Jalan Rusak Hantui Pemudik

Dharmasraya, Padek — Memasuki hari kelima jelang Lebaran (H-5), intensitas kendaraan arus mudik yang melintasi jalan lintas Sumatera (jalinsum) di Kabupaten Dharmasraya dan Sijunjung, meningkat hingga 25 persen. Pemudik diminta berhati-hati karena puluhan kilometer jalinsum dalam kondisi rusak. Bukan saja jalan negara, jalan-jalan kabupaten pun kondisinya tak lebih baik.

Pantauan Padang Ekspres dari Sungairumbai hingga Kotobaru, Dharmasraya kemarin, puluhan titik ruas jalan rusak sehingga rawan kecelakaan. Kalaupun ada perbaikan, pengerjaannya belum tuntas. Lubang-lubang jalan dibiarkan menganga, belum sepenuhnya ditimbun pasir batu (sirtu). Selain rawan kecelakaan, debu jalan sangat menggangu pengendara dan penduduk setempat.

Mobilitas kendaraan di perbatasan Jambi-Sumbar itu didominasi kendaraan pribadi. Mobil-mobil itu umumnya bernomor polisi Jakarta. Mereka tampak konvoi dengan atap mobil penuh oleh barang. Para pengendara harus berjalan merayap menghindari jalan bergelombang. Bagi para pemudik yang tidak menguasai medan, jalinsum di Dharmasraya terasa berat.

Sejumlah sopir mengeluh kondisi jalan negara di Kotobaru dan Sungairumbai yang tak kunjung mulus sejak 10 tahun terakhir. ”Jarak yang seharusnya bisa ditempuh delapan jam, sekarang bisa mencapai 10 hingga 12 jam. Tidak nyaman bagi penumpang dan kendaraan juga bisa cepat rusak kalau lewat rusak begitu,” kata Ujang, 42, sopir bus asal Padang yang membawa penumpangnya dari Jambi berhenti makan di Rumah Makan Omega, Gunungmedan, Dharmasraya, kemarin malam.

Pengendara sepeda motor, Dedi, 35, dan Zam, 23, mengeluhkan pendeknya jarang pandang akibat debu. Jalan-jalan tersebut hanya ditimbun dengan sirtu. ”Jika debunya tebal, terpaksa berhenti, takut kecelakaan karena lawan dari depan nyaris tak nampak,” ungkap Dedi, yang hendak menuju Padang.

Tak hanya pengendara. Masyarakat pun kesal dengan kondisi jalan yang sejak lama rusak parah, tapi tidak kunjung selesai diperbaiki. Ade, warga Kotobaru, menuding pemerintah tidak serius memperbaiki jalan. ”Masak sudah dekat hari Lebaran, perbaikan jalan dengan anggaran puluhan miliar rupiah belum juga selesai. Bagaimana bisa nyaman orang lewat jalan sini,” ujar Ade, seraya menunjuk jalan di sekitar rumahnya.

Warga lainnya, Riko, menilai pembangunan sangat lamban dan terkesan mengutamakan daerah tertentu saja. ”Ada memang sudah diperbaiki dan bagus seperti di Gunungmedan. Sementara di tempat lain belum ada yang mulus,” katanya. ”Mestinya pemerintah sejak sebulan atau dua bulan lalu memperbaiki jalan ini, agar pas Lebaran tidak rusak dan debunya mengganggu pernapasan warga,” cetus Niko, warga yang tinggal di tepi jalan lintas, Kotobaru.

Wakil Ketua DPRD Dharmasraya, Sutarmanto Budi Sanjoyo menyebutkan, dana perbaikan jalinsum sudah disiapkan Rp 50 miliar. ”Kita meminta masyarakat dan pengguna jalan bersabar, karena perbaikan jalan butuh waktu lama akibat panjang dan luasnya kerusakan jalan,” ungkapnya.

30 Jiwa Tewas
Di Sijunjung, ruas jalan juga banyak rusak dan mengganggu kenyamanan pemudik, seperti di Tanjunggadang, Kupitan hingga Kiliranjao. Kondisi tersebut rawan kecelakaan. Data Satlantas Polres Sijunjung, dari 50 kasus kecelakaan di Sijunjung tahun ini, 35 di antaranya terjadi di jalinsum, dan memakan korban 30 jiwa. Lokasi kecelakaan terjadi di tiga kecamatan; Kupitan terdapat 9 kasus kecelakaan, Kecamatan Tanjunggadang terdapat 14 kasus kecelakaan, dan 12 kasus di Kiliranjao.

Buruknya kondisi jalan membuat pemudik kecewa. ”Tahun kemarin, jalan di Tanjunggadang sudah seperti ini juga (rusak), saya pikir telah selesai diperbaiki, ternyata belum. Masih rusak parah seperti itu dulu juga. Hanya sebagian kecil yang diperbaiki,” kritik Edi Setiawan, pemudik asal Solok yang baru pulang dari Jakarta.

Jalan Nagari Rusak
Lepas dari buruknya jalinsum, pemudik harus ekstra hati-hati melintas jalan-jalan kabupaten. Kondisinya setali tiga uang, banyak yang rusak. Sebut saja di Nagari Timbulun, Tanjuanggadang, Taratakbaru, Pulasan, Langki, Sibakur, dan Tanjunglolo, Kecamatan Tanjunggadang, kondisi jalan yang baik hanya sekitar 40 persen. ”Kalau jalinsum, itu tanggung jawab Dinas PU Provinsi,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sijunjung, Surya Efendi, ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Begitu pula di Kecamatan Lubuktarok yang terdiri dari Nagari Lubuaktarok, Lalan, Buluahkasok, Kampungdalam, Latang, dan Silongo, kondisi jalan yang baik sekitar 65 persen. Di Kecamatan Sumpurkudus, ada Nagari Kumanis, Tanjung Bonai Aur, Tamparungo, Sisawah, Sumpurkudus, Unggan, Silantai, dan Mangganti. Kondisi jalan di nagari tersebut, bisa dikatakan baik sekitar 70 persen. Sama halnya dengan Nagari Limokoto, Padanglaweh, Guguak, Palaluar, dan Tanjung, di Kecamatan Koto VII. ”Jalan-jalan di nagari itu memang tanggung jawab kami, tapi sudah berangsur diperbaiki,” kata Surya Efendi.

