Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan

Pembebasan Bupati Buol oleh MA Diprotes

PALU, KAMIS - Puluhan mahasiswa asal Kabupaten Buol berunjukrasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Rabu (14/5). Mereka menuntut kejelasan atas putusan Mahkamah Agung terhadap kasus dugaan korupsi dengan tersangka Bupati Buol Amran Batalipu. Mahasiswa menduga bupati melakukan pembohongan publik dengan mengatakan kasusnya sudah selesai dan putusan MA menyatakan dirinya bebas.

”Setahu kami hingga kini belum ada putusan terkait kasus ini baik ke Pengadilan Negeri Toli-Toli maupun Kejaksaan Tinggi Sulteng. Tapi pihak bupati sudah mengatakan bahwa sudah ada putusan MA yang menyatakan dirinya bebas. Ini berarti bupati telah melakukan pembohongan publik,`` ujar Itang, koordinator aksi.

Dalam penjelasannya, Edwin Binti, juru bicara Kejati Sulteng yang menemui pengunjukrasa mengakui hingga kini belum ada salinan keputusan dari MA baik ke Pengadilan Negeri Toli-Toli maupun Kejati Sulteng. Pihak Amran Batalipu sendiri tidak berhasil dihubungi untuk dimintai konfirmasi.

``Kejaksaan Tinggi Sulteng sebagai instansi belum menerima pemberitahuan resmi dari MA. Berdasarkan Hukum Acara Pidana, setiap putusan akan diberitahu ke Pengadilan Negeri setempat dan Kejaksaan Tinggi. Tapi dalam hal ini baik Pengadilan Negeri Toli-Toli maupun Kejaksaan Tinggi Sulteng belum terima pemberitahuan atau salinan putusan,`` kata Edwin.

Kasus korupsi yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu sudah diproses sejak tahun lalu. Korupsi diduga dilakukan saat Amran masih menjadi anggota DPRD Toli-Toli. Bersama 20 anggota DPRD Toli-Toli lainnya, Amran diduga melakukan korupsi dana APBD Toli-Toli antara tahun 2000-2004. Kabupaten Buol sendiri mekar dari Toli-Toli sembilan tahun lalu dan Amran menjadi bupati tahun 2007 lalu. Sebagian tersangka mantan anggota DPRD Toli-Toli yang diduga melakukan korupsi, sudah ditahan. Amran sendiri terus melanjutkan kasusnya hingga tingkat kasasi.

Sumber : kompas.com : 15 Mei 2008

Mantan Kepala BPMD Banggai Tersangka Korupsi

Kapanlagi.com - Mantan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Banggai di Sulawesi Tengah, NM, hari Senin (12/5) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan dana operasional Unit Pengaduan Masyarakat dan Pemantauan Bantuan Langsung Tunai (UPMP-BLT) pada pelaksanaan program kompensasi pengurangan subsidi/PKPS BBM tahun anggaran 2006.

NM dijadikan tersangka setelah tim penyidik Kejaksaan Negeri/Kejari Luwuk melakukan pemeriksaan maraton secara tertutup terhadap yang bersangkutan selama lima jam sejak pukul 09:00 Wita di ruang Kepala Seksi Perdata dan Tata-Usaha Negara.

Rizal Manaba, salah seorang jaksa penyidik di sela rehat mengatakan, NM disodori sejumlah pertanyaan, antara lain terkait peran dia dalam pengelolaan dana operasional UPMP-BLT, selain mengkonfrontir data dan keterangan yang telah dihimpun penyidik kejaksaan sebelumnya.

Penyidik juga mempertanyakan kepada yang bersangkutan tentang seberapa besar uang negara itu yang disinyalir tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Kesimpulannya, kata dia, pemeriksaan tersangka kali ini untuk memastikan peran dan keterlibatannya dalam kasus penyalahgunaan dana operasional UPMP-BLT tersebut.

Menurut Jaksa Manaba, sejauh ini, berdasarkan hasil penyidikan kejaksaan, jumlah dana operasional UPMP-BLT tahun 2006 di Kabupaten Banggai yang tidak jelas penggunaannya sekitar Rp100 juta.

"Dari perkiraan dana yang menguap tersebut, pihak kami telah berhasil menyita Rp42 juta, di antaranya sempat disimpan pada salah satu bank di kota Luwuk," kata dia, dan menambahkan seharusnya uang tersebut dipergunakan membiayai operasional tim pada UPMP saat penyaluran BLT kepada warga miskin di berbagai pelosok desa, tetapi ternyata tidak dilakukan.

Menjawab pertanyaan, Jaksa Manaba mengatakan pihaknya belum dapat melakukan penahanan terhadap tersangka NM yang kini menjadi salah satu pejabat di lingkungan Sesdakab Banggai, karena masih mengkonsultasikannya kepada Kajari Luwuk, Suhardi, yang sedang berada di luar kota.

"Saya belum dapat menjelaskan soal ini, sebab masih harus konsultasi dulu sama Kajari," tuturnya.

MN sendiri ketika dicegat wartawan seusai menjalani pemeriksaan di Kejari Luwuk dan ditetapkan sebagai tersangka enggan memberikan komentar soal kasus yang dituduhkan kepada dirinya.

"Semuanya sedang dalam proses, jadi sebaiknya anda tunggu saja perkembangannya," kata dia.

Selain memeriksa NM, dalam pengusutan kasus ini, penyidik Kejari Luwuk sebelumnya telah memeriksa sejumlah saksi yang dianggap mengetahui pengelolaan dana operasional UMPMP-BLT, seperti mantan Kabid Ekonomi Masyarakat BPMD Kabupaten Banggai, Hajat Baeni, dan bendahara BPMD I Ketut Karta.

Hingga berita ini diturunkan belum ada bocoran informasi mengenai kemungkinan adanya tersangka baru dalam kasus tersebut. (kpl/rif)

Sumber : kapanlagi.com : 13 Mei 2008

Dari Sidang Pembahasan Anggaran DPRD Kabupaten Buol Demi Transparansi, Disiarkan Secara On Air melalui Radio Daerah

Prinsip transparansi penganggaran dan good governance, memang tidak semudah disuarakan lewat slogan dalam sambutan atau pidato resmi pemerintah. Kerana faktanya, banyak daerah dan bahkan provonsi yang ada di Indonesia, dengan alas an rahasia pemerintah, tidak mau membuka dokumen anggaran ke public. Padahal dibalik kebijakan untuk tidak membuka anggaran daerah ke publik adalah lebih disebabkan karena upaya untuk “membungkam mulut” masyarakat untuk tidak kritis dengan anggaran yang ada. Bahkan dengan tidak transparannya pembahasan anggaran, menjadi ajang meloloskan program siluman, baik yang dilakukan oleh Pemda maupun DPRD sendiri. Fenomena inilah yang coba dibantah oleh Pemkab Buol, yang melakukan pembahasan secara terbuka, transparan dan bahkan secara on air (langsung) disiarkan melalui Radio Pemerintah Daerah (RPD) Kabupaten Buol.

