Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan

Lestarikan Tradisi Minang lewat Silaturahmi Budaya Nusantara

Surabaya, Jatim - Inilah untuk pertama kalinya digelar acara silaturahmi mempertemukan masyarakat dari berbagai budaya di Tanah Air yang tinggal di Surabaya.

Kegiatan dipimpin langsung Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror, Tuanku Maharajo Sakti Sultan Haji Muhammad Taufik Thaib, itu digelar di Rumah Gadang Minangkabau Surabaya, Sabtu malam (22/10/2016).

Beragam kesenian khas Minang disajikan kepada para tamu dari berbagai etnis.

Selain Tari Moya, ada Tari Pasambahan yang cukup unik. Tari yang dibawakan tujuh penari ini diakhiri dengan membagikan daun sirih dan gambir untuk dinikmati para tamu.

Prosesi membagikan daun sirih dan gambir itu diawali oleh Raja Minang dan Ratu, dan bergiliran ke para tamu kehormatan hingga merata ke seluruh tamu.

“Ini sebagai bagian menjaga dan melestarikan tradisi masyarakat Minang,” kata Ketua Panitia Pengarah, Tuanku Besar Pendekar Raja Dr Ir H Gatot Kustyadji MM.

Di puncak acara, para tamu disuguhi peragaan busana pengantin dari berbagai daerah, seperti dari Aceh Gayo, Minang, Bugis Makassar, dan Paes Ageng Yogyakarta.

“Kami berusaha menghadirkan busana dengan bahan sesuai daerah asal. Memang tidak mudah, tetapi ini semata agar para tamu bisa mengetahui wujud asli busana-busana pengantin dari Nusantara yang beragam,” urai Zulfa Mitra dari Sanggar Siti Nurbaya yang mengemas aneka kesenian dari berbagai daerah itu.

Begini Kode "Terapis" Tawarkan Layanan Esek-esek di Spa Plus

SURABAYA - Tidak hanya di bekas lokalisasi, praktik prostitusi terselubung juga marak di tempat-tempat lain, seperti panti pijat tradisional (pitrad) atau spa.

Meski, tidak mudah mengendus bisnis prostitusi di dua tempat itu. Pasalnya, para terapis biasanya tidak langsung memberi layanan plus kepada pelanggan yang datang ke pitrad. Seperti, yang dilakukan terapis di kawasan Gubeng.

Pelanggan pitrad, sebut saja Priyo mengaku, awalnya tidak tahu bila pitrad yang dikunjungi melayani esek-esek. Ia baru mengetahui setelah datang kedua kalinya.

"Pelayanan datang pertama memang tidak berbeda dengan saat datang kedua kalinya," kata Priyo, Kamis (15/9/2016).

Pelanggan langsung diminta buka baju dan celana setelah masuk bilik pelayanan. Pelanggan yang baru pertama datang hanya mendapat pelayanan pijat, dan tidak ditawari layanan plus.

Namun, yang sudah datang dua kali, baru ditawari layanan plus. Biasanya terapis menawari layanan plus setelah memijat sekitar 30 menit.

Pelanggan hanya bayar Rp 175.000 untuk jasa pijat. Pelanggan harus bayar Rp 350.000 bila setuju mendapat layanan plus. Pembayaran tidak langsung ke kasir, tetapi melalui terapis.

Pola pembayaran seperti itu tidak berlaku di spa. Pelanggan langsung bayar ke kasir. Priyo mencontohkan, layanan spa di Genteng. Spa ini tidak memberi layanan sampai persetubuhan. Pelanggan hanya diberi layanan yang biasa disebut HJ (hand job).

Layanan ini hanya sebagai bonus. "Pakai HJ atau tidak, bayarnya tetap Rp 650.000," tambahnya.

Layanan esek-esek di spa benar-benar terselubung. Bahkan, pengelolanya sering tidak tahu bila anak buahnya memberi layanan esek-esek. Pengelola baru tahu setelah polisi atau Satpol PP menggerebek.

Seperti itulah yang dialami Sumarni (53), pengelola pitrad di Jalan Gunungsari, saat digerebek Unit PPA Polrestabes Surabaya pada Selasa (13/9). Praktik di balik panti pijat ini berhasil dibongkar Polrestabes Surabaya, setelah pengamatan dan pemantuan beberapa kali.

Sumarni sontak terkejut melihat beberapa petugas Polrestabes Surabaya datang dan menggeledah satu persatu bilik kamar di panti pijat miliknya. Petugas berhasil menemukan pelanggan yang sedang menikmati layanan plus-plus.

Ia mengaku, tidak tahu bila anak buahnya memberi layanan esek-esek, dan baru tahu saat dimintai keterangan penyidik di Mapolrestabes Surabaya. "Saya sudah 21 tahun mengelola pitrad. Tetapi baru tahu ada pegawai yang memberi layanan plus," ujarnya.

Sumarni hanya mematok tarif Rp 90.000 kepada pelanggan. Tidak semua masuk ke kantongnya. Ia hanya dapat Rp 15.000. Sisanya, untuk terapis sebagai jasa pelayanan pijat.

Tetapi berdasar keterangan penyidik, pitrad itu mematok sampai Rp 250.000 kepada pelanggan, termasuk layanan esek-esek. "Baru sekarang saya tahu kalau pegawai mematok tarif Rp 250.000," paparnya.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, pihaknya selalu menggandeng Pemkot Surabaya untuk mengawasi dan menindak pitrad atau spa.

Termasuk saat menindak tegas pengelola yang terbukti memberi layanan plus.

"Penggerebekan Satreskrim selalu melibatkan pemkot, terutama Satpol PP," ujar Shinto. (M Zainuddin/ Rizki Mahardi)

Sutradara Hollywood Kelahiran Indonesia Angkat Budaya Madura ke Layar Lebar

Surabaya, Jatim - Keberhasilan menembus dunia perfilman Hollywood, dengan beberapa film yang telah dibuatnya, yaitu "Brush with Danger dan Insight", mendorong Livi Zheng untuk membuat film yang mengangkat cerita dari tanah airnya sendiri.

Perempuan kelahiran Blitar, Jawa Timur, 27 tahun lalu ini, tertarik mengangkat budaya balapan Sapi, atau Karapan Sapi di Madura, yang sarat cerita dan nilai budaya.

Melalui film tentang Karapan Sapi ini, Livi ingin menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dan keindahan alamnya ke orang-orang di luar negeri.

“Harus bisa bersaing dengan film Hollywood lainnya, dan saya inginnya lebih memperkenalkan Indonesia, karena Indonesia itu sebenarnya sangat unik dan banyak banget yang menarik dari sini. Bukan hanya saya yang merasa gitu, orang luar pun yang sudah pernah ke Indonesia semuanya bilang gitu, jadi memang bagus banget untuk mengangkat Indonesia di film,” kata Livi Zheng.