Alasan Anggaran
Di Agam, perantau yang pulang diminta hati-hati karena kondisi jalan dan jembatan di hampir 82 nagari dalam kondisi rusak. Perbaikan tidak dilakukan, karena Pemkab Agam beralasan keterbatasan anggaran dan dijadikan prioritas tahun 2012.

Pantauan Padang Ekspres, kerusakan jalan tampak di jalan salingka Danau Maninjau. Selain jalan rusak, dekat kawasan objek wisata tersebut, juga terdapat tujuh titik jembatan yang menggunakan pohon kelapa sebagai sarana penyeberangan. Sangat membahayakan pengguna jalan.

Kerusakan jalan juga terdapat dari Jorong Pandan sampai ke Pangkatanjung sekitar 12 kilometer. Jalan Panta ke Bukittinggi, dan jalan alternatif dari Lubukbasung ke Bukittinggi juga tidak terawat. Bahu jalan ditumbuhi semak belukar dan badan jalan banyak berlubang. Nagari-nagari di Kecamatan Lubukbasung, ibu kota Kabupaten Agam, pun tak luput dari kerusakan. Hanya di Padangbaru, seputaran kantor Bupati Agam yang tampak ada pembenahan.

Pembangunan jembatan yang belum siap, terlihat di jalan Nagari Sitanang menuju Nagari Batukambing. Padahal, ruas jalan ini merupakan jalur alternatif mudik jika jalan utama tidak bisa dilewati. Jalan Lubukbasung ke Bukittinggi belum juga selesai dikerjakan mulai dari Lubuksao sampai ke Batangmaransi, Bayur dengan panjang jalan sekitar 10 kilometer, yang menjadi jalur alternatif dan jalan pariwisata arah Pariaman ke Bukittinggi dan Simpangempat Pasbar ke Bukittinggi. Pada jalur tersebut, beberapa ruas jalan bergelombang dan berlobang. ”Saya tidak tahu kenapa pemerintah tidak memperbaiki jalan sini. Padahal, di sini sudah sering terjadi kecelakaan,” kata E Dt Bandaro, Wali Nagari Koto Gadang Anam Koto, Kecamatan Tanjungraya, Rabu (24/8).

Usulan perbaikan jalan di nagari-nagari itu sering disampaikan masyarakat dan wali nagari khususnya Agam Timur. Namun, belum ada tindak lanjut dari Pemkab Agam. Seorang perantau Matur, Afrizal mengaku prihatin atas kondisi jalan-jalan lingkungan jorong, khususnya Jorong Paparangan, Kenagarian Maturmudiak yang menghubungkan Jorong Tanjongurah dengan Paparangan hingga ke jembatan Besi-Pasar Lawang. Jalan ini telah rusak parah terutama di pendakian menuju Pasar Ternak Matur.

Wali Nagari Palembayan Ampek Koto, Roni Akmal mengingatkan perantau berhati-hati menempuh perjalanan dari Matur hingga ke Palembayan dan Padang Koto Gadang. Pasalnya, banyak jalan berlobang dan hutan semak belukar yang hampir menutup badan jalan. Bupati Agam Indra Catri menambahkan, perbaikan terkendala keterbatasan anggaran dan menjadi prioritas tahun 2012. Hal itu disampaikan bupati dalam rapat paripurna perubahan APBD Agam tahun 2011, Selasa (23/8) lalu.

Jalan Aman
Secara terpisah, Kepala Dinas Prasarana Jalan, Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar, Suprapto mengklaim jalan dari Padang sampai Kelok Sembilan, batas Sumbar-Bengkulu, Sumbar-Jambi, Sumbar-Sumatera Utara, dan Sumbar-Riau sudah aman untuk dilewati. Begitu pula jalan dari batas Bukittinggi sampai batas Riau, menurut laporan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), jalan-jalan tersebut sudah selesai dilakukan tambal sulam sejak sepekan lalu.

Sementara itu, megaproyek Kelok Sembilan, selama lima belas hari pekerjaan dihentikan, lebih kurang 100 orang pekerja akan pulang kampung berlebaran. Suprapto yang didampingi Kabid Jalan dan Jembatan, Yazin Fadli, juga mengingatkan ada 19 titik rawan longsor. Pada 19 titik rawan tersebut sudah disiagakan alat berat berikut operatornya. Dia menyarankan, untuk menghindari kemacetan panjang di jalur Padang-Bukittinggi, sebaiknya belok kanan ke Balingka dan terus menempuh jalan Malalak-Sicincin. Jalan tersebut sudah aman dilewati jika tidak hujan.

Sementara itu, untuk mengurangi kemacetan selama mudik Lebaran, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melarang pengoperasian mobil truk besar di jalur mudik mulai H-4 sampai H+1 Lebaran. Kasubdit Pengendalian Operasional Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kemenhub, Pandu Yunianto mengatakan, larangan itu untuk menekan jumlah kendaraan berat selama Lebaran saja. (ita/x/ztl/mg7)

-

Arsip Blog

Recent Posts