Pembahasan anggaran memang menjadi hal yang biasa. Agenda ini seperti menjadi budaya tahunan, dan bahkan enam bulanan, karena termasuk pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah perubahan (APBD-P). Tidak ada yang aneh dengan pembahasan semacam itu. Yang mengikutipun tidak ada yang berbeda. Diantaranya, anggota DPRD, terutama Panitia Anggaran (Panggar) serta dinas dan badan terkait, khususnya yang akan dibahas anggarannya.

Tapi bagaimana jika pembahasan anggaran dengan segala perdebatannya itu disiarkan secara langsung (on air) melalui radio, dimana siapapun, termasuk masyarakat awam, bisa mengikuti dengan tanpa ada hal yang bisa ditutup-tutupi? Tentu hal ini akan menjadi nilai plus dan sebagai wujud keberanian pemerintah setempat, untuk mewujudkan upaya transparansi. Siapapun bisa mengetahui, mencatat, menandai, mengkritik hingga mengontrol anggaran-anggaran yang telah diputuskan di gedung rakyat tersebut.

Dimulakan dari disinilah, Pemkab dan DPRD Kabupaten Buol, mencoba untuk merealisasikan prinsip transparansi pemerintah, agar kontrol masyarakat terhadap anggaran yang ada, benar-benar menjadi bagian dari penciptakan budaya bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sejak dibuka Senin (9/2) lalu hingga selesai pada jum`at (20/2) dini hari, pembahasan dan perhitungan APBD Kabupaten Buol, dilakukan secara terbuka dan disiarkan secara langsung melalui radio pemerintah daerah (RPD) Kabupaten Buol.

Terkait dengan transparansi pembahasan dan perhitungan APBD, menurut ketua DPRD Kabupaten Buol, H Abdullah Batalipu SSos, adalah hal yang masih menjadi satu-satunya terjadi di daerah Sulteng dan bahkan di negeri ini, yang berani melakukan pembahasan APBD termasuk APBD-P dan perhitungan secara terbuka melalui radio daerah.

“Hanya di Kabupaten Buol saja, yang berani melakukan pembahasan dan perhitungan APBD, secara terbuka dan disiarkan langsung melalui radio selama 24 jam. “kata Abdullah yang ditemui Radar Sulteng, di ruang kerjanya, Kamis (19/2).

Abdullah mengatakan, keberanian untuk melakukan pembahasan secara terbuka yang didengarkan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Buol, merupakan langkah awal terwujudnya pemerintahan yang transparan. Karena itulah katanya, bagi masyarakat yang selama ini merasa tidak dilibatkan dan terkesan menuduh antara pemerintah-DPRD selalu main mata dalam penganggaran, dipersilahkan untuk memprotes.

“Silahkan kepada saudara-saudara yang mengerti soal anggaran, untuk dating ke Kabupaten Buol, ke DPRD, saya tunggu. Saatnya anda harus protes anggaran ini, karena kami sedang melakukan pembahasan. Tapi tidak ada juga yang maju,” ujarnya.

Lebih dari itu lanjut Wakil Ketua Persatuan Sepakbola Kabupaten Buol (Persbul) ini, sudah saatnya semua hal yang didalamnya melibatkan kepentingan masyarakat, harus dibuka seterang-terangnya. Sebab, katanya, tidak ada gunanya menutupi hal-hal yang sebenarnya menjadi milik masyarakat. Tetapi kalau masih ada yang ditutup-tutupi, berarti masih ada kepentingan, yang sengaja masyarakat tidak diberikan akses untuk mengetahui.

Bahkan kata Abdullah, hal yang dilakukan oleh Pemkab Buol saat ini, sebenarnya bisa dilakukan oleh daerah lain, asalkan bertekad untuk membebaskan semua kepentingan pribadi atau golongan. Dengan cara seperti ini katanya, justru membuat lebih mudah dalam melakukan kontrol pemerintah, karena keterlibatan masyarakat akan lebih besar dan akan lebih kritis.

“TIdak ada yang perlu dirahasiakan. Bagi kami tidak ada yang rahasia. Hal semacam ini, silahkan dilakukan di ibukota Provinsi. Beranikah mereka melakukan itu. Supaya jangan ada image, antara Bupati dan DPRD, main mata dalam persoalan penganggaran APBD,” tuturnya.

Abdullah mengakui, dengan cara yang dilakukan saat ini, justru membuktikan bahwa antara pemerintah dan masyarakat mempunyai peran yang sama, khususnya dalam persoalan pembangunan daerah. Dengan membuka semua hal yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan, justru akan mempermudah untuk mewujudkannya. Sehingga, tidak hanya kejaksaan, inspektorat atau pihak kepolisian yang mengawasi penyelewengan dari realisasi anggaran, tetapi juga telah melibatkan masyarakat secara luas.

“Alhamdulillah, sejak APBD dibahas sampai sekarang, semua berjalan lancar. Masyarakat mulai sadar, bahwa apa yang kami lakukan, semata-mata bukan untuk kepentingan kelompok dan anggota DPRD, tetapi untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (Supriyono)

Sumber : pbhrsulteng.org : 22 Februari 2008

Pengusutan Dugaan Korupsi Bupati Tolitoli Dihentikan

Kapanlagi.com - Setelah lebih dua tahun melakukan pengusutan, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah (Sulteng) akhirnya memutuskan penghentian proses penyelidikan kasus dugaan korupsi dana operasional bernilai miliaran rupiah yang melibatkan Bupati Tolitoli, Drs HM Ma`ruf Bantilan MM.

"Penghentian proses penyelidikan itu disebabkan tim pemeriksa dari Kejati Sulteng tidak menemukan bukti kuat terkait unsur-unsur yang memenuhi kualifikasi tindak pidana korupsi ataupun pelanggaran hukum lainnya, " ungkap Kajati Sulteng Burhanuddin Hamid SH di Palu, Sabtu.

Karena alasan tersebut, ujarnya, pihaknya memutuskan untuk menghentikan proses penyelidikan terhadap kasus Bupati Ma`ruf Bantilan.

Akan tetapi, katanya, apabila di kemudian hari pihaknya menemukan data atau fakta baru adanya unsur-unsur tindak pidana korupsi, kejaksaan setempat akan memproses kembali kasus ini dan meneruskannya sampai ke pengadilan.

Kasus dugaan korupsi dana operasional Bupati Tolitoli tahun anggaran 2004-2005 beberapa waktu lalu pernah diekspos di Kejaksaan Agung. Hasilnya, diserahkan kembali ke Kejati Sulteng untuk mendalaminya.