Livi mengatakan, memunculkan ide film tentang Karapan Sapi di Madura yang unik dan khas di Hollywood bist menarik minat pasar film di Amerika Serikat.

“Kalau di Amerika untuk film lokal terlalu banyak saingan, jadi banyak banget saingannya, walau pun film lokal, apalagi kita sebagai pendatang, makanya jauh lebih sulit tingkat kesulitannya. Kita harus bikin film yang unik dan gak kalah dengan mereka,” lanjutnya.

Film ini, katanya, akan mengangkat kisah dibalik budaya balapan hewan ternak di Madura, yang diikuti banyak cerita dan fakta yang tidak dapat dipisahkan, seperti perjudian yang bebas dilakukan oleh kelas sosial tertentu. Film ini juga dibumbui aksi laga yang dikemas oleh aktor dan koreografer aksi laga terkenal, Yayan Ruhian.

Yayan yang sempat terlibat dalam beberapa film Hollywood, di antaranya "Star Wars Episode VII: The Force Awakens" mengungkapkan, aksi laga yang akan mewarnai film Karapan Sapi ini akan memasukkan karakter bela diri khas Madura.

“Yang saya tetap antisipasi adalah dalam pembentukan coreo fightingnya, itu pun untuk fightingnya sendiri tetap saya harus menjaga agar karakter fightingnya itu tidak lepas dari karakter beladiri yang ada di Madura,” kata Yayan Ruhian, Koreografi Fighting.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, mengapresiasi niat Livi Zheng yang ingin membuat film berlatar belakang budaya Jawa Timur, khususnya Madura. Melalui film ini diharapkan nilai dan semangat hidup masyarakat Madura bisa dijadikan inspirasi.

“Madura itu adalah salah satu sub kultur di Jawa Timur yang memiliki kekhasan. Di dalam masyarakat Madura banyak semangat-semangat kompetisi, semangat bertahan hidup, yang layak untuk dijadikan inspirasi. Maka itu saya mengapresiasi ketika Livi ingin mengangkat sesuatu yang merupakan bagian dari ikon masyarakat Madura yaitu Karapan Sapi untuk diangkat ke pentas internasional,” kata Saifullah Yusuf, Wakil Gunernur Jawa Timur.

Lebih jauh Saifullah Yusuf berharap, film garapan sutradari Hollywood ini akan dapat memperkenalkan Jawa Timur, khususnya Madura, ke dunia internasional. Melalui film ini, dunia pariwisata Jawa Timur diyakini akan mengalami peningkatan dan kemajuan.

“Harapan saya ini bisa mengangkat nama Jawa Timur, lebih-lebih nanti pada akhirnya adalah sektor pariwisata, karena pariwisata adalah masa depan kita. Kita ini antara Bali dan Yogyakarta, masih dilewati terus, padahal di tengah ini banyak sesuatu yang gak ada di Bali, gak ada di Yogyakarta, termasuk salah satunya Karapan Sapi ini. Jadi dalam jangka panjang sebenarnya ini adalah mengangkat dunia pariwisata kita,” lanjutnya.

Istri Wapres Puji Keunikan Batik Jatim

Surabaya, Jatim - Istri Wakil Presiden RI, Ny. Mufidah Jusuf Kalla, memuji dan menilai batik-batik khas Jawa Timur memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri sehingga berbeda dengan daerah lainnya.

"Sepintas seperti sama, tapi kalau diteliti lebih jauh pasti ada spesifikasi yang berbeda, dan disitulah keunikannya," ujarnya di sela berkunjung ke Galeri Batik Jatim di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi, Senin.

Keunikan lainnya, kata dia, ada di bagian pewarnaannya yang satu dengan lain berbeda, seperti sejumlah batik berwarna mencolok dan batik berwarna dominan tampak anggun.

Selain itu, banderol harga yang dijual juga dinilai beragam, mulai dari Rp75 ribu hingga Rp5 juta sehingga pembeli bisa memilih sesuai kemampuan.

"Jadi pembeli tidak perlu takut karena semua kebutuhan dan kemampuan pembeli sudah tersedia," ucapnya.

Dalam kunjungan tersebut, istri orang nomor dua di Indonesia itu didampingi Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim Nina Soekarwo, sekaligus memborong sejumlah batik dari berbagai macam daerah di 38 kabupaten/kota se-Jatim.

Pada kesempatan itu, Nina Soekarwo tak berhenti mempromosikan batik maupun hasil kerajinan batik Jatim, termasuk jenis dan keistimewaannya.

"Batik, kerajinan dan cenderamata UKM-UKM asal Jatim sangat luar biasa, bahkan belum tentu ada di daerah lain. Pokoknya tidak rugi kalau membawa oleh-oleh kerajinan asal Jatim," kata Bude Karwo, sapaan akrabnya.

Bupati Sampang Divonis Bebas

Surabaya―Bupati Sampang, Fadhilah Budiono, terdakwa kasus korupsi beras OPK rawan pangan untuk keluarga miskin dan pengungsi Sambas, divonis bebas oleh majelis hakim koneksitas Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/1). Vonis yang sama diterima dua terdakwa lainnya, yakni Asyhar, Asisten II Administrasi Pembangunan Sampang dan Mochamad Aminudin, direktur CV Amin Jaya.

Majlis Hakim, menganggap tuduhan jaksa penuntut umum bahwa tindakan terdakwa untuk menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu badan tidak dapat dipenuhi dan tidak dapat dibuktikan. Selain itu, menurut pendapat majelis hakim yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Wimpie Sekewael, salah satu unsur dalam dakwaan ke 2 subsidair tidak dapat dipenuhi dan tidak dapat dibuktikan.

Hakim juga berpendapat dakwaan jaksa, dalam dakwaan satu alternatif satu dan alternatif dua, dakwaan primair dan subsidair juga tidak dapat dibuktikan. Karena itu hakim menyatakan para terdakwa harus dibebaskan dari segala dakwaan tersebut. "Terdakwa satu, dua dan terdakwa tiga dibebaskan dari semua dakwaan. Hak-hak terdakwa dipulihkan," tegas hakim yang disambut tepuk tangan massa pendukung Fadhilah.

