Tampilkan postingan dengan label Balikpapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balikpapan. Tampilkan semua postingan

Puluhan Kendaraan Ramaikan Pawai Budaya

Balikpapan, Kaltim - Musik yang terdengar dari kejauhan, membuat warga semakin mendekati area podium di depan kantor Pemkot Balikpapan.

Ya, Pawai Budaya dan Pembangunan 2016 yang berlangsung kemarin (6/3) sore, menarik perhatian ribuan warga di Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan Kota.

Selama tiga menit, masing-masing peserta pawai unjuk kebolehan. Mulai tarian, silat, drama, hingga puisi. Banyak pula warga dari kawasan Manggar datang agar dapat menyaksikan pawai yang digelar setahun sekali tersebut.

Seperti Sarinah (45). Sekali pun hari tengah terik, dia memboyong ketiga anaknya. Berbekal payung dan membawa botol air minum, keempatnya sudah menunggu sejak pukul 13.00 Wita.

Dia mengatakan, pawai ini menjadi hiburan langka yang hanya bisa dinikmati setiap tahun. “Coba kalau bisa diadakan sampai 2-3 kali setahun gitu, biar warga bisa dapat hiburan gratis,” ujar Sarinah.

Pawai yang berlangsung sejak pukul 14.30 Wita itu juga menarik perhatian Andrew Thic. Warga asal Norwegia ini terlihat di antara keramaian. Sebenarnya, dia hendak jogging. Tetapi karena melihat keramaian, Andrew penasaran.

“Saya rasa masih kurang meriah, hanya musiknya saja yang terdengar. Untuk atraksi dan desain kendaraan yang unik juga masih kurang,” ujar pria yang mengenakan kaus biru ini.

Pawai pembangunan ini diikuti 30 arakan mobil dari berbagai paguyuban, ormas hingga komunitas budaya di Kota Minyak. Serta 38 mobil baik dari satuan kerja perangkat daerah di jajaran Pemkot Balikpapan, swasta, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).

Tak ketinggalan TNI Angkatan Udara yang menampilkan replika pesawat Super Tucano dan kedelapan penerbang yang kompak melakukan yel-yel. Adapun perwakilan dari mahasiswi Universitas Balikpapan (Uniba) yang mencoba berpuisi diiringi tarian khas Kaltim.

Ada pula aksi dari tiga paralayang mengitari langit Balikpapan. Sebelum arakan pawai berlangsung, kendaraan pawai telah berkumpul di Lapangan Merdeka. Di sini, warga juga tumpah ruah untuk ber-selfie di depan kendaraan yang telah dipercantik. Pawai berlanjut ke arah Jalan A Yani.

Namun sayang, warga yang telah menanti di daerah Gunung Sari kecewa, karena pawai tidak berjalan lancar. Sesekali pawai terputus hingga 30 menit lamanya. Alhasil, warga memilih pulang. Iringan pawai pun terlihat melintasi kawasan Muara Rapak dan berhenti di Karang Anyar.

Balikpapan Gelar Atraksi Budaya Sambut Gerhana Matahari Total

Balikpapan, Kaltim - Atraksi budaya akan digelar Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menyambut dan memeriahkan fenomena alam gerhana matahari total pada 9 Maret 2016.

"Gerhana matahari total tahun ini (2016) melewati Balikpapan, kami akan manfaatkan dengan menggelar atraksi budaya dan kegiatan lainnya," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya Kota Balikpapan, Oemy Facesli saat dihubungi di Balikpapan, Sabtu.
Menurut dia, masyarakat dapat menyaksikan gerhana matahari total di Balikpapan di lapangan Merdeka dan Pantai Manggar.

"Kami akan adakan kegiatan didua tempat untuk menyambut fenomena gerhana matahari itu, di lapangan Merdeka, kami gelar atraksi budaya bekerjasama dengan on on Hesher Balikpapan," kata Oemy Facesli.

Sedangkan di Pantai Manggar, akan digelar lomba perahu hias dan perahu naga.

"Kami bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk menggelar kuliner berbahan ikan dan minuman khas Balikpapan, serta makan 2.119 mantau bekerjasama dengan Bahana Surya hotel," katanya.

Fenomena langka tersebut akan dijadikan momen untuk menarik wisatawan serta mempromosikan pariwisata di Kota Balikpapan.

Hingga saat ini tingkat keterisian hotel di Balikpapan sudah mencapai 85 persen.

Serunya Atraksi Pentas Seni SMK N 3 Balikpapan

Balikpapan, Kaltim - Sabtu, 9 Januari 2016. SMK Negeri 3 Balikpapan mengadakan Pentas Seni (Pensi). Pentas seni ini diselenggarakan di ruangan sekolah dengan menampilkan beberapa atraksi kesenian dari siswa-siswi kelas XII Jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan).

Acara sebelumnya dibuka dengan sambutan dari Wakil Kepala SMK N 3 Balikpapan, Adik Sujarno S.pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini pantas dilaksanakan setiap tahun guna menggali kreativitas dan pengembangan bakat siswa. Pentas seni dapat diselenggarakan dalam berbagai event agar bakat siswa tersalurkan . Pada prinsipnya, beliau mendukung secara positif untuk kegiatan seperti saat ini.

Sedangkan dalam pentas seni ini siswa-siswi TKJ memiliki nama khusus untuk TIM atau anggota mereka yaitu DIB ( Diamond in Black ). Dan Pentas seni kali ini bertemakan “Pixel”. Pixel merupakan unsur gambar atau sebuah titik terkecil dalam sebuah gambar grafis yang dihitung per inci.

“Kami menamakan tema Pixel dalam Pentas Seni ini karena, kami Jurusan TKJ hanya satu kelas dan jarang terlihat berbeda dengan seperti halnya jurusan lain yang sangat menonjol. Kami ingin menunjukan bahwa walaupun hanya satu kelas saja, kami bisa seperti ini. Bisa dibilang, Kami siswa-siswi SMK N 3 bagaikan pixel untuk SMK N 3 Balikpapan.” Ujar Rizka Adella,selaku Ketua Panitia.

Pentas Seni ini merupakan project kedua dari mereka. Tujuan Pentas seni ini ditampilkan , untuk mengambil nilai Pelajaran Seni Budaya . bergantian dengan kelas lainnya. Berbagai bentuk dan pengembangan seni ditampilkan setiap kelas. Secara khusus pentas seni bertajuk Pelestarian Seni Budaya . Penampilan siswa-siswi cukup beragam, ada tarian Dayak, Modern Dance,Bela Diri Cina,Modelling,Stand Up Comedy,Band Akustik,Nyanyi Solo dan DJ (Disk Jockey). Sangat menarik dan mengundang perhatian dari siswa-siswi SMK N 3 Balikpapan lainnya. untuk menyaksikan pertunjukan ini. Acara yang dimulai dari pukul 09.00 WITA ini berakhir hingga pukul 12.00 WITA .

Darwis Siapkan Pesta Seni dan Budaya Lima Pulau

Balikpapan, Kaltim - Terinspirasi acara Pesta Kesenian Bali 2015 yang digelar selama sebulan di Art Center, Denpasar, Ketua Dewan Kesenian Balikpapan H Darwis M Noor menginisiasi acara serupa di Balikpapan pada 2016 mendatang.

DI depan ratusan penonton yang memenuhi tribun panggung terbuka Ratna Kanda. Art Center, Darwis menyatakan siap menggelar Pentas Seni dan Budaya Lima Benua.

Menurutnya, dalam event akbar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Balikpapan ke-119 tahun 2016, DKB akan mengundang pelaku seni perwakilan dari lima pulau menggelar pementasan seni dan budaya di Balikpapan. Lima pulau tersebut adalah, tuan rumah Pulau Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Sumatera.

"Silakan masing perwakilan pulau menampilkan kesenian dan budayanya masing-masing. Event benar-benar menjadi ajang pesta budaya terbesar di Indonesia. Kalau Pesta Kesenian Bali hanya diikuti perwakilan daerah di Bali, Pesta Kesenian Lima Pulau ini dari perwakilan lima pulau yang ada di Indonesia," ujar Darwis.

Melalui ajang ini diharapkan masyarakat kaltim, khususnya balikpapan bisa mengenal seni dan budaya dari berbagai daerah tanpa harus mendatangi daerah dimana budaya tersebut berasal.

"Jika ingin melihat seni dan budaya Bali tak perlu jauh-jauh ke bali, demikian juga daerah lain," katanya.

Sebaliknya, balikpapan dan kabupaten/kota di kaltim lainnya, bisa mempromosikan seni dan budayanya melalui pesta kesenian 5 pulau.

Darwis berharap rencana ini mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Kota dan DPRD Kota Balikpapan. "DKB hanya memfasilitasi kegiatan ini, harapkan kami Pemkot dalam hal ini DInas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata mendukungnya," tandasnya.

