Lokasi Pelacuran di Kota Mimika

Ingar-Bingar suara musik terdengar dari deretan rumah pelacuran di Kilometer 10, Desa Kandun Jaya, Kecamatan Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (8/11) malam. Sejumlah pelacur dengan rokok di tangan menemani para pria yang sedang santai menikmati bir di pojok Bar Mekar Jaya.

Di tempat pelacuran itu terdapat sedikitnya 20 rumah. Rumah-rumah itu berfungsi sebagai bar, tempat berkaraoke, dan sekaligus praktik pelacuran. Lokasi pelacuran itu terletak berdampingan dengan permukiman penduduk sehingga anak-anak terbiasa dengan suasana pelacuran.

Dari Kota Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika, lokasi pelacuran itu bisa ditempuh menggunakan kendaraan angkutan umum yang tersedia hingga sore hari. Pada malam hari orang harus menggunakan mobil sendiri atau ojek sepeda motor. Tarif ojek ke tempat itu mencapai Rp 30.000.

Malam itu, sejumlah mobil milik perusahaan tambang emas dan logam PT Freeport Indonesia diparkir di lokalisasi tersebut. Kendaraan PT Freeport juga tampak di sepanjang Jalan Ahmad Yani, yang penuh dengan bar, karaoke, dan klub malam. Bar, karaoke, dan klub malam itu kebanyakan menempati rumah-rumah berukuran kecil. Hanya satu dua yang berukuran besar.

Di antara tempat hiburan itu, terdapat Selana Bar yang mengklaim bebas Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Klaim itu tercantum pada papan nama bar. Di bar yang lain, De Gama (singkatan Depot Gadis Malam) yang lebih dikenal sebagai bar "Pemda", terpampang seruan "Perangi HIV/AIDS". Disebut Bar Pemda karena karyawan Pemda Kabupaten Mimika sering berkunjung ke situ. Mobil-mobil
berpelat merah sering terlihat diparkir di sana.

Menjamurnya tempat-tempat hiburan dan pelacuran tersebut karena keberadaan PT Freeport Indonesia. Ribuan karyawannya menjadi sasaran empuk para pengusaha hiburan. Para karyawan itu bekerja lima hari dalam seminggu. Dua hari libur biasanya mereka manfaatkan "turun" ke Timika untuk mencari hiburan.

Para karyawan itu diangkut dengan bus dari lokasi tambang terbuka dan bawah tanah "Grasberg" di Kecamatan Tembagapura. Bus-bus tersebut dikenal sebagai bus kerinduan, karena untuk mengangkut karyawan yang hendak bertemu keluarganya. Pada hari Minggu sampai Kamis ada delapan bus yang mengangkut karyawan. Setiap bus memuat 60 orang.

Pada hari Jumat dan Sabtu jumlah bus yang dioperasikan mencapai 20 unit.Bus-bus ini juga mengangkut karyawan yang bekerja di bagian pemeliharaan mesin.

Menjamurnya tempat hiburan malam dan munculnya kasus HIV/AIDS meresahkan penduduk asli. Di antara mereka yang prihatin terhadap merebaknya kasus

HIV/AIDS di Papua terdapat para aktivis hak asasi manusia. Mereka ialah Mama Elizabeth, Mama Theresia dan Mama Ema. Para perempuan Papua itu bergabung dalam organisasi Yayasan Hak Asasi Manusia Anti kekerasan (Yahamak).

Menurut Mama Theresia, mereka sama sekali buta tentang HIV/AIDS. Bagi mereka HIV/AIDS adalah penyakit baru dan orang yang terinfeksi sebaiknya diumumkan dokter. Cara ini untuk mencegah orang lain supaya tidak tertular. Mama Theresia dan teman-temannya mengaku kesal karena semakin banyak bar, rumah biliar, dan minuman keras di Papua.

Muncul pendapat yang menginginkan pengidap HIV dikeluarkan saja dari Papua agar tidak menulari penduduk setempat. "Penyakit ini bikin habis orang Papua," kata Mama Theresia.

