Tampilkan postingan dengan label Tanjungpinang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanjungpinang. Tampilkan semua postingan

Desainer Wanita Asal Kepri Ini Kenalkan Batik Gonggong ke Kancah Nasional

Seorang desainer wanita asal Kepulauan Riau (Kepri), Nur Afni Dwi Anggraini, mengenalkan batik gonggong karya Efiyar M Yamin di kancah nasional melalui acara fashion show muslim yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center dari tanggal 19-22 April 2018 baru-baru ini.

Nur Afni Dwi Anggraini yang akrab disapa Reni ini memperkenalkan batik gonggong khas Kepri melalui karya desain baju Islami yang ia desain sendiri.

Reni yang baru pertama kali mengikuti kontes fashion show bertaraf nasional ini mengutarakan alasan dirinya mendesain batik gonggong tersebut.

Dirinya terinspirasi ingin mengenalkan kepada masyarakat Indonesia bahwasanya bukan hanya daerah lain yang memiliki karya kain batik daerah. Namun Kepri juga mempunyai karya kain batik yang tak kalah bagusnya.

“Fashion show yang bertemakan muslim festival ini kan bertaraf nasional. Jadi, saya ingin menampilkan khas negara kita yakni kain batik. Dalam desain kali ini, saya memilih kain batik gonggong untuk saya padukan dalam karya desain busana muslimah kali ini,” ucapnya.

Reni menjelaskan, didalam busana muslimnya tersebut, dia juga memadukan beberapa warna khas yang ada di bumi Melayu.

“Didalam busana ini ada beberapa warna. Pertama warna kuning yang identik dengan warna khas adat Melayu. Kemudian warna biru yang menunjukkan keindahan alam laut yang ada di Kepri,” ungkapnya.

Reni yang juga mempunyai batik busana muslimah di Kota Batam ini mengatakan, respon terhadap desain busana muslimah dari bahan batik gonggong tersebut mendapatkan antusias luar biasa dari para tamu undangan yang hadir pada festival muslim yang disponsori oleh Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Ia berharap agar desain busana muslim dirinya ini dapat diterima seluruh masyarakat yang ada di Indonesia, khususnya kain batik gonggong yang asli milik Kepulauan Riau. (M. Danu)

Sumber: https://lintaskepri.com

Menggali Budaya Melayu di Festival Pulau Penyengat

Anda suka budaya Melayu? Atau tertarik dengan dunia maritim? Datang saja ke Tanjungpinang pada 14-18 Februari 2018. Ada lebih dari 20 agenda Festival Pulau Penyengat 2018 yang bisa dinikmati.

Konsep matang dihadirkan. Berbagai perlombaan dan acara keren disiapkan. Ada lomba dayung sampan, lomba pukul bantal di laut, lomba nambat itik di laut, dan lomba becak motor hias. Selain itu, ada juga pangkak gasing, syahril gurindam 12, membaca gurindam 12, pertunjukan wayang cicak, dan kegiatan klinik sastra.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Dispar)Kota Tanjungpinang, Reni Yusneli, mengatakan selain itu, ada beberapa acara pendukung lain yang tak kalah menariknya. Ada Fashion Malay Penyengat Syawal Serantau, Hunting Photography Penyengat Halal Competition, dan Short Film Netizen Penyengat Halal Competition.

"Tidak hanya itu, ada pula acara seru lainnya seperti Tour Pattern Penyengat Halal Competition, Khazanah Kompang Melayu. Agenda ini sekaligus menjadi sarana pertunjukan dan hiburan bagi wisatawan dan masyarakat Tanjungpinang," sebut Reni, Rabu (16/01/2018).

Reni optimistis, festival ini juga berpotensi menjaring wisman di wilayah perbatasan. Di samping jaraknya yang relatif dekat dengan Malaysia dan Singapura, kedekatan kultur dan budaya pun menjadi pertimbangannya. Apalagi budaya Melayu di wilayah ini masih sangat kental dan tetap dilestarikan.

"Karena dengan festival yang dilandasi dengan budaya, dipastikan tingkat kunjungan wisatawan dari negara tetangga semakin bertambah. Itu juga akan memajukan daerah serta meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat," papar Reni.

Dari sekian banyaknya kegiatan, lanjut Reni, ada tiga acara unggulan yang akan menjadi atraksi paling menarik. Top 3 event ini dipastikan bakal menjadi pusat perhatian wisatawan.

"Top 3 event akan terbagi tiga jenis, yaitu Kompetisi Malay Fashion Carnaval, Parade Melayu dan Muslim Fashion, juga Bazar Melayu Fashion. Event ini terus menyasar crossborder tourism karena dekat dengan Malaysia dan Singapura," kata Reni.

Dijelaskan Reni, kompetisi fashion karnaval diadakan dengan tujuan menggali konten lokal Melayu. Peserta akan memamerkan pakaian dengan model dan desain penuh atribut Melayu yang indah-indah. "Kompetisi ini akan mengangkat konten lokal Melayu dalam karya kreatif pakaian karnaval. Ini juga sebagai daya tarik untuk kunjungan para turis. Diharapkan akan menjadi aktivitas pariwisata Pulau Penyengat .”

Sumber: http://www.netralnews.com

Pantun Dimasukkan Kategori Budaya Hampir Punah

Tanjungpinang, Kepri - Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri menyampaikan bahwa pantun masuk dalam kategori budaya yang dideskripsikan berada dalam situasi mendesak dan hampir punah.

"Karena disinyalir tokoh pantun sudah berusia tua dan berjumlah sedikit, sementara regenerasi penerus pantun belum banyak," kata Kepala BPNB Kepri Toto Sucipto, di Tanjungpinang, Sabtu (11/3).

Lantaran hal itu, pantun dimasukkan ke kategori "Urgent Safeguarding List" untuk usulan ke UNESCO. Keputusan itu merupakan final dalam pembahasan pantun bersama antara BPNB Kepri, Dinas Kebudayaan Kepri, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Tim Penelitian Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan 100 masyarakat Kepri di Dompak.

Selain itu, berbagai elemen masyarakat yang hadir juga telah menandatangi komitmen bersama untuk menjadikan pantun sebagai warisan budaya dunia.

"Komitmen ini juga merupakan kelengkapan pendukung referensi di samping syarat yang lain, seperti mengisi formulir nominasi, video, dan foto," ungkapnya.

Dengan komitmen tersebut, kata Toto, maka ada rencana aksi dari masyarakat setempat untuk melestarikan pantun. Bahkan tim dari Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam menunggu kelengkapan syarat tersebut untuk bersama mengajukannya ke UNESCO.

Toto menjelaskan banyak manfaat strategis bila pantun diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

"Di antaranya, pantun dapat dijadikan strategis komunikasi masyarakat, terutama dalan komunikasi 4 negara pengusungnya," ujar Toto. Manfaat lainnya adalah peluang promosi gratis menggaungkan pantun secara internasional yang sebelumnya dilakukan masyarakat dalam skala kecil.

"Pantun juga akan dapat memicu kebanggaan masyarakat Indonesia, karena sudah diakui dunia. Artinya dari tidak peduli terhadap pantun, menjadi pribadi yang peduli, karena dunia saja mengakui pantun tersebut," tuturnya.