Dalam sidang sebelumnya, jaksa menuntut Fadhilah 1 tahun penjara, denda Rp 30 juta subsider 3 bulan kurungan dengan membayar uang pengganti sebesar Rp 367.285.540. Dua terdakwa lainnya dituntut masing 1 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 30 juta. Asyhar subsider 3 bulan dan disuruh membayar uang pengganti sebesar Rp 229.550.465, sedangkan Aminudin, disuruh membayar uang pengganti Rp 321.334.850. Fadhilah dianggap bersalah melanggar pasal 28 UU No. 3/1971, pasal 55 dan pasal 64 KUHP tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kasus ini bermula dari penyaluran OPK beras tahun 1999/200 terhadap 11.303 KK. Beras ini seharusnya dilakukan oleh petugas Satgas OPK diambil alih oleh Pemkab Sampang dengan cara disubkan kepada CV Amin Jaya dan camat se-Kabupaten Sampang. Dalam mendistribusikan beras bantuan itu Fadhilah diwakili oleh Asyhar yang saat itu menjabat Asisten II Administrasi Pembangunan. Namun beras yang ditebus dengan harga Rp 1.000 dari Dolog Sampang tersebut dijual kepada pengungsi dengan harga Rp 1.645.

Akibat penyelewengan beras pengungsi yang dilakukan pada tahun 1999-2000 itu, negara dirugikan sebesar Rp 1.627.793.300 atau sekurang-kurangnya Rp 1.186.486.860. Angka itu diperoleh dari hasil penjualan beras OPK, yang merupakan subsidi dari pemerintah, oleh CV Amin Jaya 989.540 kg x Rp 1.645 = Rp 1.627.793.300 atau 721.268 kg x Rp 1.645 = Rp 1.186.486.860.

Meski sudah purnawirawan berpangkat Komisaris Besar polisi, Fadhilah hadir dalam sidang itu menggunakan pakaian dinas perwira Polri lengkap dengan pangkat tiga mawar dibahunya. Ia duduk tenang di dibaris paling kiri. Di luar Fadhilah di elu-elukan oleh pendukungnya. Para pendukungnya rebutan mencium tangan Fadhilah.

Sementara Jaksa Endriyanto dan Ahmad Alikan mengatakan akan pikir-pikir dulu atas putusan hakim. Kedua jaksa itu mengatakan akan mempelajari dulu putusan hakim sebelum memutuskan apakah akan melakukan banding atau tidak. "Kita pelajari dulu putusannya. Putusannya saja belum kita terima," ungkapnya tanpa beban.

Sedangkan Trimoelja D. Soerjadi, pengacara Fadhilah, mengatakan puas atas putusan hakim. "Putusan yang cukup baik. Saya puas," katanya. Adi Mawardi

Sumber : Tempo Interaktif 08 Januari 2004

Mahasiswa Australia Belajar Tari Lilin di Ubaya

Surabaya, Jatim - Lima mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) Australia yang melakukan "Summer Program" selama 10 hari di Universitas Surabaya (Ubaya) belajar budaya Indonesia yakni Tari Lilin.

Dosen QUT asal Indonesia yang mendampingi kelima mahasiswanya, Dr. Connie Susilawati, di Surabaya, Selasa, mengatakan kelima mahasiswanya tersebut mendapatkan beasiswa untuk mengikuti "Summer Program" dengan belajar kebudayaan Indonesia.

"Mereka belajar Tari Lilin dari Sumatera Barat. Belajar tarian asli Indonesia menjadi muatan penting dalam rangkaian Summer Program agar mereka mengenal budaya Indonesia," kata perempuan asli Surabaya itu.

Kelima mahasiswa tersebut yaitu, Massimo Regona, Nicholas Ziser, Mercedes Adams, Lewis Sears, dan Jordan Gentile. Sekitar empat jam, mereka diajari Tari Lilin oleh instruktur tari dari mahasiswa Ubaya.

"Tari Lilin dipilih untuk diajarkan ke mereka karena gerakannya mudah, sehingga bisa dengan cepat mereka menghafal setiap gerakan. Sempat terpikirkan mengajarkan Tarian Jawa, namun dinilai susah karena harus sesuai lekuk tubuh," paparnya.

Ia mengatakan mahasiswa QUT telah rutin tiap tahunnya belajar kebudayaan Indonesia dalam Program Summer. Tahun ini merupakan program yang ketiga kalinya.

Sementara itu, Ubaya Office Of International Affairs, Makmesser Lukas Rumbiak S SE, menuturkan selain belajar kebudayaan Indonesia dengan belajar menari, mereka juga akan belajar di bidang pengembangan properti dengan mengunjungi pusat properti dan wisata.

"Selama 10 hari mereka juga akan belajar di bidang pengembangan properti, perbedaan tata kelola di Indonesia dan Australia, mengunjungi beberapa pusat properti, hingga Wisata ke Gunung Bromo," paparnya.

Salah satu mahasiswa QUT, Mercedes Adams, mengaku terkesan dengan Tarian Lilin. Meskipun ketika latihan, lilin yang berada di piring sempat terjatuh.

"Baru pertama kali ke Indonesia dan sangat berkesan, apalagi ada ajakan wisata ke Gunung Bromo yang indah," tandas mahasiswa Jurusan Properti Ekonomi QUT.

34 Daerah Ramaikan Festival Karya Tari Jatim

Surabaya, Jatim - Sebanyak 34 daerah ikut meramaikan dengan mengirimkan perwakilannya tampil di Festival Karya Tari Jawa Timur yang digelar di Taman Budaya di Surabaya, 27-28 April 2016.

"Dari 38 daerah, hanya empat yang absen dengan alasan tertentu," ujar Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Sinarto di sela pembukaan Festival Karya Tari Jawa Timur di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, Rabu malam.

Tujuan digelarnya festival ini, kata dia, untuk menggali kreativitas, produktivitas, kualitas maupun kuantitas para seniman tari dan musik Jatim, serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan apresiasi budaya antarpelaku dan pemerhati seni maupun masyarakat pada umumnya.

Selain itu tujuannya sebagai peningkatan jalinan komunikasi, kerja sama dan tukar pengalaman antarsesama pelaku seni yang mampu memperkenalkan, mempromosikan dan menyebarluaskan produk karya seni Jatim, khususnya seni tari.

"Tentu saja yang paling utama adalah meningkatkan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa dalam semangat keberagaman," katanya.

Festival Multikultural di Surabaya Diikuti Tujuh Negara

Surabaya, Jatim - Festival multikultural yang digelar Jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya diikuti peserta dari tujuh negara.

Ketua Panitia "International Culture Festival and Celebration", Hady Sutris Winarlim, di Surabaya, Jumat, mengatakan tujuh negara yang diwakili konsulat atau perwakilan kebudayaan, yaitu Belarusia, Tiongkok, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, dan Indonesia.

"Hubungan satu orang maupun institusi dari berbagai negara saat ini dipermudah dengan segala macam teknologi, namun untuk dapat berkomunikasi dengan baik, penguasaan bahasa asing saja tidak cukup, maka harus memperhatikan detil budaya," katanya.

Oleh karena itu, beberapa negara ingin memberikan pengetahuan tentang budaya-budaya mereka serta bertukar cerita, sehingga UKWMS menggelar festival multikultural yang melibatkan mahasiswa dan pelajar dari beberapa SMA di Surabaya serta masyarakat umum.