Sementara, Ketua DPRD Kota Balikpapan Abdullah yang ikut hadir dalam acara pentas seni di panggung terbuka Ratna Kanda, Denpasar, Bali menyambut baik rencana DKB menggelar Pesta Kesenian Lima Pulau.

"Kami mendukung wacana DKB engelar Pesta Kesenian Lima Pulau. Kami harap segera dipersiapkan dan berkoordinasi dengan daerah-daerah yang akan diundang," tuturnya.

Menurut Abdullah, pelasanaan kegiatan ini memerlukan anggaran tidak sedikit, sehingga perlu dipersiapkan jauh-jauh hari.

Mengambil tema "Dawai Sapeq Borneo di Pulau Dewata", tim kesenian Balikpapan terdiri dari 75 pelaku seni dipimpin Ketua DKB H Darwis M Noor mempromosikan seni dan budaya Kaltim di Denpasar, Bali. Misi kesenian dan budaya Kaltim di Bali ini sudah keempat kalinya digelar DKB. Tahun ini bersamaan dengan ajang Pesta Kesenian dan Budaya Bali ke-XXXVII 2015 digelar di Art Center, Denpasar.

Berbagai kesenian asli Kalimantan, khususnya Balikpapan ditampilkan di ajang tersebut, antara lain Tari Liuk Enggang Borneo, Tari Jepen Balikpapan Beriman, Kancet Kuaq, Musik Sampeq Kuaq Tiga Dawai dan Tangguy Datung, serta lagu-lagu Kalimantan.

Antusias penonton di Bali luar biasa. Pementasan belum mulai, ratusan pengunjung dari berbagai daerah, termasuk para turis dari manca negara yang berkunjung ke Bali sudah memenuhi arena panggung.

Lenong Betawi Masuk Mal Balikpapan

Balikpapan, Kaltim - Kerinduan warga Betawi yang tinggal di Kota Minyak terhadap suasana Jakarta sedikit terobati. Komunitas Orang Jakarta (Koja) menggelar festival kebudayaan Jakarta di Plaza Balikpapan, Minggu (11/1). Kegiatan ini sekaligus merayakan ulang tahun yang ke-4. “Ini sebagai ajang melepas rindu dengan warga asli Jakarta yang tinggal di Balikpapan,” ujar Ketua Koja Bunyamin.

Acara yang dimulai dari pukul 12.00 Wita tersebut dihadiri Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi. Sejumlah pentas kebudayaan Jakarta ditampilkan. Di antaranya, lenong anak, lenong dewasa, band yang membawakan lagu-lagu almarhum Benyamin, dan penampilan magician.

Komunitas yang berdiri pada tanggal 9 Januari 2011 ini mengajak warga asli Jakarta di Balikpapan untuk berkumpul dan bergabung di acara ini. “Kami ingin memberikan kontribusi untuk kesenian di Balikpapan dan wawasan kebudayaan Jakarta kepada warga Balikpapan,” terangnya. Koja di Balikpapan beranggotakan sekitar 200 orang.

Peringati Maulid, Warga Balikpapan Arak "Gunungan" Seberat 200 Kg

Balikpapan, Kaltim - Ratusan umat Muslim memadati Jl Padat Karya, Balikpapan Utara, sekitar pukul 8.30 pagi, Minggu (11/1). Mereka membawa makanan hasil bumi yang dirangkai menjadi satu dan disebut Gunungan. Pagi itu, Jammiyah Tasbih dan Sholawat Kubro mengadakan Kirab Budaya Gunungan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peserta kirab memakai pakaian muslim serba putih. Menariknya, acara ini juga diikuti prajurit TNI Kodam Mulawarman yang mengangkat Gunungan setinggi 2 meter, ditandu dengan rangkaian kayu. Mereka mengarak Gunungan dari Jl Bengkel menuju Sasono Agung Suryo Alam di Jl Padat Karya.

Jarak yang ditempuh lumayan jauh, sekitar 3 kilometer. Kirab Budaya Gunungan ini mengundang banyak perhatian warga yang tinggal di sekitar jalan yang dilalui kirab tersebut. Apalagi, kirab itu juga diiringi dengan lantunan lagu Islami yang dibawakan Marching Band Pondok Pesantren Syaichona Cholil dari Sepinggan, marawis dari Batalion Zipur 17 Kodam VI Mulawarman, dan kesenian Kentongan dari SMPN 14 Balikpapan.

