Mitos di Indonesia Undang Keingintahuan Warga Berlin

London, Inggris - Berbagai mitos yang masih diyakini oleh masyarakat di Indonesia mengundang rasa keingintahuan warga di Berlin dan sekitarnya saat mengunjungi kegiatan budaya bertema "Takhayul" dalam rangka "All Nations Festival 2013".

Sekretaris II Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Berlin, Jerman, Purno Widodo, kepada Antara di London, Rabu mengatakan "All Nations Festival" adalah program Pemerintah Kota Berlin guna mendekatkan masyarakat di kota itu dengan berbagai pengetahuan dan budaya masyarakat asing yang mempunyai perwakilan.

Purno Widodo mengatakan pengunjung bertanya mengenai logika di balik berbagai mitos yang hingga saat ini masih banyak dijumpai dan ditaati oleh banyak masyarakat Indonesia.

Mitos itu, antara lain, tidak boleh duduk di pojok saat makan, tidak boleh melakukan transaksi pembayaran serta mencukur di dalam rumah di malam hari, tidak boleh membunuh binatang saat istri tengah mengandung dan lainnya.

Selain memperkenalkan berbagai mitos, pada kegiatan di KBRI Berlin akhir-akhir ini juga ditampilkan berbagai hal di sebagian masyarakat Indonesia, seperti sesaji atau sajen, kemenyan, jimat dengan aroma dupa.

Dubes RI Berlin Eddy Pratomo menyampaikan "All Nations Festival" merupakan salah satu cara memperkenalkan Indonesia dan keanekaragaman budaya serta mendekatkan Indonesia di hati masyarakat Jerman.

Terkait dengan takhayul, Dubes Pratomo menyatakan masih banyak masyarakat Indonesia yang mempraktikkan hal itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam acara-acara tertentu.

Ia menjelaskan mengapa keberadaan takhayul masih banyak diyakini masyarakat. Hal itu bersumber pada tiga kata kunci, yaitu keberuntungan, kesejahteraan dan kesehatan.

Pratomo dalam kesempatan itu mengumumkan kepada pengunjung mengenai berbagai program budaya KBRI serta keberadaan Rumah Budaya di KBRI Berlin yang memungkinkan warga Jerman berlatih tari, alat musik, dan belajar bahasa Indonesia dengan gratis.

Selain menyajikan fenomena takhayul Indonesia, berbagai program juga ditampilkan untuk menarik pengunjung, di antaranya pertunjukkan musik talempong, pencak silat, lagu-lagu daerah serta berbagai tarian seperti Tari Rantak, Tari Piring, Tari Belibis, Tari Yapong yang dibawakan oleh Grup Patria Nanda, KBRI Berlin.

Juga dipamerankan produk unggulan serta kuliner Indonesia seperti nasi goreng, nasi rendang, kue lapis, kopi Bali dan lainnya.

Di Rumah Budaya KBRI Berlin juga diadakan berbagai kegiatan secara bersamaan, yaitu pembacaan cerita-cerita daerah di Indonesia, workshop gamelan, pemutaran film serta sesi foto gratis dengan mengenakan berbagai busana adat Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan sosialisasi keimigrasian dan kekonsuleran di sudut Warung Konsuler yang berhasil menarik minat masyarakat Berlin untuk berkunjung ke KBRI.

Keikutsertaan KBRI Berlin dalam acara All Nations merupakan yang ke-10 kalinya secara berturut-turut. Terdapat 18 negara dan institusi budaya berpartisipasi di antaranya, yaitu China, Korea, Malaysia, Nepal, Yaman dan negara lainnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts