Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan

Seren Tahun Sedekah Bumi, Tradisi Budaya yang Dipertahankan Kampung Girijaya

Girijaya, Jabar - Seren tahun sedekah bumi adalah upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris khas masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara tersebut berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Ribuan masyarakat sekitar dan bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat turut dalam kemeriahannya.

Acara sidekah bumi juga digelar di Kampung Girijaya Desa Girijaya Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, berlangsung selama dua hari pada hari Kamis dan Jumat (6-7/10/2016) atau 10 Muharam 1438 Hijriah, yang dihadiri ribuan warga setempat dan dari luar diantaranya Tangerang, Serang Banten, Lebak, Pandeglang, Karawang, Cikarang, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan daerah di Jawa Barat lainnya.

Menurut kang Mardi yang saat ini menjadi generasi penerus melestarikan budaya adat yang sebelumnya sudah ada, makna sidekah bumi sendiri adalah syukuran dan wujud dari rasa terima kasih dan menghargai bumi alam agar selalu dalam keberkahan.

“Selain tempat kita berpijak, bumi juga adalah tempat kita pulang. Asal ti bumi balik ka bumi,” kata kang Mardi yang merupakan putra bungsu Bapak RD Neneng Ruyat (alm) ketua sesepuh padepokan Girijaya.

Dalam acara tersebut digelar berbagai kesenian diantaranya pementasan wayang golek, pencak silat, debus, dan kesenian lainnya. Dan acara puncaknya upacara adat budaya, yakni sidekah bumi yaitu membawa gotongan dongdang atau jampana, yang di isi berbagai hasil bumi.

“Saya hanya meneruskan dan melestarikan tradisi budaya, Penerus budaya adat kebiasaan peninggalan karuhun yang sudah ada sebelumnya,” ujarnya.

Babarit Syukuran Hasil Panen; Ribuan Warga Berebut Nasi Tumpeng

Kuningan, Jabar - Menyambut Hari Jadi Kota Kuningan yang ke-518 Pemkab Kuningan menggelar acara seni tradisi Babarit. Kegiatan turun-temurun pada masyarakat suku Sunda ini sebagai upaya mensyukuri berlimpahan hasil kekayaan alam.

Kegiatan Babarit (Ngabuburak Wewerit) ini berlangsung pada jam 08.00 WIB, di depan Pendopo Kuningan. Tampak hadir Bupati Kuningan H Acep Purnama, Sekda Yosep Setiawan, Forum Koordinasi pimpinan daerah para Kepala SKPD serta ribuan masyarakat yang kebetulan sedang menikmati Car Free Day.

Dari pantauan Radar Kuningan, acara Babarit dimulai dengan pembacaan Sinopsi sambil diiringi musik gending dan kacapai suling. Kemudian sasajen dan dipasang di depan tumpeng raksasa. Selanjutnya, ritual membawa air air, tumpeng atau nasi kuning dari empat penjuru mazhab atau penjuru arah. Lalu, empat mata itu disatukan. Ke empat mat air itu pertama dari air dari arah barat (Mata Air Cisuriam), air dari timur (air dari Indrakila).

Kemudian, air dari arah utara dari Cikahuripan Kahyangan Indraprahasta) dan terakhir dari selatan air yang diambil dari Balong Kabuyutan Selajambe) itu disatukan oleh bupati selaku pupuhu papayung agung Kuningan. Setelah disatukan maka air itu dengan menggunakan media bunga bupati menyipratkan ke empat arah. Dilanjutkan dengan pemberian tumpeng kepada sesepuh Kuningan yang dalam hal ini adalah Ketua PHBM Kuningan Maman Suherman.

Usai acara ritual bupati dan tamu kembali ke tempat semula. Kemudian, acara dilanjutkan dengan tarian yang dibawakan oleh gadis cantik. Mereka terus menari dengan diiringi lima lagu wajib yang harus dilakukan dalam kegiatan babarit. Ke lima lagu tersebut adalah Sang Golewang, Tunggul Kawung, Bujang Anom, Goyong-Goyong Dan Raja Pulang. Setelah itu, dilanjutkan dengan tari kolosal yang melibatkan para pejabat dengan masing-masing istri. Bupati juga tampak meningikuti kegiatan tari kolosal ini. Sebelumnya dilakukan penilai ke nasi tumpeng yang dibuat tiap SKPD.

Usai semua rangkaiakn beres, acara selanjutnya makan nasi tumpeng. Pada saat belum dimulai, ribuan warga langsung menyerbu nasi tumpeng. Mereka membawa kantung kresek dan juga wadah lainnya. Bahkan, nyiru (tampah) yang merupa wadah nasi tumbeng diambil warga untuk memburu makanan berkah yang ada di pinggir tumpeng tersebut. Aksi saling rembut nasi dan lauk pauknya menjadi pemandangan yang sangat lucu. Tidak sedikit yang terus menerus saling tarik untuk mempereputkan makanan.

Tampak warga suka cita dengan kegiatan ini. Bagi mereka selain bisa menyaksikan seni tradisi juga mereka bisa menikmati nasi tumpeng raksasa. Sekadar informasi Babarit Kuningan merupakan kegiatan ritual masyarakat Sunda sebagai wujud rasa syukur kepad Allah SWT atas keberhasilan yang diperoleh. Dengan panen melimpah dan masyarakat sejahtera. Disebutkan bahwa kegiatan babarit merupakan upaya mengangkat kearifan lokal dari pagelaran budaya ini banyak hikmah yang bisa diambil.

Babarit menjadi sarana syukuran terhadap limpahan kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Kuningan sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Kuningan yang ke 518. Dengan adanya acara babarit ini, diharapkan masyarakat kabupaten kuningan menjadi masyarakat yang maju dan sejahtera serta terhindar dari berbagai musibah.

“Dengan adanya acara babarit ini menandakan bahwa masyarakat Kuningan adalah warga yang pandai bersyukur atas karunia Allah SWT,” ungkap bupati.

Menurut Acep budaya babarit harus terus dilestarikan karena merupakan salah satu aset budaya yang memiliki nilai-nilai budaya adat-istiadat masyarakat yang cukup tinggi serta merupakan penghargaan pada leluhur setempat. “Seperti kata pepatah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sehingga dapat dikatakan acara babarit merupakan implementasinya,” jelas A cep yang didampingi Kadisparbud Kuningan Teddy Suminar.

300 Seni Tradisional Jabar Terancam Punah

Karawang, Jabar - Sebanyak 300 jenis seni tradisional yang berasal dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat terancam punah menyusul minimnya generasi penerus yang menekuni bidan dan kesenian tesebut.

"Harus kita akui 300 seni di Jabar sangat memprihatinkan dengan jarangnya generasi penerus," kata Kepala Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Dinas Pendidikan Jabar, Husen Rahadian Hasan, usai menghadiri Helaran Seni Tradisional di Karawang, Kamis (25/8).

Ia mengatakan, terancamnya 300 jenis seni di berbagai daerah sekitar Jawa Barat itu sesuai dengan hasil peneilitian salah seorang profesor di Jawa Barat. Menurut dia, pasifnya generasi muda terhadap seni tradisional dipastikan akan mempercepat lenyapnya kesenian khas Jawa Barat.

"Kalau untuk saat ini belum ada catatan adanya kesenian yang sudah hilang di Jawa Barat. Jadi sifatnya baru ancaman hilang," kata dia.

Sementara itu, salah satu upaya menjaga seni dan budaya tradisional khas Jawa Barat, maka perlu dilakukan gelaran kesenian tradisional di seluruh kabupaten/kota secara rutin.

Gelaran tersebut dilakukan dengan mengajak sekolah di seluruh Jawa Barat untuk unjuk pentas kesenian tradisional. "Pada tahun ini, helaran kesenian digelar di 16 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Selanjutnya pada tahun 2017 kita akan ada akan menggelar helaran kesenian di 27 kabupaten/kota," kata dia.

Selain itu, Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Dinas Pendidikan Jabar juga berencana melakukan pembukuan bahasa daerah Jawa Barat. Untuk sementara ini sudah ada dua bahasa yang sudah dibukukan menjadi kamus, yakni Bahasa Sunda, Bahasa Cirebonan dan selanjutnya pihaknya akan menggarap kamus untuk Bahasa Melayu-Betawi.

Hal tersebut dilakukan, karena masyarakat kabupaten/kota di Jawa Barat tidak hanya menggunakan Bahasa Sunda atau Cirebonan. Ada pula kabupaten/kota yang menggunakan Bahasa Melayu-Betawi, seperti di daerah Depok dan Bekasi.

Mari Lestarikan Tembang Sunda Cianjuran!

Bandung, Jabar - Minat generasi muda terhadap seni budaya tradisional belum diimbangi program pemerintah daerah. Permasalahan klasik pendanaan menjadi alasan upaya pembinaan generasi muda dalam menggeluti seni budaya tradisional.

Hal itu diungkapkan seorang sesepuh Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kota Bandung Herry Wijaya, pada sosialisasi Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran Damas 2016 dan Istrenan Pangurus XXXV Damas, di Gedung YPK, akhir pekan lalu.

Kegiatan seni Tembang Sunda Cianjuran menurut Herry, menjadi salah satu kesenian yang minim perhatian dari pemerintah daerah. “Hampir di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat ini ada pelaku seni Tembang Cianjuran. Namun, dalam hal pasanggiri atau festival mereka sangat berharap banyak dari kegiatan yang dilakukan oleh lembaga atau kelompok independen nonpemerintah seperti halnya Damas,” ujar Herry.

Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran merupakan agenda rutin yang dilaksanakan Damas setiap 2 atau 3 tahun sekali sejak 1962. PTSC tahun ini yang merupakan penyelenggaraan yang ke-21 akan digelar pada 5-8 Oktober 2016, di Gedung Sabilulungan Kabupaten Bandung.

PTSC Damas 2016 akan diikuti lebih dari 100 orang juru tembang dari 27 kabupaten dan kota di Jabar. Adapun tembang yang lombakan atau dipasanggarikan untuk katagori pria berupa tembang, “Rajamantri”, “Jemplang”, “Panganten”, dan “Dangdanggula Degung”. Sedangkan untuk katagori wanita tembang, “Sebrakan Sapuratina”, “Kuring Leungiteun”, “Kaléon”, “Jemplang Pamirig”.

“Pasanggiri (PTSC Damas) merupakan media evaluasi juga silaturahmi para seniman sehingga harus terus diselenggarakan. Kami berharap insan tembang Sunda dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai estetis tembang Sunda dalam kehidupan,” ujar salah seorang tokoh tembang Cianjuran, Yus Wiradiredja.

Apresiasi Luar Biasa untuk Seni Kuda Renggong

Sumedang, Jabar - Pewarisan kesenian tradisional kuda renggong kepada generasi muda harus secara intens dilakukan agar dapat dipertahankan dan dilestarikan. Selain kuda pandai menari sarana musik dan tari di kesenian kuda renggong dapat menjadi daya tarik tersendiri.

"Pemerintah daerah harus benar-benar serius menangani kesenian tradisional dalam upaya pelestarian dan pemeliharaan serta pemanfaatan. Karenanya pewarisan kepada generasi muda sebagai pewaris harus terus dilakukan secara rutin dan intens jangan sampai terputus," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida, di sela-sela Festival Seni Kuda Renggong Se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan di Lapangan Pacuan Kuda Sindangraja (Dano), Sumedang utara, Kabupaten Sumedang, Minggu 14 Agustus 2016.

Menurut Ida, pelaksanaan Festival Seni Kuda Renggong se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan Paguyuban Kuda Renggong Kabupaten Sumedang (Paskures) serta Pordasi Jabar, menunjukan bahwa ada upaya semua pihak melakukan pelestarian dan pemeliharaan kesenian tradisional kuda renggong. "Bahkan sangat diluar dugaan peserta bukan hanya dari Sumedang sebagai daerah asal seni kuda renggong, tetapi juga dari Subang, Majalengka, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung. Belum lagi apresiasi penonton yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan orang," ujar Ida.

Kesenian tradisional kuda renggong sejak Mei 2015 sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional berasal dari Jawa Barat. Pemberian sertifikat penetapan bernomor 1539908 dari perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada acara Festival Seni Kuda Renggong se-Kabupaten Sumedang pada 15 Mei 2015 lalu.

"Namun, dengan ditetapkannya ataupun diakuinya kesenian kuda renggong berasal dari Sumedang oleh pemerintah (Kemendikbud) bukan berarti kita sebagai pemilik tidak menjaganya. Justru harus sebaliknya untuk lebih menjaga dan memelihara serta mewariskannya kepada generasi muda," ujar Bupati Sumedang Eka Setiawan.

Dikatakan Eka, sebagai bentuk kepedulian pemerintah Kabupaten Sumedang terhadap kelangsungan kesenian tradisional kuda renggong, kegiatan festival akan secara rutin dilakukan. Bahkan pihaknya meminta dukungan Pemrov Jabar agar menfasilitasi pelatihan kesenian kuda renggong kepada generasi muda.

Seren Taun, Tradisi Kuno Masyarakat Sunda Ungkapan Rasa Syukur

Bogor, Jabar - Masyarakat Adat Kampung Sindangbarang di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat akan menggelar ritual Seren taun pada 19-23 Oktober mendatang.

Budayawan Sunda, Ki Anom menuturkan ritual Seren taun sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Pajajaran kuno. Seren taun merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesama manusia.

Seren taun berasal dari bahasa Sunda, yaitu Seren yang artinya menyerahkan dan taun atau tahun. Jadi, Seren taun diartikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan berkah yang melimpah selama satu tahun.

