi pameran tunggal dari Fauziah, mahasiswi jurusan seni rupa UB ini mengabadikan momen dengan latar belakang gambar princess berbatik.

“Unik gitu kan tokohnya dari digambarkan dari dunia barat namun mereka dilukis memakai gaun batik. Jadinya kan unik lucu gitu,” terang salah satu pengunjung Virga Pusparini.

Virga mengaku sudah mengabadikan lebih dari lima foto selfie. Rencananya bakal dia upload di akun media sosial yang dimiliknya. Contohnya instagram dan path.

“Kalau ada gambar yang menarik pasti aku upload di medsos,” jelas gadis jurusan bahasa Jepang ini.

Rupanya tidak hanya Virga yang memanfaatkan pameran lukisan tunggal yang memadukan antara seni lukis dengan kerajinan tangan lain ini. Prahastuti Iva Kartika misalnya, juga tak kalah sibuk jeprat jepret untuk abadikan obyek lukis yang menarik. “Aku paling suka lukisan Putri Elsa. Karena perbaduan warnanya eye catching banget,” taandas dia.

Minta Hujan, Warga Malang Selatan Gelar Tradisi Tarung Rotan

Malang, Jatim - Berharap hujan segera tiba, masyarakat di Desa Simpring, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, menggelar tradisi ujung atau tarung menggunakan rotan, Jumat (30/10/2015). Tradisi lama yang sudah lestari sejak ratusan tahun silam ini, masih dipegang erat warga Madura yang banyak bermukim diwilayah Malang Selatan.

Bersenjatakan cambuk rotan, para petarung pun harus bertelanjang dada saat berdiri diatas arena ujung. Diiringi gamelan khas ujung, dua petarung saling mencambukkan rotan yang dipegangnya kearah punggung dan bagian tubuh yang tidak tertutup kain.

Secara bergantian, kedua petarung itu menyabetkan cambuk rotan yang dipegangnya ke tubuh lawan. Mereka berusaha saling mengenai badan lawan yang bertelanjang dada. Sembari menangkis, tak jarang sabetan cambuk rotan itu melukiskan luka memar dipunggung para petarung rotan. Beberapa orang diantaranya bahkan terlihat berdarah saat cambukan lawan, mengenai punggung. Uniknya, meski duel ujung beresiko melukai, para petarung rotan ini mengaku senang dan tak merasakan sakit pada tubuhnya.

“Tradisi ini warisan dari nenek moyang kami. Dengan darah yang mengucur dari petarung rotan ini, warga berharap hujan segera turun,” ungkap Muhali, Ketua Tradisi Ujung Malang Selatan, Jumat (30/10/2015).

Kata dia, tradisi ujung bertujuan agar Tuhan Yang Maha Esa, segera memberian berkah yakni berupa hujan. Mengingat, kemarau panjang tahun ini diwilayah Kabupaten Malang, membuat sebagian sumber mata air mengering. Hal itulah yang dirasa masyarakat, sangat berat karena musim kemarau tahun ini, cukup lama dari tahun-tahun sebelumnya.

“Semoga setelah ini hujan akan turun. Selain melestarikan tradisi, tarung rotan ini kami gelar sebagai bentuk permohonan pada Tuhan agar hujan segera datang,” ujarnya.

Meski baru pertama kali menggelar tradisi tarung rotan, antusiasme warga Malang Selatan sangat tinggi. Mereka rela melihat pertarungan beresiko itu hingga selesai. Menariknya, pasca tradisi ujung digelar, suasana langit diwilayah Malang Selatan sore ini pun berubah mendung. Beberapa titik daerah dikawasan ini sudah diguyur hujan meski kapasitasnya, belum terlampau tinggi.

Jangan Rendah Diri dengan Berbahasa Indonesia

Malang, Jawa Timur - Berada di Indonesia tapi banyak sekali istilah, nama, dan ungkapan di sana-sini diutarakan dan ditulis dalam bahasa asing. Tengoklah nama-nama lokasi atau nama kegiatan (semisal Car Free Day alias Hari Tanpa Kendaraan) yang seolah keren dan menginternasional, dan lain-lain.

Karena itulah Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Kacung Marijan, mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak perlu rendah diri dengan bahasa yang dimilikinya, yakni bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia diatur dan disebut dalam UUD 1945.

"Masyarakat Indonesia tidak perlu terlalu rendah diri dengan bahasa Indonesia, bahkan untuk mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, perlu melakukan upaya diplomasi dan tetap digunakan seperti bahasa internasional lainnya. Tidak perlu rendah diri," kata Marijan, di Malang, Senin.

Dia katakan itu dalam seminar internasional bertajuk "Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya", di Universitas Islam Malang.

Bahkan nama-nama program kerja resmi pemerintah juga tidak sedikit dibahasaasingkan, belum lagi nama jabatan dalam banyak BUMN dan perusahaan lain. Di Jepang, kartu nama sering dicetak bolak-balik, satu sisi dalam aksara dan bahasa Jepang, dan sisi sebaliknya dalam bahasa Inggris.

Padahal bahasa Indonesia harus dilindungi dan diperjuangkan selalu dipakai karena diamanatkan tegas dalam UUD 1945.

Diperlukan kampanye besar-besaran dan panjang untuk membudayakan kembali bahasa Indonesia di dalam negeri tanpa anti bahasa asing. Bahasa Indonesia telah lama dikenal dunia internasional, yakni sejak abad ke-15.