"Masing-masing perwakilan negara memberikan presentasi tentang kebudayaannya, mulai dari kuliner, adat istiadat hingga tarian khas dari negara masing-masing," katanya di Auditorium Lantai 2 Gedung Albertus Kampus UKWMS Kalijudan, Surabaya.

Ia mengatakan negara Tiongkok diwakili oleh perkumpulan etnis Tionghoa Hwie Tiauw Ka Surabaya yang menunjukkan seni pembuatan kaligrafi dan membuat lampion dari kertas bekas hong bao (amplop merah).

"Perwakilan dari Indonesia membuka galeri pecel dan memaparkan nikmatnya makan pecel dengan gaya Indonesia melalui presentasi berbahasa Inggris," tuturnya.

Sementara itu, Domingo Enrique Grande yang datang dari Spanyol menyuguhkan tarian salsa bersama rekannya dari Surabaya Salsa Community. Kehebohan pun terjadi saat beberapa mahasiswa dan siswa SMA serta perwakilan negara asing turut naik ke panggung dan menari.

Mahasiswa yang ikut serta dalam persiapan acara, Holy Gabriella Sandra, selaku perwakilan dari Belarusia menyajikan presentasi sumber daya alam terutama air mineral pun menggunakan Bahasa Inggris.

"Budaya itu mungkin terlihat remeh, namun ketika bekerja dalam lingkungan global, mengetahui kebudayaan orang yang bekerja sama dengan kita akan sangat bermanfaat. Bukan berarti kita perlu menghilangkan kebudayaan dan kebiasaan kita sendiri," tandasnya.

Pameran Batik Nusantara Targetkan 3 Miliar

Surabaya, Jatim - Pameran bertajuk "Tenun, Craft dan Batik Nusantara" yang digelar dalam rangka menyambut Pekan Swadesi Jawa Timur sekaligus rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-723 Kota Surabaya menargetkan transaksi hingga Rp 3 miliar.

"Kami optimistis nilai tersebut tercapai karena potensi batik Nusantara sangat diminati pembeli, baik lokal maupun internasional," ujar Direktur CV Vigar Cemerlang Abadi, Andi Eka Syahputra, selaku penyelenggara kepada wartawan di Surabaya, Senin (4/4).

Pameran akan berlangsung 4-8 Mei 2016 di Grand Ballroom Dyandra Convention Center, Jalan Basuki Rahmat Surabaya, yang juga digelar berbagai even pendukung, seperti lomba-lomba, dialog/diskusi hingga demo.

Menurut dia, pameran tersebut dimaksudkan agar pemerintah memperhatikan industri kerajinan tenun dan batik di Indonesia karena merupakan warisan budaya Nusantara yang wajib dijaga dan dilestarikan.

"Harapannya pemerintah lebih memperhatikan usaha kecil menengah di Jatim, terutama kerajinan tenun dan batik," ucapnya.

Diselenggarakannya pameran, kata dia, juga sebagai penggugah kesadaran pemerintah dan masyarakat agar selalu mencintai produk lokal, salah satunya berupa kain tenun dan batik yang menjadi warisan budaya.

"Jangan sampai dicuri Negara lain dan warisan ini malah diakui pihak-pihak tertentu," katanya.

Hingga sebulan menjelang pelaksanaan, sampai saat ini telah terisi 60 persen stan dari 160 stan yang disiapkan, dan sisanya sudah banyak permintaan dari sejumlah pihak menyatakan kesiapannya memenuhi kuota.

Sementara itu, selain dari Jatim, peserta pameran juga berasal dari luar kota seperti Solo, Jakarta, Cirebon, Lasem dan sejumah daerah lainnya.

Pemerintah Gelontorkan Rp1,8 Triliun untuk Museum

Surabaya, Jatim - Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan telah menggelontorkan dana Rp1,8 triliun untuk merenovasi dan membangun museum di sejumlah daerah.

"Banyaknya dana itu digunakan membangun dan merenovasi museum sekitar 40 persen, termasuk koleksi alat, kesenian serta benda-benda di dalam museum, seperti Museum Etnografi dan Pusat Kajian Etnografi Unair," kata Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dr Hilmar Farid, dalam peluncuran Museum dan Pusat Kajian Etnografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, di Jawa Timur pada Senin.

Ia mengatakan dengan adanya bantuan anggaran, maka diharapkan museum-museum yang masih kesulitan akses bisa dengan mudah menghidupkan kembali museum tersebut, karena selama ini beberapa museum memiliki program yang sedikit.

"Hal terpenting yang dipikirkan dari museum adalah soal akses. Sebelum pengunjung atau orang masuk museum, maka ia sudah memiliki informasi, sehingga informasi akan bergantung pada program dari museum itu agar koleksi museum lebih dikenal masyarakat," kata dia.

Ketiadaan program dari museum, lanjutnya, akan membuat orang kesulitan mengakses. Selama ini hanya segelintir museum yang mengembangkan program karena Sumber Daya Manusia (SDM) masih terpaku pada permasalahan administrasi.

"Saya mencontohkan objek koleksi yang dipamerkan, setiap koleksi bisa dipamerkan dengan berbeda-beda, misalnya tengkorak dengan gigi, maka bisa berbicara tentang pola pangan dari orang di masa lalu, sehingga museum akan lebih hidup," terangnya.

Menurut dia, museum di Indonesia masih sangat sedikit melaksanakan program, terlihat dari struktur organisasi museum yang masih belum mempunyai direktur program dan kurator.

"Persepsi orang ketika menggunakan kurator menjadi suatu kemewahan karena kurator adalah orang yang punya kemampuan tinggi dan tidak murah. Selama ini untuk mempertahankan eksistensi museum saja susah, jadi inilah tantangan kedepannya," jelasnya.

Oleh karena itu, ia menambahkan museum berbasis universitas berperan penting dalam pengembangan museum di era saat ini, karena perguruan tinggi dikenal sebagai tempat berkumpulnya pengetahuan, penelitian dan pengkajian hasil ilmiah.

"Di Unair memang bukan yang pertama kali karena sudah ada di Universitas Cendrawasih (Uncen), Papua, namun hal ini menjadi upaya membangun tradisi baru karena selama ini universitas dikenal sebagai tempat mengumpulkan pengetahuan, penelitian dan pengkajian," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pengelola Museum dan Kajian Etnografi FISIP Unair, Toetik koesbardiati, menjelaskan beberapa koleksi tengkorak manusia pra sejarah 1.040 Sebelum Masehi (SM) atau 3.000 tahun lalu.

Selain tengkorak, museum juga mempunyai koleksi berbagai fosil dan penemuan lainnya. "Kami mempunyai koleksi banyak kerangka yang tersebar di Jawa Timur, salah satunya kerangka dari Trowulan, Mojokerto," katanya.

Ia menambahkan koleksi tertua yang dimiliki berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan usia sekitar 3.000 tahun yang masih terus diteliti oleh Unair.

Empat Mahasiswa Jepang Dalami Bahasa Indonesia

Surabaya, Jatim - Empat mahasiswa Universitas Setsunan, Osaka, Jepang tertarik untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia lebih mendalam. Melalui program darmasiswa yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), empat mahasiswa itu belajar setahun di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.

Miki Azumi, Kazuya Iwasaki, Yuki Asakawa, dan Akihiro Sukizono kemarin (3/3) diterima secara resmi oleh jajaran rektorat Unitomo. Mereka juga diminta untuk menunjukkan keterampilannya mulai dari menyanyi sampai bermain klarinet.

Miki berkesempatan memainkan klarinet dengan membawakan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang. Uniknya, liriknya telah dialihbahasakan menjadi bahasa Jepang. “Lagu ini begitu populer di Jepang, terutama di kalangan orang-orang tua,” kata perempuan yang lahir tahun 1995 ini.

Di Universitas Setsunan, Miki mengaku mengambil jurusan Bahasa Indonesia-Melayu. Selama belajar itu dia tertarik dengan aneka budaya yang ada di Indonesia. Akhirnya dia tertarik mengikuti program darmasiswa. “Rencananya di Indonesia selama setahun,” ungkapnya.

Rektor Unitomo Bachrul Amiq menyatakan, tidak semua perguruan tinggi (PT) mampu menjadi jujugan mahasiswa asing lewat program darmasiswa. PT ini harus memenuhi syarat. Di antaranya memiliki jurusan bahasa Indonesia dengan akreditasi minimal B, kemudian sudah melakukan nota kesepahaman dengan PT dari luar negeri. “Unitomo ini salah satunya yang memenuhi syarat Kemendikbud itu,” jelasnya.

Menurut dia, bahasa Indonesia punya peran penting di tingkat ASEAN. Hampir 50 persen total penduduk ASEAN dari Indonesia. “Bahasa Indonesia harus dikuasai jika ingin bersaing di ASEAN community,” tegasnya. Amiq melanjutkan, peluang itu pun ditangkap Unitomo dengan membuka kelas Internasional yang mampu menampung 20 mahasiswa asing tiap tahun.

Seni Kain Batik Siap Jadi Andalan Produk Daerah

Surabaya, Jatim - Melestarikan warisan budaya yang setia pada peninggalan nenek moyang sebagai penghargaan tersendiri bagi Wury, panggilan akrab pemilik kain batik Tanjung Bumi yang bernama lengkap Wurrotul Muhajjalah. Dia menceritakan, totalitas dalam menekuni dunia seni membatik, mulai dari keluatga dan sudah menjadi mata pencaharian yang turun temurun dari latar belakang keluarga sudah menyukai batik.

"Sejak kecil mengenal ilmu tentang dunia seni membatik, ya dari orang tua, saya merupakan keturunan ke-4 yang meneruskan usaha batik ini. Kain batik sendiri memiliki nilai kultur yang sangat kuat dan dominan serta mempunyai ragam budaya yang di apresiasikan dalam motif batik itu sendiri, batik Tanjung Bumi juga sering di kenal batik pesisir karena keberadaan nya,” jelasnya, Selasa (26/1).

Ketekunan dan kesabaran yang membuatnya menjadi seperti sekarang, Wury menambahkan masih relatif sedikit yang mau berkunjung ke sentra batik Madura. Dijadikan sebagai kampong sentra batik di Tanjung Bumi lantaran bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakatnya sendiri sangat lekat dengan budaya membatik. Namun, tak sedikit sebutnya, peminat batik dari mancanegara sering mampir dan melihat langsung proses pembuatan kain batik mulai bentuk kain sampai pemotif an corak batik.

Para wisatawan mancanegara langsung tertarik dan membelinya. Meski lokasinya bukan di jalan utama, para pembeli tak kesulitan. Sebab, daerah Tanjung Bumi sejak dulu sudah terkenal sebagai sentra industri kecil batik dan menjadi objek tujuan wisata sekaligus.

Menurutnya, kain batik yang berkembang di Madura terbagi menjadi 4 bagian wilayah yaitu Sampang, Pamekasan, Bangkalan( kec.Tanjung Bumi) dan Sumenep, salah satunya adalah batik Gentongan, yang kerap dikenal batik yang mempunyai khas tersendiri, mulai dari latarnya, cara pewarnaan dan motif pembatik itu sendiri.

Hal ini juga dipertegas Wury, konon pada zaman dahulu para leluhur untuk membuat batik di butuhkan proses yang cukup panjang antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Itulah mengapa, harga yang ditawarkan masih sangat jauh dibandingkan proses pembuatannya. Pada prinsipnya, batik adalah salah satu wujud perpaduan Seni dan cinta akan budaya masing-masing daerah. Keberagaman corak, motif menjadi sebuah kemampuan agi sebagian warga penduduk asli Madura membuat kain batik.

“Bekerja sebagai perajin batik tulis, keterampilan membatik ini sudah menjadi warisan secara turun menurun, sehingga sudah menjadi pemandangan yang wajar jika banyak remaja di desa kami mahir membatik, dahulu batik ini diperlakukan sebagai barang berharga layaknya emas atau tabungan dan diwariskan kepada anak cucu dan siap jadi produk andalan daerah untuk dikembangkan dari masa ke masa,” pungkasnya.

Berpegang pada cara klasik membatik dari sisi luar dan sisi dalam kain adalah salah satu proses yang masih kami lakukan di desa kami, sambungnya. Berbagai macam motif dan corak batik khas tanjung bumi, seperti motif sisik malaya, sekoh, sisik amparan, sarpoteh, panjikereng, panji suci, dan masih banyak motif lain siap beradu di pasar bebas MEA tahun ini. Harganya pun terjangkau, bahkan image batik tulis mahal tidak berlaku di sini.

Bahasa Indonesia dan Melayu Berpotensi Menjadi Bahasa Resmi ASEAN

Surabaya, Jatim - Pakar bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Suhartono SPd MPd menilai Bahasa Indonesai berpotensi menjadi Bahasa ASEAN pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Ada dua bahasa yang berpotensi menjadi Bahasa ASEAN, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu," kata dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa itu kepada Antara di Surabaya, Jumat.

Namun, ia meyakini Bahasa Indonesia lebih berpotensi daripada Bahasa Melayu, karena setidaknya ada empat argumentasi yang ilmiah, meski pemerintah masih perlu melakukan diplomasi.

"Keempat argumentasi itu adalah Bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN," katanya.

Bedanya, distribusi Bahasa Indonesia tidak merata seperti Bahasa Melayu yang ada di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan, namun Bahasa Indonesia di Indonesia sendiri sudah mencapai 60 persen pengguna di tingkat ASEAN.

"Apalagi, meski tidak merata seperti Melayu, tapi kosa kata Indonesia ada pada sejumlah negara ASEAN, seperti candra di Kamboja dan Indonesia sama-sama berarti rembulan, atau bum atau land di Thailand yang di Indonesia mirip kata bumi atau tanah," katanya.

Bahkan, kosa kata di Thailand juga mirip kosa kata bahasa daerah di Indonesia, seperti suwarna di Thailand yang berarti emas dan dalam Bahasa Jawa juga berarti emas. "Atau, kodang di Thailand juga mirip gudang dalam bahasa kita," katanya.

Oleh karena itu, Bahasa Indonesia yang tidak merata dalam sebaran seperti Bahasa Melayu itu juga lebih mudah diterima dan sudah lama menjadi bahasa komunikasi ada tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

"Apalagi, saya mendengar di beberapa negara ASEAN juga sudah banyak dipelajari Bahasa Indonesia untuk kepentingan MEA. Di luar itu, Bahasa Indonesia juga sudah banyak dipelajari di Jepang, Australia, dan negara lain di dunia," katanya.

Senada dengan itu, Rektor Unesa Prof Warsono mendukung ikhtiar pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara ASEAN agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa ASEAN.

"Unesa turut mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN, karena pengguna bahasa Melayu mencakup 60-70 persen penduduk ASEAN di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam," katanya.

Mematenkan Budaya Perlu Perhatikan Sejarahnya

Surabaya, Jatim - Globalisasi bisa menjadi ancaman terhadap eksistensi warisan budaya. Jika terlena dengan arus globalisasi yang makin canggih, upaya melestarikan warisan budaya bisa semakin terkikis. Baik warisan budaya benda maupun warisan budaya tak benda.

Prof L Dyson, pengajar mata pelajaran Antropologi Unair menjelaskan sejauh ini banyak hal terkait kebudayaan yang dipatenkan. Baik secara nasional maupun internasional.

"Penetapan karya ini agar diakui secara internasional, tetapi juga perlu dipertimbangkan sejarahnya. Jangan satu orang mematenkan bentuk rumah adat. Karena itu milik semua ras yang memiliki adat itu," tuturnya dalam diskusi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa, Minggu (6/12/2015).

Ia pun menjelaskan harus ada pencatatan warisan budaya dari pemerintah daerah. Hingga menjadi usul untuk tercatat sebagai budaya provinsi. Sejak tahun 2009 hingga 2015 Direktorat Kebudayaan telah menetapkan 4.970 karya budaya.

Sedang Pembantu Dekan I Universitas Negeri Surabaya Agus Supriono menambahkan upaya revitalisasi warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda menjadi keharusan. Itu membutuhkan peran pendidikan.

"Pendidikan punya peran strategis dan menjadi tempat persemaian benih-benih kebudayaan," jelasnya.

Menurut Agus, warisan budaya bisa beragam bentuknya. Bukan hanya berupa objek benda, tapi juga tradisi dan ekspresi budaya dari nenek moyang.

Ketua IAAI Komisariat Daerah Jawa Timur, Y Hanan Pamungkas menandaskan forum diskusi yang diselenggarakan itu diharapkan bisa menjadi ajang tukar pendapat antara organisasi profesi, ahli, dan masyarakat yang peduli dengan warisan budaya.

Perajin Prihatin Keris Masih Dianggap Mistis

Surabaya, Jatim - Paguyuban Perajin Keris Indonesia menyatakan prihatin atas budaya keris yang dinilai masih dianggap sebagai barang Kejawen dikaitkan dengan ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang dahulunya belum terkena pengaruh budaya luar.

Ia mengatakan, dalam perjalanannya keris memang sebagai status sosial yang memiliki muatan spiritual sebagai ageman atau pusaka turun-temurun, sedangkan prosesi pembuatan keris, merupakan narasi ritual yang dilatari perlakuan esoteristik Kejawen.

"Jika memang tanggapan masyarakat keris merupakan barang spriritual kejawen, maka boleh saja, karena itu keris adalah ekspresi kultural sang empu dalam ibadahnya, namun bukan berarti meninggalkan warisan budaya Indonesia itu sendiri," ujarnya.

Menurut dia, sejak UNESCO mengukuhkannya sebagai warisan mahakarya dunia non-bendawi, maka nilainya melebihi nilai takar teknologi dan estetikanya, bukan dilihat dari spiritual maupun darimana warisan budaya itu berasal.

"Pengakuan itu hendaknya mendorong pemerintah dan masyarakat pecinta keris untuk berpartisipasi melestarikan keris, jika adanya dukungan komunitas keris dan upaya-upaya melestarikannya, maka akan menjadi dasar pertimbangan pengukuhannya sebagai warisan budaya dunia," ungkapnya.

Sebanyak 12 Seni Dipelajari Kembali

Surabaya, Jatim - Sebanyak 12 kesenian tradisi dari sejumlah daerah di Indonesia dipilih untuk dipelajari dan dijadikan karya tulis oleh 125 pelajar berbagai daerah. Hasil kerja penelitian dan karya tulis itu kemudian dipresentasikan dan diperagakan di Taman Budaya Cak Durasim di Surabaya, Selasa (11/8).

Kepala Subdirektorat Lembaga Pranata Sosial Dewi Indrawati yang memimpin acara itu menjelaskan, 12 karya seni tradisi yang menjadi bagian dari kegiatan "Jejak Tradisi Nasional" itu hasil kerja sejumlah Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) di bawah Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang ada di 11 kota di Indonesia. BPNB yang terlibat antara lain kantor Tanjung Pinang, Padang, Bandung, Yogyakarta, Bali, Pontianak, Makassar, Manado, Ambon, dan Jayapura.

Pembelajaran

Sejumlah 125 siswa yang melakukan lokakarya dan pelaporan itu berasal dari masing-masing BNPB, yang kemudian menyodorkan sebanyak 12 karya seni itu. Karya-karya seni tersebut meliputi pembuatan wayang (tabah), seni pedalangan, kerawitan, teknik pembuatan gamelan, arsitek, ludruk, tari remo, pembuatan topeng Malang, pakaian tari, pakaian pengantin, batik (Sidoarjo), reog Surabaya.

Dewi menjelaskan, kegiatan itu merupakan bentuk pembelajaran dan dokumentasi atas karya-karya seni tradisi di berbagai daerah dalam rangka pelestarian.

"Mereka mengumpulkan data dan mencatat tradisi di daerah masing-masing. Sebagaimana tecermin pada karya budaya seperti, tatah wayang, pedalangan, seni karawitan, teknik pembuatan topeng malang, remo, pakaian penari, pakaian pengantin, batik tulis, dan reog itu," kata Dewi. Dengan kegiatan tersebut, generasi muda diharapkan tetap mengenal dan mencintai seni tradisi.