"Namun setelah dikaji (tim pemeriksa dari Kejati), akhirnya kasus ini dihentikan proses penyelidikannya karena tidak cukup bukti," kata dia.

Seorang jaksa senior di Kejati Sulteng kepada ANTARA sebelumnya, menyatakan tim pemeriksa kesulitan membuktikan kalau perbuatan yang dilakukan Bupati Ma`ruf Bantilan dalam menggunakan dana operasional melebihi plafon anggaran yang ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No.109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah merupakan perbuatan korupsi.

Masalahnya, kata dia, sekalipun penggunaan dana operasional oleh Bupati melebihi plafon yang ditetapkan dalam PP 109/2000, akan tetapi didasarkan pada pengalokasian melalui APBD Kabupaten Tolitoli yang sudah ditetapkan oleh DPRD setempat dan juga sebelumnya telah diasistensi oleh Gubernur ketika itu.

"Unsur niat dan melawan hukumnya sulit dibuktikan, karena penggunaan dana operasional itu memiliki landasan yang kuat," kata dia.

Jaksa ini menambahkan, kalau Bupati Ma`ruf Bantilan diproses sampai ke pengadilan, bisa jadi kasusnya tersebut berakhir dengan putusan bebas karena tidak cukup bukti.

"Logikanya begini. Kalau dia (Ma`ruf Bantilan) diproses, maka seluruh anggota dewan yang menetapkan APBD dan Gubernur yang memberikan persetujuan saat asistensi hasil sidang anggaran dewan sebelum disahkan harus diproses juga," tuturnya.

Apabila kasus ini diusut, sambungnya, berarti APBD Tolitoli tahun 2004-2005 yang telah dilaksanakan batal demi hukum karena melanggar peraturan pemerintah.

Masalah dugaan korupsi dana operasional oleh Bupati Tolitoli ini menjadi polemik panjang di tengah masyarakat setempat. Bahkan kantor Kejari Tolitoli dan Kejati Sulteng seringkali "digoyang" aksi unjuk rasa oleh massa berbagai elemen yang diduga digerakkan lawan-lawan politik Ma`ruf Bantilan karena tidak puas dengan hasil pilkada dua tahun lalu. (*/boo)

Sumber :kapanlagi.com : 29 Desember 2007

Kejari Poso Kesulitan Proses Korupsi Dana Recovery

Kapanlagi.com - Kejaksaan Negeri Poso, Sulawesi Tengah kesulitan memproses dugaan korupsi dana recovery untuk pemulihan kondisi perekonomian masyarakat di daerah itu pasca konflik, meskipun di masyarakat setempat beredar kabar adanya penyimpangan dalam pengelolaan dana itu.

"Masalahnya kami belum memiliki bukti-bukti akurat mengenai dugaan penyimpangan tersebut," kata Kasi Intelijen Kejari Poso, Denny Zulkarnain di Poso, Rabu.

Pemerintah pusat pada 2006 memberikan dana dekonsentrasi senilai Rp58 miliar untuk memulihkan kondisi perekonomian masyarakat korban kerusuhan di Poso.

Dana untuk membantu penyediaan infrastruktur, meningkatkan kapasitas kelembagaan institusi masyarakat serta untuk modal usaha itu yang mulai disalurkan pada awal 2007.

Namun, banyak warga korban kerusuhan Poso diduga tidak mendapatkan dana tersebut, sementara sebagian lagi hanya menerima sebagian.

Menurut Denny Zulkarnain, aparat penegak hukum di Poso sejak beberapa bulan terakhir sudah melakukan penyelidikan terhadap penyaluran dan penggunaan dana recovery tersebut, namun sampai sekarang belum ada satu pun kasus yang diproses sampai ke pengadilan.

"Dalam soal ini (pengusutan penyalahgunaan bantuan dana recovery) kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari kepolisian," katanya.

Ia menyebutkan pada November lalu Polres Poso sudah menetapkan DM (ketua Koperasi Poso Bersatu) sebagai tersangka kasus penyalahgunaan dana recovery.

Namun, menurut dia, kasus tersebut hingga kini belum dilimpahkan ke kejaksaan, karena kemungkinan alat buktinya kurang lengkap.

Sebanyak 57 koperasi di Kabupaten Poso pada 2007 menerima bantuan modal usaha melalui dana recovery dengan total plafon Rp2,22 miliar.

Ia berharap masyarakat bersedia melaporkan apabila mengetahui ada indikasi korupsi dalam penyaluran dana recovery itu. "Apabila datanya akurat, akan segera kami proses," katanya. (*/cax)

Sumber : kapanlagi.com : 05 Desember 2007

Kejaksaan di Sulteng Lemah Usut Kasus Korupsi

Kapanlagi.com - Kinerja jajaran kejaksaan di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dinilai lemah dalam mengusut kasus korupsi, padahal perbuatan melawan hukum tersebut terus berlangsung di berbagai instansi pemerintah, baik yang ada di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota setempat.

"Kami minta semua kasus korupsi di daerah ini dituntaskan dan para pelakunya segera diseret sampai ke pengadilan," kata Kuswandi, ketika memimpin aksi unjuk rasa ratusan masa gabungan di halaman Kantor Kejati Sulteng di Palu, Senin.

Menurutnya, berlarutnya pemeriksaan kasus dugaan korupsi oleh aparat kejaksaan di Sulteng menunjukkan bahwa kinerja lembaga ini lemah.

"Ini menunjukkan belum optimalnya kualitas pelayanan hukum yang sedang berlangsung di Sulteng selama ini," katanya.

Kuswandi mencontohkan dugaan korupsi tentang proyek pengadaan kapal "Super Jet" bernilai miliaran rupiah di Kabupaten Morowali yang saat ini terkesan "dipetieskan", padahal pelaporannya sudah disampaikan berbagai elemen masyarakat ke kejaksaan sejak awal tahun 2007.

"Apakah aparat juga sudah disuap oleh koruptor sehingga enggan menuntaskan kasus ini," tuturnya dalam aksi tersebut.

Aksi yang berlangsung tertib dengan kawalan ratusan petugas dari Polresta Palu itu, juga menyerukan untuk segera mendesak kasus Pilkada Morowali yang berlangsung 5 November lalu.

"Hasil Pilkada itu tidak sah karena terdapat pemilih yang sebenarnya tak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap," kata Kuswandi yang mengaku heran sikap lembaga penyelenggaraan pilkada di tingkat atas yang sampai saat ini belum bertindak.

Ketika menerima para demonstran Kasi Ekonomi dan Keuangan pada Asintel Kejati Sulteng, Rusdia Tandilinting, mengatakan pihaknya selama ini memang sudah mendengar kabar soal adanya kasus korupsi dari seluruh wilayah Sulteng, termasuk di Kabupaten Morowali.