Suasana Kirab Budaya Gunungan berlangsung dengan meriah, kental dengan adat Jawa bernuansa Islam. Tari Saman menyambut kedatangan Gunungan. Semua mata tamu tertuju pada Gunungan. Banyak warga yang mengabadikan peristiwa "langka" tersebut dengan kamera ponsel.

"Untuk Gunungan ini memiliki berat sekitar 200 kilogram dengan tinggi sekitar 2 meter," kata Suntoro, Sekretaris Panitia Acara Kirab Budaya Gunungan.

Acara lalu dilanjutkan tausiah yang dibawakan habib Achmad Jamal Ba'agil bin Toha, pengasuh Pondok Pasantren Anwarut Taufiq dan Majelis Ta'lim Ar-Ridwan, Malang, Jawa Timur. "Pentingnya mengingat hari lahir Nabiullah SAW, semoga kita semua termasuk orang-orang yang berada selalu di jalan-Nya," kata habib Achmad.

Disamping itu, KH Maulana Haris Abdillah selaku pengasuh Jamiyyah Tasbih dan Sholawat Kubro menjelaskan acara ini bertemakan kebersamaan dalam kesederhanaan dalam mencintai Allah dan Rosulnya. Di acara ini semua kalangan menyatu dan semua umur pun bergabung.

"Di sini kami memberikan yang beda untuk seluruh masyarakat. Dimana nantinya ada aspek seni keindahan, karena umat Islam itu suka dengan yang indah. Kalau kita melakukan yang indah insya Allah akan tentram dan damai, serta kemakmuran dalam keadaan yang terjalin," katanya.

Acara ini banyak mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, serta menjalin silaturahmi dan mengingat Rosullulloh, sekaligus tetap mendepankan jati diri bangsa Indonesia. "Banyak hal yang bisa diambil di sini. Kita semakin hari semakin bersatu dengan yang lainnya, saling mencintai sesama umat dan dengan seni ini kita bisa membangun jati diri kita seutuhnya," ujarnya.

Acara ditutup dengan pemberian santunan dan bingkisan kepada anak yatim serta duafa dan pemberian hasil bumi Gunungan kepada warga sekitar.

Cintai Budaya Sendiri, Gelar Lomba Tari Daerah

Balikpapan, Kaltim - Lomba tari khas daerah digelar Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) di Lantai II Balcony, Pasar Baru, Balikpapan, Sabtu (1/11). Kemeriahan acara terlihat dengan banyaknya remaja berpakaian adat khas Dayak. Lomba yang dimulai pukul 09.00 Wita itu mempertontonkan bakat dari para peserta. Perlombaan diikuti para pelajar Balikpapan.

Sebanyak 28 peserta berasal dari 15 SMP dan 13 SMA/SMK. Dengan energik dalam balutan khas Kalimantan, peserta menari dalam waktu 3-5 menit. Mereka memperebutkan piala, piagam, dan dana pembinaan. Peserta sebelumnya telah berlatih selama dua bulan sebelum tampil maksimal.

Kepala Disporabudpar Balikpapan Oemy Facesly menuturkan, agenda rutin ini digelar agar para remaja Kota Minyak tidak melupakan kebudayaan daerah, terlebih memasuki era globalisasi. “Banyak dari mereka yang lebih mencintai budaya luar. Upaya ini diharapkan mampu menjadi pencegah agar kecintaan terhadap budaya sendiri tidak terkikis,” harapnya.

Salah seorang peserta, Alifia Tira Tsabithah yang juga anggota tim SMP 1 ini menampilkan tarian bernama Lapah Bagabag dengan lima orang penari perempuan. Tarian itu mengisahkan tentang burung enggang yang merasa senang karena masih ada manusia yang peduli keberadaannya.

Namun merasa sedih dan lelah karena terus diburu. “Kalah atau menang bukan masalah. Walaupun besar keinginan kami dapat mempertahankan gelar juara I tahun lalu,” kata remaja yang duduk di kelas XII ini. Perlombaan diadakan selama dua hari. untuk hari ini dilanjutkan dengan perlombaan batik.

Heritage Night Kembangkan Batik Lokal Balikpapan

Balikpapan, Kaltim - Iringan sampek dan tingkilan menggema di atrium The Plaza Balikpapan, Minggu (5/10) malam. Sebuah panggung sederhana dengan background berwarna ungu bertuliskan Heritage Night – yang merupakan tajuk acara malam tersebut.

