Sisi Gelap Surabaya di Usia 715, Musibah atau Berkah?

Warung menemukan buku yang menggambarkan fragmentasi sisi gelap Surabaya, Judul buku itu adalah: “ SBY Double Cover”--The series Sex in the City –Kehangatan Malam Metropolis Warung ini tidak mungkin mengupas tuntas, karena ada dua ketakuatan, yakni:

Ketakutan dicatat Tuhan karena memaparkan barang haram

Ketakutan pada Menkoinfo, dianggap situs porno.

Kendati Surabaya juga dikenal kota yang sensasi dan aroma agamanya cukup kental dan terjaga, realitas yang menegasi juga sulit dihindari.

Situs-situs gelap merambah dari hulu hingga hilir. Barangkali juga warisan kolonial, menurut buku Soerabaia Tempo Doeloe. Buah karya Cak Dukut, 139 tahun yang lalu bisnis esek-esek telah tubuh subur, laris manis, kendati tanpa promosi. Tepatnya di wilayah Surabaya Utara, Bandaran. Lokaliosasi legendaries ini kemashurannya mungkin menyamai lokalisasi Dolly di zaman sekarang. Pada tahun 1864, kampun Bandaran amat tersohor. Tidak hanya dikenal warga kota ini saja, tapi juga warga kota lain, bahkan orang asing. Saat itu, di lokalisasi ini beroperasi 228 pelacur high class di bawah asuhan 18 GM [bukan General Manager, tapi GERMO]. Letak tepatnya Bandaran itu dipinggir pantai, dan berdekatan dengan Tajung Perak, mengingatkan kita pada parikan Suroboyo. “Tanjung Perak Kapale Kobong, Monggo Pinarak Kamare Kosong”—Tanjung Perak mas, kapalnya terbakar, silakan mampir mas kamarnya kosong.

Surabaya memang punya banyak kantor PSK. Selain Dolly, Jarak, Kremil, Bangunsari, Moroseneng , juga ada Pangsut, Diponegoro, Embong Malang, Kedungdoro, Darmo Park, dan banyak lagi. Stasiun Wonokromo juga menjadi kawasan lampu merah yang marak setiap malam tiba.

SITUS GELAP ITU, MENURUT BUKU.
Gang Dolly : Orang Surabaya mana tak kenal dengan lokalisasi Gang Dolly. Tapi, pasti tidak banyak yang tahu sejarah berdirinya. Juga asal-usul mengapa kawasan merah itu dinamai Gang Dolly. Nama Gang Dolly berasal dari nama perintisnya, seorang-orang mucikari asli Advonso Dolira Chavid, wanita blateran Belanda-Birma. Semula Dolira adalah pensiunan pelacur kelas kakap di tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an naik pangkat menjadi mucikari alias germo dengan saap khas Mami Dolly. Zaman keemasan tiba, maka sang Mami Doly membangun buat kawasan Putat Jaya ini menjadi semacam real estate-nya PSK. Dari hasil bisnis esek-esek ini pula, ibu satu anak hasil perkawinannya dengan seorang pelaut Cekoslowakia , memiliki banyak rumah di Surabaya dan Malang. Bangkrut tapi diharapkan, kenyataan juga menimpa sang Mami, sampai anakanya sendiri Eddy Yoseph, menggugat bagian harta hingga ke pengadilan. Sepanjang gang ini saat ini masih beroperasi sekitar 56 buah wisma.

Di kota ini juga ada kampong yang menyediakan rumah untuk tempat esek-esesk bagi priya hidung belang dan PSK. Yang menarik, rumah-ruma itu juga ditinggali keluarga baik-baik . Nama kampong itu adalah Sidokumpul. Tidak semua rumah tidak digunakan untuk pratik masiat. Hanya berlaku di wilayah RW VII. Yakni ada empat RT, masing-masing RT 1,2,3, dan 4. Ada sekitar 70 KK. Ada juga yang sengaja dikontrakkan untuk ditinggal para wanita PSK. Tarif sewa kamar short time yang ditetapkan warga di Sidokumpul itu bervariasi, Rata-rata berkisar Rp. 10 ribu hingga Rp. 20. ribu, komplit dengan penyakitnya sekali
Wusana kata : Maaf kendati seru, warung menghentikan tulisan ini, anggap saja sedang ejakulasi dini. Itulah perwajahan kota, dimana saja yang memiliki sapaan sebagai metropolitan, sisi gelap tidak mudah dihambat. Warung hanya mengungkap ulang dari buku, ternyata perilaku menyimpang, gampang memberi inspirasi orang dalam menuang gagasan. Kita diingatkan, ketika itu lahir sebuah buku yang membahas khusus tentang Gang Dolly, buku itu bahkan best seller, pernah pula buku bertajuk “hitam-putih Dolly”, juga laris terbeli, termasuk buku yang sedang dicandra ini. Di pasaran buku ini mulai sulit dicari]

-

Arsip Blog

Recent Posts