Ukiran Minangkabau Hampir Punah

Agam, Sumbar - Sebagian ukiran asli Minangkabau yang merupakan motif asli dari sejumlah wilayah nagari di Sumatera Barat mulai punah, seperti yang terjadi di Nagari Kamang Hilir, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam. Wilayah nagari yang dahulu dikenal sebagai sentra ukiran dan industri kecil mebel rakyat itu tidak lagi memproduksi ukiran.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Kamis (7/4/2011), hanya sejumlah rumah gadang berusia ratusan tahun yang masih merekam jelas motif-motif ukiran asli dari nagari tersebut. Salah satunya terdapat di Jorong Lima Kampung berupa rumah gadang dengan lima ruang besar dan sejumlah motif ukiran pada sekujur bagian rumah yang meliputi daun jendela, dinding, pembatas atap, dan bagian bawah rumah.

Motif-motif tersebut berupa aneka bunga, tanaman, dan beragam daun, termasuk sejumlah motif berupa sulur. Namun, di nagari itu sudah tidak ada lagi yang bisa mereproduksi ukiran khas itu maupun menjelaskan makna filosofi dari beragam motif ukiran yang ada.

Haji Adnan Sutan Samik (76), tetua di nagari itu, mengatakan, salah seorang tokoh ahli ukir terakhir di nagari itu telah meninggal dunia sejak beberapa tahun lalu. "Anak-anaknya tidak ada yang meneruskan, hanya buat mebel saja," kata Adnan.

Salah seorang tetua nagari lainnya, Syafnis Bagindo Maralam, yang mencoba menerangkan makna motif ukiran pada salah satu rumah gadang di nagari itu hanya mengatakan bahwa motif ukiran mengambil contoh dari apa yang terdapat di alam. "Seperti ini, mungkin maksudnya agar pertalian kekerabatan jangan terputus," katanya, seraya menujuk motif ukiran berupa sulur yang saling menjalin.

Namun, menurut Syafnis, kini masih ada Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, yang masih memproduksi beragam motif ukiran khas Minangkabau, yang lokasinya relatif tidak terlalu jauh dari Nagari Kamang Hilir. Sejumlah rumah gadang di Nagari Kamang Hilir kini juga terlihat menggunakan motif ukiran dari Nagari Pandai Sikek.

Adnan menambahkan, tradisi seni ukir di Nagari Kamang Hilir yang berbatasan langsung dengan Bukit Barisan di sisi utaranya itu juga pernah diupayakan penyelamatannya pada awal 1980-an. "Saat itu didatangkan ahli ukir dari Jepara untuk melatih, tetapi itu pun hanya dua atau tiga orang yang kemudian berhasil. Sekarang, semua orang itu sudah meninggal," ungkap Adnan.

Menurut Adnan, pertimbangan ekonomis menjadi alasan utama tidak diminatinya seni ukiran di nagari itu karena lamanya waktu pengerjaan relatif tidak seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Banyaknya generasi muda yang merantau ke luar nagari tersebut juga menyumbang sudah tidak adanya lagi minat pada seni ukir.

Peneliti dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang, Rois Leonard Arios, yang wilayah kerjanya mepiluti Sumbar, Bengkulu, dan Sumsel, membenarkan soal pertimbangan ekonomis itu. " Sekarang jika membangun rumah tembok biayanya Rp 50 juta, membangun rumah gadang bisa mencapai Rp 200 juta. Belum lagi ukir-ukirannya yang juga dibayar terpisah," kata Rois.

Ia menyebutkan, faktor ekonomis yang ditambah kelangkaan bahan baku kayu itu membuat beragam motif ukiran lokal di sejumlah nagari punah. Menurut Rois, selain di Nagari Pandai Sikek, kini ukiran khas Minangkabau setidaknya tersisa pada sejumlah daerah di Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman.

-

Arsip Blog

Recent Posts