Tampilkan postingan dengan label Bandarlampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandarlampung. Tampilkan semua postingan

300 Wisman Hadiri Jelajah Layang-layang di Festival Krakatau

Bandar Lampung, Lampung - Sebanyak 300 wisatawan mancanegara (wisman) bakal mengikuti dan menghadiri "Jelajah Layang-Layang" yang merupakan salah satu rangkaian Festival Krakatau 2016.

"Wisatawan itu berasal dari Singapura, Malaysia, Thailand dan Prancis," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Choiria Pandarita, di Bandar Lampung, Senin (22/8/2016).

Ia mengatakan bahwa Jelajah Layang-Layang itu akan berlangsung di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Wayhalim, Bandarlampung, pada 25 hingga 26 Agustus.

Menurut Choiria, kegiatan layang-layang dalam rangka Festival Krakatau ke-26 tahun 2016, tidak hanya dilaksanakan pada siang hari tetapi juga malam hari.

"Pelaksanaan layang-layang malam hari akan memakai LED warna-warni dan dipastikan akan menarik pengunjung yang melihat," ujarnya.

Choiria menjelaskan, Festival Krakatau yang merupakan perhelatan akbar kebudayaan dan pariwisata daerah ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan berlangsung 24-28 Agustus 2016.

Rangkaian kegiatan itu melibatkan seluruh elemen masyarakat, dunia usaha, instansi pemerintah di seluruh kabupaten dan kota.

Festival Krakatau 2016 meliputi: Jelajah Pasar Seni di Mal Boemi Kedaton (24-28 Agustus 2016); Jelajah layang-layang di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim (25-26 Agustus); Jelajah Rasa, di Lapangan Korem Enggal (26-28 Agustus); Jelajah Krakatau, Pantai Sari Ringgung (27 Agustus); dan Jelajah Semarak Budaya, Tugu Adipura (28 Agustus).

Choiria memaparkan, untuk sektor pariwisata terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan nusantara, yaitu mencapai rata-rata 30 persen dan wisatawan mancanegara 28 persen sejak tahun 2012.

Begitu pula jumlah hotel di Provinsi Lampung meningkat cukup signifikan, yaitu sebesar 20 persen sejak tahun 2014.

Ia menambahkan, logo dan tagline Lampung "The Treasure of Sumatera". Gambaran ini mengenai Lampung sebagai sebuah tempat yang menyenangkan dan terbuka bagi siapa pun serta memiliki alam yang menyegarkan dan sarat dengan ragam budaya yang hidup dan kuat.

Mempopulerkan Sembagi, Pionir Motif Batik Khas Lampung

Bandarlampung, Lampung - Sembagi adalah salah satu motif batik khas Lampung yang paling populer dan khas dan telah dipelopori oleh desainer kenamaan Lampung Aan Ibrahim pada 1999 kini telah menjadi motif batik utama yang digemari masyarakat.

Menurut Aan Ibrahim, desainer dan pencetus motif batik Lampung, di Bandarlampung, Jumat, kini batik bermotif sembagi seolah menjadi simbol dan ikon batik khas Lampung.

"Saya ingin terus mengenalkan dan mempopulerkan batik khas Lampung termasuk sembagi, apalagi ornamen-ornamen khas kita kan banyak," ujar Aan Ibrahim lagi.

Dia menjelaskan, kebanyakan batik motif sembagi dipadukan dengan kebaya dan busana khas Lampung seperti sulam usus, bukan hanya dibuat menjadi kain.

Sembagi juga menjadi motif dasar seragam resmi pegawai negeri sipil (PNS) di Lampung yang bermotif batik.

Saat ini sembagi menjadi motif batik Lampung yang paling populer sekaligus yang paling menunjukkan identitas daerah Lampung.

Sebagai daerah yang tidak memiliki budaya membatik, budaya batik di Lampung cenderung muncul terlambat, baru pada akhir 1990-an warga Lampung memiliki motif batik khas daerah tersebut.

Aan Ibrahim merupakan desainer busana tradisi dan modern khas Lampung yang mempelopori keberadaan motif batik khas Lampung itu.

Motif batik khas Lampung sembagi itu adalah motif batik khas Lampung pertama yang dipatenkan, dengan ciri utama pada untaian bunga dan kembang kopi di sepanjang kain.

"Bunga dari salah satu komunitas unggulan Lampung itu, digabungkan dengan ornamen khas Lampung seperti gajah, perahu, dan siger sebagai mahkota adat khas Lampung," ujar Aan pula.

Motif batik khas Lampung sembagi pertama kali diluncurkan Aan Ibrahim pada 1999.

Dia mengakui menciptakan motif batik Lampung Sembagi berawal dari kegelisahan akan ketiadaan motif batik khas Lampung.

Menurut dia, perlu waktu hampir satu dekade baginya untuk mempopulerkan motif Batik Sembagi di kalangan penikmat busana.

Kini setelah lebih dari satu dekade sembagi menjadi motif batik khas yang paling populer di Lampung dan dikenal sebagai batik khas Lampung.

Novrizal pecinta batik khas Lampung mengaku kagum dengan motif Batik Sembagi itu. "Saya pertama lihat ternyata luar biasa motif Batik Sembagi itu," ujarnya lagi.

Gamolan Komitmen Memajukan Budaya Lampung

Bandar Lampung, Lampung - Organisasi masyarakat Gabungan Masyarakat Lampung (Gamolan Institute Lampung) berkomitmen terus mendedikasikan diri demi kemajuan kesenian dan kebudayaan Lampung.

Sekretaris Gamolan Institute Lampung, Ariansyah Setiawan, mengatakan memasuki era globalisasi, pemuda harus bersatu padu untuk melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal.

"Lampung punya banyak budaya dan seni yang harus dijaga, siapa lagi kalau pemuda dan masyarakat Lampung," kata dia di kantor Sekretariat baru, Jalan Pagar Alam Gg Semangka No 25, Gedungmeneng, Bandar Lampung, Kamis (25/2/2016).

Pemuda berusia 24 tahun itu berharap, pemerintah bisa memperhatikan dan mengakomodir kegiatan organisasi yang khusus bergerak di bidang kebudayaan.

"Budaya punya nilai jual yang tinggi, kami pemuda Lampung ingin menggali potensi tersebut, selain kearifan lokal terus terjaga tentu akan memberi kontribusi kepada pendapatan daerah," ujarnya.

Sebab, jika budaya dan seni dikelola dengan baik, secara otomatis akan meningkatkan kehadiran wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi Bumi Ruwa Jurai.

"Harapan kami, setiap daerah bisa bersatu padu untuk memunculkan dan menampilkan keanekaragaman budaya dan seni Lampung," paparnya.

Balutan Adat Lampung di Pernikahan Putri Pertama Raja Sekala Brak

Bandar Lampung, Lampung - Raja Paksi Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, Brigadir Jenderal Edward Syah Pernong menikahkan putri pertamanya, Aregina Nareswari Firuzzaurahma Pernong, Jumat (22/1/2016).