"Tapi secara resmi kami belum menerima laporannya, sehingga kami belum bisa menindaklanjuti kasusnya," ujarnya di hadapan para pengunjuk rasa.

Ia juga mengatakan, lembaga kejaksaan di Sulteng selama ini terus berupaya menjaring seluruh data-data kasus korupsi yang belum dilaporkan secara resmi tersebut.

"Kami selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin melaporkan kasus dugaan korupsi, tapi caranya harus santun dan tidak anarkis," kata Tandilinting.

Tandilinting menambahkan, pihaknya sudah memiliki komitmen untuk menyeret siapa saja yang terkait kasus korupsi di daerah ini, tapi pengusutannya membutuhkan waktu.

"Intinya, semua koruptor adalah musuh kita bersama karena merugikan negara dan rakyat," kata dia.

Sementara itu, sumber di Kejati Sulteng menyebutkan cukup banyak kasus dugaan korupsi yang "menggantung" atau belum diselesaikan para jaksa di daerah, seperti kasus pengadaan ratusan TV sekolah melalui proyek Block Grant yang dikelola Dinas Dikjar Sulteng dan kasus penggunaan dana reboisasi pada proyek hutan tanaman industri di Kabupaten Banggai.

Lainnya, kasus korupsi dana PPK (Proyek Pengembangan Kecamatan) di Kabupaten Banggai Kepulauan yang dibiayai oleh Bank Dunia, serta sejumlah kasus korupsi yang melibatkan para pejabat daerah dan anggota dewan.

"Kasus-kasus tersebut bahkan ada yang sudah lebih empat tahun mengendap, namun proses penyelidikannya terhenti di tengah jalan," kata sumber yang seorang jaksa, dan menambahkan salah satu penyebabnya karena kekurangan tenaga jaksa dibanding perkara yang mesti diusut. (*/cax)

Sumber : kapanlagi.com Senin, 03 Desember 2007

Usut Tuntas Dugaan Korupsi APBD DPRD Propinsi Sulteng

Sabtu, 29 September 2007 Palu--Langkah pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tengah untuk membongkar dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi tahun 1999-2004, patut diapresiasi oleh semua pihak.

Dikarenakan langkah tersebut sebagai sebuah langkah maju bagi upaya pemberatasan korupsi. Sekaligus menepis anggapan publik tentang buruknya penegakan hokum. Mengingat selama ini dalam pengungkapan dugaan korupsi, pihak Kejati terkesan lambat dan cenderung hanya menunggu bola.

Seperti diketahui dugaan korupsi APBD yang terjadi dibeberapa tempat, selain pelanggaran PP 110 tahun 2000, terdapat modus lain berkaitan dengan korupsi anggaran yaitu modus penggelembungan anggaran (mark up), duplikasi anggaran, anggaran fiktif dan proyek daerah yang tidak melalui proses tender (penunjukan langsung).

Ironisnya, upaya pengungkapan dugaan korupsi APBD mendapat resistensi dari kalangan anggota dewan. Seperti diketahui bahwa DPR RI melalui Komisi III meminta agar Mahkamah Agung membuat surat edaran agar para hakim menolak perkara yang menggunakan Peraturan Pemerintah Nomor 110 Tahun 2000.

Seharusnya DPR justru mendorong agar Mahkamah Agung (MA) bertindak tegas dan tidak diskriminatif terhadap siapa pun yang terlibat dalam perkara korupsi itu. Dan bukan sebaliknya justru meminta menghentikan proses hukum yang sedang berjalan.

Olehnya, Kejati sebagai salah satu institusi penegakan hokum, semestinya menjadi motor yang bertindak ekstra cepat atas setiap dugaan penyalagunaan anggaran negara. Sekalipun tanpa menunggu laporan dari masyarakat. Sehingga citra penegakan suparemasi hokum dapat terwujud. Bukan sekedar menjadikan banyak kasus menjadi bertumpuk tanpa ada tindak lanjut secara kongkrit. Sebaliknya, jika tidak, maka komitmen pemerintah untuk menciptakan pemerintahan yang bersih (clean governance) akan menjadi terhambat.

Olehnya, PBHR Sulteng menyatakan sikap, pertama, mendukung sepenuhnya langkah pihak Kejati untuk mengungkap dugaan korupsi berjamaah atas APBD di DPRD Propinsi tahun 1999-2004. Kedua, dalam pengungkapannya pihak kejati tidak bertindak diskriminatif. Ketiga, mendesak pihak kejati agar menghilangkan praktek-praktek mafia peradilan.

Sumber :pbhrsulteng.org Sabtu, 29 September 2007

Festival Togean Digelar Akhir Agustus

Palu, Sulteng - Wisatawan dari empat negara akan menghadiri Festival Togean di Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, pada 27-31 Agustus 2016, untuk menikmati pesona obyek wisata unggulan Sulteng tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah, Siti Norma Mardjanu di Palu, Senin (22/8/2016) menyatakan wisatawan empat negara tersebut yaitu Korea Selatan, Italia, Perancis, Jerman, dan kemungkinan masih akan bertambah dari negara lainnya.

"Itu merupakan informasi dua hari lalu yang kami peroleh konfirmasinya. Kemungkinan akan bertambah jumlah dan negaranya dalam beberapa hari ke depan," katanya.

Menurut Siti Norma Mardjanu, kehadiran wisatawan tersebut selain untuk melihat potensi wisata di Sulawesi Tengah, juga untuk mengikuti kegiatan fun bike dan beberapa kegiatan lainnya yang diselenggarakan oleh panitia.

Pemerintah Sulawesi Tengah telah menyiapkan penjemputan tamu dan wisatawan dari bandar udara menuju hotel dan penginapan yang telah disediakan.

Pemprov Sulteng dan Pemkab Tojo Unauna telah siap menyelenggarakan Festival Togean sebagai bentuk promosi wisata daerah ke dalam dan luar negeri untuk mendongkrak kunjungan wisatawan yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah dari sektor jasa dan kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintah terus membangun koordinasi berbagai pihak terkait pelaksanaan kegiatan Festival Togean untuk menyediakan seluruh akamodasi dan transportasi dalam pelayanan," katanya.

Dalam pra-kegiatan Festival Togean, pemerintah telah menyelenggarakan foto bawah laut dan jelajah wisata pada Juli 2016 yang diikuti oleh 131 fotografer se-Indonesia.

Norma memaparkan, pihaknya juga melaksanakan lomba perahu, lomba tarik tambang di atas perahu, kuliner, atraksi budaya, beladiri tradisional dan fun bike yang saat ini peserta mendaftarkan diri mencapai 350 orang dari target ribuan peserta.