Zuriat Kerajaan Riau-Lingga Ingin Luruskan Sejarah

Tanjungpinang, Kepri - Raja Muhammad Said Bin Engku Lok (65) salah seorang zuriat, Keturanan Sultan Abdul Rahmasnsyah Kedua, dan turunan dari Raja Ali Kelana, Kerajaan Riau-Lingga ingin meluruskan sejarah, garis keturunan kerajaan yang pernah berkuasa di zamanya, sebelum berhijrah ke Singapura pada tahun 1911.

"Tujuan utama kita adalah untuk melestarikan peninggalan dari apa yang telah diwariskan, sehingga jika dibantu oleh pemerintah Indonesia serta semua pihak, tentu kita dapat bekerjasama untuk meluruskan sejarah garis keturunan kerajaan Riau-Lingga yang sebenarnya," kata Muhammad Said warga negara Singapura didampingi kerabatnya Raja Muhammad Khalik Bin Raja Adnan waris keturunan yang dipertuan muda Riau serta kuasa hukumnya, Iwan Kurniawan SH MH Msi dan Rusmadi SH, pada sejumlah media, Minggu (22/1).

Menurut Muhammad Said, salah satu peninggalan sejarah kerajaan Riau-Lingga menyangkut Pulau Sore dan Pulau Basing yang sudah dirampas oleh pihak yang merasa memiliki, hingga dirinya digugat sampai ke Konsulat RI di Singapura yang menurutnya hanya atas rekayasa.

"Saya memiliki data yang autentik tentang kedua Pulau tersebut, namun kalau mereka yang merasa memiliki pulau itu dan ingin memperbaiki hubungan baik dengan dirinya, saya siap menerimanya," ucapnya. Dikatakan dia, apa yang dikatakannya tersebut merupakan suatu amanah atau wasiat dari leluhurnya terdahulu.

"Itulah yang saya ibaratkan, ada api di dalam sekam". Mereka di depan saya berbaik hati dan menganggap biasa saja, namun di belakang saya mereka bayak mengumpat dengan berbagai perkataan yang tidak bisa saya mengerti," ungkap Said.

Ia mengakui selama ini ada pertalian persaudaraan dengan pihak terkait, namun tidak ada pertalian kekerabatan dari garis lurus keturunan leluhurnya terdahulu.

"Arti kata, kalau tidak ada dalam kekarabatan itu, seolah-olah warga mereka itu sama dan sederajat dengan garis keturunan leluhurnya. Padahal itu sangat jauh perbedaan pertaliannya. Artinya, anak ayam itu tetap jadi anak ayam. Masak ada anak ayam mau menjadi Merak? Mustahilkan," ungkap Said.

Said juga menyampaikan kekecewaannya selama ini terhadap pandangan sebagian orang yang menganggapnya sebagai orang asing, karena memiliki warga negara Singapura, sehingga ia merasa terkucilkan dan terabaikan dalam ikatan kekerabatan dari garis keturunan yang sebenarnya.

"Bagi saya, saya bukan warga negara asing, karena apa yang telah diwariskan oleh leluhurnya terdahulu merupakan suatu bukti, bahwa asal-usulnya dari negeri yang pernah ditaklukan oleh leluhurnya terdahulu dan satu garis keturunan dengan Keturanan Sultan Abdul Rahmansyah Kedua, dan turunan dari Raja Ali Kelana," ujarnya.

Ketika ditanya, apakah dia bersedia menjadi warga negara Indonesia jika memang menjadi salah satu persyaratan, maka ia mengaku siap bersama istri untuk pindah warga negera dan tinggal di daerah ini.

"Hal itu sudah saya pikirkan sejak 40 tahun lalu. Arti kata, kepindahan kewarga negaraan saya itu, bukan saya tamak akan harta keturunan, melainkan ingin melestarikan peninggalan sejarah yang terabaikan bersama-sama warga negara Indonesia," ungkapnya.

Dari Rp 1,7 Triliun APBD Natuna 2006, Anambas Hanya Dapat Rp 1 Milliar

Tanjungpinang—Usulan pemekaran Kabupaten Anambas, tidak terlepas adanya kecemburuan akibat tidak meratanya pembangunan yang dilaksanakan Pemkab Natuna. Bahkan dari Rp 1,7 triliun APBD Natuna 2006, Anambas hanya mendapat pembangunan Rp 1 miliar saja, selebihnya dilaksanakan di daerah lainnya di Natuna. Demikian dikatakan Fadil Hasan SH, Humas BP2KK Anambas kepada sejumlah wartawan di Tanjungpinang, Selasa (12/2).

Fadil menjelaskan awalnya, pemekaran Kabupaten Anambas merupakan usulan yang paling mulus dan tidak ada pergolakan sebelumnya. Tetapi kepentingan elit politik pusat dan Bupati Daeng Rusnadi menjadikan proses pemekaran sudah disetujui masyarakat dengan bulat itu, terusik.

"Pemekaran ini kami tuntut karena selama ini pembagian pembangunan tidak pernah merata. Pemerintahan Kabupaten Natuna saat ini sarat dengan KKN, serta korupsi, dan dari Rp 1,7 triliun APBD 2006 lalu, hanya Rp 1 miliar lebih pembangunan yang sampai ke Anambas selebihnya di daerah kabupaten induk dan dikorupsi semua," jelasnya.

Lebih kontras Fadli mengatakan, saat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) datang memeriksa dan mengaudit keuangan APBD Natuna, para auditor negara ini tak ubahnya seperti konsultan, yang datang serta pulang dengan hadiah di dalam kantong.

Dan surat Bupati Natuna Daeng Rusnadi kepada presiden dan mendagri yang menyatakan menolak pemekaran Kabupaten Anambas, dengan dalih kriterianya belum lengkap, dinilai Fadli merupakan pembohongan, serta menzalimi perasaan masyarakat Anambas.

Padahal, dalam dialog dan pertemuaan antara Bupati, DPD-RI serta Gubernur Kepulauan Riau, yang diwakili Wagub beberapa waktu lalu, jelas-jelas Daeng mengatakan mendukung sepenuhnya pembentukan Kabupaten Anambas. Kenyataannya dengan adanya surat penolakan tersebut, membuat niat dan tujuan baik pembentukan kabupaten di ujung timur Provinsi Kepri, melalui usulan inisiatif legislatif ini kembali mentah. "Kendati keputusan DPD-RI hanya sebagai usulan, kami mendesak dan meinta kepada DPR-RI agar dapat dan tetap mengesahkan RUU pembentukan pemekaran Anambas, dengan dasar serta kriteria yang sudah ditentukan,"jelasnya.

Ditambahkan Fadli, jika bukan karena kepentingan politik, serta adanya money politik, mengapa presiden mengeluarkan Ampres penetapan 12 UU daerah yang akan dibahas. Oleh sebab itu, mentahnya usulan DPD-RI untuk pemekaran Anambas, merupakan permainan elit dan praktek money politik. (Charles)

Sumber: Batam Today, Selasa, 12 Februari 2008

Sambut HUT Kota Tanjungpinang, Pegawai Negeri dan Swasta Diminta Kenakan Pakaian Melayu

Tanjungpinang, Kepri - Menyambut peringatan hari jadi Kota Tanjungpinang ke-233 pada 6 Januari 2017, Pemerintah Kota Tanjungpinang mewajibkan pegawainya mengenakan baju kurung melayu selama dinas.