Bukan hanya sepagai bahasa lingual, tetapi sebagai bahasa etnik, nasional dan sudah menjadi bahasa internasional. Sebagian negara-negara di dunia, sudah memakai bahasa Indonesia sebagai bentuk pembelajaran, sebagaimana di China, Jepang, Amerika, Belanda, dan Australia.

Banyak sekali negara-negara sahabat yang mensyaratkan para diplomatnya lulus pendidikan bahasa Indonesia sebelum ditempatkan di Indonesia. Mereka fasih berbahasa Indonesia.

Bahkan, lanjutnya, di Austalia sejak 1960 sudah ada pendidikan bahasa Indonesia dan masuk dalam pembelajaran. Dan, untuk menduniakan Bahasa Indonesia dan mengenalkannya pada dunia secara luas, bahasa Indonesia harus digunakan sebagai diplomasi dalam segala bentuk komunikasi dengan masyarakat manca negara.

Menurut dia, penggunaan bahasa bisa digunakan melalui kosa kata sederhana, sebagaimana kosa kata nama makanan. Contohnya, nasi goreng, sup ayam atau rawon dan hendaknya tetap diperkenalkan dalam bahasa Indonesia, bukan diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau lainnya.

Selain itu, juga perlu dilakukan upaya dengan membuka pameran makanan di luar negeri. Kosa kata dalam penyajian makanan, seperti cara membuatnya, tetap memakai bahasa Inggris, namun penyebutan nama makanannya tetap dalam bahasa Indonesia, sehingga bisa jadi kosa kata dunia.

Bakso sebagai misal, sering dituliskan sebagai meat ball dalam daftar sajian di rumah-rumah makan di Indonesia.

"Pakai saja bahasa Indonesia, biar mereka cari sendiri maknanya agar masyarakat internasional bisa lebih mengenal bahasa Indonesia. Tarian juga begitu, jangan diterjemahkan menjadi mask dance, tetap saja gunakan tari topeng," ujarnya.

Maridjan mengakui dari makanan saja sudah banyak kosa kata yang bisa digunakan, apalagi berbagai budaya dan jenis makanan lainnya yang ada di Indonesia.

Jadi, Indonesia bisa menunjang banyak kosa kata dunia, bahkan film Indonesia saja juga masuk festival dunia. Dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam film itu, tentunya akan memperluas jangkauan bahasa Indonesia.

"Oleh karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia, tidak perlu rendah diri, kita harus percaya diri dan bangga dengan bahasa kita dalam hal apapun," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof Dr Mahsun, mengemukakan selama ini telah ada 97 tempat pembelajaan bahasa Indonesia di dalam negeri dan 45 tempat di negara lain.

Dari 45 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, 14 negara diantaranya merupakan inisiatif Kedutaan Besar Indonesia setempat, sedangkan sisanya merupakan inisiatif negara itu sendiri.

"Kami masih menyusun kurikulum dan bahan ajar untuk 45 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia ini dan tahun ini kami akan mengirimkan 20 orang tenaga pengajar (staf ahli) kami untuk 13 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, di antaranta di Prancis dan Jepang," katanya.

Intinya, kata Mahsun, bangsa Indonesia sendiri harus percaya diri dalam menggunakan bahasanya, seperti dalam menyusun jurnal internasioal yang menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris.

"Gunakanlah bahasa Indonesia, tapi penyebaran dilakukan secara internasional, namun jurnal itu harus memiliki kajian yang layak, meskipun berbahasa Indonesia, tapi kajian itu banyak diburu pembaca," ucapnya.

Jadi --misalnya-- katakanlah "meminta" ketimbang memakai kata request kepada pelayan makanan di gerai sajian di satu pusat perbelanjaan, untuk memesan porsi makanan dan minuman.

Pemkot Malang Suguhi Turis Asing Nasi Pecel

Malang, Jatim - Pemerintah Kota Malang yang kedatangan belasan turis asing asal Inggris, Kamis, tak mau ribet dengan berbagai persiapan, turis asing yang sedang menikmati bangunan bersejarah Balai Kota Malang itu disuguhi nasi pecel bungkusan.

Belasan turis asing itu tak segan-segan mencicipi hidangan beberapa jenis makanan tradisional yang disiapkan di sepanjang lorong di Balai Kota Malang.

"Hot (pedas), tapi sangat lezat," ujar Martha, salah seorang turis asal London, Inggris tersebut usai mencicipi nasi pecel bungkus yang disuguhkan pemkot di Balai Kota Malang, Jatim.

Selain disuguhi nasi pecel bungkus, belasan turis asing itu oleh Wali Kota Malang Moch Anton yang didampingi Kapolres Kota Malang AKBP Singgamata dan sejumlah pejabat di lingkungan pemkot setempat, juga diberi kesempatan melihat "master plan" masa depan Kota Malang melalui visualisasi.

Kehadiran belasan turis asing itu setelah Wali Kota Malang beserta jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) melakukan upacara rutin setiap tanggal 17 di halaman Bali Kota Malang dengan inspektur upacara (irup) Kapolresta Malang AKBP Singgamata.

Sementara itu Kapolresta Malang AKBP Singgamata dalam sambutannya mengatakan pada bulan ini sangat krusial dalam perjalanan pembangunan Kota Malang, keriuhan yang kurang produktif harus dihindari, isu-isu yang memunculkan disintegrasi dan konflik sosial juga harus dihilangkan.