Terlihat istri Wali Kota Balikpapan Arita Riza Effendi di barisan kursi terdepan mengenakan setelan dengan atasan kuning telur yang cerah dengan bawahan yang senada. Kemudian pengelola Rumah Kreatif Balikpapan (RKB) Etty Nuzuliyanti, Ida Roy Nirwan dari Batik V, dan Emi Alaydrus yang merupakan pemilik Rumah Ampiek.

Heritage Night berisi berbagai kegiatan mulai dari Lomba Pengaplikasian Desain Batik Khas Balikpapan, Lomba Bordir, Fashion Show Batik Khas Balikpapan, dan Talk Show.

Lomba Aplikasi Desain Batik Khas Balikpapan dimenangkan Putri Asha Salsabil dengan judul karya Capiting BM. Sebagai juara pertama ia berhak membawa pulang piala dan dana pembinaan sebesar Rp 7,5 juta. Kemudian di peringkat II Supratono dan III Suherman. Pada kategori Lomba Bordir, juara pertama diraih Susmiati dari Borneo Picaso dengan judul karya Balikpapan Maju Menuju Keemasan. Selanjutnya di posisi II diraih Gusti Yudhiansyah, dan juara III Uswatun Khasanah.

Dalam talk show, Arita dan Etty didapuk sebagai narasumber. Arita pun mengemukakan harapnya terhadap kelangsungan batik Balikpapan. “Semoga saja semakin banyak pesanan yang diterima oleh para pembatik,” harapnya.

Sedangkan Etty menuturkan perajin batik hendaknya tidak hanya mengutamakan orderan tapi juga perlu memerhatikan kualitas produk dari batik tersebut . “Kualitas batik yang dihasilkan harus tetap terjaga tanpa mengurangi keistimewaan produk itu sendiri,” tuturnya.

Kemudian, dalam peragaan busana batik khas Balikpapan terbagi dalam dua sesi. Ada sebelas model tampil memukau dengan memakai atasan kebaya simpel dan bawahan kain batik yang dililitkan sebagai rok sembari menjinjing sebuah tas sulam. Sedangkan model pria lebih memberi kesan formal dengan kemeja, serta warna yang lebih tua.

Arita berharap dari kegiatan mampu memancing antusiasme masyarakat Balikpapan untuk terus berupaya mengembangkan batik di dalam daerah. Karena dengan begitu mereka juga mampu meningkatkan perekonomian keluarga sendiri.

TII Sarankan Dua Fokus Pemberantasan Korupsi

Balikpapan—Transparency International Indonesia (TII) menyarankan pemerintahan memfokuskan pemberantasan korupsi pada bidang hukum dan ekonomi Indonesia. Dua lembaga ini diyakini sebagai pusat penyalahgunaan kewenangan serta praktek korupsi. “Pemerintah fokus pada dua lembaga ini saja,” kata Sekretaris Jenderal TII Teten Masduki di Balikpapan kemarin.

Teten menyatakan, survei TII menemukan rendahnya kepercayaan masyarakat kepada pelaku penegak hukum Indonesia. Menurut dia, kondisi ini yang membuat indeks persepsi korupsi (IPK) atas pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono hanya 3,6 dari sebelumnya 2,3. “Kecil sekali kenaikannya. Itu karena Komisi Pemberantasan Korupsi bekerja sendirian. Tidak ada dukungan dari kejaksaan, apalagi kepolisian,” ungkapnya. Teten mengimbau ada pembenahan internal di dalam institusi kejaksaan dan kepolisian.

Dalam bidang ekonomi, Teten mengimbau diadakan pembenahan birokrasi keuangan seluruh departemen dan pemerintah daerah. Dia menilai ada gejala untuk memperpanjang rantai perizinan birokrasi usaha untuk dimanfaatkan sebagai ladang korupsi. “Perizinan bisnis di Indonesia harus kurang dari 30 hari seperti Malaysia. Saat ini, untuk membuat izin bisnis, bisa mencapai 130 hari,” ungkapnya. SG WIBISONO

Sumber : Koran Tempo, Rabu, 15 April 2009

Malaysia Kembali Klaim Tikar Indonesia

Balikpapan, Kaltim - Sejumlah pedagang tikar bidai di Pasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan, Kalimantan timur, geram saat tahu hasil kerajinan tangan mereka diklaim Malaysia. Padahal, hingga kini masih banyak turis asal Malaysia yang berburu tikar bidai di pasar ini.

Menurut para pedagang, para pembeli dari Malaysia memborong tikar tersebut dan mengganti mereknya menjadi Bidai Serawak. Dijual di Malaysia, harganya dinaikkan hingga lima kali lipat.