Ritual Seren taun dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat agraris atas hasil panen. Fokus utama ritual Seren taun adalah padi. Padi dianggap sebagai simbol kemakmuran.

"Itu budaya Kerajaan Pajajaran kuno. Bentuk rasa syukur nikmat masyarakat Sunda, khususnya di bidang pertanian," jelas Ki Anom kepada merahputih.com, Kamis (11/8).

Dalam masyarakat Sunda, ritual diawali dengan Upacara Ngajayak (Penjembutan Padi) pada tanggal 18 bulan Rayagung Tahun Saka bulan terakhir dalam perhitungan kalender Sunda. Setelah itu, dilanjutkan dengan penumbukan padi. Seren taun dilaksanakan pada tanggal 22 sebagai acara puncak dari rangkaian acara.

Sementara itu Ketua Panitia Maki Sumawijaya mengatakan ritual Seren taun sebagai warisan leluhur harus dijaga kelestariannya. Ia menyebut bahwa kegiatan ini sangat penting digelorakan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat adat lainnya.

"Ritual Seren taun diadakan rutin setiap tahun. Diikuti dengan pesta panen, budaya besanan khas Bogor, ada pelestarian permainan tradisional (pendidikan tari dan belajar silat gratis) untuk anak-anak di sini," kata Maki.

Festival Ujungberung Hidupkan Kesenian Khas Sunda

Bandung, Jabar - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung bekerjasama Badan Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Kota (BKPMK) menggelar perhelatan Festival Ujungberung, Rabu (10/8). Acara ini digelar di Alun-Alun Ujungberung yang menjadi pusat kecamatan yang terletak di Bandung bagian timur.

Festival Ujungberung 2016 ini ditujukan untuk memperingati hari jadi Kecamatan Ujungberung ke-201. Setelah sejak 2008 menjadi perhelatan tahunan yang rutin digelar Kecamatan Ujungberung.

Berbagai pertunjukan seni dan budaya ditampilkan untuk memeriahkan acara. Di antaranya atraksi seni khas Ujungberung seperti Benjang Ream, Helaran Jampanan, dan Kuda Renggong.

Selain itu, penampilan lain seperti Buncis, Reog, Calung, Pencak Silat, Bajidoran, dan Karinding juga menjadi atraksi penghibur bagi pengunjung yang datang. Camat Ujungberung, Taufik mengatakan perayaan ulang tahun Ujungberung ini juga dibalut dengan konsep kesenian dan kuliner khas budaya sunda.

"Hari ini tanggal 10 agustus menurut sejarah tokoh-tokoh merupakan hari jadi Ujungberung. Rangkaian festival yang dilakukan berupa kesenian dan juga kuliner," kata Taufik di Alun - alun Ujungberung, Kota Bandung, Rabu (10/8).

Taufik mengatakan bila rangkaian acara ini bagian dari promosi budaya Sunda. Dengan cara memperkenalkan kesenian budaya Sunda yang banyak tidak dikenal terutama oleh generasi muda.

Dalam pelaksanaannya, ia mengaku melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Serta murid-murid sekolah dari tingkat SD sampai SMA untuk mengisi pertunjukan seni.

Ia menilai dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, budaya dan seni sunda bisa semakin terjaga kelestariannya. Seni budaya menjadi hal yang penting karena merupakan identitas akan Ujungberung yang juga merupakan bagian dari tugas pemerintah. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar budaya dan kesenian sunda dapat terus dipertahankan dan dilestarikan," tuturnya.

Penggiat Seni Bandung, Mbah Njum megatakan festival seperti ini harus terus dilestarikan. Karena menampilkan kesenian khas Sunda yang harus dikenal masyarakatnya.

Mbah Njum menilai ke depannya acara serupa harus diadakan lebih baik. Sehingga jauh lebih mengesankan bagi masyarakat khusunya warga Ujungberung. "Harapan saya di festival ujung berung, lebih terkonsep dari , sebelum ada pelaksanaan, adanya workshop," ujarnya.

Selain sebagai bagian dari pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kesenian tradisional di wilayah Bandung timur, menurut Wawan, festival juga dalam rangka silaturahmi. Baik sesama seniman, juga masyarakat Ujungberung.

Festival ini diadakan selama dua hari yakni 10-11 Agustus. Di samping menikmati pertunjukan kesenian khas Sunda, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai bazzar kuliner untuk memanjakan lidah.

Disdikbud Ciamis Kenalkan Seni Manorek pada Generasi Muda

Ciamis, Jabar - Kepala Seksi Kesenian dan Perfileman, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dedi Unay mengungkapkan, Seni Manoret yang pernah mengharumkan nama Ciamis dalam salah satu pementasa Seni di Teater Tertutup, Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat di Dago Bandung dalam rangka revitalisasi terhadap kesenian tradisional.

“Kita patut mengapresiasi, melakukan pembinaan dan selanjutnya melakukan tahapan-tahapan pengenalan terhadap generasi muda,” katanya.

Menurut Dedi, pihaknya akan menggelar pementasan Seni Manorek di Gedung Gelanggang Galuh Taruna (GGT) Ciamis, Rabu (27/7/2016), sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat luas terutama generasi muda.

“Hari ini kita menggelar pementasan dengan dua sesi penampilan, sesi pertamia yakni sekitar pukul 14:00 WIB yang akan ditonton oleh siswa setingkat SLTP dan SLTA dan sesi pertunjukan malam pukul 20:00 WIB untuk masyarkat luas,” papar Dedi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dudung Abdullah dalam sambutanya menambahkan, ini sebagai program pengenalan budaya terhadap generasi muda.

“Ini sebagai pangkah kami mengenalkan budaya terhadap generasi muda dan harapan kami regenerasi akan dapat tercipta dengan alami,” ungkap Dudung.

Menurut Diding, di Kabupaten Ciamis ini ada 49 jenis seni budaya, dan baru ada 36 yang tercatat di Disdikbud, ini memang harus ada perhatian, khusus salah satunya dengan penampilan Seni Manorek ini, karena generasi sekarang kebanyakan tidak tahu seni budaya yang ada di daerahnya.

Didung mengaku, sebenarnya pihaknya kehilangan jejak untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah, maka dari itu harus ada komunikasi yang baik antara pelaku seni dan dinas terkait.

“Kita sebetulnya menugaskan tiga orang per daerah untuk mencari informasi jejak budaya sebagai langkah kita melindungi dan melestarikan seni budaya yang ada,” pungkasnya.

Anak-anak Sambut Riang Festival Budaya dan Seni Sunda

Bandung, Jabar - “ORAY-ORAYAN luar leor mapay sawah. Entong ka sawah parena keur sedeng beukah. Oray-orayan luar leor mapay leuwi. Entong ka leuwi , di leuwi loba nu mandi. Saya anu mandi anu mandina pandeuri. Oray-orayan luar leor mapay kebon. Entong ka kebon loba barudak keur ngangon. Mending ge teuleum di di leuwi loba nu mandi. Saha anu mandi anu mandina pandeuri.”