"Partisipasi dan kesadaran warga sekarang ini mulai tumbuh, langkah dan penindakan pada pelanggar hukum juga harus dioptimalkan. Tindak kriminal yang paling tinggi di kota ini adalah pencurian kendaraan bermotor. Kita harus meningkatkan kekondusifan keamanan," ujarnya.

Selain itu, Kapolresta Malang juga membantu pelayanan online baru di No. 08113535110 atau melalui media sosial WhatsApp (WA) yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tidak hanya itu, Polresta juga sedang memroses finishing aplikasi "handphone panic button" yang diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan bantuan pihak kepolisian.

"Aplikasi ini nantinya akan membantu percepatan gerak kepolisian dalam menindakalanjuti kriminalitas yang terjadi agar Kota Malang ke depan semakin aman dan tertib," ucapnya.

Dipamerkan, Surat Kabar Melayu Terbitan Amsterdam 1897

Malang, Jatim - Surat kabar berbahasa Melayu terbitan Amsterdam Belanda, Pewarta Boemi, dipamerkan di gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Malang, Rabu, 16 Agustus 2015. Surat kabar edisi 2 Juni 1897 yang dibingkai dalam kaca itu berjudul "Radja Koetai di Nederland". Surat kabar ini melaporkan kunjungan Raja Kutai yang tengah bertemu dengan para bangsawan Kerajaan Belanda.

"Surat kabar ini saya peroleh di Jakarta," kata kolektor naskah klasik, Erwin Dian Rosyidi. Surat kabar Pewarta Boemi juga menjelaskan apa saja yang diperbincangkan dalam pertemuan itu.

Pewarta Boemi terbit pada 1890 dan dikelola mantan Asisten Residen Y. Strik. Ia adalah guru bahasa Melayu di sekolah pertanian. Pewarta Boemi bukan surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Belanda. Sebelumnya, surat kabar Bintang Utara terbit pada 1856 di Rotterdam, Belanda. Redaksi dikelola P.P. Roorda van Eysinga.

Erwin juga memajang sejumlah naskah klasik lain dalam Pameran Naskah Klasik Nusantara ini. Total 12 koleksi naskah dan kitab kuno yang ditulis pada 1700-1800 miliknya dipamerkan. Erwin juga memamerkan surat kabar Persatoean Indonesia yang diterbitkan PNI pada 20 Januari 1931.

Untuk mendapatkan naskah kuno itu, Erwin berkeliling Nusantara. Menurut dia, naskah itu tak ternilai harganya. Erwin juga memajang naskah kuno Surat Darmogandhul Gatholotjo yang dibuat pada 1800. Ada yang menafsirkan, pengarangnya adalah Ronggo Warsito yang menggunakan nama samaran Ki Kalam Wadi. Nama itu artinya rahasia atau kabar yang dirahasiakan.

Pameran naskah klasik ini diselenggarakan Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya. Pameran tersebut menghadirkan naskah klasik, buku, dan surat kabar kuno koleksi Perpustakaan Bung Karno Blitar, Yayasan Sastra Lestari, Pusat Studi Peradaban UB, Museum Mpu Tantular, dan koleksi pribadi Erwin Dian Rosyidi.

"Pameran ini untuk mendidik masyarakat mengenal kitab atau naskah klasik," ujar Wakil Ketua Studi Peradaban UB, Jazim Hamidi. Menurut dia, naskah klasik ini menunjukkan kebudayaan dan perkembangan sastra di Indonesia. Selain itu, naskah klasik merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan.

Puluhan Budaya Nusantara Meriahkan Festival Egrang

Malang, Jatim - Puluhan budaya nusantara mulai dari Jawa, Madura, Betawi, Sunda, Hingga Papua turut di usung sebagai kostum peserta festival egrang. Para peserta berusaha memberikan penampilan yang maksimal dengan memberikan atraksi yang menarik.

Sujianto salah satu guru dari Sekolah Dasar Al-Huda, mengatakan sengaja mengusung budaya daerah dengan membawa misi Bhineka Tunggal Ika. "Kami ingin memberi pemahaman kepada anak didik jika Indonesia kaya akan budaya. Kita tidak mengincar kemenangan tapi kami ingin menghibur dan meberikan pesan kepada masyarakat untuk melestarikan budaya Indonesia," tuturnya (19/8/2015).

Siswa dari Sekolah Dasar Negeri 3 Ngaglik, Kota Batu juga mengusung budaya nusantara dengan menggunakan atribut masyarakat Papua. Mereka terus meneriakan yel-yel sepanjang perjalanan menggunakan egrang dari Jl Panglima Sudirman hingga depan Balai Kota Batu.

Abderuril salah satu siswa SDN 3 Ngaglik merasa sangat antusias dengan kegiatan ini mereka senang lantaran beregrang ria bersama ribuan peserta. "Seru karena kita belajar keseimbangan saya belajar ini sudah dua hari. Ini tadi menggunakan atribut Papua" tuturnya.

Pemkot Malang Gelar Festival Perkusi Sambut Ramadhan

Malang, Jatim - Pemerintah Kota Malang menggelar festival perkusi yang bertajuk Malang Street Percussion Festival (MSPF) 2015 di kawasan Jalan Ijen untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan 1436 H, Minggu malam.

Ketua Panitia Festival, Budi Harianto mengatakan selain menyambut datangnya bulan suci Ramadan, festival ini juga bertujuan melestarikan budaya patrol (musik untuk membangunkan masyarakat untuk makan sahur) yang diharapkan mampu menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

"Festival Perkusi yang diikuti 22 kelompok peserta ini juga dalam misi pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan. Harapan kami, selain menghibur masyarakat menjelang datangnya Ramadan juga menarik wisatawan," ujarnya.