Padahal, tikar dari rotan tersebut telah puluhan tahun dijual di pasar itu. Tikar diperoleh langsung dari pengrajin suku Dayak di pedalaman pulau Kalimantan.

Pedagang geram, pasalnya tikar tersebut adalah salah satu warisan kerajinan budaya asli Kalimantan. Peminatnya bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga mancanegara, termasuk para turis asal Malaysia.

Harga tikar polos seukuran sajadah hanya dibanderol Rp50 ribu, sedangkan ukuran jumbo bisa seharga Rp1 juta. Para pedagang berharap, pemerintah dapat segera mengambil langkah tegas menyelesaikan masalah tikar bidai ini.

Ketua Komisi X DPR RI, Agus Hermanto mengatakan, pihaknya akan mendalami kasus Tikar Bidai khas Dusun Seluas, Kalimatan Barat, yang diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu kerajinan tangan miliknya.

“Tentunya kita akan melakukan raker atau dengar pendapat dengan Kemendikbud. Kan disana ada Ditjen dan Wamen. Agar kita bisa mengetahui secara rinci yang telah terjadi,” kata Agus, tadi malam.

Upaya tersebut dilakukan karena banyaknya kasus serupa yang melibatkan kedua negara serumpun ini. “Kalau kita diam saja, kan tidak bisa menyelesaikan masalah. Namun kalau kita melihat ini dengan terburu-buru dengan tidak melihat latar belakang, tentu kita juga salah,” tambahnya.

Sebelumnya dikabarkan oleh salah seorang pengrajin Tikar Bidai, Basiran (45), ia mengungkapkan, modus yang dilakukan oleh Malaysia adalah memborong bidai dan kemudian menjualnya kembali dengan mengganti merek dari tikar tersebut menjadi Bidai Serawak. Kalau sudah masuk Malaysia mereka mengklaim menjadi Bidai Serawak dengan terlebih dahulu mereka poles dan mereka kemas,” kata Basiran.

Tidak hanya itu, harga jualnya pun dinaikkan hingga lima kali lipat. Jika harga jual awalnya 220 Ringgit Malaysia (RM), setelah sampai di Negeri Jiran naik menjadi 1.000 RM.

Perhelatan Seni Multietnis di Kenduri Rakyat

Balikpapan, Kaltim - Multietnis. Hal itulah yang akan tersaji dalam Kenduri Rakyat yang akan diselenggarakan besok, Minggu (29/9) mulai pukul 14.00 Wita hingga malam hari. Penampilan kesenian dari berbagai daerah di Indonesia bisa dinikmati di parkiran Balikpapan Sport & Convention Centre (BSCC) atau Dome ini.
Tari Giring-Giring dari suku Dayak Dusun Ma’anyan termasuk di dalamnya. Tarian yang biasa dibawakan pada acara perjamuan atau acara adat itu menggambarkan rasa gembira dan rasa senang. Tarian ini dimainkan dengan cara mengentakkan satu tongkat Gantar yang dipegang tangan kiri ke lantai, sedangkan tangan kanan memegang bambu yang berisi kerikil serta digoyangkan agar tercipta bunyi khas.
Dewan Kesenian Balikpapan (DKB) turut menyemarakkan Kenduri. Darwis, ketua DKB, mengungkapkan pihaknya akan membawakan tarian Madongi. Yakni, tarian yang bercerita tentang permainan anak-anak setelah panen padi.
Tidak ketinggalan, Kerukunan Keluarga Batak Balikpapan (KKBB) ambil bagian. KKBB membawakan tari Tortor. Tarian ini sudah dikenal di Indonesia maupun mancanegara.
Selain itu, Ikatan Keluarga Maluku Tenggara (IKAMalra) juga sudah menyiapkan Tari Gaba-Gaba dan Tari Nabar. Sebelumnya, Paguyuban Barongsai Satya Dharma sudah menyatakan kesiapannya membawakan gerakan baru di gelaran Kenduri. Dan, ada juga kesenian Wayang Kulit dan Campur Sari.
Gerakan-gerakan baru itu, Ketua Paguyuban Barongsai Satya Dharma, Darwin, berasal dari tarian yang saat ini sedang tren. “Seperti apa tariannya, silakan saksikan penampilan kami pada hari Minggu (besok),” ujarnya.
Acara ini juga akan menghadirkan seni budaya hadrah yang dimainkan bubuhan Banjar.

