Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan

Wow, 12 Artis Ibu Kota Akan Ramaikan Pekan Raya Sumatera Utara

Medan, Sumut - Tercatat 12 artis papan atas ibu kota akan menghibur pengunjung Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) pada 17 Maret - 17 April 2017. Even provinsi itu akan terpusat di dj Tapian Daya, Jalan Gatot Subroto, Medan, Sumatera Utara. Selain itu, ada sekitar 33 Kabupaten dan Kota di Sumut akan menampilkan berbagai kesenian budayanya di tempat yang sama. "Sukses untuk acara PRSU di Medan," ucap Menpar Arief Yahya di Jakarta.

Arief Yahya yang mantan Dirut PT Telkom itu semakin confidence, Sumut terus berbenah, semakin baik. Dia berharap soal kebersihan, kerapian, dan 14 pilar di Travel and Tourism Competitiveness Index World Economic Forum itu dibenahi terus. "Kalau ingin menjadi global player, ya harus benchmark dengan global standart," sebut Arief Yahya yang lare osing Banyuwangi ini.

Dengan tema Prestige, Reborn, Spirit, dan Up to Date, PRSU akan menghadirkan konsep dan kemasan baru yang berbeda dengan hadirnya wahana atraktif dan pementasan budaya dan seni terbesar yang pernah terselenggara.

Adapun artis ibukota yang akan tampil antara lain Band Kotak (Sabtu18 Maret 2017), Band Netral (Minggu, 19 Maret 2017), Band Last Child (Jumat, 24 Maret 2017), Band Lyla (Sabtu, 25 Maret 2017), Band Musikimia (Minggu, 26 Maret 2017), dan Band Gangstarasta (Selasa, 28 Maret 2017).

Kemudian dilanjutkan penampilan Judika (Jumat, 31 Maret 2017), Rosemary (Minggu, 2 April 2017), Rizky Ridho (Minngu, 9 April 2017), Govinda (Jumat, 14 April 2017), Band Sheila On7 (Sabtu, 15 April 2017) dan Band NAFF (Minggu, 16 April 2017).

“PRSU ini untuk memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh tiap kabupaten dan kotamadya yang ada di Sumatera Utara dalam seni dan budaya yang menjadi ciri khasnya. Dengan penampilan artis-artis ibukota, akan membuat PRSU lebih istimewa. Ini harus dimaksimalkan agar menjadi menarik dan semakin diminati pengunjung,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti.

Event yang diadakan sejak tahun 1972 ini ditargetkan mendapat kunjungan 200.000 sampai 230.000 orang setiap harinya. Dengan harga tiket masuk Rp 15.000 untuk hari biasa, dan Rp 20.000 untuk akhir pekan, PRSU 2017 juga akan menyediakan berbagai jajanan kuliner.

"Warga Sumatera Utara patut berbangga hati karena di Indonesia hanya ada dua pekan raya yakni Pekan Raya Jakarta (PRJ) di ibukota, dan di Medan sendiri yakni PRSU. PRSU ini sebagai miniatur Sumatera Utara, dengan menghadirkan lebih dari 30 atraksi seni dan budaya yang melibatkan 33 kabupaten dan kotamadya dari Sumatera Utara,” ujar Esthy.

Ketua Inspirasi Media Communication, Sofyan Sauri selaku Promotor dari PRSU 2017 menambahkan, citra PRSU sudah semakin baik sejak tahun 2016 yang lalu. Phaknya mengklaim telah banyak melakukan pembenahan-pembenahan untuk menunjang event ini makin diminati, termasuk mendatangkan artis dari Ibukota.

"Dari tahun ke tahun terus kami evaluasi dan kita benahi agar lebih baik. Artis-artis yang akan tampil sebagian besar sudah konfirmasi. Apabila ada yang tidak bisa pun akan kami gantikan artis yang setara levelnya,” ungkap Sofyan.

Sofyan menjelaskan, pihaknya juga menyediakan tiket elektronik (e-Card) di samping tiket manual seperti selama ini. Dengan e-Card, pengunjung cukup membeli dengan harga Rp 130.000 untuk memasuki arena PRSU selama digelar. “Memakai e-Card ini lebih hemat dibandingkan kita membeli tiket biasa, karena kita ingin menjadikan harga masuk arena PRSU itu murah dan terjangkau seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

PRSU 2017 berada di jalan Medan-Binjai Km 6 merupakan kompleks ruang pameran dan ruang terbuka dengan luas berkisar 6.5 hektare yang terdiri dari hall A, B, C, dan Hall serbaguna serta bangunan stand pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini pada awalnya tempat pelaksanaan pameran bangunan yang disebut Pekan Raya Sumatera Utara dengan tujuan untuk mempromosikan potensi masing-masing daerah kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Secara khusus bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berkembang di wilayah Sumut, agenda promosi seperti ini akan membuka peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan investor sebanyak-banyaknya untuk datang dan menanamkan modalnya. Objek-objek wisata di Sumut juga dapat diekspos dengan lebih lagi melalui PRSU, sehingga membuka kesempatan bagi pertambahan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman).

Tercatat, dari Januari-Oktober 2016, Wisman yang datang melalui tiga pintu masuk utama Sumut, yakni Bandara Kualanamu, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Tanjung Balai, mencapai 181.043 orang. Jumlah total wisman Sumut hingga November 2016 sejumlah 204.603 orang.

Wisman dari Malaysia adalah yang paling banyak berkunjung ke Sumut di periode Januari-Oktober 2016 itu, yakni sebanyak 88.711 orang atau 49,04%. Terbanyak kedua dari Singapura 10.500 orang, disusul Tiongkok 5.485 orang, Belanda 4.127 orang, Australia 3.620 orang, Jerman 3.512 orang, Inggris 2.643 orag, Amerika Serikat 2.516 orang, Thailand 2.462 orang, dan India 1.810 orang.

Gelar Budaya Melayu dan Etnik Lain Meriahkan HUT Langkat Selama Lima Hari

Medan, Sumut - Sekretaris Daerah Provsu H Hasban Ritonga SH mewakili Gubernur Sumut memberi apresiasi kegiatan perayaan Kabupaten Langkat yang jatuh pada tanggal 17 Januari 2016. Kegiatan akan dilaksanakan selama 5 hari yang mengusung kekayaan budaya Melayu dan belasan etnis lainnya.

Hal itu dikatakannya pada saat menerima audiensi Sekdakab Langkat, Kamis (12/1) di gedung lama kantor Gubsu jalan Dipenegoro Medan.Hadir pada audiensi tersebut Sekda Kabupaten Langkat dr H Indra Salahudin M.Kes.MM yang didampingi Sekretaris Dinas Kehidupan Dan Pariwisata Kab Langkat Edi Syahputra serta Kasubbag Humas dan Protokol Hilman Anggana Lukha SSTP MAP.