Pemakaian baju itu dimulai sejak tanggal 3 Januari sampai hari H, 6 Januari 2017.

Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Riono mengatakan, tidak hanya pegawai di lingkungan Pemko Tanjungpinang saja yang diminta menggunakan baju kurung melayu, namun juka pegawai di instansi vertikal.

"Termasuk perbankkan dan perhotelan juga. Kita sudah layangkan surat untuk menggunakan baju kurung Melayu.

Kita minta swasta juga ikut mendukung ini," katanya, Selasa (3/1/2017).

Menurut Riono keharusan menggunakan baju kurung melayu tersebut sebagai bentuk refleksi hari jadi Kota Tanjungpinang.

200 Pelajar Baca Gurindam di Festival Bahari Kepri 2016

Tanjungpinang, Kepri - Festival Bahari Kepri bukan sekadar festival hura-hura melainkan juga festival yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.

Setidaknya sedemikian festival ini ditaja. Sebab itu, dalam senarai kegiatannya tidak lupa memasukkan kegiatan yang kebudayaan yang bertujuan mengajarkan budi pekerti agar semakin terpatri di hati. Utamanya bagi kalangan generasi muda, sebagai generasi penerus pembangunan provinsi ini.

Di antara kegiatan berbasis kebudayaan yang dilakukan itu, hadirlah Lomba Baca Gurindam Dua Belas. Ini merupakan sajian lomba yang pada dua tahun sebelumnya selalu ada pada setiap helatan Festival Sungai Carang, yang merupakan embrio dari Festival Bahari Kepri.

Budayawan Melayu Rida K Liamsi menginginkan agar kebudayaan itu bukan sekadar diupayakan dan dikerjakan oleh orang-orang tua, tapi juga generasi muda.

“Bebaskan anak-anak muda itu berkreasi dalam membaca gurindam. Buat mereka dekat dengan gurindam. Itu agar gurindam bukan saja terpatri di dinding-dinding, tapi juga di hati mereka,” kata Rida, pada sebuah seminarnya.

Bertempat di panggung terbuka area pujasera Melayu Square, Selasa (25/10/2016) kemarin Lomba Baca Gurindam Dua Belas digelar. Ada 200 pelajar yang tergabung dalam 25 kelompok saling unjuk kreativitas membacakan syair gubahan Raja Ali Haji ini. Sebagaimana yang Rida K Liamsi mau, seluruh pelajar itu dibebaskan berkreativitas dalam membacakan gurindam.

Ada yang dibarengi dengan iringan musik tradisional, bahkan ada pula yang membawakannya sambil menggunakan aransemen modern seperti hip-hop atau musik keras. Sehingga teks Gurindam Dua Belas yang semula ‘diam’ itu di tangan-tangan anak muda ini jadi ‘hidup’.

Heru Untung Leksono, satu dari tiga dewan juri menilai, kreativitas yang ditampilkan oleh 200 pelajar ini tetap ada batas. Maksudnya, kata dia, karena ini lomba pembacaan maka cara membacanya pun harus memiliki intonasi dan interpretasi yang baik.

“Musik itu hanya pengiring, penambah suasana, jadi kami tetap fokus menilai pembacaannya,” kata Heru.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti mengapresiasi kegiatan ini dengan dua jempolnya. Kata Guntur, Festival Bahari Kepri memang tidak bisa bila hanya sekadar festival seremonial tanpa memberikan upaya-upaya pelestarian kebudayaan. Karena itu, Guntur tak ragu mengiyakan gelaran Panggung Penyair dan Lomba Baca Gurindam Dua Belas ini sebagai upaya mengingkatkan kembali kegemilangan kebudayaan Tanjungpinang.

“Saya tidak pernah ragu, dari dahulu Tanjungpinang itu dermaga sastra Indonesia. Gurindam Dua Belas ini juga karya agung yang diakui seluruh dunia itu lahir di Tanjungpinang. Anak-anak muda harus tahu dan bangga bila membacakannya,” pungkas Guntur.

Pantun Melayu Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Tanjungpinang, Kepri - Tidak terbayangkan bilamana kemudian pembangunan Provinsi Kepulauan Riau terpisahkan dari aspek-aspek kebudayaan. Karena bagaimana pun, sebagaimana Budayawan Melayu Rida K Liamsi pernah berkata, budaya Melayu adalah ruh pembangunan provinsi ini. Bukan tingginya gedung-gedung atau besarnya pelabuhan-pelabuhan yang akan membuat mata dunia ini menoleh, kata Rida, namun karena kebudayaannya.

Apa yang diucapkan Rida itu kemudian menjadi nyata. Pengujung tahun ini, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI mengusulkan Pantun Melayu sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO.

“Beberapa hari yang lalu kami sudah diundang oleh kementerian untuk mengikuti langsung rapat koordinasi penyusunan naskah akademisnya,” kata Kepala Balai Pelestarian Nilai dan Budaya Provinsi Kepri, Suarman, ditemui Batam Pos di ruang kerjanya, Senin (3/10).

Pada rapat koordinasi tersebut, dinyatakan pada tahun ini Indonesia bakal mengajukan empat warisan budaya takbenda yang dimilikinya sebagai warisan budaya dunia. Pantun Melayu adalah satu di antaranya selain Pencak Silat, Penanggalan Tradisional, dan Lariangi. Menilik senarai ini, menjadi lebih menarik karena Pantun Melayu adalah satu-satunya tradisi lisan yang diajukan.

Ada beberapa pertimbangan sehingga bulat tekad untuk menjadikan Pantun Melayu sebagai warisan budaya dunia. Di antaranya adalah betapa Pantun Melayu telah menjelma sebagai bagian dari peradaban orang-orang Melayu yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang dalam bahasa Suarman, ia menyebutnya telah bersebati dalam jiwa orang Melayu.

“Pantun adalah living culture. Ia hidup dengan sangat nyata dan terasa dalam kehidupan sehari orang-orang Melayu. Bahkan menjadi pembentuk kecerdasan berbahasanya,” ungkap Suarman, yang juga merupakan wakil ketua tim penyusunan naskah akademis pengusulan ini.

Pantun juga identitas orang Melayu. Begitu Suarman menukas tegas. Disadari atau tidak, pantun telah hidup dan lestari. Hampir di setiap aktivitas kehidupan orang Melayu tidak lepas dari pantun. Sebut saja misalnya, kata dia, adat pernikahan. Sehingga dari sini boleh diambil kesimpulan bahwasanya pantun bukan sekadar didefinisikan sebagai karya sastra tua. Tapi juga medium orang Melayu dalam berucap santun dan berpikir bijak.

Lebih daripada itu, pantun juga sebenarnya sudah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional sejak setahun lampau. Artinya, keberadaan pantun dalam lanskap kehidupan masyarakat bangsa Indonesia sudah diakui adanya dan jadi sebuah kekayaan budaya yang tidak terbantahkan.

“Lagipula, sepanjang Indonesia terlibat pada pengusulan warisan budaya dunia, hanya pantun yang merupakan sebuah tradisi oral yang pernah diajukan,” ujar Suarman.