"Ada berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh panitia dan pemerintah, mulai dari pesona budaya, tarian, olahraga, sampai dengan permainan," tambah Siti Norma Mardjanu.

Mahasiswi IAIN Tampilkan Budaya Kaili di Australia

Palu, Sulteng - Mahasiswi pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Fadilah Muhsen Alkhatiri, akan menampilkan salah satu instrumen budaya Kaili di Australia.

Penampilan itu sekaitan dengan terpilihnya Fadilah Muhsen Alkhatiri sebagai salah satu perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah ke Australia dalam program pertukaran pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Di Australia saya akan menampilkan budaya Kaili sesuai dengan apa yang telah saya tampilkan saat seleksi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai perpanjangan tangan Kemenpora," ungkap Fadilah Muhsen Alkhatiri kepada Antara di Palu, Rabu.

Fadilah akan berangkat bersama rombongan dari Pemprov Sulteng menuju Adelaide, Australia Selatan pada September 2016.

Ia akan berada di Adelaide selama kurang lebih dua bulan. di kota tersebut. Di kota ini, ia akan memainkan alat musik Lalove yakni alat musik sejenis suling dengan nada tertentu.

"Di Australia saya akan ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan budaya Indonesia, salah satunya alat musik Lalove dan cara memainkannya," urainya.

Fadilah terpilih untuk mewakili Indonesia dan Sulawesi Tengah ke Australia setelah mengalahkan puluhan pesaingnya lewat berbagai tahapan seleksi yang dilakukan oleh Kemenpora dan Porna Caraka Muda Indonesia.

Ratusan Wisman Kunjungi Rumat Adat "Sou Raja"

Palu, Sulteng - Sebanyak 147 wisatawan mancanegara berkunjung ke rumah adat Suku Kaili Banua Oge atau "Sou Raja" di Kelurahan Lere Kota Palu, saat puncak Gerahana Matahari Total (GMT) 2016, Rabu.

Pada kesempatan itu, mereka juga dipertontonkan dengan karnaval budaya yang digelar tepat di bawah Jembatan Palu IV.

Seorang turis asal Los Angeles, Jason mengaku sangat dihormati dengan tampilan budaya tersebut. Menurut dia, selain warganya yang ramah, pemandangan alam Kota Palu juga sangat indah.

"Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama melihat daerah ini, tapi kami dibatasi oleh jadwal. Saya suka di sini panorama alamnya indah dan masyarakatnya juga baik dan ramah," katanya dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.

Menurut dia, dari karnaval budaya yang ditampilkan, sekilas dapat dilihat begitu banyak corak budaya yang ada, tentunya tidak cukup dalam satu hari untuk mengenal semuanya.

Dalam rangka menyaksikan GMT, Jason mengaku datang bersama empat anggota keluarganya.

"Tapi saya akan balik lagi ke sini untuk melakukan perjalanan wisata secara pribadi," tambahnya.

Turis lainnya asal Jerman, Stefany mengatakan, Kota Palu memiliki tata letak yang indah karena dikelilingi perbukitan yang hijau dan laut yang luas.

"Ini sangat mempesona, I love here. Setelah ini saya akan datang lagi ke Palu walaupun tanpa ada momen seperti ini," ungkap wanita yang bekerja di salah satu biro perjalanan di Jerman itu.

Terkait itu, Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kota Palu, Herlina mengatakan, karnaval budaya yang ditampilakan itu berasal dari berbagai komunitas yang dibawakan para Randa Kabilasa, Koko Cici, Putri Batik dan Duta Batik Remaja dengan total 100 orang.

"Para peserta kernaval ini sudah melakukan persiapan selama dua bulan sebelumnya. Kostum yang digunakan sudah dibuat setengah tahun yang lalu dan menghabiskan dana puluhan juta, namun ada juga yang menyiapkan sendiri," katanya.

Rangkaian kegiatan yang dijadwalkan Dinas Parekraf pada momen GMT tersebut dimulai pukul 14.00 Wita di Banua Oge Sou Raja dilanjutkan dengan foto bersama di jembatan Palu IV dan ditutup pada pukul 16.30 Wita.

KNPI Tolak Budaya Asing Dipertontonkan pada GMT

Palu, Sulteng - Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Nurul Haq menolak adanya budaya asing yang akan dipertontonkan di lokasi festival Gerhana Matahari Total (GMT), 9 Maret besok.

"Pada dasarnya KNPI Sulteng sangat mendukung jika kegiatan dalam rangka promosi seni budaya lokal bahkan kami menganjurkan itu dilaksanakan. Tapi kalau budaya orang luar yang dibawa masuk dan menjadi tontonan masyarakat, itu yang kami tolak," ujar Muhammad Nurul Haq di Palu, Ahad (6/3).

Ia juga menanggapi terkait protes sejumlah warga Kota Palu dan Kabupaten Sigi, terkait privatisasi lokasi pengamatan GMT di Desa Ngatabaru, yang harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mengakses ke lokasi tersebut. "Kami mensinyalir lokasi itu akan dijadikan area khusus, di mana budaya-budaya asing akan dipertontonkan kepada masyarakat sekitar," ujarnya.

Menurut Nurul Haq, saat ini wisatawanasing yang masuk ke Ngatabaru sudah hampir 3.000 orang. Informasi yang diperoleh KNPI Sulteng dari rundown kegiatannya ada pertunjukan DJ dan music party. Sehingga KNPI Sulteng meminta penyelenggaranya untuk memperjelas konten acara.

"Kalau hanya musik-musik itu kenapa harus mahal masuk. Atau mungkin itu strategi agar orang umum tidak boleh masuk. Kalau kita lihat party-party gerhana di luar negeri, kalau itu dimasukkan ke Palu itu sangat bertentangan dengan budaya kita," ujar Nurul Haq.

Indikasi lain mengapa lokasi itu menjadi sangat privasi adalah saat sejumlah anggota DPRD Sulteng tidak dibolehkan masuk. Menurut Nurul Haq, alasannya karena di lokasi itu ada acara khusus bagi para bule.

"Kalau betul ini dilaksanakamn oleh lembaga swasta, bagaimana posisi pemerintah. Soal izinnya bagaimana. Itu kan seperti negara sendiri," katanya.

Parahnya, KNPI Sulteng mendapatkan informasi, saat ini sekira 300 orang bule dari komunitas Hippie Amerika sudah berada di Ngatabaru. Hippie adalah sebuah kultur yang muncul di Amerika Serikat sekitar tahun pertengahan 1960-an.

Mereka biasa mendengarkan musik psychedelic rock. Terkadang para hippie menggunaan narkoba dan ganja yang dapat memberikan mereka efek terbang sehingga merangsang imajinasi.