Hasban mengatakan bahwa momen perayaan sangat cocok bila digunakan untuk melestarikan kebudayaan daerah. Karena dengan dilestarikan kebudayaan masyarakat khususnya para generasi muda bisa mencintai agar tetap mengetahui budaya bangsanya.

Pada kesempatan itu Sekda Langkat mengatakan perayaan HUT ke 267 dimulai dari tanggal 15 Januari (Minggu) diisi dengan acara fun bike dan arobik dan malamnya penampilan kesenian etnis yang dimulai dari etnis Jawa dilanjutkan dengan budaya lainnya seperti Melayu, Batak, Banjar hingga etnis tionghoa dan Bali yang ditampilkan setiap malam selama 5 hari (15 sampai 20 Januari 2017)."Kabupaten Langkat kaya akan keberagaman suku dan etnis dan hidup saling mendukung satu sama lain,"paparnya.

Selain acara seni budaya dan perlombaan untuk masyarakat Langkat, Indra juga mengatakan pada tanggal 17 Januari diadakan acara serimonial seperti sidang paripurna istimewa dan dilanjutkan acara resepsi di alun-alun . "Pada acara tersebut kita berharap pak Gubsu memakai pakaian adat Melayu yang juga merupakan etnis terbesar di Langkat," jelasnya.

YHAB Laporkan Tindak Korupsi di Ateng ke KPK

MEDAN-Yayasan Harapan Anak Bangsa (YHAP) Wilayah III Aceh-Sumut-Riau, melaporkan dugaan sejumlah kasus korupsi di Aceh Tengah ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Laporan dugaan kasus korupsi yang diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 13 milyar lebih itu, juga ditembuskan Dewan ke Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Senayan, Komisi III DPR RI, dan ICW (Indonesia Corruption Watch).

Berdasarkan pers release yang diterima Rakyat Aceh, Kamis (6/9) malam lalu di Medan, ditandatangani oleh Ade Darmawan, Direktur Eksekutif YHAB Wilayah III Aceh-Sumut-Riau, lebih jauh dijelaskan, temuan tersebut melibatkan sejumlah nama yang kini berkuasa di kabupaten Aceh Tengah, diantaranya Ir. H. Nas. MM, MI SE, serta seorang pejabat yang kini bertugas di Aceh Tenggara Ir. H. Has. B. MM.

Dugaan korupsi yang diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 13 Milyar tersebut, diperoleh berdasarkan hasi audit BPK RI (Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan audit inspektorat Badan Pengawas Daerah Aceh Tengah.

BPK RI mendapatkan temuan pengeluaran yang tidak jelas pertanggungjawabannya, mencapai Rp 12.248.665.229 (lihat grafis) dan temuan Inspektorat Bawasda sebesar Rp 1.853.689.832 (lihat grafis).

"Terkait dugaan tersebut, Yayasan Harapan Anak Bangsa merasa terpanggil untuk mengajukan langsung secara resmi dan tertulis dalam rangka ikut serta membantu menciptakan pemerintah yang bersih dasri unsur KKN," tulis Ade Darmawan dalam siaran persnya.(rel/mud)

TEMUAN BPK RI JUMLAH

Pengeluaran tanap SPMU tahun 2005 Rp 5.512.268.000
Penggunaan biaya tak tersangka tidak sesuai peruntutkan Rp 3.509.625.095
Realisasi belanja publik dan apartaur tidks esuai dengan peruntukkan Rp 1.262.522.146
Pembayaran SPP-BT tidak didukung dengan kemajuan pekerjaan Rp1.418.441.000
Pengadaan mobil dinas wakil bupati yang memberatkan keuangan daerah Rp 278.800.000
Biaya BBM Sekda Rp 267.106.060
TEMUAN INSPEKTORAT BAWASDA JUMLAH

Pembangunan jalan lingkungan kawasan peternakan (proyek Ketapang Rp 1.206.310.251
Pembangunan kandang untuk peternak Rp340.843.107
Pembangunan pagar untuk peternakan Rp 200.898.029
Penanaman rumput Rp105.638.445
JUMLAH SELURUHNYA : Rp 13.102.355.131

Sumber: www.rakyataceh.com 8 September 2007

Jong Bataks Arts Festival 2016 Suguhkan Tari Lima dan Ritual Topeng

Medan, Sumut - Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Rumah Karya Indonesia akan kembali menggelar Jong Bataks Arts Festival #3 2016 pada 25-28 Oktober 2016 di Taman Budaya Sumatera Utara dengan menampilkan kolaborasi Seni Topeng dari Toba, Karo, Angkola, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak.

Pegelaran Jong Bataks Arts Festival Ketiga 2016 resmi dibuka di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Selasa (25/10/2016) sore.

Dalam pembukaan acara, tampil penari tradisonal Batak. Para penari terlihat maju ke depan panggung yang mengenakan pakaian adat batak dari sub etnisnya masing-masing, yakni Toba, Mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak.

Secara bergantian, mereka menampilkan tarian Batak dari puak masing-masing. Tampak penonton antusias menyaksikannya dan diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah.

Rangkaian acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi yang mengisahkan ihwal Tao Toba itu. Dibacakan oleh Agus Susilo dengan penghayatan yang tinggi, puisi memikat para pengunjung.

Selain tari-tarian dan puisi, festival juga menampilkan pertunjukan prolog mengenai Legenda Sampuraga dari Batak Mandailing. Kisah klasik ini bercerita tentang perilaku Sampuraga yang tidak mengakui ibunya.

Aksi pemeran utama Riski boru Nasution membuat penonton kagum dan akhirnya mendapat respons yang meriah.

"Prolog ini merupakan kisah yang menyarankan kita supaya tetap menghargai orangtua ataupun para leluhur kita," ujar boru Nasution yang disambut apresiasi dari penonton seperti dikutip dari situs batakgaul.

“Jong Bataks Arst Festival merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membangun mental berkarakter Pancasila, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mengangkat kembali keragaman seni tradisional di Sumatera Utara,” ungkap Direktur Rumah Karya Indonesia Ojak Manalu seperti dikutip dari bataktoday.

Ojak mengatakan, Jong Batak Arts Festival #3 2016 dikemas menjadi wadah untuk mengembangkan spirit nasionalisme di kalangan generasi muda. Rumah Karya Indonesia bertekad memaknai, merawat dan menghidupkan tradisi melalui kreativitas karya seni.

Dijelaskan, festival tahun ini khusus mengusung konsep Ritual Topeng Batak sebagai kekayaan nasionalisme bangsa. Topeng merupakan salah satu aspek seni tertua di dunia dan dipercayai masyarakat sebagai media untuk mendatangkan roh nenek moyang. Persoalannya, Seni Topeng Batak nyaris dilupakan. Maka dari itu, Rumah Karya Indonesia melalui seni pertunjukan bermaksud menggugah kembali semangat pemuda dalam mengenal akar kebudayaannya.