Ketua Taman Budaya Cak Durasim Surabaya Sukatno menjelaskan, Surabaya dipilih sebagai lokasi kegiatan bagi 125 orang siswa karena Surabaya masih dipandang ideal dalam hubungan antara tradisi dan modern.

Tim Kesenian TNI AL Pukau Warga Lebanon

Surabaya, Jatim - Tim kesenian prajurit TNI AL yang tergabung dalam misi PBB UNIFIL mampu memukau warga Lebanon dengan karnaval dan pentas seni budaya yang menampilkan tari "Turangga Yekso" (Trenggalek/Jawa Timur), "Saman" (Aceh), dan "Rampak Gendang" (Jawa Barat).

Perwira Penerangan dari Satgas MTF TNI Konga XXVIII-G/UNIFIL dalam siaran pers yang diterima Antara di Surabaya, Selasa, melaporkan ratusan warga Lebanon tampak antusias di sepanjang jalan pesisir Pantai Juonieh Lebanon untuk mengikuti acara itu.

Karnaval tahunan yang digelar oleh yayasan sekolah di Lebanon Central College de Moines School itu dilaksanakan dalam rangka menyambut liburan sekolah dan juga sebagai ajang kreativitas siswa untuk satu-satunya pagelaran karnaval yang ada di Lebanon.

Dalam ajang yang mengusung tema "Technology and Creativity" itu, keikutsertaan Prajurit KRI SIM 367 tersebut merupakan wujud dari misi diplomasi dan sebagai Duta Bangsa RI di Lebanon yang difasilitasi oleh Kedutaan RI di Lebanon.

Penampilan kesenian tradisional Indonesia berupa Tarian "Turangga Yekso" dengan iringan musik daerah dalam pawai keliling di sekitar Juonieh tersebut mendapat apresiasi warga masyarakat yang tumpah ruah menyaksikan pertunjukan di sepanjang jalan.

Mereka memberikan aplaus yang meriah kepada tim kesenian Indonesia dengan teriakan "Indonesiaaa..", "Indonesiaaa....", "Indonesiaaaa...", bahkan ada beberapa warga yang "larut" dengan bergabung ke dalam tim kesenian untuk menari bersama.

Acara pawai diakhiri dengan panggung hiburan yang dibuka dengan penampilan kolaborasi kesenian "Rampak Gendang" dengan "Tari Saman" serta disaksikan Civitas Akademik Central College de Moines School, Duta Besar RI (Dubes LBBP RI) untuk Lebanon Achmad Chozin Chumaidy, dan Pejabat Pemerintah Kota Lebanon.

Dalam acara yang juga disaksikan Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf Danny Koswara, DMTF-COS Kolonel Laut (P) Dato Rusman, Komandan KRI SIM-367 Letkol Laut (P) IGP Alit Jaya dan beberapa Komandan satuan dari Indonesian Battalion (Indobatt) itu telah mampu mengambil "hati" masyarakat Lebanon.

Secara tak langsung, tim kesenian itu juga mampu mengenalkan Indonesia di dunia internasional sebagai bangsa yang ramah dan kaya akan seni budaya. Rasa ingin tahu dan mengenal budaya Indonesia lebih jauh tampak diperlihatkan oleh warga Lebanon setelah menyaksikan tampilan seni budaya Indonesia itu.

Dalam penugasan bergabung dengan MTF UNIFIL sejak 13 November 2014 itu, seluruh prajurit KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 yang tergabung dalam Kontingen Garuda MTF XXVIII-G/UNIFIL menerima anugerah "UN Medal" (Tanda Jasa dari Perserikatan Bangsa - Bangsa) pada 3 April 2015.

Festival Kali Mas Kembalikan Denyut Kehidupan Sungai

Surabaya, Jatim - Puluhan perahu dayung maupun karet bermotor memenuhi ruas Kali Mas, di samping Monumen Kapal Selam, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2015) malam. Malam itu, ruas Kali Mas yang tidak jauh dari Balai Kota Surabaya diterangi bermacam lampu hias.

Tepat pukul 19.00, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama tamu undangan naik ke perahu dan mulai menyusuri Kali Mas. Mereka berangkat dari Monumen Kapal Selam menuju Taman Prestasi di Jalan Ketabang Kali dengan jarak sekitar 1 kilometer.

Tidak lama kemudian belasan perahu hias ikut bergerak menuju Taman Prestasi. Para peserta perahu hias itu sebagian besar memakai bermacam pakaian adat, seperti dari Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Ada pula yang memakai baju dan aksesori bajak laut. Tidak sekadar duduk, sebagian dari mereka juga menari-nari di atas perahu.

Kemeriahan malam itu adalah bagian dari pembukaan Festival Kali Mas yang baru pertama kali diadakan di Surabaya. Festival ini berlangsung pada 16-17 Mei dan menjadi salah satu rangkaian Hari Jadi Ke-722 Kota Surabaya . ”Kami ingin menghidupkan kembali sungai yang menjadi kebanggaan warga Surabaya ini,” kata Rismaharini.

Kali Mas merupakan cabang dari Kali Surabaya yang merupakan bagian Daerah Aliran Sungai Brantas. Kali dengan panjang sekitar 12 km dan lebar 20-35 meter serta bermuara di bagian utara Kota Surabaya ini digunakan sebagai jalur transportasi air pada zaman kolonial Belanda.

Rismaharini ingin sungai yang membelah pusat Kota Surabaya ini juga berfungsi sebagai tempat wisata. Artinya, masyarakat dapat menikmati sungai dari bantaran sungai maupun menyusurinya langsung dengan menggunakan perahu wisata. Ia pernah mengatakan wisata sungai di Surabaya dapat bersaing dengan Kota Bangkok, Thailand.

Taman-taman yang dibangun di tepi Kali Mas, seperti Taman Ekspresi, Taman Prestasi, dan Taman Skatepark & BMX (area Monumen Kapal Selam) sudah mampu menjadi sarana bagi warga untuk menikmati panorama sungai. Apalagi di taman-taman itu sudah tersedia warung-warung makan.

Upaya mengembangkan wisata air di Kali Mas, terutama kegiatan susur sungai, sudah lebih dulu dirintis di Taman Prestasi. Pada 2012, Pemerintah Kota Surabaya mendapat dua kapal wisata dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Namun, pendangkalan dan adanya sampah kerap menyulitkan laju perahu.

Susur sungai di Kali Mas juga belum leluasa dilakukan karena belum ada fasilitas untuk mengatur ketinggian air sehingga stabil dan dapat dilalui perahu dengan aman. Perahu wisata dari Taman Prestasi biasanya hanya sampai di Taman Ekspresi di Jalan Genteng Kali yang berjarak 1 km.