Suasana adat Lampung yang khas tampak dalam prosesi akad nikah. Kekayaan tradisi adat sudah terlihat mulai pintu masuk area akad nikah, yang berlokasi di Lamban Kuning, Sukarame.

Lamban Kuning didominasi warna merah, emas, dan juga sedikit sentuhan hijau. Pelaminan yang terletak di sisi kanan Lamban Kuning, terlihat megah dengan ornamen siger berwarna menyala, dan juga dekorasi pada bagian tengah di mana meja akad nikah diletakkan.

Sementara, pantauan Tribunlampung.co.id, dalam rombongan mempelai pria yang telah tiba, calon suami Aregina, Komisaris Doffie Fahlevi Sanjaya terlihat gagah mengenakan busana warna putih, dengan aksen perak pada bagian pergelangan tangan dan kerah.

Kedatangan mempelai pria ini disambut dengan tarian Samang Begayut, tarian khas dengan kibasan pedang, yang dahulunya bernama Tari Pedang Siputuk Liyu.

Adapun, tamu undangan yang terlihat hadir antara lain Gubernur Lampung M Ridho Ficardo beserta istri, Arprilani Yustin Ficardo

Di samping Ridho, tampak Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan Penjabat (Pj) Wali Kota Bandar Lampung Sulpakar.

Lampung Terus Majukan Seni Budaya

Bandar Lampung, Lampung - Pemerintah Provinsi Lampung akan terus memajukan seni dan budaya daerah ini, agar terus berkembang seiring transformasi budaya yang kian pesat.

"Saya berharap Provinsi Lampung dengan karakteristik dan nilai-nilai luhur budaya dapat menjadi kebanggaan masyarakat daerah dan menjadi bagian dari budaya nusantara, sehingga kesenian harus berkembang seiring transformasi budaya yang kian pesat dan memerlukan keseimbangan dalam mengimplementasikannya," kata Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo, di Bandarlampung, akhir pekan lalu.

Ridho menyatakan, geliat dan eksistensi seni dan budaya Lampung masih terus berkesinambungan dengan tetap mempertahankan kelokalan daerah. Di sisi lain, ia mengimbau agar satuan kerja perangkat daerah terkait di lingkungan Pemprov Lampung dapat melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga kesenian yang tumbuh dan berkembang, sekaligus menginventarisasi dan membina untuk kemajuan serta perkembangannya, sekaligus memajukan kesenian Lampung secara berkesinambungan.

"Dinas terkait harus mampu menyiapkan sarana pertunjukan yang representatif, mempertahankan kebhinnekaan kesenian yang berkembang serta mempererat hubungan antara tokoh-tokoh adat dalam satu kesatuan adat Lampung," kata dia pula.

Sebelumnya, ratusan seniman yang tergabung dalam tujuh komite Dewan Kesenian Lampung (DKL) menampilkan pertunjukan yang dikemas dalam Pentas Pelangi Seni Budaya Lampung yang diselenggarakan di Lapangan Korpri kantor gubernur Lampung, Sabtu (19/12) malam.

Tujuh komite tersebut, adalah Komite Film, Sastra, Tradisi, Teater, Musik, Tari, dan Seni Rupa. Ketua Pelaksana Pentas Pelangi Seni Budaya, Hari Jayaningrat menjelaskan bahwa acara ini mengusung tema semangat untuk perubahan, membangun hari depan para seniman dengan karyanya yang berguna bagi masyarakat, serta mengawal kesenian sebagai bagian dari peradaban dunia.

"Geliat dan eksistensi kesenian Lampung masih terus berkesinambungan, hadir dengan dinamika yang selaras dengan keadaan masyarakatnya, menggenerasi pada setiap seni yang beraneka warna dengan masih bersanding pada kelokalan yang menguatkan jati diri serta karakter daerahnya," ujarnya pula.

Hadir pada acara itu, Ketua DKL Aprilani Yustin Ficardo, Penjabat Wali Kota Bandarlampung Sulpakar, para pelaku seni, tokoh seni dan tokoh adat serta sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah di Provinsi Lampung. Dalam kegiatan tersebut juga turut diserahkan penghargaan kepada SMAN 1 Gadingrejo, SMP Taman Siswa, Global Surya, SMAN 10 Bandarlampung, dan SMAN 4 Bandarlampung.

Ratusan Orang Menari di Tugu Pengantin

Bandarlampung, Lampung - Sebanyak 250 penari menari di kawasan Tugu Pengantin di Kota Bandarlampung, Lampung, Sabtu (12/12) malam. Ratusan penari itu tampil dalam rangka pentas road show Pelangi Seni Budaya 2015 yang digelar DKL.

"Kehadiran ratusan penari di ruang terbuka seperti itu adalah wujud reaksi spontan seniman tari agar lebih dekat dengan masyarakat daerah ini," ujar Sekretaris Dewan Kesenian Lampung (DKL), Bagus S Pribadi, Minggu (13/12/2015).

Rangkaian acara road show yang berlangsung sejak awal Desember itu akan berlangsung hingga enam hari ke depan. "Puncaknya tanggal 19 Desember, pukul 19.30 WIB, di Lapangan Korpri kantor gubernur Lampung," ungkapnya.

DKL, kata dia, berupaya menggairahkan kembali kehidupan kesenian di Lampung dengan menggelar serangkaian pentas seni di ruang-ruang publik.

Ketua Harian DKL, Heri Suliyanto, menambahkan, kegiatan itu telah diawali dengan menggelar acara Anjau Silau yang diusung Komite Seni Tradisi DKL bersama komunitas Ragom Budaya Lampung (RBL). Heri, yang juga Kepala Dinas Pendidikan Lampung itu, memaparkan, Anjau Silau merupakan tradisi ulun Lampung dalam menjalin silaturahmi dengan datang bertandang untuk saling mengunjungi kerabat atau sahabat.

"Kali ini Anjau Silau kami usung dalam bentuk silaturahmi budaya atau kesenian. Kita bisa berbagi dan saling mengapresiasi kesenian yang ditampilkan. Di tengah medan makna inilah kesenian tradisi diharapkan bisa bertumbuhkembang," ujar Heri.

Sementara, Ketua Umum DKL, Aprilani Yustin Ficardo mengatakan, program road show merupakan upaya mendekatkan kesenian kepada masyarakat, sehingga pentas itu digelar di ruang-ruang publik yang tersebar di Bandarlampung.

"Ini merupakan upaya perubahan pendekatan berkesenian. Untuk itulah road show ini mengusung narasi perubahan dengan puncak acara gelaran pentas Pelangi Seni Budaya Budaya," ujar Aprilani .

Menurutnya, kegiatan ini diniatkan untuk menyasar langsung masyarakat dan juga kantong-kantong budaya yang ada termasuk di kampus agar seni tak terkesan eksklusif. "Langkah ini juga sesuai dengan tujuan dan keberadaan DKL sebagai katalisator dalam upaya melibatkan masyarakat dalam membangun kesenian di Lampung," ujar Aprilani.

DKL Gelar Pentas Pelangi Seni Budaya Lampung

Bandarlampung, Lampung - Dewan Kesenian Lampung berupaya menggairahkan kembali kehidupan kesenian di Lampung dengan menggelar pentas seni di ruang-ruang publik.

Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Drs Heri Suliyanto di Bandarlampung, Jumat mengatakan kegiatan roadshow itu telah diawali dengan menggelar acara Anjau Silau yang diusung Komite Seni Tradisi DKL bersama komunitas Ragom Budaya Lampung (RBL) di Studio 2 RRI Bandarlampung, beberapa waktu lalu.

Heri yang juga Kepala Dinas Pendidikan Lampung itu memaparkan, Anjau Silau merupakan tradisi ulun lappung dalam menjalin silaturahmi dengan datang bertandang untuk saling mengunjungi kerabat atau sahabat.

“Kali ini Anjau Silau kami usung dalam bentuk silaturahmi budaya atau kesenian. Kita bisa berbagi dan saling mengapresiasi kesenian yang ditampilkan. Di tengah medan makna inilah kesenian tradisi diharapkan bisa bertumbuhkembang,” ujar Heri.

Dalam kesempatan gelar Anjau Silau yang dihadiri para pengurus DKL, antara lain Bagus S Pribadi, M Hari Jayaningrat, Sutan Purnama dan Syafril Yamin itu, ditampilkan kesenian tradisi Hahiwang, Selendang Miwang, Ngehadoh, Bubandung dan Pisaan.

Kemudian roadshow dilanjutkan Komite Musik dengan Pentas Musik Kreatif di Taman Santap, Jalan Wolter Monginsidi Telukbetung, Sabtu (12/12), Komite Tari menggelar Parade Tari Lampung di Simpang Tiga, Balai Kota Lungsir, Telukbetung, Sabtu (12/12), Komite Seni Rupa menggelar Body Painting di Halaman Parkir Gedung Kesenian DKL, PKOR Way Halim Bandarlampung, Minggu (13/12), Komite Sastra mengadakan Baca Puisi Kreatif di Halaman Parkir Mal Kartini Tanjungkarang, Selasa(14/12).

Lalu, Komite Film menggelar Workshop Film di Ruang Studio Visual Perpustakaan dan Dokumentasi Provinsi Telukbetung, Sabtu (12/12), dan Workshop Teater di IAIN Raden Intan Bandarlampung, Rabu–Kamis (16–17/12) mendatang.

Ketua Umum DKL, Aprilani Yustin Ficardo mengatakan, program roadshow merupakan upaya mendekatkan kesenian kepada masyarakat, sehingga pentas itu digelar di ruang-ruang publik yang tersebar di Bandarlampung.

“Ini merupakan upaya perubahan pendekatan berkesenian. Untuk itulah roadshow ini mengusung narasi perubahan dengan puncak acara gelaran pentas Pelangi Seni Budaya Budaya,” ujar Aprilani yang juga istri Gubernur Lampung M Ridho Ficardo ini pula.

Menurutnya, kegiatan ini diniatkan untuk menyasar langsung masyarakat dan juga kantong-kantong budaya yang ada termasuk di kampus agar seni tak terkesan ekslusif.

“Langkah ini juga sesuai dengan tujuan dan keberadaan DKL sebagai katalisator dalam upaya melibatkan masyarakat dalam membangun kesenian di Lampung,” ujar Aprilani.

Ketua Pelaksana kegiatan pentas Pelangi Seni Budaya Lampung, M Hari Jayaningrat mengatakan, puncak acara akan digelar di Lapangan Korpri Telukbetung, Bandarlampung, Sabtu (19/12) mendatang.

“Pentas ini akan menggelar ragam seni Lampung yang berwarna-warni. Untuk itulah acara ini kami beri tajuk Pelangi Seni Budaya Lampung,” kata Hari.

Dalam puncak acara Pelangi Seni Budaya Lampung itu, akan digelar rangkaian pementasan yang menggambarkan keragaman budaya Lampung yang khas.

Acara yang akan dihadiri dan dibuka oleh Gubernur Lampung M Ridho Ficardo ini juga akan disampaikan pidato Anjau Silau (Silaturahmi) Kebudayaan oleh Brigjen Drs Edward Syah Pernong yang juga Kapolda Lampung.

“Gubernur akan membuka acara dengan menorehkan cat di atas kanvas yang kemudian dilanjutkan oleh para pelukis-pelukis Lampung,” ujar Hari.

Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi, pentas Hanggamku Dilem Sanak Heny, Sanak Aruk, Musik Kolaborasi, Rampak Negeri, Kanvas Dance, dan video mapping.

“Mudah-mudahan gelaran Pelangi Seni Budaya Lampung ini bisa menjadi penanda bangkitnya kesenian Lampung,” katanya.

Angkon Muakhi, Prosesi Adat Merajut Persaudaraan di Lampung

Bandar Lampung, Lampung - Indahnya persaudaraan ini, masyakarat komunitas Tionghoa mengenakan baju shanghai dibalut dengan kopiah dan sarung tapis khas Lampung. Begitulah kostum yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam prosesi Angkon Muakhi, secara sah Kerajaan Skala Brak mengangkat masyarakat Tionghoa di Lampung sebagai saudara angkat.

Pengangkatan secara adat itu dipimpin langsung oleh Sultan Skala Brak yang dipertuan ke-23 Brigjen Pol Pangeran Edward Syah Pernong yang juga menjabat sebagai Kapolda Lampung. Edward menyematkan lencana keangkonan muakhi atau pengangkatan saudara kepada sejumlah tokoh komunitas Tionghoa di Lampung.

"Hari ini komunitas Tionghoa telah menjadi kerabat Gedung Dalom Kepaksian Pernong Skala Brak. Kepada saudara saya di Lampung, dari pesisir selatan sampai pesisir barat dengarkan baik-baik. Setelah melakukan prosesi ini secara sah masyarakat Tionghoa adalah saudara dan mereka sekarang orang Lampung," kata Edward Syah Pernong di Bandar Lampung, Senin (21/9/2015).

Deklarasi ini, lanjut Edward Syah Pernong, tidak bisa ditarik lagi meskipun ditarik oleh lebih dari 10 ekor kuda kuat. Menurut Ketua Persatuan Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Lampung, Tarmizi Tanjungan pihaknya bersyukur atas pengangkatan tersebut.

"Kami sangat bangga pengangkatan saudara oleh Pangeran Edward Syah Pernong. Ini kesempatan sangat berarti bagi komunitas Tionghoa," kata Tarmizi.

Angkon Muakhi adalah sebuah prosesi adat pengangkatan saudara. Masyarakat yang diangkat saudara mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan kerajaan dan masyarakat kerajaan punya kewajiban melindungi secara adat.

Pada deklarasi Angkon Muakhi ini hadir raja-raja suku di bawah kerajaan Skala Brak. Secara otomatis pengangkatan saudara itu sudah tersosialisasi kepada masyarakat di bawah. Akhir dari prosesi Angkon Muakhi ini ditutup dengan tarian Tionghoa dan tarian Pesisir Kepaksian Pernong.

Seruit dan Sulam Usus Lampung Masuk Warisan Budaya Tak Benda

Bandar Lampung, Lampung - Kabar baik datang dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengabarkan lima produk budaya Lampung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hal ini dikonfirmasi oleh Herlina Warganera selepas dirinya tidak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Senin (21/9) malam.