“Penggalian kembali Ritual Topeng Batak sebagai kekayaan budaya bangsa dalam seni pertunjukan menjadi ikon Jong Bataks Arts Festival 2016 untuk menarik simpati para pemuda,” pungkas Ojak.

Gundala-Gundala dari Karo, Sirugut dari Angkola, Sigale-gale dari Toba, Huda-Huda dari Simalungun dan Mangkuda-kuda dari Pak-pak akan hadir sebagai seni pertunjukan. Selain konsep ritual Topeng, Jong Bataks Arts Festival #3 juga akan menggelar pertunjukan seni berbasis multi etnis (Batak, Melayu, Jawa, Minang). Sedang Karnaval Budaya akan berlangsung tepat di Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016, yakni mengelilingi pusat Kota Medan dengan rute Taman Budaya-Lapangan Merdeka-Taman Budaya.

Tak hanya itu, pada hari pertama festival akan digelar Pameran Seni Rupa yang berkaitan dengan seluruh kebudayaan Batak. Lalu, akan ada Pameran Kerajinan Tangan dan Lomba Seni untuk tingkat pelajar. Bahkan, puluhan siswa yang berasal dari beberapa sekolah di Sumatera Utara juga berkontribusi dalam menyukseskan acara ini. Diantaranya, SMP Bethany, Yayasan perguruan HKBP Sidorame, SMA Nusantara Lubuk Pakam, serta beberapa sekolah lainnya.

Acara ini melibatkan 48 komunitas di Sumatera Utara. Ada seni tari, seni musik, sastra, teater dan sebagainya.

Panggung Hiburan Rakyat Tampikan Kesenian Simalungun

Medan, Sumut - Panggung hiburan rakyat yang diselenggarakan Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan menampilkan kesenian dan kebudayaan Simalangun di Jalan Bukit Barisan (seputaran Lapangan Merdeka), Sabtu (22/10) malam. Meskipun gerimis mengguyur, event ini tetap berjalan meriah dan dipadati ratusan pengunjung. Selain dapat menikmati seni dan tari, pengunjung juga dapat menikmati aneka kuliner khas Simalungun.

Penyelenggaraan panggung hiburan ini diharapkan dapat memberikan nuansa keharmonisan semua etnis di Kota Medan yang berjumlah 14 etnis, yaitu etnis Melayu, Karo, Tabagsel, Toba, Tapteng, Simalungun, Nias, Jawa, Dairi, Minang, Aceh, Cina, Arab dan India.

Event yang rutin diadakan setiap akhir pekan ini turut dihadiri Walikota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi, Wakil Walikota Medan Ir Akhyar Nasution MSi, DPD RI perwakilian Sumut Parlindungan Purba, Pimpinan SKPD Pemko Medan, tokoh masyarakat Simalungun, Serta masyarakat Kota Medan.

Dalam rangkaiannya, event ini menampilkan berbagai macam kesenian, diantaranya Tarian Simalungun Tolu Sahundulan Lima Saodoran, Tor-Tor Haloan Bolon, penampilan artis cilik Genio Saragih, finalis The Voice Kids Indonesia Geisha Sihotang, Widia Garingging, Indah Br Sinaga, serta Dorma Band dan Jion Band yang menyanyikan lagu-lagu Simalungun.

Event ini juga dipandang mampu meningkatkan silaturahmi. Diantaranya, para pejabat daerah dengan masyarakatnya. Tampak Eldin, Akhyar, dan Parlindungan, berbaur dengan masyarakat, manortor bersama masyarakat menikmati panggung hiiburan rakyat tersebut.

Sebagai tanda kehormatan, masyarakat Simalungun memberikan seperangkat pakaian adat simalungun, lambang-lambang tradisi Simalungun atau istilah lainnya disebut juga pemberian hio pamoti kepada Walikota Medan, Wakil Walikota Medan, dan DPD RI perwakilan Sumut, yang diiringi dengan lagu odang-odang.

Eldin menjelaskan, even ini digelar dalam rangka menggeliatkan kembali pariwisata di Kota Medan. Di samping itu sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan, sekaligus mengajak masyarakat, terutama para generasi muda agar mereka mengetahui bahwa seni maupun budaya dari seluruh etnis yang ada di Kota Medan masih tetap terjaga dengan baik sehingga mereka terpanggil untuk mencintai sekaligus melestarikannya.

“Even ini diharapkan bisa membangkitkan kembali khasanah budaya kita. Dengan demikian para generasi muda kita akan mengetahui dan semakin mencintai seni dan budaya etnis-etnis yang ada di Kota Medan,” jelas Eldin.

Sementara Parlindungan Purba yang bertepatan berulang tahun ke 53 pada hari itu, sangat mengapresiasi Pemko Medan yang telah memfasilitasi event ini hingga berjalan baik, dan mengajak seluruh masyarakat, khususnya simalungun untuk bersama-sama bergandengan tangan dengan Pemko Medan didalam memajukan pembangunan di Kota Medan.

“Ini menunjukkan bahwa pemko medan sangat peduli pada budaya sumatera utara, yang memiliki keanekan ragaman budaya. Mari kita bersama-sama membantu Pemko Medan didalam membangunn kota yg kita cintai ini”, ungkapnya.

Disamping itu, Plt Kadis pariwisata Kota Medan Hasan basri mengatakan, event ini akan digelar rutin setiap malam Minggu, mulai pukul 19.00 sampai 24.00 WIB. Ia juga akan terus melakukan evaluasi agar event ini benar-benar menarik, sehingga mampu mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Satlantas Polresta Medan agar even ini tidak mengganggu kenyamanan masyarakat berlalu-lintas.

“Event ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pariwisata di Kota Medan, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan, sekaligus mengajak masyarakat untuk mencintainya. Terutama para generasi muda agar mengetahui bahwa seni maupun budaya dari seluruh etnis yang ada di Kota Medan masih tetap terjaga dengan baik sehingga diharapkan mereka terpanggil untuk mencintai sekaligus melestarikan kebudayaan yang khas dari Sumatera Utara”, jelas Hasan.

Jong Bataks Arts Festival 3, Ritual Topeng dalam Seni Pertunjukan

Medan, Sumut - Setelah sukses pada tahun 2014 dan 2015, Jong Batak Arts Festival #3 kembali digelar tahun ini. Festival selalu digelar untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda ini kembali dilaksanakan pada 25-28 Oktober 2016 di Taman Budaya Sumatera Utara dengan menampilkan kolaborasi Seni Topeng dari Toba, Karo, Angkola, Mandailing, Simalungun, Pak-pak Bharat.

"Jong Bataks Arts Festival merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membangun mental berkarakter Pancasila, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mengangkat kembali keragaman seni tradisional di Sumatera Utara," ungkap Ojak Manalu, selaku Direktur Rumah Karya Indonesia, Rabu (12/10).

Dijelaskannya, kegiatan ini menjadi wadah untuk mengembangkan spirit nasionalisme di kalangan generasi muda, dan bertekad memaknai, merawat dan menghidupkan tradisi melalui kreatifitas karya seni. Lebih lanjut dia katakan, festival ini tahun ini khusus mengusung konsep Ritual Topeng Batak sebagai Kekayaan Nasionalisme Bangsa.

