Topat, Lebaran Kedua Masyarakat Lombok

Batulayar, NTB - Sebanyak 25 kusir lengkap dengan kereta kuda kencana telah bersiap. Semua bagian kereta kuda itu terlihat meriah. Janur dan gantungan ketupat menghias bagian depan dan sisi kereta kuda.

Cimodo, alat angkutan tradisional setempat semacam andong, hari itu seolah mendapatkan penghormatan. Padahal, biasanya, Cimodo kerap dituding jadi biang macet di jalan Lombok. Tapi hari itu, sepanjang 25 kilometer perjalanan, iring-iringan kereta kuda ini disambut bak kendaraan para raja.

Rona bahagia terlihat dari wajah penumpang: para ibu, anak gadis, dan anak-anak. Tak nampak muka mengantuk di wajah mereka. Hanya rona yang berseri-seri bahagia ketika cahaya pertama menyapu wajah mereka.

Di tempat lain, ribuan orang sudah bersiap memadati areal pemakaman. Makam Syeikh Sayid Al Duhri Al Hadah di Batulayar jadi tempat yang dituju. Peziarah datang dari berbagai penjuru kota. Beberapa menggunakan angkutan umum. Sebagian lagi mengendarai sepeda motor atau cukup berjalan kaki.

Areal pemakaman yang sehari-hari sepi itu mendadak berubah. Tak lama berselang, pemakaman itu dipenuhi lantunan zikir dan doa yang terus terdengar. Memenuhi langit areal pemakaman.

Tak hanya komplek makam di Batulayar, Makam Loang Baloq juga kerap jadi pusat perayaan masyarakat Lombok di wilayah Kota Mataram. Begitu pula Makam Bintaro.

Hari itu, penduduk Lombok memang tengah berpesta. Padahal baru sepekan lalu mereka memperingati Lebaran sebagai hari kemenangan usai berpuasa Ramadan. Kini pesta tak kalah meriah digelar kembali.

Inilah perayaan Lebaran Topat. Hari khusus umat muslim Lombok yang selesai menjalankan puasa sunah Syawal selama enam hari. Semua kembali bersuka cita. Kusir kereta pun terlihat gembira.

-

Arsip Blog

Recent Posts