"Kami menduga komunitas Hippie itu sudah masuk kesana. Indikasi yang sudah terlihat, bule-bule masuk ke tengah masyarakat dengan menenteng botol miras," ucapnya.

KNPI Sulteng pun mendesak pemerintah mengawasi semua acara-acara yang dilaksanakan oleh pelaksana di GMT. Pemerintah diminta mengawasi seluruh acara yang berkaitan dengan GMT di Sulawesi Tengah guna menjaga masuknya paham-paham negatif dari luar dengan mendompleng momen GMT.

"Jangan sampai daerah kita terjadi bencana hanya gara-gara budaya-budaya yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat kita dipertontonkan bebas di sana," ujar Nurul Haq.

Festival Gerhana tampilkan seni budaya Sulawesi

Palu, Sulteng - Festival seni dan budaya yang akan digelar oleh Hasan Bahasuan Institute (HBI) Palu menyambut peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) pada 7-11 Maret 2016 fokus pada penyajian seni budaya dari berbagai daerah di Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah.

Direktur HBI Palu Zulfikar Usman di Palu, Senin mengemukakan, pada acara pembukaan festival, 7 Maret 2016, pihaknya akan menampilkan tari kolosal Raigo Dance dari Kabupaten Sigi.

"Raigo dance ini kami tampilkan secara kolosal dengan melibatkan 40 orang penari ditambah 10-an orang pemain musiknya," ujar Zulfikar.

HBI yang merupakan mitra lokal PT. Interstellar, Pte.Ltd -- perusahaan event organizer internasional yang berpusat di Singapura -- itu juga akan menampilkan tari-tarian dari Tanah Toraja dan Bone, Sulawesi Selatan serta dari Sulawesi Barat.

"Beberapa kelompok etnis besar di Indonesia yang ada di Sulawesi Tengah seperti Batak dan Jawa juga akan mengambil bagian dalam festival ini. Namun fokus kita adalah seni budaya Sulawesi," ujarnya.

Festival ini juga akan menampilkan seni budaya dari luar negeri seperti Korea Selatan yang akan memainkan Fire Dance dan tim dari Australia akan menampilkan Australian Dance.

Festival yang akan berlangsung selama lima hari (7-11 Maret) itu akan dipusatkan di perbukitan Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi, yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat selama 20 menit dari Kota Palu atau 15 menit dari bandar Udara Mutiara Palu.

Peristiwa gerhana matahari total akan terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016 sekitar pukul 08.35 WITA. Gerhana ini diperkirakan akan disaksikan sekitar 3.000 wisatawan asing dan 2.000 wisatawan domestik langsung dari puncak perbukitan Desa Ngatabaru.

HBI dan Interstellar sedang membangun sebuah kawasan pengamatan dan festival di atas lahan sekitar lima hektare di Desa Ngatabaru tersebut yang terdiri atas sejumlah bangunan yang seluruhnya menggunakan bambu dan atap daun sagu.

Sebelum festival itu, HBI dan Interstellar sejak setahun terakhir telah aktif menggelar sejumlah kegiatan sosial bagi masyarakat di Desa Ngatabaru dan sekitarnya seperti kursus bahasa Inggris secara gratis, pelayanan kesehatan dan pengobatan massal, ceramah psikologi dan sosialisasi masa gerhana matahari.

"Kami juga akan menanam 1.000 pohon di kawasan ini dengan bibit tanaman endemik setempat sebagai monumen hidup bahwa di Ngatabaru pernah ada kegiatan besar digelar, terkait gerhana matahari total," ujarnya.

Parade Perahu Hias di Festival Bajo Pasakayyang Catat Rekor MURI

Morowali, Sulteng - Festival Bajo Pasakayyang di Morowali semakin semarak dengan acara parade perahu hias. Parade 1.749 perahu hias itu pun masuk rekor MURI.

Selain upacara adat Ngangaidah atau sedekah laut Suku Bajo, Festival Bajo Pasakayyang yang diselenggarakan untuk kedua kalinya pada Sabtu lalu (21/11) kian meriah dengan hadirnya ribuan perahu hias. Datang dari 26 desa di sekitar Kaleroang, masyarakat sangat antusias untuk ikut serta dalam parade.

"Tercatat 1.749 perahu hias dalam festival ini. MURI mencatatnya sebagai sebuah rekor parade hias terbanyak," ujar perwakilan MURI, Awan Raharjo kepada detikTravel, Sabtu (21/11/2015)

Perahu hias pun tampak warna-warni dan berbeda satu sama lain. Ada yang dihias dengan kertas warna dan poster, serta hiasan hasil alam lokal seperti ikan asin dan lainnya. Ada juga yang membawa Nagabulo atau terompet sangkakala Suku Bajo, dimana suaranya bergema selama acara.

Acara parade perahu hias yang jumlah pesertanya mencapai ribuan tersebut itu pun tercatat sebagai rekor pertama oleh pihak MURI. Tampak juga kearifan dan budaya Suku Bajo dalam parade yang notabene berasal dari negara Barat.

"Harapannya ini bisa menjadi motivasi bagi daerah pesisir pantai untuk memunculkan hal sama atau baru," harap Awan.

Festival Bajo Pasakayyang pun turut diramaikan dengan karnaval pakaian adat, festival kuliner, hingga pertunjukan drama serta taudziah dan ditutup oleh penampilan artis ibukota. Seluruh masyarakat Desa Kaleroang pun larut dalam kegembiraan.

Pekan Budaya Sulawesi Tengah ke-14 Digelar

Parigi, Sulteng - Pekan budaya Sulawesi Tengah ke-14 digelar sebagai bagian dari kegiatan Sail Tomini 2015 yang dipusatkan di Pantai Kayubura, Desa Pelawa Baru, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Minggu.

Pekan budaya kali ini mengusung tema tentang laut yang menjadi sumber inspirasi kehidupan. Diikuti oleh 12 kabupaten dan satu kota, pekan budaya berlangsung hingga puncak pelaksanaan Sail Tomini, 19 September 2015.

Panas matahari yang menyengat di pantai Kayubura pun tidak menyurutkan antusias para kontingen dari kabupaten/kota mengikuti pembukaan yang lokasinya bersebelahan dengan panggung utama Sail Tomini.

Selain menyajikan berbagai keunggulan budaya dan seni daerah masing-masing, pekan budaya juga menampilkan berbagai potensi wisata.

Selain dari Sulawesi Tengah, sejumlah provinsi lain juga ikut berkontribusi dalam memamerkan produk keunggulan lokalnya seperti Gorontalo, Sulawesi Barat dan Kalimantan Timur.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sudarto berharap pekan budaya dapat mendorong pariwisata di Sulawesi Tengah menjadi unggulan industri wisata di kawasan timur Indonesia.

Acara pekan budaya dibuka dengan tari Gavu Bukekatuvu (Laut Biru Sumber Kehidupan) dengan menampilkan 70 penari dari siswa-siswi SMA di Kabupaten Parigi Moutong.

Sail Tomini 2015 akan Diluncurkan di Jakarta

Palu, Sulteng - Perhelatan bahari berskala internasional, Sail Tomini 2015 dan Festival Boalemo, akan diluncurkan secara resmi di mal Epiwalk Hotel Epicentrum, Kuningan, Jakarta oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani pada Selasa, 5 Mei 2015.

"Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Sail Tomini 2015 itu sudah siap menggelar dan menyukseskan acara peluncuran tersebut," kata Wakil Gubernur Sulteng H. Soedarto saat memimpin rapat koordinasi persiapan penyelenggaraan acara peluncuran tersebut di ruang kerjanya di Palu, Rabu petang.

Puncak acara Sail Tomini sendiri akan dilaksanakan di Pantai Pangi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada 19 September 2015, sedangkan Festival Boalemo digelar di Gorontalo sebagai kegiatan awal Sail Tomini.

Ia memerintahkan seluruh panitia Sail Tomini 2015 yang terkait dengan peluncuran itu mempersiapkan semua acara secara matang, dan meminta jajaran Pemprov Sulteng dan Pemkab Parigi Moutong memberikan dukungan dan fasilitas untuk suksesnya acara tersebut.

Dalam acara yang akan dimulai pukul 09.00 WIB tersebut, duta-duta seni dari Provinsi Sulawesi tengah akan menyajikan tari-tarian khas daerah untuk menyambut dan menghibur para tamu dan pengunjung.

Duta seni Sulteng akan menampilkan tari Pontanu untuk menyambut tamu-tamu, sedangkan pada acara hiburan, mereka akan menyajikan tari tradisional Yele Fula dan Vose Sakaya sementara duta seni Gorontalo menampilkan tari Saronde.

Acara peluncuran ini juga akan ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perangko Sail Tomini 2015 antara Bupati Parigi Moutong Syamsurizal Tombolotutu dengan Dirut PT Pos.

Pemerintah daerah juga akan memutar film profil daerah Sulawesi Tengah dan Gorontalo serta peragaan busana khas daerah serta pameran potensi daerah.

Peluncuran Sail Tomini 2015 dan Festival Boalemo itu akan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Gimba dari Sulteng dan Polopalo dari Gorontalo oleh Menko PMK Puan Maharani bersama para menteri dan gubernur.

Karnaval Budaya Sulteng 2015 Jadi Ajang Pelestarian Budaya

Palu, Sulteng - Karnaval Budaya Sulawesi Tengah (KBS) 2015, sebagai rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulawesi Tengah ke-51 berlangsung meriah di Palu, Jumat (10/4/2015). Ribuan warga yang menyaksikan menyemut di lokasi kegiatan. Adanya kegiatan ini pun menjadi hiburan akhir pekan tersendiri bagi seluruh warga Palu yang menyaksikan.

KBS yang merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulteng itu, diikuti oleh perwakilan 12 kabupaten dan 1 kota di Sulteng.

Selain itu, turut serta juga pelbagai komunitas. Seperti komunitas Jawa dan Bali. Bahkan, komunitas warga Tiong Hoa dan India tampak pula dalam KBS yang dipusatkan di Jalan Samratulangi, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur tersebut.

Seluruh peserta yang ikut dari 12 kabupaten dan 1 kota menampilkan beragam busana modern, tarian kontenporer, tarian daerah, marching band, dan pelbagai tampilan lainnya.

Sedangkan komunitas Jawa menampilkan Reog Ponorogo, Bali menampilkan Tarian Kecak, Tiong Hoa menampilkan Barongsai, dan India menampilkan Tarian Dewa Kerisna.

Adanya penampilan seruh seluruh peserta KBS tersebut, membuat warga yang menyaksikan terkesima dan memanfaatkan momen meriah tersebut untuk berfoto-foto dan berselfie riah bersama keluarga dan rekan-rekannya.

"KBS kali ini sangat menarik, itung-itung jadi tontonan akhir pekan bersama keluarga. Sekaligus juga sebagai tempat foto-foto bersama," kata salah satu warga Nurainun saat ditemui di lokasi KBS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tengah, Ardiansyah Lamasitudju mengatakan, KBS digelar sebagai bentuk pelestarian kebudayaan yang beragam di Indonesia, khsusnya di Sulteng.

"Dengan melestarikan kebudayaan, maka kita turut pula menjaga keutuhan bangsa dan NKRI," kata Ardiansyah.

Kejari Banggai Siapkan 40 Baju Tahanan

Pihak Kejaksaan Negeri Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah telah memesan 40 baju tahanan yang disiapkan terhadap 40 anggota DPRD Banggai. Ini menyusul ditemukannya data dugaan korupsi dana purnabakti yang dilakukan seluruh anggota DPRD tersebut. Dalam waktu dekat ini pihak Kejari Banggai segera menahan 40 anggota DPRD, baik yang masih terpilih pada Pemilu April lalu maupun yang tidak.

Kepala Kejaksaan Negeri Banggai di Luwuk, ibu kota kabupaten Banggai, Rabu (22/9) menyatakan, beberapa hari lalu dirinya telah memesan 40 baju tahanan. Menurutnya, dalam dalam tiga hari ini baju tersebut sudah ada di pihak Kejari Banggai. "Pokoknya kita sudah pesan 40 baju tahanan untuk mereka," katanya sambil tertawa.

Saat ini pihak Kejari Banggai telah memeriksa anggota Dewan, termasuk Ketua DPRD Banggai Djar,un Sibay. Dalam pemeriksaan tersebut, kata Martono, pihaknya kembali menemukan pelanggaran baru, yaitu penyimpangan dana asuransi. Dari 40 orang anggota Dewan yang diperiksa hanya dua yang tidak terlibat dana penyimpangan asuransi yaitu Basri Sono dan Rifai Dg Matorang. "Dua anggota DPRD ini menolak saat ditawari dana asuransi," ujarnya.

Sementara itu anggota DPRD Banggai yang dihubungi Nasrun Hipan menolak pihaknya melakukan korupsi. Menurutnya, dana purnabakti yang ia sebut pesangon dan dana asuransi perkumpulan pejabat itu, sah dan tidak melanggar aturan. "Dana itu ada karena persetujuan bersama antara legislatif dan eksekutif sesuai peraturan daerah," Jelasnya.

Sumber : tempointeraktif.com : 22 September 2004

126 Dokar Meriahkan Pembukaan Festival Teluk Palu

Palu, Sulteng - Sebanyak 126 dokar hias dan berbagai pawai kesenian lainnya memeriahkan pembukaan Festival Teluk Palu 2014 di Pantai Talise, Kota Palu, Sabtu.

Parade dokar hias yang mewakili seluruh kelurahan, kecamatan, dan sejumlah instansi itu semula berpawai di pinggiran Teluk Palu hingga akhirnya sampai ke lokasi pembukaan.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sudarto, Wali Kota Palu Rusdy Mastura, dan Wakil Wali Kota Palu Mulhanan Tombolotutu menjadi penumpang dokar yang ditarik kuda itu.

Para pejabat itu kemudian turun dan menyaksikan berbagai atraksi kesenian lainnya, seperti reog, kuda lumping, marching band, dan peragaan busana.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Rosdiana Lalusu, mengatakan Festival Teluk Palu itu berlangsung selama tiga hari mulai 27 September 2014.

Di ajang tersebut ditampilkan berbagai kegiatan antara lain lomba tari kreasi baru, lomba dan pameran foto, pemilihan putra-putri Teluk Palu, lomba perahu tradisional, lomba rebana di atas dokar serta lomba renang di Teluk Palu.

Selain itu, setiap perwakilan kelurahan di Kota Palu atau peserta lainnya juga akan menampilkan kuliner dan jajanan khas daerah agar dapat diperkenalkan kepada pengunjung Festival Teluk Palu.

Selain diikuti peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Tengah, ajang wisata itu juga dimeriahkan oleh tamu undangan dari provinsi tetangga.

Cintai Kebudayaan Daerah Melalui Pekan Budaya

Sigi, Sulteng - Pekan Budaya dan Pariwisata Sulawesi Tengah, kembali digelar, Sabtu (21/6/2014). Kegiatan yang sudah menjadi agenda rutin Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng ini, tercatat sebagai Pekan Budaya XIII dan sebagai tuan rumah, terpilihlah Kabupaten Sigi.

Pantauan di lokasi pembukaan yang dipusatkan di Desa Bora, Kecamatan Sigi Biromaru, Pekan Budaya ini diikuti 13 kabupaten dan satu kota yang ada di Sulteng. Sebagai peserta, masing-masing daerah ini datang dengan berbagai kekayaan seni budayanya yang tampak semakin tereksplorasi dengan baik.

Hal ini tampak jelas saat sejumlah peserta dari kabupaten atau setingkat kota melakukan pawai dalam pembukaan yang disaksikan langsung Gubernur Sulteng, perwakilan bupati masing-masing kabupaten dan sejumlah petinggi Sulteng serta kabupaten lainnya yang hadir. Dalam acara ini hadir pula perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Tema yang diangkat dalam Pekan Budaya kali ini yaitu 'Keragaman Budaya Bambu di Sulawesi Tengah'. Menurut Bupati Sigi, Aswadin Randalembah, tema tersebut tidak lain dari bambu yang merupakan bagian dari mitos masyarakat di Sigi dan Sulteng. Di antaranya, tempat munculnya penjelmaan 'Tomanuru' yang dianggap sebagai jelmaan dewa.

Selain itu, beberapa upacara adat masyarakat di Sigi, seperti Balia banyak menggunakan bambu misalnya untuk pembuatan lalove dan properti upacara Balia pada zaman kolonial silam.

"Salah satunya yang paling banyak berkembang yaitu orkestra musik bambu yang sudah terlihat diajarkan dan dimainkan disekolah-sekolah umum maupun sekolah misionaris," imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Sulteng, Longki Djanggola mengatakan, dalam Pekan Budaya ini tidak hanya mempertunjukan budaya dan pariwisata semata, namun tujuan kegiatan ini juga untuk meningkatkan kecintaan akan nilai budaya daerah masing-masing, serta meningkatkan profesionalitas seniman.

"Termasuk juga masing-masing kabupaten/kota se-Sulteng, mempererat jalinan talisilaturahmi seraya mempromosikan kebudayaan dan pariwisata yang dimiliki," tandasnya.

Pekan Budaya XIII ini, dirangkaikan juga dalam Hari Ulang Tahun (HUT) yang akan berakhir 24 Juni 2014 mendatang.

Generasi Penenun Sarung Donggala semakin Langka

Palu, Sulteng - Generasi baru penenun sarung tenun Donggala, Sulawesi Tengah, semakin langka sehingga Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Tengah kesulitan mencari tenaga untuk dibekali keterampilan warisan budaya tersebut.

"Kalau instruktur sudah ada beberapa orang yang siap. Hanya saja kita terkendala peserta untuk diberikan keterampilan," kata Nur Ali, seorang instruktur di pusat pelatihan tenun rumah pintar di Palu, Jumat.

Saat ini rumah pintar yang diresmikan Wakil Presiden Boediono pada Desember 2013 tersebut baru memiliki dua orang peserta yang setiap hari diberikan penguatan keterampilan menenun.

Keduanya adalah Lesnur dan Ani, dua ibu rumah tangga dari Desa Watusampu, salah satu desa yang dulunya menjadi pusat tenun Sarung Donggala.

Nur Ali mengatakan Rumah Pintar masih terus mencari generasi baru yang siap untuk diberikan keterampilan menenun karena belakangan ini penenun umumnya dilakoni generasi tua.

"Harapan kami semakin banyak yang bisa menenun maka semakin baik pula kemajuan sarung tenun Donggala ini," katanya.

Dia mengatakan upaya Dekranasda dalam melestarikan dan mengembangkan sarung tenun Donggala merupakan kesempatan bagi generasi baru yang ingin belajar tenun.

Nur Ali sendiri merupakan keluarga yang dibesarkan dari lingkungan penenun sarung Donggala. Ayahnya Hamidan sudah menjadi penenun sejak tahun 1950-an di Jalan Jambu, Kota Palu.

"Sarung tenun Donggala ini selalu pasang surut. Tahun 1980-an sarung Donggala bangkit karena ada dua pengusaha. Tahun 1990-an mulai redup. Sekarang baru mulai bangkit lagi," katanya.

Ketua Dekranasda Sulawesi Tengah Zalzulmida Djanggola mengatakan dirinya berharap sarung tenun Donggala yang selama ini dikenal sebagai warisan kebudayaan masyarakat terus eksis dan berkembang.

Zalzulmida mengatakan Dekranasda berharap sarung Donggala menjadi sebuah industri yang pesat di tengah hebatnya industri tekstil saat ini.

"Sarung Donggala begitu dikenal, tetapi sayangnya belum dilirik sebagai industri yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Dia mengatakan untuk membantu para pengrajin, Dekranasda menyediakan benang khusus yang didatangkan dari pulau Jawa sehingga semakin mempercepat proses pembuatan sarung Donggala karena bahan baku selalu tersedia.

-

Arsip Blog

Recent Posts