Malaysia Kembali Klaim Tikar Indonesia

Balikpapan, Kaltim - Sejumlah pedagang tikar bidai di Pasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan, Kalimantan timur, geram saat tahu hasil kerajinan tangan mereka diklaim Malaysia. Padahal, hingga kini masih banyak turis asal Malaysia yang berburu tikar bidai di pasar ini.

Menurut para pedagang, para pembeli dari Malaysia memborong tikar tersebut dan mengganti mereknya menjadi Bidai Serawak. Dijual di Malaysia, harganya dinaikkan hingga lima kali lipat.

Padahal, tikar dari rotan tersebut telah puluhan tahun dijual di pasar itu. Tikar diperoleh langsung dari pengrajin suku Dayak di pedalaman pulau Kalimantan.

Pedagang geram, pasalnya tikar tersebut adalah salah satu warisan kerajinan budaya asli Kalimantan. Peminatnya bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga mancanegara, termasuk para turis asal Malaysia.

Harga tikar polos seukuran sajadah hanya dibanderol Rp50 ribu, sedangkan ukuran jumbo bisa seharga Rp1 juta. Para pedagang berharap, pemerintah dapat segera mengambil langkah tegas menyelesaikan masalah tikar bidai ini.

Ketua Komisi X DPR RI, Agus Hermanto mengatakan, pihaknya akan mendalami kasus Tikar Bidai khas Dusun Seluas, Kalimatan Barat, yang diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu kerajinan tangan miliknya.

“Tentunya kita akan melakukan raker atau dengar pendapat dengan Kemendikbud. Kan disana ada Ditjen dan Wamen. Agar kita bisa mengetahui secara rinci yang telah terjadi,” kata Agus, tadi malam.

Upaya tersebut dilakukan karena banyaknya kasus serupa yang melibatkan kedua negara serumpun ini. “Kalau kita diam saja, kan tidak bisa menyelesaikan masalah. Namun kalau kita melihat ini dengan terburu-buru dengan tidak melihat latar belakang, tentu kita juga salah,” tambahnya.

Sebelumnya dikabarkan oleh salah seorang pengrajin Tikar Bidai, Basiran (45), ia mengungkapkan, modus yang dilakukan oleh Malaysia adalah memborong bidai dan kemudian menjualnya kembali dengan mengganti merek dari tikar tersebut menjadi Bidai Serawak. Kalau sudah masuk Malaysia mereka mengklaim menjadi Bidai Serawak dengan terlebih dahulu mereka poles dan mereka kemas,” kata Basiran.

Tidak hanya itu, harga jualnya pun dinaikkan hingga lima kali lipat. Jika harga jual awalnya 220 Ringgit Malaysia (RM), setelah sampai di Negeri Jiran naik menjadi 1.000 RM.

-

Arsip Blog

Recent Posts