Sejumlah anak menyanyikan lagu “Oray-orayan” dengan sangat riang sambil memperagakan bagaimana permainan itu dilakukan. Dua anak mengangkat tangan dengan posisi perpegangan sedangkan beberapa anak lainnya terus berjalan beriringan sambil memegang bagian pundak teman yang ada di bagian depannya. Pernainan terus dilakukan seperti itu samabil menyanyi lagu.

Zaman dahulu, permainan ini biasa dilakukan anak-anak saat terang bulan atau siang hari saat bermain di tempat yang lumayan luas atau terkadang di depan sekolah saat istirahat belajar.

Kini, permainan tersebut hanya terlihat dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti hari anak atau festival seperti yang diselenggarakan di halaman Kecamatan Panyingkiran, Selasa 25 Juli 2016.

Menurut keterangan Camat Panyingkiran Junaedi, pihaknya sengaja menyelenggarakan festival budaya dan seni Sunda untuk semua tingkatan sekolah mulai TK hingga SLTA yang ada di Kecamatan Panyingkiran. Festival itu dihelat untuk menggelorakan kembali tradisi Sunda yang biasa dimainkan semasa anak-anak oleh warga.

“Lagu ‘Oray-orayan’, mungkin hanya sebagian sekolah saja yang mengajarkannya kembali kepada anak-anak. Itu pun mungkin pada ekstrakurikuler atau saat akan melaksanakan lomba. Saya ingin budaya ini terus terpelihara dan dimainkan anak-anak masa kini. Terlebih, Kecamatan Panyingkiran sebagian besar adalah wilayah pedesaan bukan perkotaan seperti wilayah lain sehingga permainan itu bisa tetap lestari,” kata Junaedi.

Salah seorang murid SD yang menjadi peserta festival, Meliawati mengatakan, ia bersama beberapa temannya mendadak belajar jaipongan untuk mengikuti festival budaya dan seni Sunda. Sebelumnya mereka tidak pernah mengikuti kegiatan kesenian di sekolah ataupun di luar sekolah.

“Latihan sekitar seminggu menggunakan kaset. Kalau permainan anak-anak itu diajari juga oleh guru,” ujar Meliawati.

Demikian juga yang disampaikan Aulia yang sama menjadi peserta jaipongan dari SD Bantrangsana. Dia menyatakan, hanya belajar tiga hari sebelum mengikuti festival. Dia diajar oleh guru meski sudah bisa menari jaipong.

Dari kegiatan festival tersebut, sebagian besar peserta memperagakan tari jaipong. Hanya beberapa sekolah yang memperagakan permainan dan nyanyian anak tempo dulu, seperti oray-orayan, eundeuk-eunduken lagoni, serta oyong-oyong bangkong.

Namun demikian, acara berlangsung meriah. Sejumlah orangtua anak yang mengikuti festival, guru, dan aparat desa hadir memberi semangat bagi perwakilannya masing-masing. Mereka pun berupaya memberi saweran saat anak-anaknya pentas, tak terkecuali camat dan aparat desa. Tak ayal, uangpun berserakan di panggung.

Ada Festival Kaulinan Barudak di Taman Budaya

Bandung, Jabar - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menggelar Festival Permainan Tradisional 2016 diikuti 18 kabupaten dan kota se-Jawa Barat hingga Sabtu 23 Juli 2016.di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jalan Bukit Dago Utara Kota Bandung. Penyelenggaraan Festival Permainan Tradisional dengan tema "Menanamkan silih asah, silih asuh, dan berjiwa korsa" itu dilaksanakan dalam upaya mengembalikan ruh permainan tradisional sebagai media interaksi sosial masyarakat.

"Sejak diperkenalkan ke masyarakat melalui kegiatan festival kaulinan urang lembur oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, telah terjadi pergeseran nilai permainan tradisional. Permainan yang seharusnya dilakukan anak-anak, namun dalam penyelenggaraan melibatkan orangtua. Karenanya tahun 2016 ini kita berupaya melakukan revitalisasi dan rekonstruksi permainan tradisional ke ruhnya sebagai media interaksi sosial dengan kandungan nilai filosofinya," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Ida Hernida. Ia ditemui pada pembukaan Festival Permainan Tradisional 2016 (Festival Sendra Kaulinan Urang Lembur) yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Kamis 21 Juli 2016.

Hal yang tidak kalah pentingnya menurut Ida, permainan tradisional bukan merupakan olah raga tradisional yang diperlombakan dalam bentuk kompetisi yang mengutamakan fisik. “Ini yang terjadi saat ini disejumlah daerah karena kondisi yang diciptakan oleh Disparbud Jabar, hal ini menjadi kewajiban Disparbud melalui Taman Budaya sebagai balai UPTD Disparbud Jabar untuk meluruskan,” ujar Ida.

Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Mochamad Darajatun, menambahkan bahwa rangkaian Festival Kaulinan Tradisional 2016, selain diisi dengan Sendra Drama Kaulinan Tradisional, juga workshop dan jajanan tradisional.

"Kita mencoba untuk menggugah masyarakat modern saat ini bahwa segala hal yang berbau tradisional tidak selalu buruk dan ketinggalan jaman, bahkan sekarang ini ada banyak sejumlah permainan yang kembali disukai dan dimainkan, demikian pula halnya dengan makanan seperti cilok, cireng dan lainnya," ujar Darajatun.

Abah Jani dan Seni Pahat Wayang Golek Purwakarta

Purwakarta, Jabar - Pemkab Purwakarta, memanggil pulang maestro perajin wayang golek, Abah Jani (54 tahun). Perajin wayang tersebut, asalnya berkreativitas di Pulau Dewata, Bali. Akan tetapi, karena di Purwakarta perajin wayang sudah mulai minim, maka Abah Jani akhirnya disuruh kembali berkarya di tanah kelahirannya.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengatakan, ternyata wilayahnya ini memiliki aset yang tak ternilai harganya. Yaitu, Maestro perajin wayang.

Abah Jani, yang merupakan warga asal Kecamatan Sukatani, mungkin satu-satunya maestro perajin wayang yang tersisa. Karena itu, pemkab ingin Abah Jani untuk pulang kampung. Serta, mengembangkan kreativitasnya di wilayah sendiri. "Perajin wayang asal Sukatani, sudah berkurang. Sekarang perlu figur untuk meneruskan karya ini," ujar Dedi, kepada Republika, Kamis (23/6).

Sudah sepekan ini, lanjut Dedi, Abah Jani, dikaryakan oleh Pemkab Purwakarta. Abah Jani, disuruh membuat wayang golek, yang nantinya akan dipamerkan di Museum Wayang milik pemkab. Dengan keberadaan Abah Jani ini, diharapkan karya seni tersebut akan tetap lestari.