Pembulka Kenduri

Pecinta seni benar-benar akan dimanjakan besok. Mulai dari yang hobi bermusik sampai dengan membaca puisi. Kedua seni ini akan dipadupadankan dalam acara pembuka Kenduri Rakyat untuk Dahlan Iskan.
Ada tujuh band yang ikut serta dalam Festival Band Demi Indonesia dan 15 peserta lomba Cipta dan Baca Puisi Demi Indonesia. Mereka akan bersaing untuk menjadi yang terbaik.
Selain itu, terdapat pula band pengisi acara seperti, Super Boys Band, Tobe Kustik, Casette Band, dan Rasputin. “Acara akan kami langsungkan mulai pukul 14.00 Wita. Jadi kami harap, peserta bisa datang tepat waktu,” ujar panitia Kenduri, Anwar “Olle” Cholis.
Tidak ketinggalan juga performa dari DJ Nicho dan Double Beat yang semakin membuat acara semakin menarik.
Semakin lengkap dengan penampilan penggiat musik Balikpapan, penggemar Iwan Fals, dan band-band lokal dalam “Tribute to Iwan Fals”. Acara digelar di lokasi yang sama. Karya-karya Iwan Fals akan dibawakan hingga malam hari. “Pengunjung bisa datang, menikmati lagu dengan nyaman, dan bernostalgia dengan lagu-lagu Iwan Fals. Gratis!” ujar Olle.

325 Penari Ramaikan Tari Jepen Selendang

Balikpapan, Kaltim - Masyarakat Balikpapan menunjukkan komitmen untuk mendukung budaya daerah. Hal itu terlihat dengan keberhasilan memecahkan catatan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) atas Tari Jepen Selendang dengan jumlah penari terbanyak yaitu 325 orang di Lapangan Merdeka, kemarin (11/2).

Pemecahan rekor ini dilakukan setelah upacara peringatan ulang tahun ke-116 Balikpapan sekaligus merupakan rangkaian acara memeriahkan HUT Kota Beriman.

Penghargaan diserahkan oleh Paulus Pangka dari MURI Semarang kepada Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi didampingi Ketua Panitia HUT Ke-116 Kota Balikpapan Ronny LHDA dan koreografer Tari Jepen Selendang Oemy Facessly.

Salah satu syarat untuk dapat tercatat sebagai pemecah rekor di Indonesia dan mendapat penghargaan MURI, menurut Paulus, tarian harus dibawakan sedikitnya oleh 250 orang. “Dan Tarian Jepen Selendang di Balikpapan pagi ini (kemarin, Red) telah ditarikan oleh 325 penari. Jadi MURI mencatatnya sebagai rekor Indonesia dan memberikan penghargaan MURI kepada Pemerintah Kota Balikpapan,” ujar Paulus.

Dalam narasi yang dibacanya seiring tarian ini, Oemy Facessly menceritakan makna dari tarian ini. Tarian ini bermakna keterpaduan, persatuan dan kesatuan gerak, dan langkah seluruh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di Balikpapan. Sedangkan selendang bermakna perlindungan dan kedamaian.

Ratusan penari yang membawakan tari Jepen Selendang yang tampil kemarin pagi di Lapangan Merdeka ternyata bukan hanya penari Balikpapan.

Partisipasi sejumlah ekspatriat yang bermukim di Balikpapan membuat tarian ini semakin semarak. “Terima kasih kepada sanggar tari A&R Studio, Matilda, pelajar SMA dan SMK, serta ekspatriat yang terlibat sebagai penari,” ujar Oemy.

Diketahui, selain menjadi koreografer tarian pengisi upacara peringatan HUT ke-116 Kota Balikpapan, Oemy juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Balikpapan. Di tengah kesibukannya, ia mengaku masih sempat meluangkan waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu hal untuk pemecahan rekor tersebut.

“Ada sepuluh instruktur yang membantu saya. Juga banyak bantuan dari Dinas Pendidikan dan berbagai sanggar tari di Balikpapan seperti yang saya sebutkan tadi,” terangnya.

Ia mengaku timnya sudah melakukan sebanyak 15 kali sebelum tampil. “Dimulai pada awal Januari yang dijadwal secara acak sampai 15 kali. Tarian itu sendiri konsepnya tari pergaulan dan tari kreasi melayu dengan durasi sekitar 12 menit,” pungkasnya.

