Kawasan Bongkaran yang Tak Pernah Sepi

Kawasan Bongkaran, Tanahabang, Jakarta Pusat, memiliki histori yang panjang. Di area seluas sekitar tiga hektar itu, memiliki sejarah hitam yang tak pernah pudar. Sudah berkali-kali pemerintah mencoba mempercantik kawasan itu, dan berkali-kali pula kawasan tersebut kembali kusam dengan banyaknya hunian liar. Ada satu hal yang perlu diingat jika ingin membuat kawasan tersebut tertib, perlu pengawasan ekstra ketat siang-malam.

Memang, geliat kawasan Bongkaran baru terlihat ketika hari menjelang petang. Saat ini, sejumlah penghuni bongkaran seperti terbangun dari tidur dan memulai aktivitasnya. Para-para atau bilik bambu mulai dirangkai menjadi kamar sempit yang bakal sibuk sepanjang malam. Gadis sintal mulai berias untuk menyambut `tamu` yang datang. Sementara lainnya, menyiapkan seperangkat alat pengeras suara untuk menambah hingar-bingar suasana.

Ditilik dari historisnya, kondisi Bongkaran sekarang ini jauh lebih baik. Sekitar 1980-an, kawasan ini terkenal angker bagi siapa saja. Memang, dulunya kawasan ini adalah lahan kosong yang berisi bantalan rel kereta api. Dan mulai terlihat sangar ketika pemuda dari Indonesia Timur menguasai kawasan ini.

Lambat-laun, mereka tersingkirkan oleh waktu. Kini, Kawasan Bongkaran seperti ranah tak bertuan. Siapa saja, bisa nimbrung membuka usaha wisata malam dalam pengertian lain. Sekarang, Bongkaran lebih dikenal sebagai area prostitusi kalangan bawah. Maka tak heran, jika lokalisasi yang bersebelahan langsung dengan Banjir Kanal Barat (BKB) ini juga menjadi lumbung rupiah bagi para penghuninya.

Dan dari sini sekilas cerita mengenai suatu tempat yang bernama Bongkaran tercipta, dan ini pula yang menjadi alasan mengapa kawasan Bongkaran begitu sulit untuk ditertibkan. Padahal tercatat sudah beberapa kali Pemerintah Kota Jakpus membongkar kawasan mesum itu. Berdasarkan catatan dari berbagai sumber, pertama kali pembongkaran dilakukan tahun 1980.

Saat itu, di pagi buta penghuni kawasan Bongkaran tunggang-langgang. Anak-anak kecil yang belum terjaga benar terantuk-antuk diseret orangtua mereka. Beberapa lembar kain atau alat-alat rumah tangga tercecer dari dalam buntalan. Dan begitu cahaya matahari remang-remang menyembul, nyala api mulai terlihat. Gubuk-gubuk itu mulai terbakar. Pemandangan itu terlihat di Tanahabang Bongkaran, Jakarta Pusat, 27 Maret pagi.

Ketika itu hampir 600 orang petugas Kamtib (sekarang Tramtib-red) berikut petugas dari instansi lainnya sibuk menggelar Operasi Tertib I bersiap-siap untuk membongkar gubuk-gubuk liar yang berdiri di sana. Sejak 20 hari sebelumnya para penghuni gubuk sudah diberi peringatan untuk membongkar sendiri. Hanya sebagian yang mematuhi peringatan itu, sedang sisanya mencoba bertahan sampai saat-saat terakhir.

Kebakaran itu sendiri dinilai petugas Kamtib sebagai suatu kesengajaan yang dilakukan seorang penghuni gubuk. Mungkin sebagai tanda protes. Api baru dapat dipadamkan setelah sembilan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, dengan korban 40 buah bangunan hangus. Bongkaran yang kala itu terkenal angker, luluh lantah oleh jilatan si jago merah. Ada sekitar 700 buah gubuk liar berdiri di kiri kanan rel kereta-api di sana, dihuni oleh hampir 2000 jiwa terdiri dari pelacur, germo, dan keluarganya. Disamping juga menjadi persembunyian para penjahat.

Perkelahian atau berbagai keributan lain kerap terjadi di sini. Pada 1975 daerah ini pernah dibersihkan. Tapi tak sampai setahun gubuk-gubuk maupun bangunan rumah tak permanen kembali berdiri. Untuk mencegah hal itu terulang kembali, PT KA sebagai pemilik tanah di sekitar rel itu, akan segera memagarinya dengan kawat. Kenyataanya, rencana ini tak terealisasi sehingga penghuni lama kembali lagi.

Kemudian tercatat, pada 12 Januari 2005 silam, Pemkot Jakpus bersama aparat terkait serta PT KA kembali melakukan penertiban. Kali ini, 885 gubuk yang berada sekitar rel kereta api Stasiun Tanahabang dibongkar. Untuk menertibkannya, diterjunkan 934 aparat yang terdiri Polsek Tanah Abang, Dinas Kebakaran, Kodim, Polisi Pamong Praja, dan warga sekitar. Beberapa alat berat digunakan untuk mempercepat pembongkaran gubuk-gubuk kecil berdinding kayu atau triplek dan beratap seng sepanjang 1 km di sekitar rel.

Sayangnya, usai ditertibkan kawasan ini ditinggalkan. Para penghuni yang mengungsi di bantaran kali, kembali begitu petugas lengah. Setahun berikutnya atau 19 Oktober 2006, ratusan rumah di kawasan Bongkaran, Tanahabang, Jakarta Pusat, kembali dibongkar paksa oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja setempat dan polisi. Rumah liar di pinggiran rel kereta api ini diratakan.

Terakhir atau 16 Maret 2008, petugas gabungan kembali meratakan kawasan Bongkaran, Tanahabang. Ratusan gubuk liar di pinggir sungai itu dibongkar. Petugas berdalih, pembongkaran ini rutin digelar untuk pembersihan dan keindahan kota serta kelancaran lalu-lintas kereta. Gubuk-gubuk yang dibongkar kemudian dibakar dan dibuang ke sungai.

Sebagian warga mencoba menyelamatkan barang-barang dan bahan bangunan. Penertiban tidak mendapat perlawanan warga. Warga mengakui kesalahan mereka mendirikan gubuk bukan di lokasi permukiman. Sebagian warga menyatakan, akan bertahan di lokasi ini karena tidak punya pilihan lain. Menurut mereka, penertiban seperti ini sudah sering digelar. Namun, mereka bisa kembali membangun gubuk untuk tempat tinggal.

Alasan Klasik

Sudah tidak terhitung berapa kali tenda biru di kawasan Bongkaran, Tanahabang, itu dibongkar paksa. Kini Bongkaran telah kembali pulih, gubuk-gubuk bertenda biru dengan berbagai jenis usaha yang dijalankan penghuninya kembali menjamur menawarkan berbagai kenikmatan mulai penjual minuman, makanan, rokok, hingga prostitusi berkedok pijat refleksi. Hanya satu alasan klasik para penghuni lama kembali menempati lahan tersebut, yakni mereka tidak tahu lagi mau ke mana?

Marji (50) penghuni lama yang berulangkali digusur mengaku terpaksa mendirikan lagi gubuk ini karena tidak tahu mau ke mana. "Uang nggak punya, saudara nggak punya, mau pulang kampung takut nganggur, jadi ya balik ke sini lagi," katanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Marji menjual minuman dan rokok di gubuknya. Dengan mendirikan tenda di Bongkaran, dirinya mampu bertahan hidup dan memberi makan istrinya. Diakuinya, ia telah menetap di Kawasan Bongkaran sejak 10 tahun lalu, dalam periode itu dia tak ingat lagi berapa kali gubuknya dibongkar.

Penuturan sama dikatakan Rikem (40) yang nekat kembali karena tak punya tempat bernaung. Namun, nasib Rikem tak sebaik Marji yang punya warung Rokok. Untuk bertahan hidup, sehari-harinya ia memulung gelas plastik dan kardus di sekitar stasiun. "Habis mau ke mana lagi, saudara tidak punya, mau pulang kampung tak punya duit," ujar wanita asal Jawa Tengah ini.

Supardi (53) warga Petamburan, Tanahabang, Jakarta Pusat mengaku, lokasi tersebut awalnya hanya sebuah tempat lokalisasi biasa dan dihuni oleh beberapa wanita penghibur saja. Tapi karena peluang mendapatkan rejeki di kawasan tersebut begitu terbuka, maka banyak wanita pendatang yang mangkal dan menjadi penghuni tetap di sekitar rel stasiun Tanahabang. Mereka pun mendirikan lapak non permanen yang digunakan untuk menyambut tamu.

Petugas, lanjutnya, telah berulang kali melakukan pembongkaran lapak yang menjadi sarang wanita penghibur itu. Namun berkali-kali pula lapak berdiri lagi. Dari situ maka kawasan gelap di selatan Stasiun Tanahabang mendapat julukan Bongkaran, lantaran sering terjadi pembongkaran di kawasan itu. "Berulang kali dibongkar, lama-lama namanya jadi Bongkaran," jelas pria yang menetap di Petamburan selama puluhan tahun ini.

Sementara itu Rusmuati (Tati), salah satu wanita penghibur penghuni kawasan Bongkaran mengakui, kehidupanya bersama puluhan wanita penghibur lain begitu tergantung kepada tempat ini. Meski beberapa kali ditertibkan, Tati dan teman seprofesinya selalu kembali ke tempat ini. Untuk jasanya, Tati memasang tarif Rp 75 ribu- Rp 125 ribu. Dalam semalam, Tati mampu melayani 3-5 pria. "Tempatnya ramai terus. Apalagi sekarang musim hujan, banyak yang pakai jasa kita" ucapnya Tati dengan nada genit.

Sepenting itukah lokalisasi Bongkaran di mata penghuninya? Lantas bagaimana sikap Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat dalam melakukan penertiban terhadap sejumlah wanita penghibur malam itu, mengingat begitu sulitnya kawasan Bongkaran untuk ditertibkan? Ataukah mungkin lokalisasi Bongkaran akan menjadi bisnis wisata malam yang legal dan dilindungi?

Idris Priyatna, Kasudin Tramtib Jakpus mengakui, keberadaan lokalisasi Bongkaran di wilayahnya. Pihaknya pun kerap melakukan penertiban di kawasan tersebut, namun berulang kali pula, penghuni kawasan tersebut mendirikan lapak yang telah dibongkar. "Kita akan terus melakukan penertiban di Bongkaran," janji Idris kepada beritajakarta.com. Idris memang mengetahui seluk-beluk Bongkaran karena sebelumnya ia menjabat Camat Tanahabang.

Ada beberapa alasan mengapa Bongkaran sulit ditertibkan, yakni kurang ketatnya pengawasan di sekitar lokasi oleh aparat terkait. Seharusnya, lokasi Bongkaran selalu dipantau. "Dulu Bongkaran sempat tak berpenghuni, tapi begitu petugas lengah, sekarang kembali marak. Ditegaskan Idris, tak ada istilah melegalkan kawasan tersebut. Bagi setiap kegiatan yang dirasa mengganggu ketentraman, pihaknya berjanji akan melakukan penertiban.

Lalu sampai kapan kawasan Bongkaran, Tanahabang, menjadi resik dan bebas gubuk liar. Hanya perlu bekerja sama dengan empunya lahan yakni PT KA, yang bisa menjadikan kawasan tersebut apik. Misalnya, dengan menempatkan pos penjagaan atau Kantor Sudin Tramtib Jakpus ke kawasan tersebut. Dengan catatan, tidak ada `main mata` antara petugas dan penghuni. Atau merubah kawasan tersebut menjadi ruang terbuka hijau. Langkah ini sangat ditunggu warga Jakarta untuk membebaskan kawasan Bongkaran dari praktik prostitusi dan kriminalitas.

-

Arsip Blog

Recent Posts