Serta bisa memotivasi senima muda asal Purwakarta, untuk bisa unjuk gigi. Mengingat, saat ini Purwakarta sudah mulai kehilangan gerenasi penerus seniman perajin wayang golek. "Ini langkah pemerintah, untuk tetap melestarikan seni dan budaya. Termasuk, seni membuat wayang golek," ujarnya.

Sementara itu, Abah Jani mengaku, saat kecil dirinya sudah tertarik dengan wayang golek Si Cepot. Abah Jani, sempat meminta wayang golek tersebut ke kakeknya. Akan tetapi, oleh kakeknya tidak diberi. "Saya harus membuat sendiri," ujarnya.

Dari situlah, ternyata bakat seni Abah Jani terlihat. Sejak saat itu, Abah Jani dengan telaten membuat wayang golek yang terbuat dari bahan kayu ini. Karyanya tersebut, pernah dipakai oleh dalang sohor, almarhum Asep Sunandar Sunarya.

Akan tetapi, sejak sepi order, Abah Jani memilih meninggalkan kampung halamannya dengan tujuan, Pulau Dewata. Ternyata, di pulau yang sering dikunjungi bule ini, kehadiran Abah Jani sangat diterima. Sehingga, dia bisa berkreativitas membuat wayang di Taman Nusa, Gianyar, Bali.

Sekembalinya ke Purwakarta, Abah Jani sangat bersedih. Mengingat, tanah kelahirannya ini telah banyak kehilangan para perajin wayang. Mayoritas perajin wayang itu, sudah tutup usia. Padahal, dulu di dekade 70-an dan 80-an, seniman wayang asal Sukatani sangat banyak. Jumlahnya mencapai ratusan perajin.

Tetapi, saat ini yang tersisa tinggal sedikit. Itupun, sudah berusia lanjut seperti dirinya. Kesedihan Abah Jani semakin mendalam, saat generasi muda sudah tidak ada yang mau menggeluti kerajinan wayang ini. "Beruntung, Purwakarta masih memiliki pemimpin yang cinta akan seni tradisi. Dengan adanya Museum Wayang nanti, para generasi muda kembali mencintai dan melestarikan budayanya," jelasnya.

’Ngarewahkeun’, Tradisi Jelang Ramadan di Banjaran

Banjaran, Jabar - Menyambut bulan suci Ramadan ada kebiasaan warga disejumlah desa di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka yakni melakukan kirim-kirim makanan kepada sanak pamili yang diistilahkan warga setempat dengan “ngarewahkeun”.

Ngarewahkeun ini dilakukan warga minimal seminggu menjelang bulan puasa atau menurut para orang tua dulu pelaksanaan ngarewahkeun yang terbaik adalah dua hari menjelang bulan puasa sekaligus ngabersihkeun diri (mensucikan diri).

Menurut keterangan salah seorang tokoh masyarakat Desa Banjaran, Makbul, tradisi ngarewahkeun atau mengakhiri bulan rewah untuk menyambut bulan puasa ini, semua keluarga membuat aneka masakan berupa nasi kuning dan putih, daging, telur, oseng-oseng, kerupuk, serta makanan ringan seperti opak, rengginang, wajit, adas, lara budig atau sejenisnya.

Aneka masakan dan makanan yang sudah di olah tersebut kemudian di wadahi menggunakan piring, misalnya saja nasi putih dan nasi kuning diwadahi menjadi satu piring, telur satu, daging tiga kerat, ditambah oseng-oseng sepiring, serta rengginang dan opak serta wajit di bungkus menggunakan plastik atau bisa juga dengan piring. Makanan tersebut kemudian diantarkan kepada tetangga dan pamili yang menurut hubungan keluarga cukup dekat.

“Ngarewahkeun ini biasanya dilakukan setiap keluarga dan hal ini sudah dilakukan sejak turun temurun mulai jaman dahulu kala,” kata Makbul.

Nia warga Banjaran yang melaksanakan kegiatan ngarewahkeun pada Kamis, 2 Juni, menuturkan tahun ini dirinya memasak ayam, bihun, kentang goreng, serta godog telur dan kerupuk untuk dikirim kepada sejumlah orang tuanya. Untuk tambahan kuenya dia membuat adas dan wajit kelapa.

“Tidak banyak yang dikirim untuk ngarewahkeun sekarang, menyesuaikan dengan kondisi ekonomi saja yang terpenting ada tandanya. “ ungkap Nia, dikutip dari PR Online.

Selain itu menurutnya, mengirim makanan untuk ngarewahkeun ini tidak perlu banyak. Yang terpenting menunjukkan bahwa dirinya masih ingat keluarga serta kue untuk pamulang (membalas kiriman makanan) dari tetangga dan kerabat.

Menurut tokoh setempat, Anas, tradisi ngarewahkeun ini hanya ada di Kecamatan Banjaran, itupun hanya dilakukan beberapa desa saja seperti Desa Banjaran, Sindangpala, Kagok, dan Panyindangan. Berbeda dengan menjelang lebaran, hampir semua keluarga membiasakan kirim-kirim makanan kepada orang tuanya dan tetangga.

Itupun menurut KH.Anas beberapa tahun belakangan kegiatan ngarewahkeun hanya dilaksanakan oleh mereka yang masih ingin menjaga tradisi serta keluarga yang kondisi ekonominya cukup. Sedangkan keluarga kurang mampu mulai meninggalkannya karena mungkin tidak ada untuk membeli lauk pauk dan kuenya. Kalaupun ada lebih memilih untuk persediaan kebutuhan keluarga sendiri.

“Kalau zaman dulu semua rumah mulai seminggu menjelang puasa sudah saling kirim, makanya makanan di rumah selalu banyak. Sekarang di Sindangpala sudah mulai banyak yang meninggalkan kebiasaan ini. Sekali lagi ini bukan wajib tapi hanya sekedar tradisi,” ungkap Hamdi warga Sindangpala.

Teater Getih Terbaik di Festival Drama Basa Sunda XVII

Bandung, Jabar - Dewan Juri Festival Drama Basa Sunda XVII menobatkan Kelompok Teater Getih asal Kota Bandung sebagai Pementasan Pinunjul Kahiji. Festival drama tahunan yang digelar Teater Sunda Kiwari juga menetapkan Desta Mahardika dari Shocking Rajah Perfoming Art sebagai Aktris Pinunjul dan Mohammad Aditya dari Teater Getih sebagai Aktor pinunjul.

Pada pembacaan pemenang, Minggu 8 Mei 2016 menjelang tengah malam, Dewan juri yang terdiri dari Godi Suwarna, Bambang Aryana Sambas, dan Rahman Sabur, dari 64 kelompok teater menetapkan lima nominasi kelompok teater. Kelima noiminasi pementasan pinunjul tersebut adalah kelompok Teater Toneel, Teater Awal, Teater Getih, Teater Pecut Kuningan, dan Shocking Rajah Perfoming Art.