Erau Budaya Balikpapan 2013 Dimulai

Balikpapan, Kaltim - Menyambut ulang tahun ke-116 Kota Balikpapan, Lembaga Adat Kutai Balikpapan menggelar Erau Budaya Balikpapan di area Banua Patra, Jalan Sudirman, mulai Rabu (6/2) hingga Minggu (17/2) mendatang. Pada pembukaan Erau kemarin dihadiri Putra Mahkota Prabu Arifin, putra kedua Sultan Kutai Kartanegara. Dalam gelaran yang berlangsung kedua kalinya di Kota Beriman ini turut melakukan adat beluluh yang diikuti para pemangku jabatan tinggi dari berbagai bidang, seperti Ketua DPRD Andi Burhanuddin Solong, Danlanal Kolonel (P) I Gusti Kompiang, Dandim 0905 Letkol Inf Endro Sasongko, perwakilan Polres, dan perwakilan Wali Kota.

“Beluluh bertujuan mengeratkan tali persaudaraan. Yang sempat terputus, kembali terikat dan yang terjalin akan semakin erat,” ujar Junaidi Ping Juan Ringkai (50), Panglima Penggawa Adat Kuning usai pengukuhan.

Disampaikan Haryanto Bachroel, Menteri Sekretaris Keraton Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Erau kali ini membawa misi untuk mengembangkan pariwisata Balikpapan, karena Kota Minyak masih merupakan kesatuan wilayah adat Kesultanan Kutai yang sudah ada sejak dulu.

“Kami dari keraton memberikan warna suka cita, dengan ragam adat dari Kutai kepada salah satu wilayah anak karena Balikpapan pun termasuk budaya kita,” tuturnya. Oleh karena itu Erau Budaya Balikpapan 2013, lanjut dia, dimulai dengan upacara pengukuhan para pejabat tinggi sekitar. “Tujuannya supaya budaya Erau pengerat persaudaraan ini bisa berjalan dan berkembang dengan baik,” imbuh dia.

Haryanto yang bergelar Adji Pangeran Gondo Prawiro itu juga mengatakan bahwa dalam setiap Erau Budaya, tentu mengharapkan semua etnis bisa terlibat di dalamnya, dengan tetap berada pada garis jelas kebudayaan Kutai. Dirinya mengungkapkan, Erau Adat hanya bisa dilakukan di Keraton Tenggarong, sementara yang saat ini sedang berlangsung selama sepekan ke depan dinamakan Erau Budaya karena dilaksanakan di luar wilayah kerajaan (Keraton Tenggarong).

“Jika dikemas dengan baik, kami yakin, kita akan berkembang dengan baik dan terarah. Lantas berujung pada ekonomi kerakyatan dan kreatif yang meningkat. Karena pastinya juga akan mengundang wisatawan lokal maupun asing sehingga meningkatkan devisa negara,” terang pria 60 tahun tersebut.

Erau Budaya Balikpapan ini nantinya diisi dengan ragam kegiatan seni dan olah raga tradisional seperti Pelas Benua, Kesenian Keraton, Besawai, Wisata Kuliner, Pesta Pantai, Maulid Habsy, Belimbur dan ramah tamah sebagai penutup acara Erau pekan depan. “Besawai dan Pelas Benua bertujuan membersihkan alam dengan menjauhkan bala dan segala hal yang tidak baik di sekitar masyarakat,” tambah abdi dalem keraton berusia 50 tahun itu.

Selain itu akan ada adat Siraman, yaitu semua masyarakat yang hadir akan disiram air dengan tujuan membersihkan jasad dan rohani dari ketidakbaikan atau hal-hal negatif di sekeliling, sehingga kembali suci nan fitri. “Siapa saja, tanpa pandang jabatan dan status sosial, harus disiram dan tidak boleh marah,” imbuhnya. Diungkapnya, acara Siraman akan berlangsung di Pantai Segara Sari Manggar pada penutupan Erau nanti.

Ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong yang dikukuhkan urutan pertama menyampaikan Momentum Erau Budaya Balikpapan tahun ini adalah bagian dari eksistensi Bhineka Tunggal Ika. Oleh karena itu acara ini bagian dari upaya mempertahankan serta memelihara tradisi leluhur, pelestarian adat yang sudah ada sejak abad lampau, seni dan budaya, agar tidak tertelan zaman.

Sesuai dengan instrumen Undang-undang Nomor 10 tahun 2009 tentang pariwisata, sekaligus menjadi destinasi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. “Erau ini merupakan simbol kedekatan bagi para kepala-kepala wilayah dengan pemimpin adat asli. Jadi bersama-sama memajukan potensi agar tidak mengalami kemunduran terlalu jauh akibat modernisasi,” katanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts