Tampilkan postingan dengan label Maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maluku. Tampilkan semua postingan

Diduga Korupsi, Kadis Infokom Maluku Segera Diperiksa

Maluku - Asisten Pidana Khusus (Aspinsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, A. Ghazali Handari, menegaskan dalam waktu dekat ini, pihak Kejati akan melakukan pemeriksaan terhadap Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Provinsi Maluku, Lies Ulahayanan yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kepada situs RBB, Rabu (28/5), Handari mengatakan, kehadiran Ulahayanan tersebut, terkait dugaan korupsi dana jaringan website di seluruh kabupaten/kota Provinsi Maluku tahun anggaran 2006 yang bernilai Rp1,9 milyar.

Namun Handari belum bisa menentukan kapan pemeriksaan terhadap orang nomor satu di Dinas Infokom Maluku itu dilakukan, pasalnya, sebelum tersangka diperiksa, kejati terlebih dahulu harus mendengarkan keterangan saksi ahli dari salah satu perguruan tinggi teknik di Pulau Jawa, mengenai jaringan website sebagai objek perkara, di samping akan mempelajari hasil audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPKP) Provinsi Maluku.

“Penyidikan kasus Dinas Infokom Maluku ini sempat mengalami hambatan, terkait kesediaan saksi ahli. Pekan lalu kami berusaha meminta bantuan pihak PT Telkom Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai saksi ahli. Namun mereka tidak bersedia,” terangnya.

Akhirnya pihak Kejati, lanjut Handari, merujuk kepada salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa dan sudah disetujui. Dalam beberapa hari ke dapan, saksi ahli tersebut sudah akan memberikan keteranganya. (rbb)

Sumber: RBB, 29 Mei 2008

Bertukar Makanan Lewat Selembar Sapu Tangan dalam Tradisi Guto Lailatul Qadr

Tidore, Maluku - Tidore memiliki tradisi unik merayakan malam Lailatul Qadar. Yakni menyalakan semacam obor dan tukar menukar makanan antar warga. Tradisi bernama Guto ini usianya ratusan tahun. Agar tak punah, Guto bakal dibuatkan festival di seluruh Tidore. FAKHRUDDIN ABDULLAH, Tidore Malam 27 Ramadan adalah puncak perayaan Guto. Pada malam yang kerap disebut Lailatul Qadar ini, warga percaya para malaikat Allah turun ke bumi.

Maka untuk menyambutnya, tiap sudut kampung perlu diterangi cahaya. ”Guto berasal dari bahasa Tidore uto, yang artinya menanam,” ungkap Jojau (Perdana Menteri, red) Kesultanan Tidore, H Amin Faruk, kepada Malut Post (indopos.co.id Goup), Sabtu (25/6). Secara fisik, Guto adalah nama untuk semacam obor. Ia terbuat dari potongan bambu yang dipasang melintang. Bambu tersebut lalu diisi minyak tanah di dalamnya dan dilubangi di sejumlah sisinya.

Lubang-lubang bambu kemudian dipasangi sumbu. ”Pada zaman dulu, orang tua-tua (leluhur, red) menggunakan damar sebagai bahan bakar. Sekarang damar langka, jadi diganti dengan minyak tanah,” sambung Amin. Selain Tidore, sejumlah daerah seperti Weda, Maba, dan Patani juga diketahui pernah melestarikan Guto. Ketiga daerah tersebut adalah bagian dari wilayah Kesultanan Tidore. ”Tradisi Guto sendiri berasal dari masa Sultan Mansur di abad ke-14. Pada malam Lailatul Qadar, Guto dipasang di depan rumah masing-masing warga muslim,” tutur Amin.

Untuk menyambut para malaikat yang turun ke bumi, warga menyiapkan sejumlah penyambutan. Guto dinyalakan, tak hanya di depan rumah, juga di sepanjang jalan, lorong, hingga ke areal pemakaman. Selain memasang Guto, masing-masing warga juga menyiapkan potongan pohon tebu, pisang, dan pohon buah-buahan lainnya di depan rumah mereka. Batangan pohon itu dibuatkan gantungan untuk menggantung ketupat dan beragam jenis makanan lainnya.

”Makanan-makanan tersebut tidak dijual, tapi diberikan kepada orang lain yang menyukainya dengan ikhlas,” ujar Amin. Apabila seorang warga menyukai makanan yang dipajang tetangganya, ia akan menandai makanan tersebut dengan mengikatkan sapu tangan. Dalam bahasa Tidore, sapu tangan ini disebut songa. Maka makanan tersebut dengan sendirinya menjadi hak milik si pemilik songa. ”Jika sudah terikat sapu tangan, berarti makanan itu sudah jadi milik orang lain. Kemudian si pemilik rumah mengantar sendiri makanan tersebut kepada orang yang menandainya,” tutur Amin.

Selain penyambutan terhadap malaikat Allah, tradisi Guto juga mengandung makna berbagi. Terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah. ”Memang makin ke sini makin terkikis zaman. Tapi Guto masih dapat dilestarikan di wilayah Kesultanan Tidore,” kata Amin yakin. Tak hanya secara tradisi, perayaan Lailatul Qadar juga diisi dengan ibadah sesuai ajaran Islam. Pada malam tersebut, umat muslim memang dianjurkan memperbanyak salat dan amalan lainnya. ”Sehingga pada saat Lailatul Qadar, petani berhenti berkebun, nelayan berhenti melaut. Semuanya fokus beribadah,” jelas Amin.

Usai tarawih dan witir, warga biasanya melakukan ibadah tengah malam berupa salat sunat Lailatul Qadar 12 rakaat. ”Bahkan orang memperbanyak amal dengan tidak tidur sampai selesai salat Subuh,” katanya. Pada malam itu pula, Sultan Tidore akan menunaikan salat Isya dan tarawih di Masjid Kolano (Masjid Sultan, red). Sebelum salat, sang Sultan akan dijemput perangkat adat dan perangkat masjid di istananya. Di masjid, Sultan menunaikan salat di ruangan khususnya yang ditutupi lembaran kain. Pihak Kesultanan dan Pemerintah Kota Tidore rupanya menyadari keberadaan Guto yang kian terkikis. Maka tahun ini, Pemkot berencana mematenkan Guto dalam sebuah festival tahunan. Setiap desa dan kelurahan di Tidore bakal diminta turut meramaikan festival menyambut malaikat ini.

Budaya ’Timba Laor’ Dikemas Berbeda Tahun Ini

Ambon, Maluku - Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon terus melestarikan budaya "timba laor" atau menangkap cacing laut (Lyde Oele) secara beramai-ramai.

"Tradisi di Ambon laor muncul setiap bulan Maret atau April tetapi semua dipengaruhi cuaca dan kondisi air laut. Jika air pasang dan berwarna keruh maka laor akan muncul," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Ambon, Henry Sopacua, Senin.

Ia mengatakan, tahun 2016 pihaknya telah menyiapkan konsep yang berbeda agar para wisatawan mancanegara maupun lokal dapat menyaksikan tradisi satu tahun sekali.

"Kita akan siapkan konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya yakni tradisi dilakukan di dua lokasi, jika sebelumnya hanya fokus di Negri Latuhalat tahun ini juga dilakukan di pesisir Leitimur," katanya.

Menurut Henry, pesta budaya "Timba Laor" dikemas dalam bentuk seni, pertunjukan dan kuliner khas berbahan dasar cacing laor, sehingga menarik untuk dinikmati masyarakat dan wisatawan.

"Setelah menimba atau menangkap cacing laor beramai-ramai, maka warga secara berkelompok langsung memasak hasil tangkapannya dalam berbagai menu, untuk disajikan dan dimakan bersama-sama," katanya.

Pihaknya juga akan mengundang sejumlah pengusaha restoran dan hotel untuk ikut menyaksikan pesta budaya tersebut sehingga menjadi inspirasi untuk menjadikan cacing laor sebagai salah satu menu istimewa untuk disajikan kepada wisatawan.

"Pesta budaya tahun ini menjadi titik awal untuk mengemas tradisi `Timba Laor` menjadi lebih menarik dengan berbagai kegiatan variatif, sehingga diharapkan dapat menjadi `event` tahunan yang banyak menyedot perhatian wisatawan dalam dan luar negeri untuk berkunjung ke Ambon pada bulan Maret-April setiap tahun," katanya.

Laor adalah sejenis cacing laut dalam bahasa ilmiahnya Lycde Oele dan dari kelas Polychaeta Filum Analida, biasanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai berkarang.

Tradisi Buka Sasi Lompa untuk Dapat Ikan Pusaka

Maluku - Di Desa Haruku, Maluku, ada sebuah tradisi bernama Buka Sasi Lompa. Di sini, warga bisa mendapat ikan pusaka yang hanya boleh ditangkap pada saat tertentu.

Buka Sasi Lompa adalah salah satu jenis sasi yang ada di daerah Maluku, tepatnya di Desa Haruku. Sasi sendiri adalah sebuah larangan yang berada di hampir semua desa adat di Maluku, dan ikan lompa (trisina baelama) adalah salah satu spesies ikan sardin kecil yang hidup di desa Haruku ini.

Ikan Lompa sendiri akan dipanen sekitar 5-7 bulan setelah pertama kali terlihat, dan selama 5-7 bulan itu disebut periode sasi. Ikan lompa ini disasi karena memiliki nilai sejarah tersendiri, sehingga kadang masyarakat di desa Haruku menyebutnya ikan pusaka.

Pada malam sebelum hari H dilaksanakannya buka sasi lompa, akan diadakan upacara Panas Sasi. Di dalam Panas Sasi ini bertujuan juga untuk memberikan pernyataan langsung bahwa masa sasi akan selesai kepada masyarakat Desa Haruku.

Acara Panas Sasi sendiri akan berakhir pada pembakaran obor besar yang terbuat dari daun kelapa yang sudah kering. Tujuannya untuk mengarahkan ikan lompa yang ada di laut untuk pergi ke Sungai Learisa Kayeli yang ada di Desa Haruku, yang merupakan tempat dipanennya ikan Lompa ini.

Saat tanda sasi dibuka maka seluruh masyarakat Desa Haruku akan langsung menangkap ikan lompa yang telah dijebak menggunakan jading di muara sungai agar masyarakat haruku bisa menangkap ikan lompa tersebut dengan bebas di Kali Learisa Kayeli.

Umumnya acara ini dilaksanakan sekali dalam seahun antara bulan september-oktober. Ini adalah agenda tahunan acara adat Desa Haruku, Maluku.

7.000 Peserta Meriahkan Lomba Belang Adat di Festival Budaya Banda 2015

Banda, Maluku - Ribuan masyarakat Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah bersama puluhan turis asing terlihat antusias menyaksikan Festival Budaya Banda 2015, Senin-Selasa, 09-10 November 2015.

Festival Akbar Budaya Banda 2015 ini tergolong istimewa karena sejumlah pejabat pemerintah pusat turut hadir untuk memberi dukungan serta masukan agar festival ini ke depan makin mendunia.

Hadir di acara kali ini, Kepala Biro Perencanaan Kemenko Kemaritiman, Suparman Sirait, Asisten Deputi Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Kementrian Pariwisata, Tazbir dan Kepala Bagian Administrasi Kerjasama Kemenko Kemaritiman Satya Pratama.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jika selama ini kegiatan lomba hanya terfokus pada lomba perahu belang (kora-kora) maka pada tahun ini atas saran Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua, kegiatan lomba lainnya diselenggarakan seperti lomba pancing tradisional, lomba foto bawah laut, lomba kuliner dan lomba baris empang dan lomba klompen raksasa.

"Maksud festival ini adalah meningkatkan pembangunan karakter di bidang seni dan budaya serta menanamkan nilai-nilai budaya lokal dan daerah serta budaya bangsa Indonesia sebagai salah satu upaya pembangunan berwawasan budaya bagi generasi muda dan masyarakat secara keseluruhan," tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malteng, Abraham Toisuta saat memberikan sambutan.

Ia menambahkan festival ini juga untuk melestarikan budaya daerah, mendukung eksistensi pembangunan pariwisata Maluku Tengah maupun Kecamatan Banda sebagai destinasi nasional.

Ia menjelaskan lomba Belang Adat diikuti 7000 peserta, Belang Nasional 9 regu, pancing tradisional 96 orang, foto bawah laut 27 orang, kuliner 28 kelompok, empang 43 regu, klompen raksasa 54 orang. Untuk itu, 15 dewan juri disiapkan untuk menilai yang terbaik dari yang terbaik.

Lomba Perahu, Pesta Budaya Kalangan Pesisir

Ambon, Maluku - Pantai Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, seketika berubah saat perhelatan pesta Teluk Ambon ke X tahun 2015, senin (28/9). Pantai dengan kesan pesona tersendiri itu, tampak sibuk sejak pagi hari. Masyarakat maupun para peserta lomba Arombae Mangurebe, larut dalam aktifitas pembukaan pesta teluk dan pelepasan lomba Arombae Manggurebe di kawasan itu.

Aktifitas beberapa mil dari tepi pantai Amahusu, tak kalah sibuk puluhan kapal dari ukuran kecil dan sedang berlalu-lalang, meramaikan pesta tersebut. Laut Amahusu bak sedang didandani dengan hiasan warna-warni bendera. Sementara di sepanjang pesisir pantai kawasan Amahusu dan Air Salobar, berjejer ratusan warga dari berbagai penjuru. Mereka tampak antusias, menanti detik-detik pelepasan peserta lomba Arombae Manggurebe oleh Gubernur Maluku, Said Assagaff.

Pesta teluk, yang digadang-gadang menjadi salah satu destinasi pariwisata di bumi raja-raja ini, mendapat perhatian serius baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Ini terlihat dari peningkatan kualitas penyelenggaraan yang dilaksanakan setiap tahun.

Pemerintah provinsi sendiri memahami betul, potensi bahari yang natural menjadi daya tarik bagi para wisatawan dunia. Karena itu, pesta teluk dikemas sedemikian rupa demi mempromosikan potensi wisata. “ Event pesta teluk ini selain menjadi agenda tahunan, juga sebagai perayaan hari pariwisata sedunia. Ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempromosikan potensi wisata,” tutur gubernur, disela-sela acara tersebut.

Momentum itu juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran dan mendorong semua potensi pariwisata yang ada di Maluku.” Lewat kegiatan seperti ini, kita bangun kesadaran masyarakat untuk terus menjaga, kesenian, budaya serta keindahan alam kita yang mempunyai nilai jual ke mancan Negara,” kata gubernur.

Pesta teluk menyimpan sejarah dan nilai budaya serta sosial masyarakat yang perlu dilestarikan. Ada beberapa hal yang dicerminkan dalam perhelatan itu, yakni Teluk Ambon sebagai jalur transportasi ekonomi dari masa ke masa, sehingga pernah menjadi rebutan kaum penjajah.

Teluk Ambon juga, merupakan penghubung masyarakat yang berada di Leihitu dan Leitimur. Serta menjadi media komunikasi masyarakat lokal dengan masyarakat dari luar Pulau Ambon. ”Jadi selain memiliki kultur dan budaya lokal, daerah ini juga memiliki multi kultur yang terbangun melalui teluk ini,” jelasnya.

Gubernur pun berharap, pesta teluk menjadi strategi pengembangan pariwisata di daerah ini. Pemerintah provinsi terus mendorong kegiatan pengembangan periwisata seperti ini, apalagi trend wisata global adalah wisata yang benar-benar menunjukan kealamian, budaya dan keindahan alam seperti yang dimiliki Maluku.

Ditempat yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Dra Esthy Reko Astuty, mengatakan pemerintah pusat melalui Menteri Pariwisata senantiasa mendorong kemajuan pariwisata di daerah, dorongan tersebut tidak dilakukan secara parsial.” Kami siap memfasilitasi apapun event pariwisata yang dilakukan di daerah, tetapi dukungan yang diberikan tidak secara parsial. Dimana hanya satu daerah saja yang diperhatikan, tetapi beberapa potensi yang dimiliki oleh beberapa daerah itu dukung secara bersama,” terangnya.

Astuti mencontohkan, pariwisata yang ada di Bali dan dan Sulawesi telah didukung secara bersama oleh kementerian pariwisata karena memiliki ciri yang hampir sama.”Jadi di Maluku ini bisa digabungkan dengan Maluku Utara maupun Papua. Apa yang bisa dipromosikan secara kolektif, seperti papeda di daerah timur ini. Papeda sama meski memiliki nilai maupun historis yang berbeda, ataupun budaya dan potensi wisata yang lain di daerah Indonesia timur juga bisa diajukan untuk didorong secara bersama,” jelasnya.

Astuti memberi masukan kepada pemerintah provinsi Maluku untuk menjadi koordinator atau penggerak utama dalam memajukan pariwisata di Indonesia timur,” Saya sarankan gubernur Maluku menjadi koordinator untuk daerah yang ada di Indonesia Timur. Supaya potensi yang luar biasa ini betul-betul dijual sebagai potensi pariwisata,” ajaknya.

Pesta Teluk Ambon Tahun 2015 bertujuan untuk memperkenalkan Maluku sebagai salah satu destinasi pariwisata di Indonesia. Arombae manggurebe juga sebagai wadah untuk mempersatukan masyarakat.” Jadi banyak yang bisa kita ambil dalam kegiatan ini, dimana dapat menumbuhkan semangat kebaharian dan rasa cinta tanah air. Dan meningkatkan persatuan dan kesatuan di antara masyarakat Maluku serta mempererat hubungan Pela Gandong,” kata Kadis Pariwisata, Ros Tutupoho.

Selain lomba Arumbae Manggurebe juga dilaksanakan beberapa lomba, seperti lomba perahu semang, renang estavet, pancing tradisonal, voli pantai dan festival Hawaiian band serta lomba sapu laut teluk Ambon.

Puluhan Bahasa Daerah di Maluku Terancam Punah

Ambon, Maluku - Provinsi Maluku tak hanya kaya akan seni budaya, namun juga kaya akan ragam bahasa yang menjadi identitas lokal masyarakat setempat. Namun kini, bahasa daerah yang digunakan masyarakat di beberapa daerah di Maluku mulai terancam punah.

Kepala Balai Pelestarian Bahasa Provinsi Maluku M Taha Machsum mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Maluku terindikasi ada puluhan bahasa daerah di Maluku yang kini terancam punah.

“Di Maluku ini bahasa daerah ada dalam lima kondisi yakni berpotensi punah, terancam punah, sangat terancam punah, sekarat dan punah,” ungkap dia saat diwawancarai Kompas.com di sela-sela kegiatan penyegaran Bahasa Indonesia bagi wartawan di Kota Ambon, Senin (21/9/2015).

Dia mengemukakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini, tercatat ada sebanyak 51 bahasa daerah yang masih digunakan di Maluku. Namun kemungkinan jumlah itu masih bisa bertambah mengingat masih ada beberapa daerah yang sedang diamati.

“Kendalanya banyak sekali, terutama generasi muda yang pola komunikasinya sudah banyak bergeser ke Bahasa Indoinesia, dan juga bergeser ke Bahasa Melayu Ambon sehingga bahasa daerah banyak yang hilang dan penuturnya berkurang dan itu lamban laun akan punah,” ungkap dia.

Seni dan Tradisi Maluku Ditampilkan di Duurstede Festival

Ambon, Maluku - Warga desa-desa di Pulau Haruku, Saparua, dan Nusa Laut menampilkan aneka seni dan tradisi Maluku dalam Duurstede Festival, yang berlangsung di kawasan Benteng Duurstede, Saparua, Maluku Tengah, 21 - 23 September.

Penyelenggara yang meliputi Klasis Gereja Protestan Maluku Pulau-Pulau Lease, Ambonesia Foundation, M-Tree Community, Wonderful Indonesia dan DPD Pappri Maluku menggelar 11 lomba dalam festival yang diikuti 350 peserta tersebut.

Acara perlombaan antara lain meliputi lomba suling bambu, yang pada masa lampau digunakan dalam upacara adat dan ibadah di gereja, serta lomba anyam kamboti (keranjang) dari daun kelapa, yang digunakan warga Kepulauan Lease untuk menampung hasil kebun saat panen.

Selain itu ada lomba Cucu Atap, membuat dan menganyam atap dari daun sagu, dan lomba membuat Tapalang atau balai-balai dari gaba-gaba atau batang daun sagu.

Lalu ada lomba lari Tampurung, batok kelapa yang dibagi menjadi dua dan dijadikan alas kaki untuk berlari; lomba Angkat Batu, di mana para peserta harus mengangkat batu dari dalam laut menuju tepi pantai

Penyelenggara juga menggelar Keku Dulang, lomba yang mengangkat tradisi ibu rumah tangga yang berjualan menggunakan dulang atau nampan kayu berdiameter satu meter tempat menaruh makanan yang biasa di bawa di kepala.

Ada pula lomba makan papeda dan Bale Papeda, yang menunjukkan kepiawaian peserta memindahkan pepeda (makanan tradisional masyarakat Maluku yang terbuat dari sari pati sagu) yang masih panas dari satu tempat ke tempat lain menggunakan gata-gata atau dua bilah bambu yang bagian ujungnya serupa garpu bermata dua.

Penyelenggara juga menggelar Pikol Sagu Manta, lomba lari sambil memanggul tepung sagu dalam tumang atau wadah berbentuk keranjang dari daun sagu, serta lomba triatlon tradisional berupa barnang (berenang), panggayo (dayung) dan lari.

"Berbagai jenis lomba yang digelar dalam Duurstede Festival merupakan sejumlah kearifan lokal seni dan budaya masyarakat Maluku khususnya di Kepulauan Lease yang saat ini semakin kurang diminati dan dilupakan warga," kata Ketua Panitia Pelaksana M. Tomasoa di Ambon, Minggu.

"Festival yang akan dijadikan agenda tahunan ini disasarkan untuk mempromosikan potensi lokal masyarakat, khususnya seni, budaya serta pariwisata dan diharapkan di masa mendatang dapat menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat di Kecamatan Pulau-Pulau Lease," katanya.

HUT Ambon Akan Kental dengan Seni dan Budaya Lokal

Ambon, Maluku - Atraksi seni dan budaya akan mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-440 Kota Ambon pada 7 September 2015 di Lapangan Merdeka Ambon.

"Puncak peringatan akan diisi dengan pertunjukan tarian kolosal cuci negeri dan atraksi budaya oleh para siswa SMA dan SMK se-kota Ambon," kata Ketua panitia HUT Kota Ambon Brury Nanulaita, Jumat (28/08/2015).

Menurut dia, perayaan HUT Kota Ambon sebagai puncak acara Mangente (datang dan kunjungi) Ambon melibatkan seluruh pemangku kepentingan sebagai upaya menciptakan penghargaan budaya.

"Semua stakeholder akan terlibat dalam kegiatan tersebut seperti TNI, Polri, siswa SMP/SMA, mahasiswa, sanggar budaya, pegawai negeri sipil, dan warga kota Ambon," katanya.

Ia mengatakan, selain tarian juga digelar musik tradisional Maluku Bamboo Orchastra, 1.000 terompet kolaborasi tifa totobuang dan sawat oleh para pemuda gereja dan masjid, serta paduan suara siswa.

"Kami berupaya menciptakan pesta budaya daerah untuk dinikmati masyarakat dan tamu undangan yang mengunjugi Kota Ambon," katanya.

Puncak perayaan HUT, kata Joy, juga akan dilakukan atraksi fly pass pesawat tempur Komando TNI AU Pattimura yang akan menghiasi langit Kota Ambon.

"Kita telah berkoordinasi dengan TNI AU untuk melakukan atraksi Fly Pass melibatkan 10 penerjun yang akan membawa bendera HUT kota," ujarnya.

Dijelaskannya, usai upacara HUT kota akan dilakukan makan patita (makan bersama) seluruh warga kota di sejumlah ruas jalan yakni Jl Sultan Hairun, AY. Patty, A.M Sangadji dan Jl Anthony Rebook.

Maluku Akan Gelar Festival Duurstede

Ambon, Maluku - Berbagai tradisi Maluku yang sudah hampir menghilang akan kembali dihadirkan dalam kegiatan budaya Festival Duurstede yang direncanakan digelar di Desa Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, pada 21-23 September 2015.

"Festival ini memang tujuan utamanya adalah untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi kita di Maluku yang sekarang ini sudah mulai menghilang, bahkan banyak dari generasi muda kita mungkin tahu tapi tidak bisa melakukannya," kata Ketua Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Maluku, Butje Tomaluweng, di Ambon, Selasa (30/6).

Ia mengatakan sesuai dengan namanya, Festival Duurstede yang digagas oleh Yayasan Ambonesia, Komunitas M-Tree, PAPPRI Maluku, dan Wonderful Indonesia, akan digelar di sekitar lokasi berdirinya benteng yang menyimpan kisah sejarah perang Pattimura, Benteng Duurstede.

Dalam kegiatan itu akan dilaksanakan bermacam-macam lomba dari yang berakar dari tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku, di antaranya mengayam keranjang tempat mengumpulkan hasil panen cengkih dan pala yang dikenal dengan istilah kamboti, dan lomba bale papeda atau memasak papeda, makanan khas Maluku yang dibuat dari tepung sagu.

Meski terkesan mudah, kata Butje lagi, tidak semua orang dapat melakukannya, apalagi anak muda Maluku yang hidup di perkotaan.

Ia mencontohkan, lomba bale papeda misalnya, walau hanya diseduh dengan air panas kemudian tepung sagu diaduk-aduk, tapi jika takaran air tidak sesuai, suhu air tidak di atas 100 derajat Celcius dan proses mengaduk tidak tepat, maka tepung sagu tidak akan mengental dan tercampur dengan benar.

"Membuat papeda ada caranya, diaduk dan dibolak-balik pun harus menggunakan gata-gata (semacam alat penjepit untuk menggoreng, dibuat dari bilah bambu yang dipotong halus kemudian dibelah menjadi dua bagian), bukan dengan sendok," ucapnya.

Butje menambahkan lagi, selain perlombaan yang berakar dari kehidupan sehari-hari orang Maluku, pihaknya juga akan melombakan kesenian suling bulu (bambu) yang pada masa lampau digunakan dalam upacara-upacara adat maupun ibadah di gereja, namun sudah saat ini tidak ada lagi.

"Dulu sebelum terompet, saksofon, dan alat musik semacamnya masuk ke Maluku, suling bambu sangat populer digunakan dalam berbagai upacara, tapi kemudian diganti dan sudah tidak digunakan lagi hingga saat ini," ucapnya.

Musik Merupakan Identitas Orang Maluku

Ambon, Maluku - Musik bagi warga Kota Ambon tidak asing lagi, sehingga kota ini di kenal sebagai The City of Music. Konsekuensi dari pendeklarasian Ambon sebagai kota musik, maka pemerintah mengelar sejumlah kegiatan untuk mengembangkan bakat warga kota.

Musik merupakan ciri dan identitas orang Maluku khususnya orang Ambon sehingga harus ada kegiatan yang berkaitan dengan musik, kerena potensi yang dimiliki perlu untuk dikembangkan.

“Kemarin Menteri Agama telah melaunching Perparawi tingkat nasional di Kota Ambon dan sebagai tuan rumah kita harus bayar mahal untuk mempromosikan kepada dunia kalau Ambon memang sudah aman lewat identitas diri kita yang bercirikan musik,” kata Walikota Ambon Richard Louhenapessy, disela-sela pelantikan pengurus Pesparawi tingkat kecamatan se-Kota Ambon yang berlangsung di Lantai II Balai Kota, belum lama ini.

Menurutnya, jumlah peserta yang akan ikut pada ajang ini mencapai 7 ribu orang belum ditambah dengan para soporter dan panitia, sehingga jika hotel dan penginapan penuh maka para peserta akan ditampung di rumah warga.

Menurutnya semangat toleransi dan kebersamaan yang sudah terbangun selama ini bukan hanya sekedar selogan tetapi memang berangkat dari kemauan bersama untuk hidup saling menghormati satu sama lain.

“Kemarin pelaksanaan MTQ Nasional berjalan baik sekarang kita juga harus sukseskan Pesparawi Nasional yang akan berlangsung pada oktober mendatang,” pintanya.

Untuk itu, walikota minta agar lembaga pengembangan Pesparawi tingkat kecamatan harus menjadi pioner-pioner dan garda terdepan untuk sukseskan kegiatan ini.

Walikota Pangkalpinang Digelari ’Upu Hini Amboina’

Ambon, Maluku - Walikota Pangkalpinang, M Irwansyah, diberikan gelar adat ‘Upu Hini Amboina’ atau Orang Besar Yang Sangat Dihargai Karena Jasa-Jasanya Kepada Mayarakat Maluku di Tanah Rantau.

Penganugerahaan ini diberikan langsung oleh Ketua Majelis Latupati Kota Ambon John Rehata yang berlangsung di Monumen Gong Perdamaian Dunia, Jumat (17/4). Walikota Pangkalpinang juga tidak datang sendiri tetapi bersama Wakil Walikota M Sofyan dan sejumlah pimpinan SKPD lainnya.

Gelar kehormatan ini diberikan oleh Majelis Latupati Kota Ambon John L Rehatta kepada Walikota Pangkalpinang sebagai bentuk penghargaan atas perhatiannya maupun jajaran Pemkot Pangkal­pinang kepada warga asal Maluku yang berdomisili dan telah menetap di kota tersebut.

“Penganugerahan gelar adat seperti ini memang telah beberapa kali dilakukan secara khusus bagi para tokoh dan pimpinan nasional yang memiliki andil bagi dan perhatian kepada masyarakat Maluku namun baru kali diberikan khusus bagi kepala daerah di luar Provinsi Maluku,” jelas Sekkot Ambon AG Latuheru kepada wartawan usai pemberian gelar adat tersebut.

Dikatakan penganugerahaan ini diharapkan dapat mempererat tali silahturami dan hubungan persau­da­raan antara dua kota yang memiliki adat istriadat yang hampir sama.

“Di Maluku hubungan keke­rabatan yang terjalin dikenal dengan nama pela dan gandong begitu juga hubungan kekerabatan yang terjalin antara pemerintah Pangkalpinang dengan warga asal Maluku yang tinggal di Pangkalpinang juga terjalin dengan baik,” katanya.

Sementara itu Walikota Pangkalpinang Muhammad Irwansyah menambahkan, bahwa gelar yang dianugerahkan Majelis Latupati Kota Ambon merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan karena tidak semua orang berhak menyandang gelar tersebut.

“Gelar adat ini sangat tinggi wibawanya karena hanya khusus diberikan kepada pimpinaan besar yang setia memelihara menjaga membia warga Maluku yang berada di tanah rantau,” kata Irwansah.

Menurutnya, kehidupan sosial masyarakat Pangkalpinang juga tidak jauh berbeda dengan Kota Ambon karena merupakan kota yang ditempati semua etnis. “Disana orang Maluku kita perlakukan sama seperti orang Pangkalpinang dan mereka hidup rukun walaupun berbeda keyakinan adat istiadat, suku dan agama. Mereka juga sudah menjadi bagian dari warga Pangkalpinang,” ungkapnya.

Hasil Festival Timba Laor Menurun

Ambon, Maluku - Pelaksanaan Festival Timba Laor yang dilakukan Pemkot Ambon sebenarnya sudah berjalan sesuai waktu namun ternyata dalam pelaksanaannya hasil yang diperoleh menurun.

Kabag Humas dan Protokol Pemkot Ambon, Joy Adriaansz kepada Siwalima di Balai Kota Ambon, Senin (9/3) mengaku pelaksanaan festival tersebut sudah sesuai dengan waktu­nya namun hasil tangkapan yang diperoleh masyarakat jauh dari harapan.

“Memang hasil tangkapan yang didapat oleh masyarakat tidak ba­nyak seperti tahun-tahun sebelum­nya. Jadi tahun ini bukan festivalnya yang gagal namun hasil jumlah tang­kapan berkurang,” ungkapnya.

Dijelaskan, di awal proses timba laor pada sore hari memang tidak banyak yang berhasil ditangkap. Namun saat sudah larut malam ternyata laor yang naik ke permukaan bertambah banyak.

“Hasil tangkapan langsung diolah oleh warga masyarakat dan disantap bersama oleh warga yang datang menyaksikan festival pesta rakyat timba laor tersebut,” jelas Adriaansz.

Dikatakan, festival ini juga digelar bukan hanya sehari namun beberapa hari kedepan sehingga dipresdiksi pada Senin (9/3) malam, laor akan mun­cul dengan jumlah yang sangat ba­nyak dibandingkan hari sebelumnya.

“Kegiatan yang dilakukan oleh pemkot memang bukan hanya sehari tetapi beberapa hari kedepan dan sudah dipastikan jumlah laoor yang akan ditangkap juga sudah pasti banyak sekali,” katanya.

Ia menambahkan, Festival Timba Laor ini sengaja dikemas pemerintah untuk menarik minat pariwisata karena ini menjadi budaya turun temurun.

Senada dengan Adriaansz, salah satu Panitia Festival Timba Laor, Jusuf Latumeten mengaku kekece­waan war­ga yang menghadiri festival ter­sebut disebabkan hasil yang diper­oleh sa­ngat sedikit. “Waktu pelak­sa­naannya memang sudah tepat na­mun hanya ada kesa­lahan sedikit saat pelak­sa­naan pem­bukaan festival yang mem­buat ba­nyak masya­rakat hanya men­da­patkan sedikit laor,” jelas Latu­meten kepada wartawan di Baileo Rakyat Belakang Soya, Senin (9/3).

Menurutnya, seharusnya pelak­sa­naan pembukaan festival harus dimulai sebelum pukul 18.00 WIT. “Jadi laor itu bukan tunggu kita namun kita yang menunggu laor muncul ke permukaan air. Saat proses timba laor itu maka tidak boleh ada yang ribut,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proses timba laor juga bukan hanya berlangsung Minggu (8/3) malam saja, namun masih berlangsung dalam beberapa hari kedepan.

“Saya yakin pada malam beri­kut­nya pasti ada masyarakat bisa men­dapatkan laor dengan jumlah yang banyak karena tidak ada kegiatan pembukaan yang sangat ramai seperti hari kemarin,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, pem­bukaan festival dilakukan Minggu (8/3) oleh Sekkot AG Latuheru. Sesuai perencanaan, festival ter­sebut bukan hanya sebatas timba laor dan langsung dilakukan peng­olahan hingga makanan yang lang­sung disantap.

Kejaksaan Memeriksa Mantan Ketua DPRD Maluku Tengah

Ambon- Hasbullah Selan, mantan Ketua DPRD Maluku Tengah diperiksa tim penyidik Kejaksaan Tinggi Maluku di Ambon, baru-baru ini. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan Maluku Tengah diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pembelian kapal cepat Pamahanusa milik Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah senilai Rp 14 miliar pada tahun 2002.

Kehadiran Hasbullah di Kejati Maluku, untuk melengkapi berkas pemeriksaan dugaan korupsi yang diduga melibatkan Bupati Maluku Tengah Abdullah Tuasikal. Hasbullah Selan diperiksa karena saat itu ia menjabat Ketua DPRD dan dianggap mengetahui pembelian kapal senilai Rp 14 miliar tersebut.

Dari penyelidikan kejaksaan, kapal cepat milik Pemkab Maluku Tengah itu adalah barang bekas yang harganya cuma sekitar Rp 7 miliar. Usai diperiksa, Hasbullah yang kini menjabat Wakil Ketua sementara DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat menyarankan supaya kejaksaan juga menghadirkan mantan bupati lama, Rudolf Rukka.(DEN/Sahlan Heluth dan Juhri Samanery)

Sumber : Liputan6.com 17 Januari 2005

Budaya Cuci Negeri di Kota Ambon Harus Dilestarikan

Ambon, Maluku - Budaya Cuci Negeri sudah merupakan salah satu budaya dari masyarakat Maluku yang mesti terus dilestarikan. Budaya tersebut sudah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung turun temurun, baik pada sebuah desa ataupun negeri.

Sebagai bagian integral dari kepulauan Maluku, Kota Ambon memang memiliki banyak nilai budaya salah satunya adalah budaya Cuci Negeri.

Cuci Negeri tidak hanya memiliki makna bersihkan lingkungan hidup, atau sumur zaman para leluhur, tetapi mengandung makna yang lebih luas yakni, pemikiran dan seluruh perasaan warga di negeri tersebut.

“Cuci Negeri itu sendiri memiliki makna luas. Tidak hanya bersihkan lingkungan hidup bersihkan sumur jaman leluhur atau tempat dimana para leluhur mulai mendiami satu negeri atau desa, tapi juga pemaknaan baru yakni mengandung pengertian yang lebih luas. Termasuk memperhatikan diri, pikiran dan perasaan seluruh warga di negeri tersebut,” jelas Senator asal Maluku, Jhon Piries kepada wartawan pekan kemarin.

Ia mengungkapkan, ada dua negeri di Kota Ambon setiap tahun melakukan upacara Cuci Negeri, yakni Soya, yang mela­kukan awal Desember dan Naku 29 Desember.

Untuk acara Cuci Negeri di Negeri Naku 29 Desember 2014, turut hadir pada kesempatan itu Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, Asisten I Pemkot Ambon, Jopi Tepalawtin, Kadis Pariwisata, Hendrik Sopacua, Camat Leitimur Selatan, Richard Luhukay dan Kapolsek Leitimur Selatan.

Walikota dan rombongan disambut dengan cakalele adat, yang dipimpin oleh kapitannya, Antoni Warela, dan Malesinya (Wakil Kapitan), Arnold Alfons. Selain cakalele disambut tifa totobuang yang dibawah pimpinan Steward Gasperz, Samuel Pesiwarisa, dan Handri de Fretes.

Dalam upacara penyambutan Walikota dan rombongan, Walikota diterima oleh kepala adat Negeri Naku, Samuel Pesiwarisa dan pejabat Pemerintah Negeri Naku, Andi de Fretes. Selain upacara Cuci Negeri Naku, dilaksanakan juga festival perkusi dibawah pimpinan Gidion Pieris.

Festival perkusi diikuti kurang lebih 110 personil yang terdiri dari 35 tifa, 15 rebana atau hadrat, totobuang, toleng-toleng 30 buah. Dan klefer 10 buah ditambah dengan paduan suara ibu-ibu sebanyak 50 orang.

Asisten I Jopi Tepalawatin dan Kadis Pariwisata dan Camat Leitimur Selatan, Richard Luhukay sangat bangga dengan tampilan atraksi perkusi. Mereka berjanji perkusi Naku akan ditampilkan pada Hut Kota Ambon 7 September 2015 mendatang maupun acara-acara festifal musik di Kota Ambon pada masa yang akan datang.

Mahasiswa Demo Kasus Korupsi di Ambon

Ambon- Sekitar 150 orang mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) dan Aliansi Gerakan Anti Korupsi (AGAK) melakukan demonstrasi di Kota Ambon, Rabu (28/7). Mereka mendesak agar kasus korupsi di daerah ini segera dituntaskan.

Dua kelompok mahasisawa ini melakukan demo terpisah. Sekitar 50 massa GMNI melakukan demo sekitar pukul 11.00 WIT. Mereka bergerak mulai dari kantor Gubernur Maluku, di kawasan Jalan Pattimura, Ambon, kemudian ke kantor Kejati Maluku dan kantor Wali Kota Ambon.

Sedangkan 100 mahasiswa yang tergabung dalam AGAK, yang terdiri dari berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Kota Ambon bergerak dari kantor Wali Kota Ambon, kantor Gubernur Maluku, dan Kejati Maluku. BEM yang ikut dalam aksi ini di antaranya dari Universitas Darussalam, Universitas Pattimura, Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Dema Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Kesatuan Aksi mahasiswa Muslim Indonesia.

Kedua kelompok demonstran sama-sama menuntut agar korupsi yang terjadi di beberapa intansi pemerintah di Provinsi Maluku, diberantas. "Kami menginginkan Pemerintah yang bersih di Maluku," kata Mustari, massa dari GMNI, ketika berorasi di halaman depan kantor gubernur Maluku. Untuk itu, demonstran meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi turun ke Maluku, untuk mengusut tuntas kasus korupsi di daerah ini.

Massa GMNI sempat melakukan dialog, baik dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Masrin Djinin SH., maupun Wakil Gubernur Maluku Drs. Muhammad Abdullah Latuconsina. Kepada pejabat Maluku, GMNI menuntut agar kasus korupsi yang proyek air bersih sebesar Rp 6,1 miliar di Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, diusut tuntas.

Wakil Gubernur Maluku, di hadapan para demonstran mengatakan, silakan cek dilapangan jika menemukan kasus-kasus korupsi. "Kalau ada bukti korupsi di lapangan, Pemerintah Provinsi Maluku akan mengambil tindakan hukum," kata Latuconsina.

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Septinus Hematang SH., mengatakan jika KPK datang ke Maluku, itu berarti aparat penegak hukum di daerah ini tidak mampu. Namun, pihaknya akan menghormati kalau KPK datang untuk menuntaskan kasus korupsi di daerah ini. Dia juga berjanji akan memproses semua kasus korupsi.

Mochtar Touwe dan Jonathan

Sumber : TempoInteraktif.com 28 Juli 2004

Kongres Kebudayaan Digelar, Gubernur Seru Rekonstruksi Budaya Maluku

Ambon, Maluku - Pembentukan kebudayaan dan peradaban di Maluku telah dimulai dimulai sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Jejak asimilasi kebudayaan itu bukan saja tampak pada berbagai produk kebudayaan dan peradaban yang berkembang di Maluku tetapi juga meliputi asimilasi ras yang cukup kuat.

Namun menjadi salah satu dari 8 provinsi Maluku yang membentuk negara Indonesia membuat Maluku terseret masuk pada proses kebu­dayaan yang dikonstruksi secara politis dan otoritatif dari Jakarta.

Akibatnya, Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak semua pihak untuk ‘baku gandeng tangan’ merekonstruksi kebudayaan Maluku.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur saat membuka Kongres Kebudayaan I Provinsi Maluku yang digelar di Lapangan Merdeka, Ambon, Senin (3/11).

“Kongres Kebudayaan Provinsi Maluku yang sedang digelar ini merupakan wadah yang signifikan untuk memulai sebuah upaya rekonstruksi kebudayaan yang akan memungkinkan Maluku memperoleh kedigdayaan kembali di tengah situasi asimilasi kebudayaan lintas bangsa yang semakin mengglobal,” ungkapnya.

Gubernur dalam pidato kebuda­yaan bertajuk “Bentangan Kebu­dayaan Maluku Dalam Tantangan Asimilasi Kebudayaan” juga mengaku rekaman historis asimilasi kebudayaan di Maluku mengha­dirkan daerah ini sebagai sebuah wilayah multi identitas.

“Sulit bagi kita untuk menemukan adanya unsur budaya dominan atau narasi tunggal dalam mozaik kebu­dayaan Maluku,” ujarnya.

Dikatakan, budaya Maluku juga diperhadapkan pada tantangan untuk tercerabut dari berbagai aspek konvensionalnya. Budaya Maluku berada dalam interaksi hiper-kultural dengan berbagai produk kebuda­yaan lintas teritorial. Budaya Maluku tidak lagi diklaim sebagai milik semata-mata orang Maluku didalam model interaksi tanpa batas seperti ini.

“Hibridisasi budaya global pada gilirannya meperhadapkan kebuda­yaan Maluku dengan tantangan intervensi kebudayaan luar yang bersifat massif dan bergerak dengan kecepatan tak terbatas. Meskipun demikian dinamikan hibridisasi kebudayaan sekaligus menjadi peluang bagi Maluku untuk menawarkan berbagai kearifan lokal yang dimilikinya pada bursa global kebudayaan dan peradaban yang berkembang,” katanya.

Pada kesempatan itu Gubernur juga menyerahkan penghargaan kepada mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM) I, Abdullah Soulisa yang diterima putrinya Hj Hanny Latuconsina.

Pembukaan Kongres Kebuda­yaan I Provinsi Maluku juga juga dihadiri oleh Ketua DPRD Maluku Edwin Huwae serta sejumlah bupati/walikota.

Karnaval Budaya Digelar untuk Ambon Damai

Ambon, Maluku - Ribuan warga berbagai suku di Ambon, Maluku, meramaikan karnaval budaya yang digelar pada awal Oktober 2014. Acara itu menampilkan keanekaragaman budaya yang menjadi kekayaan warga Kota Ambon dan Indonesia.

Para peserta mengenakan pakaian adat melintasi jalan-jalan raya. Mereka menampilkan tarian dari berbagai daerah. Ada yang menampilkan budaya Suku Kedang dari Nusa Tenggara Timur, Suku Buton dari Sulawesi Tenggara, Sunda dari Jawa Barat, bahkan Kalimantan dan Papua. Mereka melengkapi penampilan dengan membunyikan alat musik tradisional.

Salah satu yang ditampilkan putra Ambon adalah tarian bambu gila. Beberapa anak muda memegang dan berusaha mengendalikan sebatang bambu yang bergerak kesana kemari di dalam rombongan karnaval.

Masyarakat Kota Ambon pun beramai-ramai menonton acara tersebut. Banyak di antara mereka yang mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel masing-masing.

Adalah Balai Pelestarian Budaya Kota Ambon yang menggelar acara tersebut. Menurut Kepala Balai Pelestarian Budaya Kota Ambon, Stevanus Tiwery, acara itu menunjukkan Kota Manise aman dan damai. Acara itu juga sekaligus persiapan Maluku sebagai tuan rumah kongres budaya Nusantara yang berlangsung pada 3 November 2014.

Pulau Banda Disiapkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Masohi, Maluku - Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) sementara mempersiapkan Pulau Banda menjadi salah satu kawasan warisan alam dan budaya dunia. Menuju kearah tersebut, pemkab sudah melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Pusat khususnya Kementerian Kesejahteraan Rakyat pada Rabu (1/10)

“Pertemuan itu dipimpin oleh Deputi Bidang Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kementerian Kesra, Haswan Yunas. Kementerian Luar Negeri, Kemeterian Perikanan dan kelautan (KKP), Kementerian Pendidikan, Bupati Malteng, Abua Tuasikal, Kadis Pariwisata Maluku, Bastian Mainassy, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Malteng, N Anakotta, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rakib Sahubawa, unsur LIPPI serta LSM Pemerhati lingkungan Hidup,” jelas Bupati Malteng, Abua Tuasikal kepada wartawan di Masohi, Sabtu (4/10).

Dikatakan, pertemuan tersebut guna menindaklanjuti pertemuan sebelumnya dengan tujuan, guna memastikan rekomendasi usulan kawasan Pulau Banda dengan menyiapkan langkah-langkah konkrit menyatukan semua dokumen terkait.

Kata bupati, dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kementerian Kesra, Haswan Yunas mengungkapkan, usulan Kepulauan Banda untuk ditetapkan menjadi kawasan warisan dunia sesungguhnya, telah diperjuangkan sejak tahun 1994 lalu, akan tetapi pada saat itu usulan tersebut tidak berhasil menjadikan Banda sebagai kawasan warisan dunia, disebabkan berbagai unsur teknis yang belum memehuni kriteria.

Kata bupati, deputi berharap, melalui rakor saat itu, dapat terbentuk keterpaduan semua unsur baik pada tingkat daerah sampai pada kementerian terkait, sehingga melalui senergitas tersebut seluruh dokumen usulan Kepulauan Banda menjadi kawasan budaya dan warisan dunia dapat dilengkapi, agar hasilnya dapat diterima dan ditetapkan.

Bupati sendiri mengharapkan, agar upaya tersebut dapat secara langsung berimplikasi pada peningkatan ekonomi lokal, yang tentu berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang ada di kecamatan Banda, bahkan di Maluku umumnya dan Kabupaten Malteng khususnya.

“Kami berharap upaya yang kami lakukan saat ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, bukan hanya yang ada di Banda saja, akan tetapi dapat juga berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Maluku dan malteng khususnya,” harap Bupati.

Bupati menegaskan, dengan persiapan Pulau Banda menjadi kawasan Budaya dan warisan dunia, maka pihaknya akan mempercepat sosialisasi guna membangun kesiapan masyarakat dalam menyambut langkah positif tersebut.

“Kami akan mempercepat sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan hal ini secara luas di Kabupaten Malteng, agar masyarakat siap menyambut diusulkannya Pulau Banda menjadi kawasan warisan dunia,”tandasnya.

Ditambahkan, rakor saat itu menyepakati diusulkannya Pulau Banda menjadi kawasan budaya dan warisan dunia dengan membentuk tim pokja yang melibatkan unsur pemkab dan Pemporv Maluku.

Sanggar Kabaresi Tampilkan Adat dan Budaya Maluku

Ambon, Maluku - Untuk kesekian kalinya Sanggar Kabaresi, mengelar pertunjukan seni dengan menampilkan adat dan budaya orang Maluku. Pentas seni ter­sebut dipusatkan di gedung Ashari Al-Fatah Ambon, Kamis (11/9)

Kepala Dinas Parawisata Kota Ambon Hengky Sopacua, dalam sambutannya saat membuka acara itu, mengatakan pentas seni ini iba­ratkan sanggar ini mengajak gene­rasi muda untuk kembali mengenali adat dan kebudayaan orang Maluku.

“Acara ini dilakukuan untuk me­ngajak generasi muda untuk menge­nal budaya orang Maluku yang selama ini tidak pernah terlihat dan tidak pernah di pertontonkan sehi­ngga banyak generasi muda tidak megetahuinya,” kata Sopacua.

Menurutnya, ada sejumlah sang­gar yang selama ini masuk dalam binaan Dinas Pariwisata Kota Ambon, namun ada juga yang berdiri sendiri.

“Saya tidak tahu ada berapa sa­nggar, namun yang jelas ada sang­gar yang berdiri dibawah naungan pemerintah tapi ada juga sanggar yang berdiri sendiri karena mereka mampu membiayai diri sendiri,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Minat dan Bakat pada Sanggar Kabaresi,Levi Mailoa mengatakan, pertunjukan ini sudah sering dilakukan keliling Indonesia bahkan sampai ke luar negeri.

“Kegiatan ini kita juga pernah pentaskan di Belanda dan kami akan lakukan seperti ini keliling Indonesia terutama pada daerah-daerah dimana terdapat orang Maluku,” ujarnya.

Menurutnya, acara ini dilakukan untuk mengingatkan kepada gene­rasi muda terhadap kebudayaan orang Maluku yang selama ini dilu­pakan sehingga setiap generasi muda bisa kembali mengingat budayanya sendiri.

-

Arsip Blog

Recent Posts