Kelima produk budaya Lampung yang mendapatkan ketetapan Warisan Budaya Tak Benda yaitu sulam usus, gulai taboh, seruit, cakak pepadun dan sekura cakak buah.

"Alhamdulillah, kelimanya sudah ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tadi pagi (kemarin)," kata mantan Kadis Parekraf tersebut.

Sementara untuk penyerahan sertifikat dan tanda penghargaan terkait hal tersebut diatas direncanakan tanggal 20 Oktober. Penyerahan nantinya akan dilakukan di kantor kementerian.

Herlina mengungkapkan, upaya pengajuan produk budaya Lampung untuk menjadi nominasi Warisan Budaya Tak Benda sudah dilakukan sejak awal tahun. Sederet proses seleksi administrasi berupa penyertaan dokumen seperti foto, video dan tulisan juga dites tanya jawab dilaksanakan untuk memastikan itu asli dari Lampung.

"Prosesnya cukup panjang, kita bekali dengan dokumen dan presentasi di hadapan tim kementerian. Dan hasilnya alhamdulillah," imbuh dia.

Masuknya sulam usus, seruit dan gulai taboh kali ini menambah daftar warisan budaya tak benda yang dimiliki Lampung. Sebelumnya di tahun 2014, Lampung juga telah mendapatkan pengakuan untuk gamolan, tari melinting, tari sigeh pengunten, muayak dan rumah adat Lampung Barat.

Di tahun 2014 tapis juga telah ditetapkkan kementerian atas Warisan Budaya Tak Benda.

"Mudah-mudahan tahun yang akan datang lebih banyak lagi produk juga seni Lampung yang diakui," harap Herlina.

Ia mengakui hal ini untuk menjaga agar kebudayaan Lampung tidak punah dan terus dapat dikembangkan. "Masih banyak budaya Lampun yang bakal kita ajukan Seperti meduaro dari Tulangbawang, sulam ulat dr Mesuji, ringgit, bebandung dan banyak lagi yang akan dicatat di Unesco nantinya," urai Herlina melalui aplikasi pesan whatsapp.

Dua Penyair Lampung Diundang Pertemuan Penyair ASEAN

Bandarlampung, Lampung (ANTARA News) - Dua penyair Lampung Isbedy Stiawan ZS dan Juperta Panji Utama diundang untuk mengikuti Pertemuan Penyair ASEAN di Kualalumpur, Malaysia, 4--5 September.

"Insya Allah saya berangkat Kamis (3/9) agar pada 4 September bisa mengikuti Pertemuan Penyair ASEAN tersebut," kata Isbedy Stiawan di Bandarlampung, Kamis.

Menurut Isbedy, dapat dipastikan pula penyair Juperta Panji Utama yang sehari-hari pengurus Lampung Peduli itu, akan memenuhi pula undangan tersebut.

"Saya siap hadir," kata Panji melalui pesan pendek kepada Isbedy yang menuturkan kesiapan rekan penyair dari Lampung itu pula.

Keduanya sudah menyatakan siap berangkat bersamaan pada Kamis (3/9) ke acara yang digelar Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) dan Penulis Nasional (PENA) Malaysia tersebut.

Keduanya berencana akan berada di Kualalumpur selama tiga hari.

Selain menghadiri Pertemuan Penyair ASEAN tersebut, Isbedy juga berencana akan membacakan puisi-puisinya yang terhimpun dalam kumpulan puisi "Pagi Lalu Cinta" (Siger Publisher, 2015).

"Kemungkinan akan tampil pada Jumat (4/9) di Rumah PENA dalam acara Malam Baca Puisi PENA-ITM-DBP (Dewan Bahasa dan Pusataka, Red)," kata penyair yang dijuluki Paus Sastra Lampung oleh HB Jassin itu pula.

Isbedy menyatakan, Presiden PENA Dr Mohamad Saleeh Rahamad melalui miniset menjelaskan, Malam Baca Puisi PENA-ITBM-DBP pada Jumat (4/5) malam di Rumah Pena akan dihadiri para penyair ASEAN.

"Malam Baca Puisi ini sebagai pembuka untuk mempertemukan dan menampilan para penyair yang hadir," katanya lagi.

Malam Baca Puisi PENA dilangsungkan pada malam Jumat pertama tiap bulan. Acara ini sudah berlangsung lama, dan dihadiri serta menampilkan para penyair dan seniman, baik dari Malaysia maupun luar negara itu.

"Ini kali kami tempahan penyair ASEAN, dan ini sebagai ajang mempertemukan para penyair," ujar Saleeh Rahamad, seperti disampaikan Isbedy.

Sedangkan Pertemuan Penyair ASEAN, seperti dalam brosur, akan diisi dengan diskusi.

Sejumlah pemakalah dari masing-masing negara, yaitu Malaysia, Indonesia, Vietnam, Laos, Filipina, Brunei, Kamboja, dan Thailand akan disampaikan dan dibahas bersama-sama.

Secara terpisah, Juperta Panji Utama menyatakan, setelah menghadiri Pertemuan Penyair ASEAN akan melanjukan perjalanan ke Singapura.

Dia menyatakan, siap bergabung dengan cerpenis dan peneliti khanasah Lampung di luar negeri Arman AZ.

"Ya, Insya Allah saya akan ke Singapura. Bersama Arman AZ akan mencari jejak Muhammad Saleh, penulis puisi Lampung Karam, terutama Kampung Bangkahulu," kata Panji lagi.

Lampung Selatan Gelar Festival Rajabasa

Bandarlampung, Lampung - Kabupaten Lampung Selatan menggelar berbagai kegiatan budaya bernama Festival Rajabasa 2015 untuk mencari bakat sebagai duta pariwisata dan seni daerah itu.

"Berbagai lomba seperti tari kreasi dan lomba lagu pop Lampung digelar. Pada acara puncak, yakni pemilihan Muli-Mekhanai atau putra dan putri daerah itu dari perwakilan kecamatan," kata Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan Lampung Selatan Fauziah Arief, saat dihubungi dari Bandarlampung, Kamis.

Ia mengatakan acara pemilihan Muli-Mekhanai itu juga diikuti dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) setempat.

Menurutnya, jajaran staf baik tenaga kerja honorer maupun PNS banyak yang memiliki potensi. Sehingga, perlu pula dikembangan.

Perwakilan kecamatan juga diminta untuk mengirimkan peserta yang berasal dari Lampung Selatan. Karena, banyak peserta yang diambil dari daerah lain.

"Buat apa menang tapi asal daerah lain. Kami ingingkan potensi dari daerah ini," katanya

Rangkaian gelaran Festival Rajabasa 2015, lanjutnya, telah digelar sejak April ini. Seluruh perwakilan kecamatan diminta untuk mempersiapkan hal tersebut dengan sebaik-baiknya.

"Bulan ini sudah mulai digelar rangkaiannya. Mulai dari lomba tari kreasi daerah, lagu pop daerah dan masih banyak lagi. Untuk pemilihan Muli-Mekhanai nya, akan dilakukan pada Kamis (9/10) malam puncak jelasnya.

Sebelumnya, sebanyak puluhan peserta ikut meramaikan kegiatan rangkaian Festival Rajabasa 2015, dalam ajang lomba lagu pop daerah Lampung yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan Lampung Selatan, di Aula PKK setempat, Selasa (7/4).

Peserta lomba lagu pop daerah Lampung diikuti oleh para perwakilan dari 17 kecamatan se-Lampung Selatan dan dari kalangan pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.

Selain sebagai rangkaian kegiatan Festival Rajabasa, lomba lagu pop daerah Lampung itu juga sebagai ajang pencarian bakat bagi generasi muda kabupaten ini.

Pesertanya terdiri atas 27 orang perempuan dan 23 orang laki-laki. Tujuannya dari lomba ini, untuk menggali potensi dan kreativitas generasi muda dibidang seni suara, setiap peserta wajib membawakan lagu wajib pilihan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pihak panitia.

Mahasiswa Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi Dua Cagub Lampung

BANDARLAMPUNG - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, segera mengusut dugaan korupsi yang dilakukan dua orang calon gubernur (cagub) Lampung, saat keduanya masih menjabat kepala daerah di kabupaten masing-masing.

"Kedua cagub itu yang sebelumnya menjadi Bupati di Lampung Tengah dan Lampung Selatan. Mereka telah merugikan negara puluhan miliar rupiah, dengan memanipulasi anggaran di berbagai sektor," kata Koordinator Aksi, Habzari Zahroni, seraya keras menyebutkan dua nama tokoh yang kini maju dalam pemilu gubernur (pilgub) Lampung itu, dalam aksi demo, di Bandarlampung, Senin.

Kasi Penkum dan Humas Kejati Lampung, Hutamrin, menanggapi aksi demo itu, mengatakan pihaknya dalam menyikapi laporan pengaduan mahasiswa mengenai sejumlah kasus dugaan korupsi oleh dua cagub Lampung itu secara hati-hati, karena terkesan berbau politis.

"Semua pengaduan masyarakat maupun LSM terkait laporan itu, akan disikapi dengan hati-hati," ujar dia pula.

Para pengunjukrasa itu sempat berorasi di depan Kantor Kejati Lampung dengan membawa berbagai poster berisi desakan agar kejaksaan mengusut kasus dugaan korupsi oleh kedua cagub Lampung itu.

Para mahasiswa itu juga meminta pengusutan kasus dugaan "mark up" harga tanah untuk Terminal Kalianda dan pengadaan tanah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sibalang sebesar Rp70 miliar lebih yang dilakukan oleh cagub Lampung yang saat itu menjabat Bupati Lampung Selatan.

Selain itu mantan bupati Lampung Selatan itu, diduga memanipulasi pendapatan daerah sektor minyak dan gas Rp5,3 miliar pada tahun 2003.

"Saat itu berdasarkan audit Bupati Lampung Selatan hanya melaporkan Rp15 miliar lebih dari total pemasukan Rp21 miliar," ujar dia pula.

Cagub Lampung lainnya, oleh mereka yang berdemo itu, dinilai telah melakukan "mark up" pengadaan lahan untuk Terminal Terbanggi Besar, dengan kerugian negara mencapai Rp3 miliar.

Mantan Bupati Lampung Tengah itu, juga dituding telah memperkaya diri dan keluarganya.

"Semua proyek di kabupaten itu banyak lari ke tangan kerabatnya," kata dia pula.

Kabag Humas Pemda Kabupaten Lampung Selatan, Sugiharto, menanggapi aksi mahasiswa mengaitkan dengan mantan bupati di sana, membantah tuduhan Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi itu.

Apalagi, menurut dia, selama dua kali menjabat Bupati Lampung Selatan selalu diaudit BPK.

"Tidak ditemukan kejanggalan berdasarkan hasil audit tersebut," kata dia pula.

Dia juga menduga laporan itu merupakan manuver lawan politik dikaitkan dengan posisi mantan bupati Lampung Selatan yang kini mencalonkan diri sebagai gubernur Lampung itu pula.(*)

Sumber: Antara, Jumat, 23 Juni 2006

Kepala Dinas Perhubungan Tulang Bawang Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

BANDAR LAMPUNG - Kepala Dinas Perhubungan Lampung, Tadjudin Barto, 52 tahun, sudah dua pekan ini dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kurungan Nyawa, Gedong Tataan, Lampung Selatan. Tersangka kasus korupsi pengadaan kapal cepat milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang, senilai Rp 4 miliar itu, mengalami depresi sejak ditahan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, 21 Desember 2004.

Menurut pengacara tersangka, Zulfikar Ali Butho, kliennya stres karena terlalu banyak pikiran, menyangkut kapal cepat yang sedang dipermasalahkan pihak Kejaksaan. Diantaranya, penyidikan yang berlarut-larut, membuat jiwa Tadjudin terganggu. Dia juga memikirkan kapal yang kini disita Kejati Lampung, sehingga tidak dapat berlayar. "Belum lagi harus memikirkan desakan para anak buah kapal (ABK) yang menuntut gaji setiap bulannya," kata Ali Butho.

Ali membantah kliennya dirawat di RSJ hanya akal-akalan untuk menghindari pemeriksaan Kejati. "Tadjudin memang benar-benar depresi, karena dia memang tipe pemikir. Ngapain sih kami menitipkannya di RSJ kalau tidak benar-benar sakit. Dirawat di RSJ itu kan memalukan, jadi untuk apa harus bersembunyi di RSJ bila tidak sakit," kata Ali.

Tadjudin dijadikan tersangka terkait pengadaan kapal cepat Tulang Bawang Jaya, yang dibeli tanpa persetujuan DPRD setempat. Bupati Tulang Bawang, Abdurrahman Sarbini, kemudian mengambil dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2004 senilai Rp 4 miliar, untuk membeli kapal tersebut. Seharusnya, uang itu digunakan untuk modal usaha milik daerah.

Pembelian kapal cepat itu dilakukan melalui koperasi milik Pemkab Tulang Bawang, yang diketuai Tadjudin. Harga kapal yang sempat melayani rute Kota Menggala (ibu kota kabupaten Tulang Bawang) menuju Pelabuhan Merak, Banten, itu juga digelembungkan. "Berdasarkan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), negara dirugikan sedikitnya Rp 2,8 miliar," kata Asisten Pidana Khusus Kejati Lampung, Zainal Abidin.

Selama ditahan, Kejati sudah beberapakali memeriksa Tadjudin. Namun pemeriksaan tidak pernah berlangsung lancar, karena Tadjudin depresi saat diperiksa, bahkan sempat pingsan. Tersangka akhirnya selalu buru-buru dibawa ke rumah sakit, tempat dia dirawat sejak awal ditahan Kejati. Tadjudin hanya sempat beberapa hari menginap di Lembaga Pemasyarakatan Rajabasa, Bandar Lampung.

Menurut Zainal, pemeriksaan kasus kapal cepat itu terus berlangsung. Kejati masih memeriksa para saksi-saksi, baik pegawai koperasi maupun staf keuangan Pemkab Tulang Bawang. "Namun penyidikan atas diri Tadjudin terpaksa kita hentikan, sampai kondisinya bisa lebih sehat," kata Zainal. Hingga saat ini kejati Lampung masih menunggu izin memeriksa bupati Tulang Bawang, dari Presiden. (Fadilasari)

Sumber: Tempo Interaktif, Rabu, 23 Pebruari 2005

Batik Tradisional Lampung Tergusur

Bandar Lampung, Lampung - Batik printing bermotif khas Lampung semakin membanjiri pasar. Harganya yang murah dan motif beragam membuat batik ini laris manis di pasaran. Penjualannya pun lebih banyak dibanding batik tradisional Lampung.

Pemilik Toko Sami Sutera, Syakir mengatakan, di tokonya batik printing bisa terjual 20 potong dalam sehari. Sementara batik tradisional khas Lampung atau batik tulis hanya terjual tiga potong dalam seminggu. Kondisi ini, kata Syakir, karena harga batik printing yang jauh lebih murah dibandingkan batik tradisional. Harga batik printing Rp 40 ribu per meter. Sedangkan harga batik tradisional Rp 500 ribu per potong.

"Penyebab mahalnya harga batik tradisional, karena proses pembuatan batik tulis cukup lama. Bisa sampai satu bulan. Proses pembuatan batik tulis adalah proses yang membutuhkan teknik, ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Hal ini karena, proses pembuatannya dikerjakan manual oleh tangan terampil manusia (ditulis) tanpa menggunakan mesin," katanya Kamis (1/1).

Sementara proses pembuatan batik printing lebih cepat karena teknik pembuatannya melalui proses sablon manual. Satu warna hanya membutuhkan waktu lima menit dengan hasil sesuai dengan ukuran ang digunakan. Selain itu motif batiknya juga bisa lebih detail.

"Karena proses pembuatannya yang cepat, harga produksi batik ini lebih hemat. Sehingga harganya menjadi lebih murah. Selain itu, jika dilihat dengan detail, motif dari batik printing seperti motif gajah dan sigernya jauh lebih sempurna. Dibandingkan dengan batik tulis yang bentuknya sedikit tidak beraturan," lanjutnya.

Hal yang sama dikatakan oleh pemilik Toko Sambordir, Syamsidar. Pembeli yang datang ke tokonya lebih banyak mencari batik batik printing dibandingkan dengan batik tradisional. Dalam sehari, hingga 50 potong batik printing laris terjual. Sedangkan batik printing hanya 15 potong dalam sehari.

"15 potong itu juga tidak setiap hari. Ini karena batik printing jauh lebih murah dibandingkan dengan batik tradisional. Harga batik printing hanya Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per potong. Sedangkan harga batik tradisional Rp 150 hingga Rp 225 ribu per potong. Selain itu, pembeli juga lebih tertarik dengan batik printing karena motifnya yang lebih sempurna dibandingkan dengan batik tradisional," kata dia.

Pemilik Toko Ruwa Jurai, juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, batik printing lebih banyak dicari pembeli terutama kalangan menengah kebawah, dibandingkan dengan batik tradisional. Hal ini dikarenakan batik printing jauh lebih murah dibandingkan dengan batik tradisional. Harga batik printing Rp 40 ribu per potong. Sedangkan harga batik tradisional Rp 350 ribu hingga Rp 3,5 juta per potong.

Zulkifli mengaku, dia memproduksi sendiri batiknya. Dalam satu hari dia bisa menghasilkan hingga 200 kodi batik printing. Sedangkan batik tradisional bisa membutuhkan waktu hingga satu bulan. Disini saya bisa stok batik printing hingga ribuan lembar. Sedangkan batik tradisional hanya saya sediakan 30 meter.

"Kalau ada yang ingin membeli dalam jumlah banyak harus pesan dulu. Mungkin karena proses pembuatannya yang lama dan harganya yang mahal, orang yang datang lebih memilih batik printing daripada batik tradisional," ujarnya.

Kejari Tulang Bawang Minta Izin Periksa Bupati

BANDAR LAMPUNG - Pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang, Lampung, melayangkan surat permohonan izin kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meminta keterangan Bupati Tulang Bawang Abdurrahman Sarbini.

Sarbini hendak dimintai keterangan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Tulang Bawang terkait dengan kasus dugaan penyelewengan dana pembelian kapal cepat Tulang Bawang Jaya.

"Mudah-mudahan kami segera memperoleh jawaban atas surat permohonan itu. Hal ini sejalan dengan upaya Presiden memberantas korupsi. Kami sendiri tetap terus pada komitmen untuk menegakkan hukum dalam pemberantasan korupsi itu dan melakukan penyidikan hingga tuntas," tutur Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejari Tulang Bawang, Jurist F Sitepu, Minggu (12/12) di Bandar Lampung.

Keterangan Sarbini sangat diperlukan untuk terus mengungkap dugaan penyelewengan dana pembelian kapal cepat Tulang Bawang Jaya senilai Rp 4 miliar.

Sejak semula, pengadaan kapal cepat yang awalnya direncanakan melayani rute Menggala, Tulang Bawang, menuju Merak, Banten, itu bermasalah.

Pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tulang Bawang saat itu tidak mengetahui rencana pembelian kapal tersebut. Bahkan, kala itu, menurut Ketua Lampung Sai Tulang Bawang Khaidir Gani, proyek pengadaan kapal itu ditolak DPRD karena dana yang digunakan tidak jelas (Kompas, 3/7).

Dana pembelian kapal buatan tahun 1999 itu, menurut Bupati Tulang Bawang Abdurrahman Sarbini, berasal dari dana penyertaan milik Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang. Pengoperasiannya berada di bawah pengelolaan Koperasi Pegawai Negeri Sai Bumi Nengah Nyappur yang diketuai oleh Tadjudin Barto.

Menurut Sitepu, dalam kasus itu, pihak kejaksaan telah menetapkan Tadjudin sebagai tersangka. "Hingga saat ini ia masih diperiksa sebagai tersangka," ujar Sitepu menegaskan.

Namun, ia menyebutkan, tidak menutup kemungkinan pihak kejaksaan melakukan penahanan terhadap Tadjudin.

Sabtu lalu, kapal cepat Tulang Bawang Jaya disegel pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang. Kapal itu kemudian ditambatkan di Pelabuhan Merak, Banten. (JOS)

Sumber: Kompas, Senin, 13 Desember 2004

Kejati Lampung Prioritaskan 13 Kasus Korupsi

BANDAR LAMPUNG - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung memprioritaskan penuntasan 13 kasus korupsi dalam program 100 hari pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ke-13 kasus tersebut, delapan kasus akan dilimpahkan ke pengadilan dan lima kasus naik ke tahap penyidikan.

Menurut Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Zainal Abidin, delapan kasus yang akan dilimpahkan dalam tahap persiapan berkas dan pengumuman nama tersangka yang melarikan diri. ”Tersangka yang kabur dalam kasus KUT Kalianda dan tersangka kasus bantuan raskin di Blambangan Umpu rencananya disidangkan in absensia,” ujarnya kepada wartawan di Bandar Lampung, Selasa (2/11).

Namun, sebelumnya akan diumumkan di media massa untuk mencari keberadaan tersangka. Zainal menambahkan kemungkinan delapan kasus itu akan dilimpahkan setelah Idul Fitri 2004 mendatang.

Sementara itu, Asisten Intelijen Kejati Lampung Abdul Aziz mengatakan lima kasus yang diprioritaskan ke tahap penyidikan juga sedang dalam tahap persiapan guna melengkapi bukti. Hingga kini, lima kasus prioritas itu belum naik ke tahap penyidikan.

Lima kasus prioritas yang naik ke tahap penyidikan itu adalah kasus pembelian kapal cepat oleh Pemkab Tulang Bawang (Rp 4 miliar), kasus pengadaan aspal Buton di Tulang Bawang (Rp 1 miliar), kasus KUT Karya Mulya, KUD Karya Datu, serta kasus raskin dan Prona di Desa Mulangmaya. Kelima kasus itu terjadi tahun 2003.

Kasus yang akan dilimpahkan ke pengadilan adalah KUT di Kalianda (Rp 258 juta), penyalahgunaan dana proyek ekonomi masyarakat pesisir Lamsel (Rp 214 juta). Kemudian, kasus penyalahgunaan dana lelang di Dinas Peternakan Metro dan kasus penyalahgunaan dana KUT di Kotabumi. Kasus lain, penggelapan dana PPh PNS Lampung Barat (Rp 1,8 miliar), kasus POPKD dengan tersangka Haris Fadillah dan Aryanto, kasus dana proyek pengembangan kecamatan (PPK), serta penyimpangan raskin dan sapi bantuan presiden akan dilimpahkan Kejari Blam-bangan Umpu.

Kasus Lain

Kasus lain yang diusut Kejati Lampung adalah dugaan penyimpangan dana kepedulian yang dikeluarkan PTPN VII (Rp 2,1 miliar) yang melibatkan Marsidi Hasan, wakil bupati Way Kanan. Menurut Asintel, pihaknya telah meminta keterangan PTPN VII. Kejati masih menunggu audit BPKP dalam kasus genset Tulangbawang (Rp 600 juta).

Namun, menurut Zainal Abidin, BPKP mulai turun lapangan guna menghitung nilai kerugian. ”BPKP turun lapangan terkait dugaan kasus genset itu,” katanya.

Penghitungan juga dilakukan terhadap adendum dalam rencana anggaran belanja (RAB) yang baru. Sementara, Kasi Pidsus Kejari Metro Har-lan, mendampingi Kejari Budiarto, Senin (1/11), mengatakan tahun ini pihaknya menyidik tiga tersangka kasus korupsi KUT, lelang ternak Dinas Peternakan Lamteng, dan pengelapan dana bantuan petani oleh salah satu ketua LSM. Selain itu, pihaknya telah mengajukan empat terdakwa kasus korupsi yang kini masih dalam proses penuntutan.

Sebelumnya Kajari Menggala, C.H. Ishak, S.H., membenarkan pihaknya mendapat perintah Kajati Lampung untuk memproses kasus dugaan korupsi pembelian kapal cepat di Kabupaten Tulangbawang terus bergulir.tersebut. Namun, menurut Ishak, proses penyidikan dugaan korupsi itu ditunda sementara hingga setelah Lebaran. Dia berjanji, setelah Lebaran nanti penyidikan pengadaan kapal cepat Tulangbawang segera tuntas. (dat)

Sumber: Sinar Harapan, Rabu, 3 November 2004

Kapal Nelayan Meriahkan Festival Budaya Maritim Teluk Lampung

Bandarlampung, Lampung - Kebiasaan ruwatan sebagai bentuk tanda syukur para nelayan, kini diubah menjadi Festival Budaya Maritim Teluk Lampung. Dalam perlombaan yang berlangsung Minggu (30/11/2014), sebanyak 35 kapal nelayan dihias semenarik mungkin. Pengunjung dari berbagai tempat di Bandarlampung yang menghadiri festival itu turut berekreasi mengarungi Teluk Lampung dengan menumpangi kapal-kapal nelayan yang sudah dihias itu.

Pengunjung yang ikut mengarungi laut tidak dipungut biaya sebagai bentuk promosi tahap awal. Ketua Himpunan Seluruh Nelayan Indonesia (HSNI) Provinsi Lampung Marzuki Yazid mengatakan Festival Budaya Maritim Teluk Lampung ini merupakan baru pertama kalinya terlaksana di Lampung.

"Biasanya para nelayan melakukan ruwatan dengan mempersembahkan sesaji untuk laut, diharapkan festival budaya maritim ini menjadi kegiatan rutin dan dapat berkembang menjadi salah satu tujuan wisata tahunan," katanya. Kegiatan ini sepenuhnya didukung Pangkalan TNI Angkatan Laut Lampung.

Korupsi Puluhan Miliar di Bina Marga Terungkap

Bandarlampung - Berbagai proyek tahun anggaran 2002 bernilai puluhan miliar yang diduga diselewengkan di Dinas Bina Marga Lampung mulai terungkap.

Setelah Kasubdin Rehab Jalan dan Jembatan Sauki Shobier ditetapkan Kejati Lampung sebagai tersangka korupsi proyek, kini Kejaksaan Negeri Liwa menetapkan Irawan Sudirman, pimpro dermaga Tembakak di Kecamatan Penggawa, Lampung Barat, senilai Rp 960 juta sebagai tersangka. Kejaksaan menemukan bukti proyek itu fiktif.

Kajari Liwa Agus Sutoto di Kejati Lampung, Rabu (12/3) mengatakan, proyek fisik dengan total nilai anggaran Rp 960 juta tersebut baru selesai 70 persen. Namun, Irawan, pimpro, melaporkan dalam berita acara telah menyelesaikan bangunan 100 persen. "Masih 30 persen lagi yang belum diselesaikan," ujar Agus, yang didampingi tim penyidik Jaudin Toto, Umar Tamori, Umri Baliyun, Darmudi, dan Tumori Sianipar.

Menurut dia, bangunan fisik yang belum diselesaikan adalah lantai dermaga. Tapi, dalam laporannya, ia menyebutkan telah selesai semua. Sementara dana yang ditarik dari Kabag Keuangan Pemda Lambar senilai Rp153 juta dititipkan di Bank Lampung di Pasar Liwa atas perintah Irawan.

Kasus tersebut, kata dia, akan ditingkatkan ke penyidikan dan kemungkinan minggu depan tersangka dipanggil untuk diperiksa. "Untuk sementara hanya dia yang menjadi tersangka, tapi kemungkinan akan ditemukan lagi tersangka baru, tergantung hasil penyidikan selanjutnya."

Yang jelas, lanjut Agus, siapa pun yang terlibat dalam proyek fiktif tersebut akan diusut. "Tunggu saja minggu depan," katanya menjanjikan.

Kadinas Bina Marga
Sebelumnya Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung sudah menetapkan Kasubdin Rehab Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Lampung Sauki Shobier sebagai tersangka korupsi proyek pemeliharaan jalan di Lampung Utara senilai Rp 495 juta yang menggunakan anggaran biaya tambahan APBD Lampung Tahun 2002.

Sejumlah kontraktor proyek yang diperiksa tim jaksa mengaku tidak mengetahui proses pelaksanaan proyek itu dari awal. Bahkan terdapat sejumlah nama CV yang dipinjam. Selain itu pelaksanaannya juga melanggar Keppres No. 18 Tahun 2000 karena tidak melalui tender.

Untuk kasus ini Kejati sudah memeriksa Kepala Dinas Bina Marga Lampung Ir Jhonson Napitupulu, Senin (10/3), namun statusnya masih sebagai saksi. Seusai diperiksa oleh jaksa penyidik Sumartono selama enam jam, Jhonson menolak memberikan keterangan kepada wartawan.

Menurut Kasi Penkum dan Humas Kejati Rasepta Barlen, dari 15 pertanyaan yang diajukan jaksa kepada Jhonson masih bersifat umum belum masuk ke pokok permasalahan. Untuk itu, ungkapnya, Jhonson masih akan diperiksa lebih lanjut.

Sumber-sumber SH menyebutkan, pada tahun anggaran 2002 terdapat 17 proyek dengan nilai Rp 20,8 miliar yang diduga diselewengkan di Dinas Bina Marga. Proses dan pelaksanaan proyek tidak dilakukan secara terbuka. Bahkan disebut-sebut para pimpinan proyek berusaha memenuhi syarat-syarat lelang hanya di atas kertas untuk memenangkan kontraktor yang dibekingi gubernur saat itu Oemarsono. Caranya dengan mengajukan kontraktor pendamping. Lalu lelangnya tidak diumumkan secara terbuka dengan cara berkolusi dengan sejumlah koran lokal. (dat)

Sumber: Sinar Harapan, Kamis, 13 Maret 2003

Kepala Puskesmas dan Perawat Tepergok Mesum dalam Ambulans

BANDAR LAMPUNG - Warga Natar, Lampung Selatan, dihebohkan peristiwa "ambulans bergoyang" yang terparkir di halaman rumah toko (ruko) di jalan lintas sumatera (jalinsum), tepatnya di seberang SPBU Batu Puru.
Ambulans ini bergoyang, lantaran ulah dua oknum yang bekerja di Puskesmas Sukadamai, Tegineneng, yakni HB (42) yang menjabat kepala puskesmas dan MU (35) perawat di puskesmas yang sama.

Terbongkarnya perbuatan mesum pasangan di luar nikah ini diawali kecurigaaan warga akan keberadaan ambulans jenis Panther warna putih bertuliskan Dinas Kesehatan Lampung Selatan APBD Tahun 2013. Ambulans tersebut terparkir di halaman ruko sejak pukul 22.00 WIB, Jumat (30/5), tapi pengemudi ambulans tidak keluar dari mobil.

Kecurigaan warga makin menjadi ketika melihat ambulans bernomor polisi BE 2098 BZ itu, bergoyang-goyang. Sejumlah warga yang sedang berkumpul di depan SPBU Batu Puru akhirnya memeriksa mobil tersebut sekitar pukul 23.00 WIB.

Ketika diintip, warga kaget menemukan dua orang berlainan jenis melakukan perbuatan suami istri di bagian belakang ambulans.

Sontak, para warga meminta HB dan MU keluar dari mobil. Pasangan yang keluar dari ambulans dengan berpakaian seadanya itu, akhirnya digelandang ke Mapolsek Natar yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Kapolsek Natar Komisaris Y Agustiandaru membenarkan penggerebekan yang dilakukan warga terhadap pasangan di luar nikah tersebut. Ia mengatakan, HB dan MU dipergoki sedang melakukan hubungan suami istri di dalam mobil ambulans.

"Diamankan dari dalam kendaraan ambulans. Dan oleh warga langsung dibawa ke Polsek Natar," kata Agustiandaru saat dihubungi Tribun Lampung, Sabtu (31/5).

Agustiandaru menambahkan, HB merupakan warga belakang Pasar Natar dan MU warga Sukadamai. Keduanya mengaku baru pulang dari Kalianda, Lampung Selatan. Saat melintasi SPBU Batu Puru, mobil yang dikendarai HB memutar arah dan parkir di halaman ruko tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, masing-masing pelaku sudah mempunyai keluarga. Keduanya menjalin hubungan sejak Januari 2014 lalu, dan mengaku baru dua kali melakukan hubungan suami istri.

"Perbuatan terlarang HB dan MU terjadi di lokasi yang sama dan di dalam ambulans yang sama pula," kata dia.

Agustiandaru mengungkapkan, perselingkuhan kedua oknum Puskesmas Sukadamai itu sudah dilaporkan oleh istri HB ke Polsek Natar dengan nomor laporan LP:541/V/2014/LPG/Resor Lamsel/ Sektor Natar.

"Sudah dilaporkan oleh istrinya (HB). Dan proses terhadap keduanya masih berlanjut," kata mantan Kapolsek Kedaton tersebut.

Namun, meski tertangkap basah sedang melakukan perbuatan tersebut, keduanya tidak ditahan karena ancaman hukuman perbuatan keduanya di bawah lima tahun.

"Ancaman hukuman untuk perbuatan mereka sembilan bulan. Mereka tidak ditahan, tetapi dikenakan wajib lapor ke Polsek Natar," kata Agustiandaru. (cr1)

Lampung Heritage Dukung Penyelamatan Rumah Sejarah

Bandarlampung, Lampung - Komunitas penyelamatan cagar budaya galang dukungan Save Daswati yang merupakan sebuah rumah tua tempat kesepakatan berdirinya Provinsi Lampung tahun 1963. Ketua Komunitas Lampung Heritage, Teguh Prasetyo, Minggu (16/3/2014) menjelaskan, kegiatan penyelamatan Daswati I berangkat dari sebuah keprihatinan para pemuda Lampung yang menyadari bahwa banyaknya cagar budaya yang beralih fungsi menjadi bangunan modern.

"Ini adalah kegiatan pertama Lampung Heritage dan rencananya kami akan ada beberapa kegiatan Save Daswati Lampung," kata Teguh.

Lebih lanjut Teguh mengatakan, pihaknya sedang mengejar beberapa persyaratan untuk menetapkan bagungan kuno itu sebagai cagar budaya di Lampung. "Ini momentum hari kelahiran 50 tahun Provinsi Lampung. Jika pemerintah tidak juga menetapkan Rumah Daswati I sebagai cagar budaya, maka kami akan menggalang koin melalui masyarakat. Biar masyarakat Lampung yang membeli kembali rumah ini," ujarnya.

Sementara itu, kondisi rumah yang dulunya sebagai rumah perjuangan pembentukan Provinsi Lampung itu, kini dijadikan tempat penyimpanan gerobak dagangan dan menjadi lokasi pengungsian para gelandangan. Rumah tersebut juga sudah dijual oleh pihak keluarga sejak tahun 1997 sekitar Rp 1,5 miliar, namun hingga saat ini belum diubah apa pun oleh pemilik rumah,

-

Arsip Blog

Recent Posts