Bukan tanpa alasan, menurutnya, topeng merupakan salah satu di antara aspek seni yang tertua di dunia dan dipercayai oleh masyarakat untuk mendatangkan roh nenek moyang. Persoalannya, Seni Topeng Batak nyaris dilupakan. Maka dari itu, Rumah Karya Indonesia melalui seni pertunjukan bermaksud menggugah kembali semangat pemuda dalam mengenal akar kebudayaannya.

"Penggalian kembali Ritual Topeng Batak sebagai Kekayaan Budaya Bangsa dalam seni pertunjukan menjadi ikon Jong Bataks Arts Festival 2016 untuk menarik simpati para pemuda," ujar Ojax lagi.

Beberapa yang akan ditampilkan nantinya antara lain Gundala-Gundala dari Karo, Sirugut dari Angkola, Sigale-gale dari Toba, Huda-Huda dari Simalungun dan Mangkuda-kuda dari Pak-pak akan hadir sebagai seni pertunjukan.

Selain konsep ritual Topeng, kata dia, Jong Bataks Arts Festival #3 menggelar pertunjukan seni berbasis multi etnis (Batak, Melayu, Jawa, Minang).

Karnaval Budaya berlangsung tepat di Hari Sumpah Pemuda (28 oktober 2016) mengelilingi pusat Kota Medan dengan rute Taman Budaya-Lapangan Merdeka-Taman Budaya.

Tak hanya itu, di hari pertama festival ini akan dibuka Pameran Seni Rupa yang berkaitan dengan seluruh kebudayaan Batak.

Lalu, akan ada Pameran Kerajinan Tangan dan Lomba Seni untuk tingkat pelajar. Bahkan, puluhan siswa yang berasal dari beberapa sekolah di Sumatera Utara juga berkontribusi dalam menyukseskan acara ini.

Diantaranya, SMP Bethany, Yayasan perguruan HKBP Sidorame, SMA Nusantara Lubuk Pakam, serta sekolah-sekolah lainnya.

Polisi Akan Periksa Bupati Toba Samosir

Medan - Kepolisian Daerah Sumatera Utara akan memeriksa Bupati Toba Samosir, Monang Sitorus, yang diduga terlibat korupsi dana kas daerah Rp 3 miliar. Kepolisian ini tengah mengumpulkan sejumlah bukti untuk memeriksa Monang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Barang bukti yang menyentuh Bupati Monang Sitorus sedang kami kumpulkan. Sehingga pemeriksanya belum bisa dilakukan sekarang," ujar Direktur Reserse dan Kriminal, Komisaris Besar Ronny F. Sompie kepada Tempo, Rabu (6/6).

Kasus ini bemula dari laporan Sudiarto Tampubolon dari Kantor Hukum dan Investigasi Sudiarto ke polisi atas dugaan korupsi dana alokasi umum dan dan alokasi khusus pemerintah Kabupaten Toba Samosir.

Monang Sitorus diduga memerintahkan sekretaris bendara kabupaten, P. Batubara, mengeluarkan uang panjar kepada seseorang yang mengurus dana senilai Rp 3 miliar dari pemerintah pusat itu.

Ronny berjanji segera memeriksa sekretaris bendara sebagai saksi. si. "Kepolisian juga secepatnya minta izin presiden untuk memeriksa Bupati Monang Sitorus bila semua bukti sudah terkumpul," ujarnya. (Hambali Batubara)

Sumber: tempointeraktif.com 06 Juni 2007

Polisi Akan Periksa Bupati Toba Samosir

Medan - Kepolisian Daerah Sumatera Utara akan memeriksa Bupati Toba Samosir, Monang Sitorus, yang diduga terlibat korupsi dana kas daerah Rp 3 miliar. Kepolisian ini tengah mengumpulkan sejumlah bukti untuk memeriksa Monang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Barang bukti yang menyentuh Bupati Monang Sitorus sedang kami kumpulkan. Sehingga pemeriksanya belum bisa dilakukan sekarang," ujar Direktur Reserse dan Kriminal, Komisaris Besar Ronny F. Sompie kepada Tempo, Rabu (6/6).

Kasus ini bemula dari laporan Sudiarto Tampubolon dari Kantor Hukum dan Investigasi Sudiarto ke polisi atas dugaan korupsi dana alokasi umum dan dan alokasi khusus pemerintah Kabupaten Toba Samosir.

Monang Sitorus diduga memerintahkan sekretaris bendara kabupaten, P. Batubara, mengeluarkan uang panjar kepada seseorang yang mengurus dana senilai Rp 3 miliar dari pemerintah pusat itu.

Ronny berjanji segera memeriksa sekretaris bendara sebagai saksi. si. "Kepolisian juga secepatnya minta izin presiden untuk memeriksa Bupati Monang Sitorus bila semua bukti sudah terkumpul," ujarnya. (Hambali Batubara)

Sumber: tempointeraktif.com 06 Juni 2007

Dewan Kesenian Ajak DPRD Medan Peduli Seni-Budaya

Medan, Sumut - Dewan Kesenian Kota Medan mengajak seluruh anggota DPRD Medan lebih peduli soal seni dan budaya yang ada di kota Medan. Sebab, ragam seni dan budaya dari berbagai etnis yang ada di Medan sangat berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kota ke tiga terbesar di Indonesia ini.

“Kepedulian menambah jumlah wisman dan otomatis ikut peningkatan PAD. Pastinya sudah ikut melestarikan berbagai seni dan budaya asli suku etnis yang ada di Medan,” ujar Ketua Dewan Kesenian Kota Medan Rianto Aghly SH kepada wartawan di Medan, Selasa (20/9/2016).

Dikatakan Rianto, untuk melestarikan seni dan budaya diharapkan semua elemen harus peduli dan berpartisipasi. Dalam hal ini, anggota DPRD Medan dianggap lebih berperan mengawasi pelestarian budaya. Sedangkan Pemko Medan dituntut bertanggungjawab menggali potensi untuk memperkaya ragam budaya.

Diakui Rianto, pihaknya menyadari keterbatasan soal pengembangan seni dan budaya di kota Medan. Untuk itu, tanpa dukungan DPRD Medan untuk menuntut Pemko Medan agar dapat membantu sarana dan prasarana pengembangan seni di kota Medan.

Seperti diketahui saat ini, dewan kesenian kota Medan belum memiliki sarana kantor serta pusat pembinaan seni. Bahkan, Pemko Medan terkesan kurang peduli pelestarian dan pembinaan seni-budaya berbagai etnis. Rianto mengakui, kota Medan cukup kaya jumlah etnis dan budaya yang dinilai layak jual.