”Padahal, kalau diteruskan (penyusuran sungai) sampai ke utara dapat melihat bangunan-bangunan tua nan cantik,” kata Rismaharini. Salah satunya adalah melewati Jembatan Merah, saksi bisu kematian Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris, tahun 1945.

Oleh karena itu, harapan utama Pemkot Surabaya adalah dibangunnya pintu air yang dapat mengatur ketinggian air Kali Mas. Pemkot Surabaya hanya bisa menunggu karena pengelolaan Kali Mas termasuk kewenangan pemerintah pusat.

Pada pembukaan Festival Kali Mas itu, harapan Pemkot Surabaya sedikit terwujud. Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mudjiadi menyatakan segera mengkaji pembangunan pintu air tersebut.

”Apa yang dilakukan di Surabaya ini memang sesuai dengan program kami, yaitu restorasi sungai,” kata Mudjiadi.

Restorasi sungai, artinya, sungai yang ada tidak hanya bersih dan sehat, tetapi juga dibuat menjadi lebih produktif. Sungai menjadi ruang terbuka hijau baru dan pusat pengembangan perekonomian masyarakat.

Menurut Mudjiadi, pembangunan pintu air itu diharapkan dapat segera dilakukan pada tahun depan. Studi pengkajian pintu air akan dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas.

Warga Surabaya kini menunggu realisasi dari komitmen pemerintah. Misalnya, mendamba tempat rekreasi baru di tengah kota yang mudah diakses semua kalangan. ”Ini agar warga tidak hanya pergi ke mal,” kata Achmad Faruk.

Ketika Risma Naik Perahu di Festival Kalimas

Surabaya, Jatim - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini langsung berbaur dengan 35 tim peserta Festival Kalimas di Sungai Kalimas, Surabaya, Sabtu, 16 Mei 2015. Sebanyak 35 tim itu menggunakan perahu kecil, perahu naga, perahu dayung, perahu mesin, serta perahu karet.

Para peserta memakai kostum yang unik dan bermacam-macam. Di atas perahu, mereka memperagakan atraksi sesuai dengan kostum masing-masing. Dari peserta dengan kostum Dayak, bajak laut, reog Ponorogo, Koarmatim, pakaian adat Madura dengan kaus merah-putih, baju kedokteran, serta berbagai kostum lainnya.

Risma dengan pakaian hitam dibalut kerudung oranye ikut menaiki perahu karet bersama perwakilan air Kementerian Pekerjaan Umum. Risma juga didampingi beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya dan perwakilan dinas.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mujiadi mengatakan pihaknya ke depan akan mengadakan program restorasi sungai sehingga sungai-sungai di perkotaan menjadi bersih, sehat, dan produktif. "Dan setiap kota harus memiliki ikon sungai. Kalimas ini sepertinya sudah layak dijadikan ikon Kota Surabaya," kata Mujiadi saat memberikan sambutan dalam Festival Kalimas, Sabtu, 16 Mei 2015.

Melalui Festival Kalimas, Mujiadi berharap semua warga lebih peduli pada fungsi sungai sehingga tidak membuang sampah sembarangan. "Mari kita jaga Sungai Kalimas ini," ujar Mujiadi.

Risma yang diberikan waktu untuk sambutan sekaligus membuka acara festival hanya memberikan kata-kata singkat. Bahkan Risma enggan memberikan sambutan agar lomba dayung tidak berlangsung terlalu malam. "Karena anak-anak sudah muter-muter dari tadi dan kecapekan, jadi langsung saja, terima kasih," tutur Risma, lantas menuju kapal karet dan mengelilingi Sungai Kalimas.

Risma mengelilingi Kalimas dari Monumen Kapal Selam hingga Taman Prestasi. Di pinggir kali itu dihiasi lampu-lampu berwarna serta seribu lampion, sehingga memancarkan cahaya dari bibir sungai.

Di beberapa pojok sungai juga terdapat band musik yang selalu bermain tanpa henti. Ribuan pasang mata menikmati keindahan sungai yang bersih itu, sehingga banyak warga mengatakan sangat terhibur dengan festival kali ini.

"Festival kali ini lebih menarik, hebat Surabaya," ucap Farida, warga Benowo Surabaya. Farida berharap festival tahun-tahun berikutnya lebih meriah dan menjadi agenda tahunan di Kota Surabaya.

Festival Rujak Uleg di Ulang Tahun Surabaya

Surabaya, Jatim - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bakal menggelar festival rujak uleg yang diyakini akan lebih antraktif dan meriah dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, pada festival kali ini semua peserta diharuskan mengenakan kostum yang unik dan dituntut all out bergaya saat menguleg. “Saya tidak mau pakai seragam-seragam seperti tahun lalu, pakai kostum yang unik saja,” kata Risma, Jum’at, 8 Mei 2015.

Namun begitu, secara garis besar festival rujak uleg ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Perdedaannya, panitia berupaya meningkatkan kualitas dengan membuat event tahunan ini lebih atraktif, dan menjadi salah satu penilaian tersendiri bagi peserta.

Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretaris kota Surabaya, Yayuk Eko Agustin mengatakan selama ini peserta Festival Rujak Uleg identik dengan kostum dan penampilan unik dan nyeleneh. Akan tetapi, pada tahun ini panitia mewajibkan peserta lebih all out bergaya dengan kostum masing-masing. “Jadi, selain rasa rujaknya enak, peserta juga harus menguleg dengan gaya menghibur,” kata Yayuk ditemui di kantornya.

Selain itu, peserta festival rujak uleg ini akan diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, pemerintah, BUMD, perusahaan swasta hingga tamu kehormatan negara sahabat. “Sekitar 1.500 peserta akan ikut festival ini,” kata dia.

Menurut Yayuk, pemerintah kota Surabaya berharap festival rujak uleg ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh warga Surabaya. Alasannya, rujak uleg atau rujak cingur merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya khas Surabaya. “Rujak uleg atau rujak cingur memang dikenal sebagai kuliner khas Kota Surabaya, mari kita jaga,” kata dia.

Sementara persiapannya, lanjut dia, proses loading perlengkapan akan dilakukan sejak Sabtu sore, 9 Mei 2015, sehingga arus lalu lintas di sepanjang Kembang Jepun yang menjadi venue acara akan sedikit terhambat. Sedangkan penutupan total baru dilakukan pada Sabtu malam hingga sepanjang pelaksanaan festival pada Minggu siang, 10 Mei 2015. “Festival itu akan dimulai pukul 13.00 sampai selesai,” ujarnya.

Pemkot Surabaya mengaku telah bekerjasama dengan TNI dan kepolisian untuk menjaga sejumlah titik, termasuk lalu lintas yang diperkirakan akan macet.

-

Arsip Blog

Recent Posts