Dari tahun ke tahun dan bahkan sejak seabad lampau, pantun terus dikembangkan, dimanfaatkan, dan dilestarikan. Suarman menjelaskan, hal ini yang membuat posisi Pantun Melayu punya nilai tawar untuk masuk daftar pengusulan warisan budaya dunia tahun ini.

Hingga pertengahan bulan ini, kata Suarman, tim sedang bertungkus-lumus untuk merampungkan naskah akademis pengusulannya. Kemudian, kembali dilaksanakan kajian-kajian bersama sebelum dilayangkan ke UNESCO untuk pengesahannya.

Apa untungnya bila kemudian Pantun Melayu masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia yang diakui UNESCO? Suarman tidak ragu-ragu menjawab. “Banyak sekali,” ujarnya.

Yang paling nyata, kata dia, akan membuat orang-orang seluruh dunia semakin tertarik mempelajari pantun. Kepulauan Riau sebagai satu daerah basis besar orang Melayu akan menjadi tujuan pembelajaran oleh penduduk dunia yang kelewat penasaran dengan pantun. Kata dia, budaya barat akan menoleh kembali ke timur. “Dan itu baru dari sisi pendidikannya saja. Belum lagi dari sisi ekonomi, pariwisata, dan masih banyak lagi,” katanya.

Sebab itu, selama dua pekan ke depan akan disusun dengan baik naskah akademisnya. Suarman mengharapkan ada kerja sama lintas instansi terkait, agar rencana besar ini menjadi nyata dan membuat Pantun Melayu kian masyhur lantaran tercatat dalam warisan budaya dunia.

Pengusulan Pantun Melayu sebagai warisan budaya dunia ini beroleh sambutan positif dari para pegiatnya. Rendra Setyadiharja, pegiat pantun di Tanjungpinang, mengungkapkan, penetapan status ini bakal membuat eksistensi pantun sedemikian meluas. Mungkin saja, sambung Rendra, pantun akan menjelma menjadi suatu tradisi lisan yang bertransformasi ke seni pertunjukan.

“Jelas sekali itu perlu didukung. Sehingga pantun dapat dinikmati semua kalangan dan di mana pun berada,” ujar Rendra.

Hanya saja, Rendra mengingatkan, menjadikan Pantun Melayu sebagai warisan budaya dunia bukan saja sebagai tradisi lisan tanpa aturan main dalam membuatnya, juga bukan saja seni pertunjukan yang boleh ditampilkan dan diperuntukkan di mana saja. “Namun kaidah-kaidahnya harus juga tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam tubuh pantun,” ucapnya.

Rendra tegas mengatakan, menjaga kaidah berpantun adalah keniscayaan. Karena bila tidak, pantun itu akan kehilangan ruhnya. “Karena dalam bentuk apapun pantun harus tetap pada koridor filosofisnya, yaitu sopan dan santun,” ujarnya.

Mewujudkan Kepri Sebagai Bunda Tanah Melayu

Tanjungpinang, Kepri - Hulu Balang Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri bertekad untuk menjadikan Provinsi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu. Berangkat dari keinginan tersebut, Hulu Balang LAM Kepri mulai menyusun strategis dengan memperkuat basis sampai ketingkat daerah.

“Tekad kita adalah untuk menjadikan Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu. Makanya perlu peran strategis Hulu Balang LAM sampai ke Rukun Tetangga (RT) di setiap Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kepri,” ujar Ketua LAM Kepri, Abdul Razak dalam sambutannya pada rapat kerja Hulu Balang LAM Kepri di Aula Asrama Haji, Tanjungpinang, Sabtu (1/10) lalu.

Menurut Abdul Razak, musyawarah kerja dan seminar yang digelar hulubalang LAM Kepri ini membahas peraturan organisasi, program kerja pengurus 2016-2021 dan membangun konsolidasi pembentukan hulubalang LAM kabupaten/kota se-Kepri.

“Semoga muyawarah kerja dan seminar ini menghasilkan nilai yang bisa berkontribusi bagi pembangunan Kepri,” papar Abdul Razak.

Pada kegiatan yang disejalankan dengan seminar sehari dengan tema ‘Penguatan Peran Hulubalang LAM Kepri Mewujudkan Marwah Provinsi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu, dihadiri langsung oleh Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dan Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dalam sambutannya mengatakan, Hulu Balang LAM memiliki peran strategis sebagai penegak marwah. Atas dasar itu, Nurdin berharap agar apa yang dihasilkan dalam musyawarah kerja dan seminar itu bisa memberikan masukan kepada pemerintah daerah di Kepri.

“Untuk menjaga marwah daerah, perlu kerja keras bersama. Tetapi kita apresiasi, LAM sudah membangun kekuatan sampai ke tingkat RT,” ujar Nurdin dalam sambutannya.

Mantan Bupati Karimun tersebut mengakui bahwa pemerintah daerah tidak mampu berbuat apa-apa tanpa peran seluruh elemen masyarakat termasuk LAM di Kepri. Karena itu, pemerintah berharap selalu bisa bersilaturahmi dan bekerja sama dengan LAM dalam membangun provinsi Kepri.

“Jangan karena defisit, kita tidak bisa berbuat banyak. Kebersamaan dan silaturahmi ini menjadi modal besar untuk membangun kepri,” ajak Nurdin.

Gubernur Kepri itu berulang kali menegaskan bahwa marwah itu tidak bisa dilihat dalam peta. Marwah hanya bisa dijaga melalui pemikiran, sikap, langkah dan kebijakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Marwah ini tidak hanya slogan tetapi harus terus diperjuangkan. Mari kita cetak intelektual dari Melayu dan kita transferkan ilmu kepada anak-anak kita,” ajak Nurdin lagi.

Dukungan LAM di Kepri terhadap pemerintah daerah juga diharapkan Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah. Pada kesempatan itu, Lis meminta LAM untuk tetap bersinergi dengan pemerintah daerah setempat. LAM juga diminta untuk terus memfasilitasi semua adat dan budaya yang ada di Kepri.

“Lembaga itu harus membantu pemerintah daerah dalam memberdayakan dan melestarikan adat isti adat dalam perkembangan daerah. LAM harus menjadi media pemersatu di Kepri,” ujar Lis.

Permainan Tradisional Bakal Meriahkan Festival Bahari Kepri

Tanjungpinang, Kepri - Provinsi Kepri kental dengan kebudayaannya Melayu-nya. Untuk mewarnai Festival Bahari Kepri (FBK) yang merupakan rangkaian Sail Karimata 2016 akan menyajikan berbagai permainan tradisional. Kegiatan tersebut akan dipusatkan di kawasan Tepi Laut Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

“Kami sudah merancang dengan matang berbagai permainan tradiosional Kepri yang akan disajikan untuk memberikan nuansa warna pada FBK nanti,” ujar Koordinator Tradisional dan Modern Games, Doli Boniara, Selasa (13/9) di Tanjungpinang.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kepri tersebut mengatakan, tujuan digelarnya permainan-permaian tradisional tersebut adalah untuk memperkenalkan kebudayaan-kebudayaan berupa permainan tradisional kepada wisatawan yang ada. Terlebih Panitia FBK juga sudah mengundang yachter-yachter. Sehingga bisa berbaur dan ikut serta dalam permainan tradisional tersebut.

“Kita ingin menunjukan kalau Kepri merupakan daerah yang sangat bersahabat dengan siapa saja. Meskipun mereka ada wisatawan mancanegara,” papar Doli.

Menurut pria yang pernah memegang jabatan Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Kepri itu, ada beberapa permainan tradisional yang akan ditampilkan nanti. Yakni lomba jong, lomba sampan layar, lomba sampan dayung, festival layang-layang. Kemudian ada juga, lomba panjat pinang, lomba pukul bantal, lomba tangkap itik, lomba gasing, bakiak dan engkrang.

“Selain itu tentuanya ada juga permainan modern seperti lomba renang dari Tanjungpinang ke Penyengat. Ini adalah salah satu cara untuk kita memperkenalkan kebudayaan-kebudayaan Kepri berupaya permainan tradisional,” papar Doli.

Masih kata Doli, kayanya kebudayaan yang dimiliki Provinsi Kepri menjadi karaktristik tersendiri. Menjaga tradisi, menjunjung budaya merupakan hal yang harus ditanamkan dalam hati. Atas dasar itu, ia punya keyakinan besar mimpi Provinsi Kepri untuk menjadi Gerang Pariwisata Bahari Indonesia akan terwujud dalam waktu yang tidak lama.

“Kepri memiliki kawasan-kawasan strategis untuk wisata bahari. Setiap Kabupaten/Kota punya berbagai permainan tradisional. Permainan ini harus terus kita lestarikan. Baik generasi saat ini, maupun generasi penerus. Jangan sampai permainan tradisional ini tergerus karena perkembangan zaman,” paparnya lagi.

Ditambahkannya, permainan tradisional ini nanti, bisa menjadi daya tarik wisata. Sehingga harus dikemas secara anual, serta didukung dengan promosi yang baik oleh pemerintah Kota Tanjungpinang. Karena permainan tersebut hanya digelar di Tanjungpinang sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang.

Rumah Adat Melayu yang Asli Ternyata Ada di Bintan!

Tanjungpinang, Kepri - Sejarah, budaya, bahasa, masyarakat Indonesia memang selalu menghipnotis wisatawan asing untuk datang ke sini.

Meski kini sejarah di Indonesia sudah sedikit dilirik, namun itu justru aset negara untuk terus meningkatkan pariwisata di Tanah Air. Misalnya saja rumah adat tradisional Melayu yang terletak di pulau penyengat.

Rumah adat ini seperti rumah panggung pada umumnya. Namun, nuansa kuning di interior rumah menjadi daya tarik menarik untuk memanjakan mata wisatawan asing.

Salah satunya Tsukiko sebagai wisatawan Jepang yang tengah melipir ke Balai Adat Melayu, pulau penyengat. Baginya, rumah adat ini mirip dengan rumah tradisonal Jepang.

"Sekilas hampir sama dengan rumah di Jepang. Lantainya tiggi dari tanah," ujarnya kepada Okezone, dalam rangkaian acara Fam Trip Jepang 2016, di pulau Penyengat, Kamis (8/9/2016).

Namun, setelah dilihat dan kegunaan rumah adat itu sendiri, menurut wanita berusia 21 tahun tersebut, di rumah Jepang biasanya digunakan untuk tempat tinggal.

Sedangkan di sini sering dipakai untuk upacara adat, dan tempat berkumpul warga. "Saya melihat di sini berbeda. Di sini banyak dipakai untuk acara besar bukan untuk tempat tinggal," tuturnya.

Festival Jiran Nusantara Populerkan Bahasa Melayu Muntok

Tanjungpinang, Kepri - Ketua Umum Festival Bahari Kepri (FBK) Naharuddin, mengatakan, Panitia Daerah sudah merancang 14 kegiatan yang dikemas secara elegan. Mulai 20 Oktober sampai 30 Oktober mendatang. Diawali dengan aksi sadar wisata atau eco heroes di 20 Oktober yang akan melibatkan 1.500 personel gabungan untuk melakukan aksi bersih-bersih disekitar Tepi Laut sampai Pelantar III Tanjungpinang.

Kemudian pada 21 sampai 23 Oktober akan dilaksanakan Tanjungpinang Dragon Boat Race (DBR) Internasional di Sungai Carang, Tanjungpinang. Annual even milik Pemko Tanjungpinang itu akan diikuti berbagai peserta dari dalam dan luar negeri.

Selanjutnya pada tanggal 25 Oktober akan dilaksanakan Festival Sungai Carang (FSC). Kegiatan tersebut dikoordinasi oleh Batam Pos Group. Warna-warni kegiatannya adalah seperti Panggung Gurindam 12, Parade Drum band, Fashion Show Melayu dan Festa Kuliner 10 kampung yang ada di sepanjang kawasan Sungai Carang. Adapun kegiatannya dipusatkan di Anjung Cahaya, Tanjungpinang.

Even yang tak kalah menarik lainnya adalah Wonderfull Indonesia Sailling (WIS) pada 26 Oktober sampai 30 Oktober. Yakni masuknya kapal-kapal yacht ke Tanjungpinang. Baik itu melalu gateway provinsi Kepri maupun gateway nasional. Untuk memberikan pelayanan ini, Panitia juga akan menyiapkan CIQP Temporary di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang.

“Pada 26 Oktober kita juga akan laksanakan panggung penyair di Gedung Daerah. Yakni melakukan pertunjukan sastra budaya melayu oleh sastrawan lokal dan luar negeri,” papar Nahar.

Mantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kepri juga memaparkan, di 27 Oktober juga akan dilaksanakan Sound From Motherland of Malay. Yakni untuk memperkenalkan Provinsi Kepri sebagai bunda tanah melayu. Masih dihari yang sama, juga akan ada parade mobil hias.

“Kita harapkan keikutaertaan masyarakat dalam kegiatan itu nanti. Sehingga bisa melihat kreativitas masyarakat dalam mendukung program wisata daerah,” paparnya lagi.

Keesokan harinya, bertepatan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober, panitia juga sudah menyiapkan even yang spektakuler. Yakni Kepri Carnival. Kegiatan tersebut ditaja khusus oleh Asosiasi Karnal Indonesia (AKARI) Provinsi Kepri. Menurut Nahar, even ini bisa menjadi spirit baru bagi pariwisata di Provinsi Kepri.

Sementara itu, puncak kegiatan FBK akan dilangsungkan pada 29 Oktober. Ada beberapa kegiatan yang sangat istimewa. Seperti fligh fast oleh Angkatan Udara, ada juga aksi terjun payung dari TNI Angkatan Laut. Aksi extrem lainnya adalah motor layang.

“Sore hari akan dihibur dengan Orkestra Senja di Gedung Daerah. Pada malam hari dilanjutkan dengan Sky Lantern dan Parade Kapal Hias Sungai Carang venue utama TIC Gonggong yang direncankan diresmikan RI 1 atau RI 2,” beber Nahar.

Ditambahkannya, pada 30 Oktober kegiatan akan ditutup dengan tradisional dan modern games. Even tersebut dimulai sejak 28 Oktober. Seperti Perahu layar, fetival layang-layang lomba renang Tanjungpinang – Penyengat. Khusus untuk lomba renang dilaksanakan tergantung kondisi cuaca. Selain itu ada juga, Panjat Pinang, pukul bantal, gasing, bakiak.

“Untuk kesuksesan FBK nanti, kita mengharapkan dukungan dari semua pihak. Sehingga mimpi Kepri bisa terwujud kedepannya,” tutup Nahar.

Presiden Bakal Kenakan Pakaian Kebesaran Melayu di Festival Bahari Kepri

Tanjungpinang, Kepri - Koordinator Bidang Penyambutan Tamu pada Festival Bahari Kepri (FBK) yang merupakan rangkaian Sail Karimata 2016, Raja Heri Mokhrizal mengatakan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri merencanakan Presiden Jokowi menggunakan pakaian kebesaran Melayu saat datang untuk membuka kegiatan tersebut.

“Peserta rapat semua sepakat dan berharap Presiden menggunakan pakaian kebesaran melayu saat datang membuka FBK nanti. Selain itu untuk kedatangan tamu-tamu VIP juga akan disambut dengan tepuk tepung tawar,” ujar Heri Mokhrizal, Selasa (30/8) usai memimpin rapat bidang penyambutan tamu di Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Tanjungpinang.

Dijelaskannya, kenapa hanya tepuk tepung tawar yang dipilih sebagai prosesi adat saat penyambutan tamu VIP, karena itu lebih ringkas dilaksanakan. Apabila melibatkan proses beras kuning akan menyita waktu. Disebutkannya, lokasi yang difokuskan tentunya adalah Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang

“Dalam tradisi kebudayaan kita tidak mengenal istilah bunga selamat datang. Sehingga diputuskan tetap menggunakan prosesi adat istiadat yang biasa kita lakukan,” jelas Heri.

Pria yang duduk sebagai Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kepri tersebut juga mengatakan, dalam rapat persiapan ini, pihaknya juga melibatkan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kepri, Dinas Perhubungan (Dishub) Kepri, LAM Provinsi Kepri, Biro Umum, dan Angkasa Pura Bandara RHF Tanjugpinang.

“Hasil rapat ini akan disampaikan dalam rapat utama dalam waktu dekat ini. Karena perkembangan ini akan disampaikan juga ke pihak istana kepresidenan,” jelasnya lagi.

Sementara itu, terkait daftar tamu undangan VIP pihaknya masih menunggu pemberitahuan dari Panitia Pusat. Karena biasanya, pihak yang mengundang adalah Menteri Koordinator (Menko). “Pada prinsipnya kita siap untuk memberikan pelayanan. Baik itu masalah transportasi dan lain halnya,” tutup Heri.

Hulubalang LAM Kepri 2016-2021 di Kukuhkan

Tanjungpinang, Kepri - Hulubalang Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau periode 2016-2021 ditabalkan (dikukuhkan) oleh ketua LAM Kepri Abdul Razak di Gedung Asrama Haji Jl. Pemuda, Tanjungpinang, Kamis (11/08). Acara pentabatalan ini disejalankan dengann halal bihalal yang mengambil tema ‘Peningkatan Ukuwah Antar Sesama Menyongsong Masa depan yang lebih baik’.

Hulubalang sendiri memiliki arti kata, Hulu (terdepan/teratas) dan balang (perahu/sampan) yang jika disatukan Hulubalang merujuk pada makna prajurit pengawal yang memiliki tujuannya sebagai wujud mengawal roda kepemimpinan kepala Daerah di Kepri kedepan, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melayu secara khusus dan Kepri secara menyeluruh serta menciptakan bumi tanah Melayu yang tentram dan berakhlak mulia.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua LAM Provinsi Kepri, Abdul Razak yang mengatakan bahwa pengukuhan Hulubalang merupakan bentuk keseriusan dari LAM untuk menjadikan Kepri sebagai bunda tanah Melayu.

“Keberadaan Hulubalang sangat penting dalam mengawal roda pemerintahan untuk kesejahteraan masyarakat melayu secara khusus dan Kepri secara keseluruhan. Keseriusan kami dalam membentuk Hulubalang menjadikan kebanggaan bangsa melayu untuk Menjulangkan adat istiadat Melayu di Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu, Semoga Hulubalang yang di kukuhkan hari ini dapat berbakti memperjuangkan yang hak dan melawan yang bathil,” kata Abdul Razak.

Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun pada kesempatan ini mengatakan bahwa Hulubalang memiliki tugas yang sangat strategis untuk Kepri.

“Pengukuhan yang baru kita saksikan tadi adalah sakral dalam adat istiadat Melayu maka sebagaimana makna dari Hulubalang tersebut maka diharapkan memberikan Kontribusi nya dalam membangun Kepulauan Riau kita ini,” ujar Nurdin dalam sambutannya.

Nurdin juga menambahkan, untuk semua elemen masyarakat di Kepri agar menyatukan hati bersama membangun daerah.

“Kerajaan paling besar adalah hati kita, bersatunya hati membangun kepri dengan beragamnya adat istiadat disini dirasa sangat perlu, selamat untuk pengukuhan Hulubalang yang sudah dilaksanakan semoga menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dan penuh amanah,” tambah Nurdin.

Hulubalang yang dikukuhkan tersebut dimulai dari pengucapan janji setia Hulubalang, Panglima Besar Datuk Drs. H. Raja Imran Hanafi, MM diikuti oleh 53 anggota lainnya sesuai dengan Surat Keputusan LAM Kepri Nomor: 02 Tahun 2016. Kemudian dikukuhkan langsung oleh Ketua LAM Kepri Abdul Razak, Acara dilanjutkan dengan halal bihalal yang diwarnai dengan alunan musik melayu serta atraksi silat hulubalang LAM Kepri kemudian ditutup dengan Tausiah sekaligus pembacaan Doa oleh Drs. H. Raja Sofyan.

Zuriat dan Kerabat Kerajaan Penyengat Gelar Halal Bihalal

Tanjungpinang, Kepri - Seluruh zuriat dan kerabat kerajaan Riau-Lingga Pulau Penyengat menggelar halal bihalal, Rabu (3/8/) di Gedung Balai Adat Indra Perkasa Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

Acara ini dihadiri Datin Hj. Noor Lizah Nurdin Basirun, yang merupakan istri Gubernur Kepri H. Nurdin Basirun. Selain itu, hadir juga Walikota Tanjungpinang H. Lis Darmansyah, tokoh masyarakat, tokoh agama serta para Zuariat, Kerabat dan Masyarakat kerajaan Riau-Lingga.

Ketua pelaksana kegiatan Datok Wira Raja Mansyur Ibni Raja Razak dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini sebagai bentuk menyambung tali silaturahim sesama zuriat, dan saling mengingatkan satu sama lain.

Untuk kegiatan halal bihalal ini, panitia telah menyebarkan undangan sebanyak 700 untuk seluruh zuriat dan kerabat yang menyebar diseluruh pelosok negeri.

“Halal bihalal ini ditujukan untuk kite zuriat dan kerabat Riau-Lingga agar dapat menyambung tali silaturahim, guna saling bermaaf-maafan dan saling melepas rindu. Acara ini juga terlaksana atas bantuan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, kota Tanjungpinang, zuriat dan masyarakat.” Ungkap Raja Masyur.

Sementara itu, Yang Dipertuan Besar Tengku Husen Ibni Tengku Saleh Damnah, selaku ketua Perhimpunan Agung Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau-Lingga mengucapkan terimakasih kepada hadirin serta mengucapkan minal aidil walfaizin mohon maaf lahir dan bathin kepada semua yang hadir, baik yang dari Tanjungpinang, Lingga, Karimun, Selangor dan Johor.

“Melalui acara seperti inilah kita bisa saling berbagi, berkomunikasi dan meningkatkan serta mempererat silaturrahim antara kita, yakni antar Zuriat dan Kerabat Riau Lingga,” katanya.

Pada kesempatan ini Walikota Tanjungpinang H. Lis Darmansyah menghimbau kepada para zuriat dan kerabat agar lebih giat mengajak para anak muda Melayu ikut dalam kegiatan seperti ini. Karena pemuda sebagai regenerasi pemimpin tanah Melayu, oleh karena intu diminta untuk terus berkarya.

“Saye sebagai anak Melayu, dalam kesempatan ini mehimbau kepade zuriat dan kerabat untuk bersame-same lebih giat mengajak anak-anak muda melayu sebagai regenerasi pemimpin tanah melayu ini untuk terus berkarya. Agar kite bise menjadi tuan dinegri sendiri. Menjadi tuan di negri sendiri tak cukup hanye duduk berdiam diri, haruslah bergerak dan terus berkarya dinegri tanah Melayu ini,agar gaung anak Melayu dapat menjadi pemimpin dan regenerasi yang membanggakan,” kata Lis.

Masih menurut Lis, Kegiatan silaturahmi seperti ini selain dapat mempererat tali persaudaraan juge sebagai awal apa yang akan dilakukan kedepannya. Lis juga menyampaikan bahwa Perhimpunan Agung Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau Lingga ini sebagai penggerak generasi muda Melayu, dan agar dapat bermitra dengan Pemerintah.

LAM Ngotot Minta Pembangunan Monumen Bahasa Melayu Diteruskan

Tanjungpinang, Kepri - Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, Abdul Razak ngotot minta proyek Monumen Bahasa Melayu (MBM) Pulau Penyengat, Tanjungpinang segera diteruskan pembangunannya. Sementara, Pemerintah Provinsi Kepri masih terganjal anggaran.

“Kondisinya sudah beberapa tahun mangkrak pekerjaanya. Kalau bisa lewat APBD Perubahan, proses review Detail Engineering Design (DED) bisa dilaksanakan. Sehingga tahun depan bisa dijalankan pekerjaanya,” ujar Abdul Razak menjawab pertanyaan Batam Pos, Rabu (20/7) di Tanjungpinang.

Menurutnya, keberaan MBM Penyengat itu nanti menjadi wajah baru bagi Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Selain itu juga menunjukan eksistensi kebudayaan melayu. Apalagi, dari bahasa melayulah, lahirnya bahasa persatuan bangsa ini, yakni Bahasa Indonesia.

“Tentunya kami sangat mengharapkan perhatian dari Pak Gubernur tentunya. Apapupun ceritanya, MBM Penyengat harus berdiri nantinya,” tegas.

Ditegaskannya, MBM Pulau Penyengat adalah hasil mufakat 12 antara LAM Kepri dengan LAM Riau serta Gubernur Kepri dan Gubernur Riau beberapa waktu lalu. Masih kata, Abdul Razak, MBM adalah kebesaran masyarakat Kepri nantinya. Sebab itu akan menjadi penanda kebesaran peradaban Melayu.

“Sangat disesalkan kalau sampai tinggal namanya saja. Selanjutnya menjadi tugas Pak Gubernur untuk mewujudkan cita-cita yang belum selesai,” tutupnya.

Seperti diketahui, MBM Penyengat, Tanjungpinang yang mangkrak pekerjaannya, terancam tinggal nama. Pasalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kepri menunda melakukan review DED terhadap bangunan tersebut. Lantaran defisit anggaran yang mendera keuangan Pemerintah Provinsi Kepri.

“Kami memang sudah melakukan peninjauan ke lokasi MBM di Penyengat. Tetapi belum melakukan uji teknis terhadap kualitas bangunan,” ujar Kepala Seksi Pengujian dan Peralatan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepri, Sumantri belum lama ini.

Menurut Sumantri, pengujian dilakukan sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan review DED terhadap bangunan tersebut. Masih kata Sumantri, lewat APBD murni 2016 memang sudah dianggarkan sekitar Rp600 juta untuk perubahan DED. Hanya saja, hal itu urung dilakukan. Lantaran Pemprov Kepri kembali mengalami defisit anggaran.

“Sekarangkan masih dalam tahapan rasionalisasi anggaran. Jika memungkinkan, perubahan DED akan dilakukan pada APBD Perubahan nanti. Jika memang tidak bisa, tentu akan dilakukan lewat APBD 2017 mendatang,” paparnya.

Ditegaskan Sumantri, pelaksanaanya tentu tergantung pada kemampuan anggaran daerah. Ditambahkan Sumantri, pembangunan MBM yang digadang-gadang akan menjadi ikon bagi Provinsi Kepri, memang sudah masuk dalam kerja Pemprov Kepri kedepan.

“Mudah-mudahan tahun depan, pembangunannya sudah selesai. Evaluasi yang dilakukan adalah langkah antisipatif, jangan sampai kesalahan yang sama terulang kembali nantinya,” tutup Sumantri.

Masyarakat Kepri Harus Sadar Wisata

Tanjungpinang, Kepri - Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti mengatakan untuk menjadikan Kepri sebagai Gerbang Pariwisata Bahari Indonesia, masyarakat Kepri harus sadar wisata. Apalagi dalam menyongsong Festival Bahari Kepri (FBK) yang mulai digelar pada Oktober mendatang.

“Kita semua harus sadar wisata, dengan begini bisa mewujudkan Kepri sebagai Pintu Gerbang Wisata Bahari Indonesia,” ujar Guntur Sakti, Minggu (12/6).

Menurut Guntur, menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke laut sudah termasuk tindakan sadar lingkungan. Dikatakannya satu hari sebelum digelarnya FBK, akan dilakukan eco heroes atau bersih-bersih pantai dan lingkungan di kawasan Tepi Laut, Pelantar I Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

“Target kitakan ingin menjadikan Kepri sebagai Gerbang Wisata Bahari Indonesia, tentu kita harus menjadi kebersihan laut. Caranya adalah tidak membuang sampah ke laut,” paparnya.

Masih kata Guntur, Kepri saat ini tengah berjuang untuk menjadikan Penyengat sebagai warisan budaya dunia. Tidak mudah untuk mewujudkan itu. Tentu membutuhkan kerjasama. Disebutkannya juga, dilaksanakannya eco heroes di Penyengat.

“Penyengat adalah wajahnya pariwisata Tanjungpinang, tentu harus kita jaga. Kebersihan lingkungan dan kebersihan lautnya. Untuk mewujudkan ini, butuh kepedulian kita bersama,” papar Guntur.

Seperti diketahui, untuk memantapkan Penyengat sebagai Ikonnya pariwisata Tanjungpinang, Pemprov Kepri bertekad untuk menyelesaikan pembangunan Monumen Bahasa Melayu (MBM) Pulau Penyengat. Kehadiran bangunan itu nanti, menegaskan kalau bahasa pemersatu bangsa berasal dari bahasa Melayu Pulau Penyengat.

’Budaya Melayu Payungi Keragaman Etnis di Tanjungpinang. Kerukunan dan Kekeluargaan Sangat Tinggi’

Tanjungpinang, Kepri - Kota Tanjungpinang merupakan kota yang majemuk. Berbagai etnis, suku dan budaya bangsa, tumbuh dan berkembang di Tanjungpinang.

Namun kemajemukan tersebut tak lantas menjadi masalah. Bahkan dalam kemajemukan itu, masyarakat bisa hidup rukun dan penuh toleransi.

"Sangat jarang terdengar adanya konflik sosial," kata Lis Darmansyah, Wali Kota Tanjungpinang saat menyampikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ketahanan Kelembagaan dan Budaya yang diadakan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pemberdayaan Masyarakat (Kesbangpol Penmas) di Hotel Pelangi Rabu, (18/5/2016).

Menurutnya hal tersebut tercipta karena budaya asli Tanjungpinang yaitu budaya melayu, bisa menjadi payung bagi budaya-budaya lain.

Sehingga, budaya-budaya lain tersebut bahkan bisa berbaur dengan baik.

"Budaya Melayu ini memayungi budaya-budaya lain di Kota Tanjungpinang. Sehingga di Tanjungpinang kita rasakan kerukunan dan kekuluargaan sangat tinggi," katanya.

Dia juga meminta semua lembaga dan kebudayaan di Kota Tanjungpinang untuk saling menghargai dan memiliki sikap tolerasi satu sama lain yang terpenting adalah saling menjalih hubungan baik antar sesama.

Titian Muhibah Kedatuan Luwu di Semenanjung Melayu

Tanjung Pinang, Kepri - Sebagai rangkaian titian muhibah Kedatuan Luwu Sulawesi Selatan ke Semenanjung Melayu, Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau Opu To Bau mengajak sejumlah tokoh masyarakat Luwu berkunjung ke Semenanjung Melayu. Kunjungan itu selain sebagai silaturahmi kekerabatan antara dua kerajaan juga sebagai langkah memperkenalkan dan mengundang kerajaan atau kesultanan di negara-negara sahabat Asia Tenggara untuk turut serta dalam menyukseskan Festival Tana Luwu 2017 mendatang.

Titian muhibah dijadwalkan berlangsung selama empat hari. Sebagaimana diketahui, hubungan kekerabatan Kedatuan Luwu dengan Kerajaan-Kesultanan di semenanjung Melayu telah diawali dengan kehadiran keturunan Opu Lima atau lima pangeran dari Tana Luwu yang menjadi pewaris tahta di semenanjung Melayu. Yaitu yang bertahta di Selangor, Kedah, Malaka, Johor.

Begitu juga yang bertahta di Kalimantan pewaris Opu Lima memegang kekuasaan di kerajaan Menpawah, juga pewaris di Kepulauan Riau. Trmasuk juga Kesultanan Kadriyah di Pontianak.

Kegiatan muhibah diawali dengan ziarah ke Makam Daeng Marewa dan Daeng Cella di Tanjung Pinang. Lalu rombongan Kedatuan Luwu akan bersilaturahmi dan diterima oleh Pemangku Gubernur Kepulauan Riau, serta Zuriat dan Kerabat Kerjaan Riau Lingga di Gedung Daerah Tanjung Pinang.

Dalam kesempatan ini, Kedatuan Luwu akan mempersembahkan Tari Pajaga Bone Balla, Tari Anakdara Sulesssana dan Tari Sumpunglolo Bugis Melayu dan Ngarruk. Tarian ini juga akan dipersembahkan di Istana Kampong Gelam dan saat pertemuan dengan keluarga Persatuan melayu Bugis Slangor, Kesultanan Pahang dan Kesultanan perak di Malaysia.

Hari kedua, Rombongan akan diterima oleh Zuriat dan kerabat Kerajaan Riau Lingga di Balai Adat Pulau Penyengat. Kemudian dilanjutkan ziarah makam Almarhum Raja Haji Fisabilillah serta kerabat Kerajaan Riau Lingga.

Usai ziarah, rombongan akan menyeberang ke Dermaga Tanah Merah Singapora untuk melanjutkan lawatan ke Makam Sultan Alauddin Alam Shah (Masjid Sultan) lalu menuju Istana Kampong Gelam. Lawatan juga akan dilakukan ke Musemum Istana dan Kirab ke Gedung Kuning.

Hari ketiga, rombongan melakukan perjalanan ke Johor. Pertemuan dengan Keluarga Persatuan Melayu Bugis Slangor, Kesultanan Pahang, Kesultanan Perak serta ziarah ke makam Selangor.

Nurdin Basirun: Kepri adalah Bunda Tanah Melayu

Tanjungpinang, Kepri - Provinsi Kepri adalah merupakan bunda tanah Melayu. Penegasan tersebut disampaikan Plt Gubernur Kepri, Nurdin Basirun saat membuka Seminar Persimpaian Budaya Melayu di Hotel Laguna, Tanjungpinang, Minggu (24/4). Dikatakannya juga, budaya melayu adalah salah satu pilar penopang kebudayaan nasional.

“Budaya Melayu merupakan kebudayaan yang turun- temurun dan telah menjadi salah satu pilar penopang kebudayaan nasional Indonesia khususnya dan kebudayaan dunia pada umumnya,” ujar Nurdin dalam sambutannya.

Lebih lanjut katanya, dari zaman ke zaman Budaya Melayu sudah tumbuh subur dan berkembang dengan pesat ditengah masyarakat Indonesia. Bahkan diketahui bahwa cikal bakal dari Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Masih kata Nurdin, Indonesia yang merupakan negara maritim dan agraris, menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perdagangan antar daerah dari Pasai, Minangkabau, Jawa, Sulawesi, Halmahera,dan Kepala Burung Papua pada masa lalu.

“Pada masa awal kemerdekaan, Bahasa Melayu menjadi alat pemersatu dan membentuk kesadaran bangsa. Maka setelah Proklamasi ia dijelmakan, menjadi bahasa Indonesia dan menjadi lah bahasa negara dan bahasa kebangsaan,” jelasnya.

Mantan Bupati Karimun tersebut juga menjelaskan, Provinsi Kepri telah diazamkan sebagai Bunda Tanah Melayu. Hal ini dikarenakan kebesaran sejarah dan tamadun alam Melayu, yang antara lain wujud bertanah Melayu di Kepulauan Riau dari masa lampau sampai saat ini.

“Oleh karena itu, saya harap seminar yang diselenggarakan ini, mampu menjadi jawaban bagi persimpaian Tamadun Alam Melayu yang berkait-kait ini,” jelasnya lagi.

Pada masa Kerajaan Riau Lingga yang dikenal sebagai Riau Lingga, Johor dan Pahang. Selain jaya dibidang Pemerintahan dan Politik juga jaya dibidang lainnya seperti bahasa dan sastra Melayu, agama Islam, kebaharian dan kemaritiman, perdagangan dan ekonomi, pertanian dan bahkan sampai pertambangan timah .

Mengenang kejayaan Kerajaan Riau Lingga dari berbagai bidang serta berbagai aksi heroik lainnya, dari seminar ini Pemerintah Provinsi Kepri telah mengusulkan agar Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Ri’ayat Syah kepada Presiden Republik Indonesia agar diangkat menjadi pahlawan Nasional.

-

Arsip Blog

Recent Posts