Dikatakan Rianto, pihaknya tetap berupaya menjalin kerjasama kepada semua pihak. Bahkan kepada anggota DPRD Medan khususnya komisi yang membidangi seni dan budaya dalam waktu dekat ini akan dilakukan sharing terkait pelestarian seni dan budaya di Medan.

Ditambahkan Rianto, Dewan kesenian Medan juga akan melakukan pertemuan dengan DPRD Sumut dan Pempropsu. Tujuannya akan membicarakan terkait kejelasan lahan penggunaan Taman Budaya Sumatera Utara. Parahnya, Taman Budaya yang selama ini difungsikan pagelaran seni dan budaya dikabarkan akan beralih fungsi. Rianto kuatir, para pencinta seni dan budaya nantinya akan kesulitan tempat pengembangan bakat.

Bupati Simalungun Bantah Tuduhan Korupsi

Medan, Sumut — Bupati Simalungun Zulkarnaen Damanik membantah tuduhan korupsi kepada dirinya dalam kasus penggunaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun 2005-2006.

“Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memang mengirimkan surat ke saya, mereka menyatakan adanya temuan atas beberapa anggaran yang tidak sesuai. Di dalam surat tersebut, sama sekali tidak ada disebutkan kata-kata korupsi. Mereka meminta, supaya saya menjelaskan semuanya dalam waktu sebulan. Jadi, saya sudah menyiapkan surat penjelasan dan akan diserahkan minggu depan,” kata Zulkarnaen di Medan, Minggu (15/4).

Dia menjelaskan, sejumlah dugaan penyimpangan yang disampaikan antara lain pemerimaan pajak sebesar Rp 342,05 juta yang belum disetor ke kas negara, pengadaan 30 unit mobil dinas camat se-Kabupaten Simalungun senilai Rp 3,6 miliar yang tidak sesuai spesifikasi dan pengeluaran kas untuk belanja daerah pada 2005 dan 2006 sebesar Rp 849,55 juta yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, pelaksanaan sistem informasi manajemen daerah (SIMDA) senilai Rp 232 juta dan pengeluaran yang mendahului P-APBD 2005 senilai Rp 673 juta.

“Misalnya mengenai pengadaan mobil camat, sudah ada klarifikasi dari PT Capella yang menyatakan dari seluruh mobil itu semua sama jenisnya,” kilah Zulkarnaen. “Mengenai pajak yang belum disetor ke kas negara dan beberapa temuan BPK lainnya menurutnya, justru terjadi pada kepemimpinan Bupati Simalungun sebelumnya. Mengenai pajak dan termasuk pembangunan kantor GOR (Gedung Olah Raga) malah sudah saya sampaikan kepada Polres Simalungun dan Kejari Simalungun,” elak Zulkarnaen. (rijan irnando)

Sumber : http://news.okezone.com Senin, 16 April 2007

Bupati Humbang Hasundutan Mangkir

MEDAN, KOMPAS--Bupati Humbang Hasundutan MS dan pejabat sekretariat daerahnya berisial JS mangkir dari panggilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Medan, Jumat (2/3). Keduanya rencananya dimintai keterangan terkait dengan dugaan praktik persekongkolan pengadaan mobil pemadam kebakaran Humbang Hasundutan senilai sekitar Rp 1,1 miliar.

“Pemanggilan kami kepada mereka hari ini (Jumat 2/3) terkait dengan laporan yang masuk ke KPPU. Kami perlu melakukan verifikasi. Kami akan memverifikasi ulang kepada mereka,” kata Kepala Kantor Perwakilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KKPU) di Medan Verry Iskandar, Jumat (2/3) ditemui di kantor dia.

Mereka, tutur Verry, dilaporkan diduga melakukan persekongkolan dengan rekanan pengadaan mobil pemadam kebakaran di Humbang Hasundutan. Dalam laporan yang diterima KPPU, panitia pengadaan membuat syarat-syarat yang dinilai hanya mengarah pada salah satu peserta tender saja. Syarat-syarat yang tertuang dalam dokumen tender itu tidak bisa dipenuhi oleh peserta lain.

”Dengan syarat itu hanya satu peserta saja yang bisa memenuhi. Salah satu syarat yang menjadi persoalan adalah penyebutan spesifikasi barang dan disertai dengan ciri-ciri barang yang mengarah pada salah satu merek kendaraan. Inilah yang tidak diperbolehkan dalam aturan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Pemberlakuan syarat seperti itu, kata Verry, menghalangi peserta tender lain untuk bersaing,” kata Verry.

Sehari sebelumnya, pelapor dari unsur organisasi non pemerintah—tanpa dia sebutkan—juga mangkir dari panggilan KPPU. Alamat surat yang tertera dalam berkas laporan tidak ditemukan saat surat dikirim.

Sibuk
Saat dihubungi, Staf Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan Iwan Manalu mengatakan Bupati Humbang Hasundutan baru saja datang dari Jakarta karena urusan dinas. Sementara, pejabat sekretariat daerah masih sibuk dengan persiapan acara Konferensi Gereja-Gereja Asia di Sumatera Utara. “Jadi mohon maklum atas ketidakhadiran beliau,” kata Iwan.
Berdasarkan data KPPU Medan, sejumlah kasus sempat terganjal oleh sikap pelapor sendiri yang tidak serius. Seringkali pada awal laporan dengan bukti-bukti lengkap di kemudian hari pelapor tidak lagi bersedia datang memberikan keterangan ke KPPU. Salah satu kasus itu terjadi pada dugaan persekongkolan pada pengadaan barang dan jasa di lingkungan Dinas Pendidikan Sumatera Utara.

Verry menandaskan, tidak akan menghentikan penyelidikan meski pelapor tidak lagi kooperatif. “Bahkan, jika pelapor mencabut laporan pun kami tetap akan melanjutkan penyelidikan selama data dan bukti lengkap. Ini persoalan hukum yang harus diselesaikan,” tutur dia.

Selama 2006, dari 25 laporan yang masuk ke KPPU, delapan laporan ditindaklanjuti. Dua kasus di antaranya diputus di pengadilan (salah astunya kasus pengadaan bangsal di Rumah Sakit Pematang siantara –Red). Sisa laporan itu, berupa saran dan pertimbangan dari pelapor. (Andy Riza Hidayat)

Sumber: Kompas 02 Maret 2007

Mantan Bupati Toba Samosir Dilaporkan ke KPK

Medan, Sumut — Diduga terlibat dalam kasus korupsi, Sahala Tampubolon, Bupati Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara (Sumut) periode 2000-2005, dilaporkan ke KPK. Dia diduga terlibat korupsi APBD yang menyebabkan negara mengalami kerugian puluhan miliar rupiah. Laporan itu disampaikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Merpati.

Di Medan, Kamis(14/12/2006), Koordinator LSM Merpati, A Sinambela menyatakan, selain ke KPK, laporan itu juga disampaikan kepada Jaksa Agung dan Kapolri. Sinambela menjelaskan, Sahala Tampubolon diduga terlibat manipulasi pembangunan infrastruktur, manipulasi anggaran pembangunan lembaga donor, manipulasi proyek bantuan (loan) International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), manipulasi proyek dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan terakhir korupsi atas dana konpensasi PPh, sebagai pembayaran fee untuk konsultan pajak.

"Selain tuduhan korupsi, banyak proyek-proyek APBD Tobasa masa periodenya yang tidak bisa dipertanggungjawabkannya. Kita sudah kirimkan setumpuk fakta kepada ketiga institusi penegak hukum itu," kata Sinambela. Menurut Sinambela, laporan itu sengaja disampaikan ke KPK karena proses hukum di Balige, ibukota Toba Samosir, tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Padahal kasus tuduhan korupsi itu sudah tahunan diproses, bahkan sudah sampai ke Kejaksaan Negeri Balige. "Tapi sampai kini tak jelas juga, makanya kami laporkan ke KPK, Jaksa Agung dan Kapolri," tandasnya. (rul/ary)

Sumber : www.detiknews.com Jumat, 15 Desember 2006

Ulos Sebagai Simbol Kehangatan

Medan, Sumut - Ulos merupakan bagian penting dalam hubungan kekerabatan di masyarakat suku batak. Sebab, ulos memiliki banyak simbol yang bermakna cinta kasih dari pemberi ke penerimanya.

"Ulos merupakan simbol kehangatan antar tiga pihak yang pasti dijumpai dalam acara adat masyarakat batak. Ulos juga menjadi media kedamaian dan peredam konflik yang barangkali muncul," jelas Antropolog USU, Rhyta Tambunan, dalam Seminar Nasional Ulos di FISIP USU, Jumat (5/8) siang.

Rhyta menyebut, ulos tidak akan ditelan waktu jika masyarakat batak tetap menjaga adat istiadatnya. Hasil karya para seniman alias pengrajin ulos harusnya mendapatkan apresiasi penuh dari semua pihak.

Namun menurut Rhyta, faktor ekonomi kerap menjadi alasan para penenun khususnya dari kalangan perempuan, meninggalkan aktivitas membuat ulos.

"Kiranya kondisi itu menjadi perhatian khusus. Seorang penenun di Onan Runggu mengaku, mereka mampu mengerjakan satu ulos dalam waktu tiga hari dengan upah Rp 45 ribu. Sedangkan pekerjaan lain seperti bertani sudah bisa menghasilkan Rp 45 ribu per harinya. Sayangnya lagi, saya pernah membeli ulos seharga Rp 250 ribu di salah satu toko, ini jelas ada kesenjangan," ungkapnya.

Kejatisu Periksa Tersangka Kasus Korupsi 5,3 Miliar Rupiah

Medan, Sumut — Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Kamis malam (15/7) sejak pukul 18.00 WIB hingga malam kembali memeriksa tersangka Amn SH, mantan Kepala BPN Deli Serdang, terkait dugaan korupsi senilai Rp5,3 miliar ganti rugi tanah proyek Banjir Desa Marindal I Kecamatan Patumbak. Tersangka Amn yang juga mantan pejabat di Pemkab Deli Serdang diperiksa Tim Pemeriksa Kejatisu, Yudha P,SH dan B.Sinambela, malam hari ini.

Sebelumnya, Humas Kejatisu, A.Jasa Ketaren, SH, kepada wartawan di Medan ,mengatakan, bahwa tersangka Amn,SH dalam kasus dana miliaran rupiah mengenai ganti rugi tanah proyek banjir tersebut, diperiksa sejak hari Senin, Selasa dan Rabu. Dikatakannya, tersangka Amn pada hari Rabu (14/7) diperiksa sejak pukul 09.00 WIB hingga malam di salah satu ruangan di Kejatisu. "Pemeriksaan terhadap tersangka, Amn, dalam beberapa hari ini berturut-turut dilakukan di Kejatisu oleh Tim Pemeriksa yang dipercaya dalam menangani kasus yang merugikan keuangan negara tersebut," ujar Ketaren.

Sementara data yang dihimpun di Kejatisu, sedikitnya 18 saksi telah dimintai penjelasan oleh Tim Pemeriksa Kejatisu dalam kasus tersangka Amn mengenai ganti rugi proyek banjir tersebut. Ke-18 saksi tersebut dan beberapa di antaranya, yakni Poltak Lumbantobing, Kabag Hukum Pemkab Deli Serdang, Helman,SH, Kibagwil Pemkab Deli Serdang dan Rasman Kabag Umum PTPN II Tanjung Morawa. Saksi Yosua mantan Camat Patumbak, Miswanto mantan Kepala Desa Marindal I, Drs Taram Sinaga Asisten I Tatapraja Pemkab Deli Serdang dan Ir.Rezeki Sembiring Kepala Dinas Perkebunan Deli Serdang. (Ant/dna)

Sumber : www2.kompas.com Jumat, 16 Juli 2004

Pemkot Medan Promosikan Batik Lokal

Medan, Sumut - Pemerintah Kota Medan kian gencar mempromosikan budaya dan kekayaan lokal yang dituangkan dalam desain batik.

Wali Kota Medan T. Dzulmi Eldin mengatakan pemko akan mengadakan lomba desain batik dan pemenangnya akan diberikan hadiah serta batik tersebut akan menjadi ciri khas dan branding Kota Medan dan Sumatra Utara. Adapun lomba desain batik khas Kota Medan dilakukan selama tiga hari.

"Desain itu diharapkan dapat menjadi pakaian seragam aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Medan," seperti yang dikutip dari laman resmi, Rabu (29/6/2016).

Eldin menuturkan kegiatan lomba desain batik dilakukan untuk melestarikan seni batik, sehingga para perajin batik makin menghayati profesinya, salah satunya dengan memberikan penghargaan berupa perlindungan bagi para pembatik untuk hasil karya intelektualnya.

Atas dasar tersebut, Eldin ingin event desain batik menjadi momentum dalam melindungi dan mencegah terjadinya kesalahan pemanfaatan budaya batik tradisional, khususnya batik Kota Medan sesuai amanah Undang-undang No.19/2002. Adapun total peserta yang ikut dalam desain batik mencapai 62 orang.

Pemkot Medan mengharapkan melalui kegiatan lomba ini, maka inovasi dari industri kreatif semakin muncul. Meski zaman semakin modren, Eldin mengharapkan masyarakat tak melupakan kebudayaan dan diharapkan dilakukan modrenisinasi untuk pembuatan desain batik.

Menikmati Menu Khas Melayu dari Kampoeng Deli

Medan, Sumut - Bagi yang ingin berbuka puasa dengan menu nasi sombang dipadu dengan ayam mogab, kerang rebus khas Kampoeng Deli atau minuman khas melayu seperti seri Deli, air mata pengantin dan kaksama mengamuk, es poci durjana, datanglah ke Kampoeng Deli Sumatera Utara (Sumut).

Kawasan yang berada di Jalan Kapten Muslim Kota Medan ini merupakan surga kuliner bagi penduduk kota setempat dan Sumut umumnya. Kenikmatan merasakan lezatnya menu khas melayu itu ditopang dengan suasana tempat dihiasi dengan ornamen budaya melayu. Mulai dari bentuk bangunan, interior bangunan yang penuh dengan warna khas melayu, kuning.

"Kita memiliki makanan dan minuman khas melayu yang bisa dirasakan konsumen kita di Kampoeng Melayu," ungkap Manager Kampoeng Deli, Joko kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group) dilansir Rabu (22/6).

Dikatakan Joko, Kampoeng Deli ini merupakan tempat nongkrong bagi anak-anak Medan.

Lebih jauh dia menjelaskan, pusat kuliner yang dikelolanya itu sangat khas Kemelayuannya, karena karena menu yang disajikan menggunakan bahan baku berupa rempah-rempah terbaik. Jadi, sangat nikmat disantap saat berbuka puasa.

"Untuk Nasi sombang, terdiri nasi yang dibumbuhi, cabe merah dan rempah khas Sumatera khas kampung dengan dibungkus daun pisang dan teri nasi baru dibakar. Sedangkan, Ayam mogab, ayam digoreng kering dengan cabai hijau. Bumbu khas kampoeng Deli. Terutama kerang rebus yang segar dan sambel yang enak dan lezat," jelasnya.

Begitu juga dengan minumannya. Untuk menu minuman Sri Deli, menggunakan bahan terdiri dari daun sereh dipadu dengan jahe yang sudah dibakar. Lantas semua bahan itu diblender dan dikemas secara modern.

Dia mengungkapkan, ada menu hasil racikan dari khas Kampoeng Deli, yakni Duvo, durian pokat, kopi durian. "Minuman seperti ini tidak akan ditemukan di tempat lain. Hanya di Kampoeng Deli ini," cetusnya.

Di bulan Ramadan ini Kampoeng Deli memberikan paket Berkah untuk konsumennya dengan mematok harga Rp 30 ribu. "Dengan Rp 30 ribu, pengunjung bisa menikmati makanan lezat untuk berbuka puasa di Kampoeng Deli," tutur Joko.

Sementara itu, Rudi Hermasyah salah satu pengelola kuliner lainnya di Kampoeng Deli, di tempanya menyiapkan menu makan yang enak dan murah, seperti Kerang Rebus Kampoeng Deli. Kekhasan kerang rebus ini karena tidak menggunakan penyedap.

"Kerang rebus di Kampoeng Deli sangat nikmat dengan saji sambal yang sangat khas dari Melayu. Cukup harga Rp 15 ribu, konsumen bisa merasakan lezatnya kerang rebus yang kita sajikan," sebut pria berkacamata itu.

Dia menyebutkan kerang rebus Kampoeng Deli merupakan kerang pilihan dengan mengutamakan kesegaran dari kerang yang berasal dari Tanjung Balai dan Belawan. "Kerangnya kita beli dari kualitas kerang yang bagus dan segar-segar sehingga terjamin kualitas rasanya," tandas Rudi.

Agar suasana berasa islami menjelanng buka puasa, Kampoeng Deli juga menghibur pengunjungnya dengan menyajikan live music religi. Live musik ini setiap harinya menampilk grup nasyid yang digelar sebelum berbuka puasa hingga selesai.

Muncul Saat Ramadhan, Bubur Sop Melayu di Masjid Raya Medan Bisa Dinikmati Gratis

Medan, Sumut - Sejumlah pengurus Masjid Raya Medan tampak mengayuh belanga berisi bubur nasi dengan rotan atau kayu sejak pukul 14.00, Senin (6/6/2016).

Belanga berisi bubur untuk sajian bubur sop tersebut merupakan makanan khas yang hanya dimasak dan dibagikan saat Bulan Ramadan.

Bubur Sop Khas Melayu cukup menggugah selera karena aromanya yang cukup kuat karena proses pemasakannya yang kaya akan rempah.

Setiap hari hingga 27 hari ke depan, bubur ini akan dibagikan secara gratis untuk jamaah mesjid dan penduduk sekitar sejak berpuluh-puluh tahun.

Tradisi ini telah dimulai sejak berdirinya Masjid Raya pada 1909. Awalnya bubur ini disajikan Kerajaan Melayu, Kesultanan Maimun, untuk para musafir dan pendatang yang singgah untuk berbuka puasa.

Haji Zulkifli, penanggungjawab, menuturkan bubur sop dipilih sebagai santapan berbuka yang dibagikan gratis karena pembuatannya yang tidak ribet serta mengenalkan makanan makanan khas Melayu dan santapan berbuka para Raja Deli pada dulunya.

Makanan Tradisional Harus Dilestarikan

Medan, Sumut - Kuliner merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Menilik jajanan tradisional, sama halnya dengan membaca kultur masyarakat Indonesia dengan ragam kebudayaannya. Beragam jajanan tradisional biasanya terkait dengan upacara adat. Perkembangan selanjutnya, jajanan ini dibuat tak hanya untuk kepentingan upacara tetapi menjadi bagian dari panganan sehari-hari.

Seperti kue mata kebo dari Yogyakarta. Kue ini terbuat dari tepung ketan yang berisi unti (parutan kelapa bercampur gula merah) berwarna merah dan hijau kemudian disiram dengan adonan putih yang terbuat dari tepung beras. Adonan ini kemudian dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus. Dinamakan mata kebo lantaran bentuknya yang seperti mata. Namun, di Jawa Timur, kue ini lebih dikenal dengan sebutan cocor bebek.

Hampir setiap daerah memiliki penganan khas. Masyarakat harus digelorakan untuk mengonsumsi jajanan milik sendiri, di tengah MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), kuliner warisan leluhur dapat bersaing dengan makanan asing lainnya. "Jajanan tradisional tidak sekadar nikmat dan mengenyangkan, namun mengandung filosofi adiluhung," tutur Fiter Cahyono, Communication Officer Gulaku kepada wartawan, Senin (16/5) di Medan.

Karena itu, untuk melestarikan kekayaan bangsa, yang salah satunya terwujud dalam keanekaragaman kuliner Indonesia yang kaya akan cita rasa dan cerita. pihaknya tergerak untuk bisa ikut melestarikan jajanan tradisional Indonesia melalui kegiatan gebrak pasar tradisional dan ke komunitas perempuan lainnya. Program ini berlangsung selama bulan Mei - Agustus 2016 di sejumlah pasar tradisional.

"Ini merupakan kepedulian kami untuk ikut ambil bagian dalam melestarikan warisan kuliner asli Indonesia agar tidak pudar diterjang serbuan makanan internasional," jelas Fiter.

Fiter mengungkapkan, lewat program ini, pihaknya mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menghargai kuliner nusantara yang tidak ternilai harganya agar tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari budaya luhur bangsa.

Gerakan peduli ini diharapkan merata ke seluruh kalangan dan akan dimulai dari kaum perempuan, khususnya ibu-ibu, sebagai agen penggerak pelestari kuliner nusantara untuk lebih memperkenalkan jajanan manis khas Indonesia yang terkenal dengan cita rasanya kepada keluarga. Selain itu, memilih bahan pangan yang berkualitas dan alami akan menghasilkan kue bercita-rasa sempurna, aman dikonsumsi, dan penampilannya pun cantik sehingga menggugah selera.

Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis Upaya Kembangkan Budaya Lokal

Medan, Sumut - Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi diwakili Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, Drs Hasan Basri MM menutup Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis Kota Medan di Lapangan Merdeka Medan, Rabu (27/4/2016) malam. Selain memperkenalkan dan melestarikan seni serta budaya tradisional, event yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai salah satu potensi wisata di Kota Medan.

Antusiasme masyarakat menyaksikan pagelaran ini cukup tinggi mulai pembukaan sampai penutupan. Ada tiga kegiatan pokok yang digelar dalam pagelaran tersebut, yakni penampilan kesenian multi etnis yang ada di di ibukota Provinsi Sumatera Utara, silaturahmi antar budaya dan pemeran kuliner khas tradisional.

Di sesi penutupan, pagelaran menyungguhkan sejumlah pertunjukan untuk menghibur sekaligus memuaskan keinginan warga Kota Medan akan seni dan budaya tradisional. Mulai dari lantunan musik instrumental yang disajikan Sweet Emulsion dengan menghadirkan violis cilik Awi Baqi. Setelah itu dilanjutkan tarian multi etnis.

Tarian ini mendapat aplaus meriah dari pengunjung, sebab berupaya menghadirkan keberagaman etnis yang ada di Kota Medan seperti Melayu, Simalungun, Tapanuli Selatan, Karo, Dairi, Tapanuli Utara. Di samping itu melalui tarian ini ini mengukuhkan Medan sebagai kota multikultural sekaligus miniaturnya Indonesia.

Acara penutupan dipungkasi dengan penampilan artis nasional etnis, Tonggam Sirait. Lewat suara emasnya, Togam yang tampil diiringi sejumlah teman-temannya, termasuk seorang dari Swiss berhasil memukau pengunjung dengan sejumlah tembang Batak hasil ciptaan dan arasemennya bernafas musik kelas internasional, termasuk dua lagu Barat. Tidak hanya mengikuti lirik yang didendangkan, Tonggam membuat pengunjung bergoyang sepanjang aksinya di atas panggung.

Hasan Basri percaya, kebudayaan multi etnis ini dapat dipromosikan dan dikembangkan sebagai salah satu potensi wisata daerah. Karenanya, dia sangat mengapresiasi digelarnya pagelaran ini karena begitu banyak manfaat yang diperoleh.

“Saya berharap event ini dapat terus dilaksanakan secara berkala dan ditingkatkan dalam rangka menumbuhkembangkan budaya lokal. Saya yakin, karakter masyarakat bahkan bangsa bisa dibangun berdasarkan budaya, sebab budaya identik dengan pembangunan peradaban,” kata Hasan.

Atas dasar itulah Hasan menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh jajaran panitia yang telah membantu terlaksananya pagelaran tersebut. Begitu juga dengan seluruh peserta yang mengisi acara, Hasan pun menyampaikan apresiasinya, sebab mereka berpartisipasi melestarikan budaya lokal.

“Saya harap acara ini dapat memperkuat kedudukan dan fungsi Kota Medan sebagai salah satu kota multikultural,” ungkapnya.

Medan Gelar Seni Budaya Multi Etnis 2016

Medan, Sumut - Pemerintah Kota (Pemko) Medan menyuguhkan Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis 2016 di Lapangan Merdeka Medan, Senin malam (25/4). Event yang berlangsung selama tiga hari ini dibuka Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution. Acara itu diharapkan dapat memperkuat kedudukan dan fungsi Kota Medan sebagai salah satu kota multikultural dan miniaturnya Indonesia.

Pagelaran ini diikuti berbagai lapisan masyarakat Medan, termasuk berbagai organisasi masyarakat, profesi, kelompok komunitas serta tim kesenian Kota Binjai. Selain seribuan warga Kota Medan, pagelaran juga dihadiri sejumlah konsulat jenderal (Konjen) negara sahabat seperti Malaysia, Tiongkok dan India.

Akhyar menilai even ini memiliki arti dan makna penting dalam rangka mempublikasikan kepada masyarakat luas, bahwa Medan adalah kota multikultural yang dilengkapi banyak keberagaman budaya dengan ciri khas sebagai kekayaan budaya Kota Medan. Kekayaan budaya itu memberikan warna yang begitu banyak pada aneka seni dan budaya Kota Medan.

"Pagelaran ini juga bermakna strategis dalam upaya menjaga melestarikan sekaligus mewariskan seni budaya kepada generasi penerus. Untuk itu saya mengajak seluruh warga Kota Medan agar menjadikan even ini sebagai salah satu momentum terbaik pembinaan seni budaya dan sarana hiburan, yang dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap Kota Medan sebagai Rumah Kita," kata Akhyar.

Mantan anggota DPRD Medan itu selanjutnya menegaskan, Pemko Medan berkomitmen dan bertekad untuk terus mengembangkan serta melestarikan kebudayaan multi etnis yang ada di Kota Medan, terlebih dalam menghadapi era globalisasi. Eksistensi kesenian tradisional perlu dipacu, diberi ruang dan terus dipromosikan untuk meredam berbagai tantangan, tekanan maupun pengaruh negatif budaya asing yang berpotensi mengikis budaya asli etnis-etnis di Kota Medan.

Akhyar mengakui, selama ini even-t-event pagelaran kesenian yang mengangkat budaya Kota Medan masih sangat terbatas, sehingga perlu terus didorong untuk ditumbuhkembangkan. Kemudian mengajak seluruh stakeholder kepariwisataan untuk memanfaatkan peluang usaha yang ada, seperti menjajakan kuliner khas Kota Medan, produk UMKM dan penampilan alat musik daerah, sehingga keberadaan multi etnis menjadi salah satu daya tarik wisata.

Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis 2016 berlangsung meriah. Acara diawali dengan menampilkan tarian yang mewakili 14 etnis di Kota Medan. Gerakan para penari sangat gemulai dan artistik didukung dengan lighting serta soundsystem yang cukup bagus. Tanpa cela, mereka sukses mempersembahkan tarian multis etnis kepada para pengunjung.

Plt Kadis Kebudayaan dan pariwisata Kota Medan Hasan Basri dalam laporannya mengatakan, Pagelaran Multi Etnis Kota Medan 2016 dimeriahkan dengan atraksi seni budaya tradisional, pameran UMKM dan kuliner, fashion show dan penampilan artis etnik lokal. Ditambah dengan penampilan khusus dari tim kesenian Kota Binjai dan Unimed.

-

Arsip Blog

Recent Posts