Dalam keputusan akhir, dewan juri akhirnya menetapkan kelompok Teater Getih yang membawakan naskah “Manusa Jero Botol” karya Yusef Muldiyana dan diterjemahkan bebas Rosyid E. Abby sebagai pementasan pinunjul kahiji (terbaik kesatu). Sementara untukpPinunjulkKadua (terbaik kedua) dan pinunjul katilu (terbaik ketiga) diraih,kelompok teater Shocking Rajah Performing Art yang membawakan naskah “Kalangkang” (N. Nazaruddin Azhar) dan kelompok Teater Awal Bandung membawakan naskah “Manusa Jero Botol”.

Selain menetapkan pementasan pinunjul, dewan juri juga nenetapkan kelompok Teater Coret Besik’s Unwir (Indramayu), Laskar Banua (Kabupaten Berau Kalimantan Timur), dan Smile Motivator (Kota Bandung) sebagai Pinunjul Kayungyun. Untuk katagori Aktris Pinunjul disabet Desta Mahardika dari Shocking Rajah Perfoming Art dan Aktor Pinunjul oleh Mohammad Aditya dari Teater Getih.

Sementara untuk katagori Panata Musik Pinunjul diraih Ridwan Saidi (Shocking Rajah Performing Art), Panata Artistik Pinunjul oleh Mugianto (Teater Awal Bandung), dan Sutradara Pinunjul menjadi milik Nurhadi Hasan (Teater Getih Bandung).

Festival Drama Basa Sunda XVII berlangsung selama 20 hari di Gedung Kesenian Rumentangsian Jalan Baranang Siang, Kosambi Bandung, sejak 18 April 2016. FDBS XVII diikuti 64 peserta dari 69 peserta yang sudah melakukan registrasi. Selain dari kota dan kabupaten di Jawa Barat, juga dari DKI Jakarta, Banten dan bahkan dari Berau Kalimantan Timur.

Tahun ini Teater Sunda Kiwari selaku penyelenggara menyediakan tujuh naskah pilihan yang sudah diseleksi sangat ketat dalam hal bobot kekaryaan. Naskah tersebut terdiri dari, “Jam Hiji Duapuluh Salapan Menit” karya Ayi G. Sasmita, “Dayeuh Simpe” (Lugiena de), “Kalangkang” (Nunu Nazarudin Azhar), “Manusa Jero Botol” (terjemahan bebas Rosyid E. Abby dari Naskah Di Dalam Botol karya Yusef Muldiayana), “Nu Garering” (Dhipa Galuh Purba), “Mojang Dua Rebuan” (Dadan Sutisna) dan “Polbakik”

Menumbuhkan Kecintaan Budaya Sunda Lewat Gamelan Bambu

Bandung, Jabar - Kreativitas warga Kabupaten Bandung bisa dikatakan tak ada habisnya. Kali ini kreativitas ditunjukkan oleh Wawan (50), warga Kampung Cilebak RT 1/6 Desa Nagrak Kecamatan Pacet.

Dia berhasil membuat seperangkat gamelan berbahan bambu, namun mampu menghasilkan suara indah dan memikat hati siapa saja yang mendengarnya.

Jika biasanya gamelan sebagian besar berbahan logam, namun berbeda dengan seperangkat gamelan yang dibuat oleh Wawan. Justru sebaliknya, sebagian besar peralatan musik tradsional ini berbahan bambu.

Meskipun terbuat dari bambu, suara yang dihasilkannya tak kalah merdu dengan gamelan berbahan dasar logam seperti kuningan, tembaga, dan jenis logam lainnya.

"Saya pakai bambu hitam atau biasa disebut dalam Bahasa Sunda Awi Wulung. Memang jenis bambu ini sudah biasa dipakai untuk membuat peralatan musik calung. Nah ini saya kembangkan menjadi seperangkat alat gamelan yang hampir semunya dari bambu, kalau alat lainnya selain bambu dalam gamelan ini, cuma goong dan kendang saja," kata Wawan, Minggu (1/5/2016).

Tak ubahnya gamelan berbahan logam, gamelan bambu ini pun biasa dimainkan oleh lima orang yang masing-masing memainkan alat musik berupa jenglon, saron 1,2 dan 3, dan peking. Ditambah pemain suling, kendang dan gong. Hasilnya, alunan gamelan bambu yang indah terdengar harmonis mengiringi lantunan syair lagu Sunda dari mulut seorang sinden yang terlihat begitu rancak.

"Permainan gamelan bambu ini sama saja seperti gamelan lainnya. Alhamdulillah gamelan bambu yang saya buat bersama teman-teman ini mendapatkan respons cukup luar biasa dari masyarakat," ujarnya.

Wawan menceritakan, idenya membuat seperangkat gamelan berbahan bambu ini berdasarkan pengalamannya selama ini menjadi pemain calung. Selain itu, ini juga hasil penelitian dan penelusuran dari beberapa buku atau naskah kuno tentang peralatan kesenian di masa lampau.

"Seperti calung juga kan sebelum seperti sekarang, yakni bernama calung renteng, terdiri dari deretan bambu diikat berjajar. Namun saat ini berkembang menjadi alat calung seperti saat ini, yakni bilah bambunya dilubangi dan ditusuk sama bambu lagi sebagai pengikatnya. Itu adalah bagian dari perkembangan alat musik calung. Dari sana saya berpikir untuk mengembangkan bambu, kenapa tidak dipakai untuk membuat gamelan," kata Wawan yang telah menggeluti seni calung sejak tahun 1982 itu.

Dikatakan Wawan, pembuatan seperangkat gamelan bambu ini diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Mulai dari menebang bambu, menjemur, membentuk, hingga menyetelnya menjadi seperangkat gamelan.

Pekerjaan membuat gamelan bambu ini, kata dia, dilakukan bersama beberapa temannya sesama pelaku dan penggerak kesenian tradisional Sunda. Kata dia, harga seperangkat gamelan bambu ini jauh lebih murah ketimbang gamelan biasa yang mencapai belasan juta rupiah. Gamelan bambu buatannya hanya memerlukan biaya produksi sekitar Rpjuta hingga Rp5 juta saja.

"Tujuan saya hanya ingin melengkapi atau menambah alat atau waditra kesenian Sunda saja. Nah kalau harga jual, jujur saja belum pernah kami sengaja membuat dan menjualnya. Kali ini sengaja kami tampilkan dengan harapan pak Bupati Bandung Dadang M Naser berkenan mengapresiasi karya kami ini. Karena ini asli produksi orang Kabupaten Bandung," ujarnya.

Wawan melanjutkan, dengan dibuatnya gamelan bambu yang dinamai Gawil alias Gamelan Awi ini, diharapkan bisa membangkitkan semangat dan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional Sunda. Terutama kesenian Sunda yang menggunakan peralatan berbahan bambu seperti calung dan lainnya.

Karena memang, jelas dia, tradisi masyarakat Sunda sejak lama telah menggunakan bambu untuk berbagai keperluan, seperti peralatan rumah tangga, membangun rumah, alat kesenian, dan lainnya.

"Ini yang harus dicontoh dan terus dikembangkan oleh generasi muda, mereka harus mencintai lingkungannya yang telah banyak memberikan manfaat pada kita semua, dan salah satunya adalah bambu," kata dia.

Antoni (34) salah seorang warga Jakarta, begitu antusias melihat seperangkat gamelan bambu ini. Karena sepengetahuannya, gamelan selalu terbuat dari logam. Hadirnya gamelan bambu ini menambah wawasannya mengenai pemanfaatan bambu yang memang banyak tersebar di seantero nusantara.

"Ini luar biasa, ternyata gamelan juga bisa dibuat dari bahan bambu. Saya sangat kagum melihatnya, sangat menginspirasi banyak orang, ternyata bambu itu bisa dibuat dan direkayasa menjadi apa saja, tergantung kreativitas dan kemauan kita," katanya.

Antoni berharap, kreativitas Wawan ini bisa dilirik oleh pemerintah sebagai salah satu potensi ekonomi, sekaligus pelestarian seni budaya Sunda. Kata dia, jika dipromosikan dan dikemas dalam sebuah pertunjukan yang baik, tentunya gamelan bambu itu bisa memikat hati wisatawan.

SDN Empang 2 Budayakan Kesenian Sunda

Bogor, Jabar - SDN Empang 2 di Jalan Empang, Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, budayakan kesenian Sunda kepada peserta didiknya, meskipun belum memiliki ruang untuk berlatih. Hal itu bertujuan untuk mendidik anak dalam meningkatkan bakatnya di bidang kesenian.

“Kesenian itu tetap menjadi prioritas SDN Empang 2. Karena kesenian Sunda merupakan bagian dari budaya Kota Bogor yang harus dikembangkan dan diterapkan kepada para siswa di sekolah ini,” ujar Kepala SDN Empang 2, Mulyaningrum ketika ditemui Metropolitan di sekolahnya, kemarin.

Sasarannya, lanjut dia, agar para siswa tetap mencintai budaya kesenian Sunda, meskipun dijaman serba-teknologi seperti sekarang ini. Jadi, menurut dia, kesenian musik Sunda, seperti degungan, sudah mendunia dan suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Kota Bogor. Maka dari itu, masyarakat dan sekolah harus bisa memelihara kebudayaan seni Sunda agar budaya yang kita miliki tidak diakui negara lain.

Sehingga, lanjut Mulyaningrum, kesenian Sunda itu sudah menjadi prioritas dalam memberikan pembelajaran terhadap siswa di sekolah ini. “Kami akan terus berupaya memberikan mutu pendidikan yang baik terhadap siswa guna meningkatkan dan meraih prestasi anak di bidang kesenian,” jelasnya.

Bukan hanya degungan, ia juga menggalakkan kesenian Sunda yang lain. Di antaranya pupuh Sunda, karawitan, puisi Sunda dan lain-lain. “Sekolah kami memiliki 925 siswa dan seluruhnya akan kami bina dalam meningkatkan bakatnya di bidang kesenian, terutama kesenian Sunda,” imbuh Mulyaningrum.

Sukabumi Jadikan Wayang Sukuraga Seni Budaya Khas

Sukabumi, Jabar - Wali Kota Sukabumi, menetapkan secara resmi Wayang Sukuraga menjadi seni budaya khas kota tersebut terhitung mulai 12 Februari 2016.

"Wayang ini bisa menjadi ikon dan kami bangga atas kreativitas dan inovasi para seniman dan budayawan Kota Sukabumi sehingga mampu menciptakan sekaligus mengembangkan seni dan budaya khas tersebut," kata Muraz di Sukabumi, Senin.

Menurutnya, Wayang Sukuraga diharapkan bisa menambah khasanah seni budaya khas Kota Sukabumi sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat, sebab beberapa tahun lalu, telah pula dikukuhkan secara resmi seni Ngageulis (Ngagotong Lisung) atau menggotong lesung dan Bola Leungeun Seuneu (Boles) atau Bola Tangan Api yang berakar dari tradisi seni dan budaya Kota Sukabumi.

Wayang Sukuraga ini juga dapat dijadikan momentum sekaligus pemicu semangat bagi semua pihak khususnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Sunda warisan para leluhur di tengah kemajuan teknologi dan era gadget.

Karena lanjutnya bagaimanapun juga pihaknya khawatir dengan kondisi anak yang sudah mulai melupakan bahkan ada yang tidak mengetahui kesenian dan budaya asli daerahnya.

"Melalui seni dan budaya ini, kami menginginkan masyarakat di Kota Sukabumi sejak dini mencintai kebudayaan asli daerahnya di tengah serbuan budaya asing yang belum tentu berdampak positif bagi warga," tambahnya.

Sementara itu Dalang sekaligus Pencipta Wayang Sukuraga, Effendi mengatakan Wayang Sukuraga berbentuk boneka yang dipadukan dengan seni lukis, rupa, musik, teater dan kerajinan serta mulai di pertunjukan kepada khalayak umum sejak 1997.

Adapun cerita dalam wayang ini, tidak mengambil cerita pada umumnya cerita wayang seperti Ramayana dan Mahabharata, tapi lebih banyak menceriterakan konflik manusia secara internal, serta konflik-konflik para anggota badan manusia dengan iringan musik kolaborasi paduan musik etnik tradisional dan modern.

"Mengenai nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama anggota tubuh manusia seperti mata, telinga, hidung, mulut, tangan dan sebagainya," katanya. Feru Lantara

Seni Kuda Lumping “Ebeg” Khas Pangandaran Tetap Diminati

Pangandaran, Jabar - Seni Kuda Lumping adalah seni budaya yang secara tidak langsung diadopsi masyarakat Pangandaran dari Jawa Tengah. Kesenian kuda lumping atau sering disebut juga “Ebeg” adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan terbuat dari ayaman bambu yang dipotong menyerupai bentuk kuda dengan tabuhan gamelan.

Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut, mengenakan mahkota dan sumping di telinganya. Kedua pergelangan tangan dan kakinya dipasangi gelang-gelang kerincingan, sehingga gerakan tangan dan kaki penari Ebeg selalu dibarengi bunyi gemerincing.

Seiring perkembangan zaman, kesenian ini masih bisa bertahan meski serbuan budaya seni dari mancanegara terasa kian gencar.

Hal ini berkat langkah inovatif dari para senimannya, salah satu grup seni Kuda Lumping yang masih eksis dan terus berinovasi adalah Muncul Jaya Grup dari Desa Babakan, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran.

"Kami terus berinovasi agar seni ini terus dapat bertahan dan diminati masyarakat,"kata Sabar, pemimpin rombongan. (Foto: Iwan)

Penampilan Seni Kuda Lumping “Ebeg” Muncul Jaya Grup yang terus berinovasi. (Foto: Iwan)

Pimpinan rombongan Seni Kuda Lumping “Ebeg” Muncul Jaya Grup, Sabar menjelaskan, dalam setiap penampilannya, Kuda Lumping “Ebeg” pimpinannya selalu mengkombinasikan dengan tarian barong, seni debus dan wayang orang.

Dengan inovasi tersebut, Sabar optimis kesenian ini akan terus diminati masyarakat, terbukti makin banyaknya generasi muda yang ingin belajar Seni Kuda Lumping di daerahnya.

“Lihat saja saat kami pentas, selain pemainnya juga anak-anak muda, ternyata mayoritas penontonnnya juga anak-anak muda,” tutur Sabar kepada FOKUSJabar, Jum’at (5/2/2016).

Penulisan Aksara Sunda Penguatan Nilai Budaya Sunda

Bandung, Jabar - Penambahan aksara sunda pada papan nama jalan dan beberapa gedung di Kota Bandung, menurut ketua program studi bahasa dan satra Indonesia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tedi Permadi, merupakan suatu bentuk penguatan nilai budaya sunda di Kota Bandung.

“Kalau kita misalkan ke ITENAS, nama-nama gedung juga disamping dengan aksara latin, dibawahnya juga ada aksara sunda. Sekolah juga ada, misalkan di sekolah yayasan atikan sunda, itu digunakan juga. Itu bagus saya kira untuk memberikan penguatan atas nilai budaya kesundaan itu sendiri,” jelas Tedi kepada PRFM, Rabu (27/01).

Selain itu, Tedi menuturkan selain belum sempurnanya sistem komputer yang ada, jarang digunakannya aksara sunda dalam keseharian pun ikut melandasi kekeliruan dalam penulisan aksara sunda.

“Karena memang ini kurang produktif digunakan dalam keseharian,” ucap Tedi.

Penulisan papan nama jalan di Kota Bandung yang disertai aksara sunda, pada awalnya merupakan inisiatif salah sorang guru dari SMAN 2 Bandung yang melibatkan siswanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, penulisan aksara sunda dilanjutkan oleh dinas bina marga Kota Bandung dan ditemui banyak kekeliruan.

“Ini diprakasai oleh seorang guru bahasa Sunda di SMA 2 Bandung. Itu pun dalam pelaksanaannya melibatkan siswa, ketika awal dibuat melakukan cek terlebih dahulu secara manual, betul atau tidak,” jelas Tedi.

Adapun penulisan aksara sunda di papan nama jalan di Kota Bandung sekarang tidak melalui cek manual, sehingga masi banyak ditemui kesalahan dalam penulisannya.

“Kalau sekarang bisa jadi karena mengikuti bagaimana pelaksanaan di lapangan belakangan ini. Si penulisan aksara sundanya dari latin ke aksara sunda serta merta mengandalkan komputer dengan sistem font yang sudah ada,” tukasnya.

SDN Peuteuycondong 1 Cianjur Lestarikan Kesenian Sunda

Cianjur, Jabar - Berbagai upaya terus dilakukan SDN Peuteuycondong 1 Cibeber untuk melestarikan kesenian tradisional Sunda, salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler kesenian Sunda.

“Kesenian Sunda merupakan ekstrakurikuler baru di SDN Peuteuycondong. Pasalnya ekstrakurikuler kesenian Sunda tidak ada. Namun karena melihat antusias siswa cukup tinggi, akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan ekstrakurikuler seni Sunda,“ tutur Kepala SDN Peuteuycondong 1 Cibeber Rahmat Edya Mulyadi.

Dikatakannya, kegiatan ekstrakurikuler kesenian Sunda disediakan untuk mengembangkan bakat siswa SDN Peuteuycondong 1 Cibeber sekaligus untuk memperkenalkan seni dan budaya seni Sunda, seperti angklung dan lain-lainnya.

“Kita ingin memperkenalkan semua seni budaya Sunda kepada siswa khususnya angklung, seperti sejarah angklung, dan tata cara memainkan angklung yang baik dan benar,” kata Rahmat.

Jadwal latihan ekstrakurikuler kesenian Sunda digelar dua kali dalam seminggu yakni setiap hari Rabu dan Kamis, mulai dari pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB.

“Peserta terdiri dari siswa kelas satu hingga kelas enam, karena disini kami tidak ingin ada kesan diskriminasi kepada siswa,“ terang Rahmat.

Pergelaran Wayang Golek Gantikan Kembang Api di Gedung Sate

Bandung, Jabar - Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menggelar pertunjukan wayang golek pada malam Tahun Baru. Pagelaran dengan dalang Dadang Sunandar Sunarya ini bakal menggantikan pesta kembang api yang biasanya menghiasi bangunan Gedung Sate, Bandung.

Kepala Biro Humas, Protokol dan Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jabar, R. Ruddy Gandakusumah mengatakan, pertunjukan wayang golek itu bakal dimulai pada pukul 20.30 WIB. “Pagelaran wayang dalam rangka membuat keseimbangan antara perayaan yang bersifat hura-hura dengan apresiasi seni budaya lokal yang syahdu dan sarat nilai,” ujarnya di Bandung, Rabu (30/12).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menganjurkan agar pemerintah daerah menghelat perayaan Tahun Baru 2016 secara sederhana. Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan mengungkapkan, perayaan Tahun Baru harus sederhana dan tak berlebihan. Hal serupa juga dia sampaikan kepada pemerintah kabupaten dan kota di wilayah Jabar.

Pemerintah Kota Bandung sudah mengagendakan untuk menggelar kegiatan car free night (CFN) di Jalan Merdeka dan Jalan Asia Afrika, yang sehari-hari menjadi jalur utama di pusat kota. Wakil Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Bandung, Komisaris Santiadjie membenarkan hal tersebut. Penutupan jalan bakal berlangsung dari perempatan Jalan Aceh atau depan Balaikota Bandung hingga Jalan Jawa. Sementara di kawasan Asia Afrika, penutupan berawal dari perempatan di depan Hotel Preanger hingga Jalan Cikapundung Barat, dekat Alun-Alun Bandung. "Penutupan akses lalu lintas menuju jalan tersebut berlaku pada Kamis (31/12) mulai pukul 18.00 WIB," kata Santiadjie.

Menyoal lamanya penutupan jalan, Santiadjie memaparkan, pihaknya akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. “Mungkin jam 02.00 dini hari sudah normal kembali,” kata dia.

Selain dua ruas jalan ini, Santiadjie memastikan tidak ada penutupan jalan lain di Kota Bandung. Namun demikian, polisi tidak memperkenankan adanya panggung musik di wilayah Jalan Dago yang biasanya menjadi titik kumpul masyarakat saat malam pergantian tahun. “Dampaknya membuat macet,” ujar Santiadjie.

-

Arsip Blog

Recent Posts