Peserta festival perkusi tersebut memulai aksinya dari depan Museum Brawijaya (panggung undangan), kemudian berjalan hingga Jalan Simpang Balapan.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Jawa Timur, Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan, MSPF 2015 bisa membangun kesatuan masyarakat Bumi Arema. "Selain itu, daya tarik festival ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pariwisata di daerah ini," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, festival ini harus dijaga keberlangsungannya untuk menarik wisatawan dan tahun ini merupakan tahun kelima. "Acara yang menonjolkan musik perkusi dan tari ini sekalian menyambut datangnya bulan suci Ramadan bagi umat muslim di dunia, dengan musik perkusi dan patrol ini kita sambut Ramadan yang sudah ada di depan pintu," ucapnya.

Lebih lanjut, Ida Ayu mengatakan selain pilihan lokasi di Jalan Ijen Boulevard yang menyatu dengan museum Brawijaya, festival patrol benar-benar menjadi daya tarik wisatawan mancanegara, tercatat ada 20 turis dari Belanda, Austria dan Kanada.

"Kami memang bekerja sama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Malang dan akan terus kita kuatkan pengenalan budaya Malang maupun Nusantara kepada turis-turis mancanegara," ucapnya.

Wali Kota Malang, Moch Anton dalam sambutannya mengaku sangat mengapresiasi warganya yang sangat inovatif dan penuh kreasi. "Festival ini hanya ada di Kota Malang, di kota lain tidak ada. Saya harap festival ini bisa menjadi contoh bagi kota lain dan menumbuhkan semangat tersendiri bagi Kota Malang sebagai kota wisata," ujarnya.

Menurut dia, tumbuh kembangnya pariwisata Kota Malang dapat dilakukan bila kreativitas seni dan budaya terus diciptakan. "Sifat budaya yang plural juga akan menjadi kekuatan untuk menyatukan persatuan dan kesatuan masyarakat serta bangsa ini," tegasnya.

Mahasiswa Gelar Festival Budaya dan Kuliner Asia Timur

Malang - Sebanyak seratus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Festival Budaya dan Kuliner Jepang, Korea, dan Cina di kampus mereka, Kamis, 4 Juni 2015.

Sejumlah kesenian tradisional, budaya, dan kuliner ditampilkan para mahasiswa. Mahasiswa dari Cina menyanyikan lagu negeri mereka. "Saya suka lagu dangdut," kata mahasiswi asal Universitas Normal Guangxi, Cina, Yu Zhouyu.

Yu Zhouyu mengatakan, saat karaoke, dia suka menyanyikan lagu yang dipopulerkan Cita Citata berjudul Sakitnya Tuh di Sini. Mahasiswi yang mengambil jurusan bahasa Indonesia ini juga suka menyanyikan lagu karya Superman is Dead dan Melly Goeslaw. "Lagu Indonesia banyak yang sedih."

Ia mengaku suka mempelajari budaya Jawa. Yu tergolong mudah bergaul dengan warga di sekitar kampus. Selain musik, ia menyukai puisi karya sastrawan besar Indonesia, seperti Sapardi Djoko Damono dan W.S. Rendra.

Beberapa mahasiswa mengenakan kimono, pakaian khas Jepang. Mereka duduk berderet mengelilingi sebuah tungku untuk menjerang teh. Ritual cha no yu atau upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan ini disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus sebagai sebuah seni. Upacara minum teh dinikmati para tamu di ruangan khusus minum teh, yang disebut chashitsu. Teh disajikan dalam mangkuk keramik.

Awas….Batik Pekalongan diklaim Vietnam!

Malang, Jatim - Batik sebagai warisan budaya ternyata tidak hanya diminati di Indonesia saja. Sebab, di luar negeri banyak negara yang menggandrungi baju batik Indonesia. “Untuk itu kita harus waspada. Sebab, batik Pekalongan sudah diklaim Vietnam. Padahal, batik itu kiriman dari Pekalongan,” ungkap Putri Batik Persahabatan, Insi Detia, di Malang, Minggu (11/1/2015).

Insi Destya mengaku mengetahui batik Pekalongan diklaim Vietan, justru saat berkunjung ke negara tersebut. Menurut Insi Detia yang jadi pemateri dalam Dialog Budaya bertajuk “Budaya di Tepi Jurang”, yang digelar ‎HMI Cabang Malang, Vietnam memproklamirkan batik Peklalongan sebagai resmi kenegaraannya.

“Terus terang saya kaget dan sedih melihat kondisi tersebut. Sebab, saya tahu persis batik yang mereka pakai dikirim dari Pekalongan,” katanya.

Makanya, di berjanji akan membawa kasus tersebut ke Kementerian Perindustrian dan Pariwisata. Sebab, ‎persoalan itu sudah menyangkut kenegaraan. “Jadi setelah dari sini, kami akan menggelar diskusi di Jakarta. Dalam dskusi yang melibatkan kementerian itu ‎ akan saya laporkan masalah Vietnam yang mengklaim batik Pekalongan sebagai baju resmi kenegaraannya,” papar dia.

Dia sangat berkeyakinan, ‎Vietnam akan mendapat teguran dari pemerintah Indonesia. “Teguran itu saya yakin akan menyadarkan Vietnam. Sebab, kalau mereka ditegur pasti malu,” katanya.