Menurut Kepala Sub Dinas Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Erens Meokbun, sejak 1995 sampai Agustus 2002 pihaknya mencatat kasus HIV sebanyak 251 dan AIDS 42. Sejumlah 66,55 persen penyebaran HIV/ AIDS melalui hubungan seks. Sedangkan penularan dari ibu ke anak terdapat dua kasus.

Dari 251 kasus HIV di atas, sebanyak 197 yang terkena adalah orang Papua. Sementara dari 197 kasus tersebut terdapat 39 orang Papua yang mengidap AIDS.

Petugas kesehatan PT Freeport, Dr Surinder Kaul, mengungkapkan, sejak 1996 sampai September 2002, pihaknya mencatat jumlah kasus HIV sebanyak 194 dan AIDS 20. Berdasarkan kelompok umur, ada tiga orang berusia di bawah satu tahun yang positif HIV. Kasus HIV terbanyak pada kelompok usia 20 tahun sampai 29 tahun (110 kasus).

Dalam menanggulangi HIV/AIDS di Timika, PT Freeport mendirikan klinik kesehatan reproduksi untuk umum. Para pekerja di sana memberi penyuluhan HIV/ AIDS ke tempat pelacuran dan hiburan malam.

Mereka juga membagikan kondom gratis, melakukan tes HIV/ AIDS dan penyakit kelamin menular lainnya. Darah orang yang dites HIV dikirim ke Jakarta untuk diperiksa dengan teknik Western Blot.

Perawatan terhadap pengidap AIDS dilakukan di Rumah Sakit Mitra Masyarakat yang dikelola Yayasan Caritas Timika.

Rumah Sakit Mitra Masyarakat mendapat dana operasional dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian (LPMI). Ada tujuh suku yang bernaung di yayasan itu, yakni Kamoro, Amungme, Damal, Dani, Moni, Nduga dan Ekari. Setiap tahun PT Freeport menyisihkan satu persen hasil penerimaannya untuk tujuh suku itu.

Orang Asing
Menjamurnya tempat hiburan di Timika juga tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Mimika. Berdasarkan penuturan Sumarni, pemilik Bar Mekar Jaya di Kilometer 10, ia mendapat izin usaha dari Pemerintah setempat untuk membuka restoran.

Mereka dikenai pajak Rp 7,5 juta per tahun. Jumlah itu belum termasuk setoran bulanan sekitar Rp 500.000 dan kontrak bar Rp 50 juta setahun. Tahun depan izin usaha di Kilometer 10 tarifnya akan dinaikkan menjadi Rp 20 juta. "Kami keberatan. Usaha di sini tidak teralu banyak mendatangkan untung," tutur ibu dua anak asal Tuban, Jawa Timur itu.

Bar Mekar Jaya mempekerjakan 25 pramuria dari Jawa Timur. Sedangkan di Bar De Gama, pramurianya berasal dari Sulawesi Utara dan Makassar. Seorang pramuria asal Sulawesi Utara bernama Kiki, mengaku baru sebulan bekerja di Bar De Gama. Sebelumnya dia bekerja di Kabupaten Sorong. Pramuria lainnya, Windi, menuturkan, pelanggannya kebanyakan karyawan Pemerintah Kabupaten Mimika dan orang asing yang berada di Kuala Kencana.

Menurut Windi, orang asing selalu membawa kondom, sehingga dia tidak perlu repot-repot merayunya mengenakan sarung pengaman itu. Memakai kondom diyakini bisa mencegah tertular HIV/AIDS.

Ditambahkan oleh Windi, yang sering membandel justru pelanggannya yang orang-orang setempat. Mereka umumnya belum terbiasa memakai kondom. Windi dan pelacur lainnya sering kali terpaksa menuruti kemauan pelanggan yang menolak memakai kondom. Disadari oleh Windi bahwa hal itu sangat berisiko tertular HIV/AIDS. Itu sebabnya, bus-bus yang mengantar ribuan pekerja PT reeport ke tempat-tempat pelacuran tersebut sesungguhnya bukanlah bus kerinduan, tetapi bus yang menuju kematian.*

sumber: suara pembaruan
-

Arsip Blog

Recent Posts