7 Lokalisasi Pelacuran di Malang Tutup Selama Ramadan

MALANG — Guna menghormati bulan suci Ramadan, tujuh kompleks lokalisasi pelacuran di Kabupaten Malang, Jawa Timur, resmi diliburkan oleh pemerintah setempat.

Kini, para pekerja seks komersial (PSK) di tujuh kompleks pelacuran tersebut dipulangkan ke rumah masing-masing.

Menurut Bupati Malang Rendra Kresna, Jumat (27/6/2014), meliburkan para PSK di seluruh kompleks lokalisasi pelacuran itu menjadi kewajiban rutin yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Malang.

"Setiap jelang Ramadhan rutin diliburkan," kata dia.

Para PSK dan mucikari diliburkan sejak dua hari sebelum puasa.

"Sejak Rabu (25/6/2014), seluruh mucikari dan PKS sudah dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing," kata dia.

Lebih lanjut Rendra menegaskan, semua mucikari dan PSK harus tidak berada di kompleks pelacuran selama Ramadhan.

"Beberapa hari ke depan, akan dilakukan razia ke seluruh lokalisasi. Jika masih ada, akan tetap dipulangkan dengan paksa," kata Rendra.

Namun, menurut politisi Golkar itu, hingga Jumat (27/6/2014), berdasarkan hasil laporan yang diterima Rendra, para PSK dan mucikari sudah meninggalkan lokalisasi.

"Katanya, semuanya sudah pulang ke kampung halamannya," ucap Rendra.

Tujuh lokalisasi prostitusi di Kabupaten Malang itu adalah Suko, Slorok, Kebobang, Kirun, Embong Miring, Kandang Sapi, dan Sumbermanjing Wetan.

Adapun jumlah PSK sebanyak 331 orang dan mucikari 93 orang.

"Itu jumlah mucikari dan PSK yang ada di tujuh lokalisasi di Kabupaten Malang," kata Rendra.

Ratusan Cagar Budaya Kota Malang Terancam Punah

Malang, Jatim - Kota Malang selama ini memiliki banyak peninggalan bangunan bersejarah, terutama era kolonial Belanda. Jumlahnya cukup banyak, mencapai ratusan. Sayangnya, gedung bersejarah yang merupakan cagar budaya itu tidak terlindungi.

Satu persatu gedunggedung cagar budaya itu diruntuhkan tanpa aral yang berarti. Praktis, bangunan-bangunan bersejarah itu hilang tanpa jejak. Di antara bangunan yang masuk cagar budaya itu misalnya, Balai Kota Malang, Gedung DPRD, hingga sederet bangunan yang berada di sepanjang wilayah Jalan Basuki Rahmat (Jalan Kayu Tangan).

Berdasarkan tradisi, bangunan bernuansa heritage itu seharusnya dilindungi lewat payung hukum, mnimal berupa Peraturan Daerah (Perda). Namun, Pemkot Malang hingga kini tidak memiliki Perda. Sehingga, banyak bangunan yang dipugar.

Bangunan cagar budaya yang kini dalam proses pemugaran adalah Gedung Bioskop Merdeka. Edung yang dibuat tahun 1928 itu, Rabu (6//5) diruntuhkan. Sehingga, cagar budaya yang dimiliki Kota Malang banyak yang tak terselamatkan.

Padahal, menurut data yang dimiliki Yayasan Inggil, ada 180 bangunan dan juga 20 kawasan cagar budaya yang dimiliki Pemkot Malang. Kepunahan gedung bersejarah itu terus terancam karena Perda yang melindungi belum ada.

“Loh bagaimana kami buat Perda, wong drafnya dikembalikan oleh Dewan. Ya, sampai saat ini akhirnya Perda soal cagar budaya itu tak pernah ada,” kata Wali Kota Malang, HM Anton.

Makanya, ketika Gedung Bioskop Merdeka di kawasan Kayutangan dibongkar, Pemkot tak bisa berbuat apa-apa. Padahal, menurut Indra Kurniawan (28) salah seorang warga yang tinggal dekat gedung mengatakan, pembongkaran gedung tersebut telah dilakukan tiga bulan lalu.

Pembongkaran itu dilakukan pihak pemenang sengketa gedung tersebut. Sesuai informasi, pemilik yang asal Surabaya itu akan membuat kawasan gedung bioskop itu menjadi hotel. “Jadi, tidak digunakan untuk gedung bioskop lagi,” katanya.

Pengamat budaya Malang, Dwi Cahyono sangat menyesalkan pembongkaran itu. “Sebab, gedung itu sudah layak bila ditilik dari kriterianya untuk dijadikan sebagai cagar budaya,” kata Dwi Cahyono yang sempat dicemooh warga karena menggelar Malang Kembali yang memacetkan arus lalu lintas itu.

Kriteria tersebut lanjut Dwi bisa dilihat dari usia bangunan yang sudah di atas 50 tahun, corak bangunan yang khas dengan bangunan negeri Belanda. Selain itu, gedung itu unik karena tak sama dengan bangunan lainnya. Untuk itu, dia sangat berharap Pemkot segera membuat Perda yang melindungi cagar budaya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban mengakui bahwa pembahasan soal Raperda perlindungan cagar budaya berhenti di tengah jalan. “Itu karena ada masalah terkait dengan RTRW,” katanya.

Menurut dia, Kota Malang memangsudah seharusnya mempunyai Perda yang bisa melindungi bangunan cagar budaya. “Ini agar identitas sebagai kota Heritage masih bisa dipertahankan,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Wawali Kota Malang, Sutiaji. Menurut dia, tidak adanya Perda itu membuat Pemkot Malang tidak berdaya. “Kalau Perda soal cagar budaya ada, kita bisa melakukan perlindungan,” ujar Sutiaji.

Menurut dia, sebenarnya Perda itu sudah ada. Tapi, masih dalam bentuk Raperda. Itu karena belum didok oleh Dewan. Karena itu dia berharap agar Raperda itu bisa segera disahkan. Sehingga, gedung yang masuk cagar budaya bisa terlindungi.

"Flower Carnival" Merayakan 100 Tahun Kota Malang

Malang, Jatim - Dalam rangka perayaan 100 tahun Kota Malang, aneka acara wisata dan budaya digelar di kota ini, Minggu (27/4/2014). Jika Anda sedang berada di Kota Malang, merapat lah ke kawasan Alun-alun Tugu.

"Ada acara Festival Kuliner Tempo Doeloe dan Malang Flower Carnival," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Sri Wahyuningtyas kepada Kompas Travel, di Kota Malang, Jawa Timur.

Pada pagi hari diadakan pula gerak jalan sehat. Sementara itu, seperti dituturkan Sri, Festival Kuliner Tempo Doeloe ada 40 macam kuliner yang disajikan untuk pengunjung. "Bisa coba gulali, aneka olahan tempe," kata Sri.

Sedangkan Malang Flower Carnival diikuti 240 peserta. Peserta mengenakan busana karnival bertemakan bunga. Menurut Sri, peserta berasal dari Kota Malang maupun luar kota.

"Peragaan busana di tempat yaitu Simpang Balapan sore ini. Nanti arak dari Simpang Balapan melalui Jalan Ijen," tutur Sri.

Pawai karnival berhenti di Jalan Ijen tepatnya di Museum Brawijaya. Pengunjung juga bisa menyaksikan demo pembuatan keripik tempe mulai dari pengirisan tempe sampai penggorengan. "Ada 25 UKM yang terlibat. Mereka berasal dari Desa Sanan," ungkap Sri.

Sedangkan nanti malam akan diadakan pesta rakyat di Alun-alun Tugu. Serta ditutup dengan kembang api.

Nilai Korupsi di Jawa Timur Mencapai Rp 1,3 Triliun

Malang—Malang Corruption Watch (MCW) mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur menyatakan perang terhadap korupsi. Permintaan ini disampaikan karena korupsi di Jawa Timur, berdasarkan hasil riset MCW, sudah pada tahap gawat darurat. "Ibarat orang sakit, Jawa Timur sudah kronis," kata koordinator Badan Pekerja MCW, Zia Ul Haq, dalam pemaparan hasil riset di kantor MCW kemarin.

Hasil riset MCW tentang korupsi di Jawa Timur menemukan, nilai kerugian negara akibat korupsi pada 2008 sebesar Rp 1,3 triliun. Jumlah ini merupakan akumulasi kerugian negara di 20 kota dan kabupaten.

Ke-20 kabupaten/kota itu adalah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kota Madiun, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Nganjuk, Ponorogo, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Gresik, Surabaya, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kabupaten Mojokerto, dan Lumajang.

Dari 20 kota tersebut, Banyuwangi menjadi kota yang paling besar nilai kerugiannya, yakni mencapai Rp 519,27 miliar. Disusul Situbondo dengan Rp 416,12 miliar, Jember Rp 72,546 miliar, Kota Malang 72,374 miliar, dan Kota Surabaya 36,427 miliar.

Hasil riset menunjukkan modus korupsi antara lain dilakukan dengan cara menyelewengkan anggaran sebanyak 28 persen, melakukan penggelapan dana 25 persen, mark up 48 persen, mark down 2 persen, dan menyalahgunakan wewenang 11 persen.

Adapun pelaku korupsi adalah pejabat satuan kerja perangkat daerah (dinas, kantor, badan) sebanyak 56 persen; wali kota, bupati, dan sekretaris daerah sebanyak 44 persen; legislatif 9 persen; yudikatif sebanyak 5 persen; serta aparat desa 1 persen. "Hasil riset ini menunjukkan bahwa korupsi adalah budaya kekuasaan, bukan budaya masyarakat," ujar Zia.

Dampak korupsi tidak hanya merugikan uang negara, tapi juga merugikan masyarakat. Menurut Zia, korupsi mengakibatkan jumlah orang miskin meningkat serta mengurangi kualitas kesehatan masyarakat dan kualitas pendidikan. Dampak semua itu, daya saing masyarakat menjadi rendah dan pertumbuhan ekonomi terbilang rendah.

Untuk menghukum para pelaku korupsi, mencegah adanya nilai kerugian negara yang lebih banyak, dan mengantisipasi terjadinya korupsi, MCW meminta Kejaksaan Tinggi Jawa Timur mengambil alih penanganan kasus korupsi dari tangan kejaksaan negeri di sejumlah daerah. MCW menilai kinerja kejaksaan negeri sejumlah daerah sangat lamban dan tebang pilih dalam menangani kasus korupsi.

MCW juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan reformasi birokrasi, meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan audit kebijakan, dan membuat rencana aksi daerah dalam pemberantasan korupsi. Selain itu, MCW meminta pemerintah pusat mendirikan pengadilan khusus tindak pidana korupsi di seluruh daerah di Jawa Timur.

Riset MCW ini, kata Zia, dilakukan sejak tiga bulan lalu. Pengumpulan bahan riset didapat dari analisis pemberitaan media, hasil forum grup diskusi dengan jaringan kerja antikorupsi yang tersebar di 20 kota di Jawa Timur, hasil analisis laporan dari masyarakat, serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan. Tujuan riset untuk mengetahui modus korupsi, pelaku korupsi, nilai kerugian negara, dan dampak korupsi.

Kepala Humas Pemerintah Kota Malang Jarot E. Sulistyono tak percaya Kota Malang menduduki peringkat keempat dalam nilai kerugian negara akibat korupsi. Menurut dia, Pemerintah Kota Malang telah menerapkan program pemerintah bersih sehingga tak ada kasus korupsi. "Ini terbukti dengan tidak adanya penyidikan kasus korupsi di Pemerintah Kota Malang," katanya. BIBIN BINTARIADI

Penggerogot Uang Rakyat

Hasil riset Malang Corruption Watch yang dilakukan sejak tiga bulan lalu sungguh mengejutkan. Riset MCW menemukan, di 20 dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur, uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan lenyap ditilep para pelayannya.

Modus korupsi pun beragam. Ada yang menyelewengkan dana, menggelembungkan anggaran, serta menggelapkan dana. Pelaku pun rata. Dari eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga perangkat desa. Dari pejabat itu, pelaku dari pejabat satuan kerja perangkat daerah menduduki peringkat pertama, dengan rincian sebagai berikut: Pejabat SKPD: 56 persen, Eksekutif: 44 persen, Legislatif: 9 persen, Yudikatif: 4 persen, Aparat Desa:1 persen.

20 Kabupaten/Kota yang Korup

Kota Malang
Kabupaten Malang
Kota Batu
Kabupaten Blitar
Kabupaten Tulungagung
Kota Madiun
Kota Kediri
Kabupaten Kediri
Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Ponorogo
Kabupaten Jember
Kabupaten Situbondo
Kabupaten Banyuwangi
Kabupaten Gresik
Kota Surabaya
Kabupaten Sampang
Kabupaten Pamekasan
Kabupaten Sumenep
Kabupaten Mojokerto
Kabupaten Lumajang
5 Kabupaten/Kota Terkorup

Kabupaten Banyuwangi. Nilai korupsi Rp 519,27 miliar. Modus korupsi dilakukan dengan cara menggelapkan dana (57 persen).
Kabupaten Situbondo sebesar Rp 416,12 miliar. Di wilayah ini korupsi dilakukan juga dengan modus penggelapan dana (50 persen).
Kabupaten Jember dengan nilai Rp 72,546 miliar. Di sini korupsi menggunakan modus penyelewengan dana (50 persen).
Kota Malang dengan nilai Rp 72,374 miliar. Modus korupsi dijalankan dengan cara menggelembungkan anggaran (60 persen).
Kota Surabaya dengan nilai 36,427 miliar. Korupsi dilakukan dengan modus penyelewengan dana (36 persen).

Sumber: Koran Tempo, Senin, 22 Desember 2008

35 Negara Berpartisipasi pada Ajang ICCCF Malang

Malang, Jatim - Sebanyak 35 negara berpartisipasi pada ajang International Celaket Cross Culture Festival II di sepanjang Jalan Jaksa Agung Suprapto Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu.
Ratusan peserta dari berbagai negara itu mengenakan kostum dan menampilkan budaya khas negara masing-masing. International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) II tersebut digelar selama sepekan mulai 26 Oktober hingga 1 November 2013.
"Seniman dari berbagai negara tersebut akan menampilkan seni dan budaya dari negara masing-masing selama sepekan penuh, namun ada juga pameran usaha kecil mikro menengah (UMKM) yang dihelat selama sepekan penuh," ujar Ketua Panitia ICCCF II Hanan Jalil.
Ke-35 negara tersebut di antaranya Inggris, Jerman, Ukraina, Amerika Serikat, Australia, Cekoslovakia, Jepang, Korea, Brazil, Bergia, Swedia, Italia, China, dan Singapura.
Festival budaya skala internasional tersebut bertemakan "Bhinneka Tunggal Ika". Sebenarnya tidak hanya parade budaya yang disuguhkan dalam ICCCF tersebut, tapi juga ada dialog kebangsaan yang akan menghadirkan pembicara Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Mendikbud Mohammad Nuh serta budayawan Arswendo Atmowiloto.
Menurut Hanan, tujuan digelarnya ICCF itu untuk memperkenalkan kebudayaan tradisional khas Indonesia dan juga "membumikan" Bhinneka Tunggal Ika kepada negara peserta, bahkan dunia.
Ia mengemukakan karena menjalin hubungan yang baik terhadap negara-negara di dunia, juga menjaga stabilitas ekonomi negara yang berujung pada kesejahteraan rakyat nantinya.
"Selain seniman dari mancanegara, senimal lokal Malang dan dari seluruh belahan bumi Nusantara ini juga hadir, sehingga seniman yang berkumpul di Malang ini lebih dari 1.500 orang," ujarnya.
Sementara koordinator Kampung Celaket Agus Winandar mengatakan kesenian dan budaya Indonesia yang akan ditampilkan nantinya mencapai ratusan, seperti karnaval kostum dunia, tari kecak, legong, dan barong.
Selain itu juga ada tari jaranan, topeng malangan, jaranan butho, tari gandung, seblang, ludruk khas Jawa Timur, tari jentreng, jaipong, bantengan, tari beskalan, kuda lumping dan terakhir fasion show batik celaket.
Seperti ICCF pertama, atraksi yang paling meriah dalam rangkaian acara Festival Kampung Celaket yang digelar selama sepekan itu adalah karnaval kostum dunia yang dimeriahkan kostum dari 38 provinsi di Tanah Air.
Pembukaan ICCCF II juga diawali dengan festival kostum dunia yang mengambil start di Jalan Jaksa Agung Suprapto, kemudian melintasi Jalan Kaliur ang dan kembali ke kawasan Kampung Celaket.
Sementara Ketua DPRD Kota Malang Arif Darmawan mengatakan ajang itu memiliki manfaat besar bagi Kota Malang dan seluruh warganya.
"Tentunya even ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Kota Malang dan diharapkan kam pung-kampung lainnya juga menggagas even yang sama untuk lebih menggairahkan kepar iwisataan di kota ini," ujarnya.

Mahasiswa Thailand Belajar Budaya dan Bahasa Indonesia

Malang, Jatim - Sebanyak 11 mahasiswa dari Lopburi College of Agriculture and Technology Thailand tertarik untuk mempelajari budaya dan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang.
Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto di Malang, Kamis, mengatakan ke-11 mahasiswa Thailand tersebut tergabung dalam program "Summer Course" selama satu bulan hingga 16 November nanti.
"Sebelum dimulainya program pendidikan, kami akan mengajak mereka keliling di wilayah Malang raya untuk beradaptasi dengan suasana maupun budaya yang ada di daerah ini," katanya, menambahkan.
Sementara wali dari mahasiswa Thailand Pattawan Montipwan mengakui waktu selama satu bulan penuh tersebut tidak cukup untuk mengenal Indonesia, sebab terlalu banyak yang harus dipelajari dan ingin diketahui.
"Oleh karena itu kami akan memaksimalkan waktu yang ada dan memberikan yang terbaik agar mahasiswa yang belajar di UMM ini nanti bisa membawa hasil yang terbaik pula," katanya, menandaskan.
Ia mengakui program Summer Course yang menjatuhkan pilihan di UMM itu juga menjadi salah satu respon terhadap akan diberlakukannya ASEAN Community 2015.
Selain menjadi tujuan program Summer Course bagi mahasiswa Thailand, sebelumnya UMM juga menerima mahasiswa asing reguler. Dan, yang berasal dari Thailand saat ini sebanyak 35 orang.
Mahasiswa asing yang saat ini kuliah di UMM, selain melalui program Summer Course, Darmasiswa dan reguler, juga ada program ACICIS yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai negara, terutama Australia.
"Semakin banyak program yang ditawarkan dan diikuti mahasiswa asing, bahkan kuliah reguler akan mempercepat target UMM untuk menembus `world class university` pada tahun 2020," kata asisten rektor bidang kerja sama luar negeri Suparto.

Festival Persilangan Budaya di Malang

Malang, Jatim - Seniman di Kampung Celaket Malang kembali menggelar festival persilangan budaya atau International Celaket Cross Cultural Festival (ICCCF). Even tahunan ini memasuki tahun kedua, seniman dari 35 Negara bakal meramaikan kegiatan seni tersebut. "Seniman dari 15 Negara sudah memastikan hadir. Kegiatan lebih lama dan partisipasi lebih banyak," kata ketua panitia ICCCF, Hanan Djalil, Ahad 6 Oktober 2013.
Selain itu, seniman dari 34 Provinsi juga bakal meramaikan pameran seni dan budaya ini akan diselenggarakan mulai 26 Oktober-1 November di Kampung Celaket Gang 2 Kota Malang. Sedangkan tahun lalu, dihadiri seniman dari 18 Negara. Mereka berasal dari berbagai Negara di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia. Berbagai kegiatan seni dan budaya akan dipamerkan untuk warga Malang.
Mereka akan hadir menunjukkan busana tradisional Negara masing-masing. Demikian juga dengan seniman nusantara, mereka akan menunjukkan pakaian tradisional masing-masing daerah. Selain itu, para siswa dari 200 an sekolah juga akan tampil mengenakan konsum tradisional maupun kontemporer dalam festival tersebut.
"Festival kostum diselenggarakan 26 Oktober," katanya. Total peserta ditargetkan mencapai 1.000 orang. Seniman kampung Celaket akan menunjukkan kesenian tari baskalan, bantengan, campur sari dan kuda lumping. Selain itu, kesenian tradisional seperti Ludruk, Kuda Lumping, Tari Topeng Malang, Jaipong asal Jawa Barat dan kolaborasi seni tari mancanegara.
Festival, katanya, untuk menunjukkan kekayaan seni dan budaya nusantara. Selain itu juga digelar dialog kebangsaan "Demi Kepak Sayap Garuda Kami Bersaudara." Dialog mengundang Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso, dan Budayawan Arswendo Atmowiloto.
"Kami masih menunggu konfirmasi mereka," katanya. Koordinator karnaval kostum, Agus Sunandar menjelaskan festival dipastikan diikuti warga Jerman, Inggris, Skotlandia dan Amerika. Festival dimulai dari Jalan Besar Ijen Kota Malang. Berbagai kostum dan pakaian tradisional akan dipamerkan.
"Kita akan menghadirkan kostum dunia di Malang," katanya. Setiap Provinsi, katanya, akan menampilkan pakaian tradisional serta kesenian tradisional.
-

Arsip Blog

Recent Posts