Pembukaan Festival Sriwijaya Digelar di Kanal Kuno

Palembang, Sumsel - Pertunjukan teatrikal Pelayaran Bersejarah Kerajaan Sriwijaya digelar di kanal kuno peninggalan Kerajaan Sriwijaya dalam pembukaan Festival Sriwijaya. Untuk pertunjukan itu, sebagian kanal kuno peninggalan Sriwijaya direvitalisasi.

Untuk pertama kali dalam 10 tahun, Festival Sriwijaya diselenggarakan di Situs Karanganyar Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya yang diyakini sebagai pusat kerajaan maritim terbesar di Nusantara itu.

Revitalisasi kanal kuno itu dengan pengerukan sedimentasi di dasar kanal serta pembersihan di sekelilingnya. Revitalisasi hanya pada kanal dan danau di dalam kompleks Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau Situs Karanganyar 1.

”Pengerukan sejak beberapa pekan lalu oleh Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Provinsi Sumatera Selatan,” kata Ketua Pelaksana Festival Sriwijaya 2014 Ahmad Najib, di sela-sela pembukaan festival itu, Senin (16/6/2014) malam.

Pengerukan dimaksudkan agar kanal dengan lebar lebih kurang 15 meter itu dapat diarungi tiga kapal dalam pertunjukan teatrikal. Pertunjukan itu menggambarkan sejarah Sriwijaya, mulai dari kedatangan Dapunta Hyang dan pasukannya di Palembang hingga puncak keemasan kerajaan itu.

Dalam pentas itu dibacakan beberapa prasasti Sriwijaya yang ditemukan di Sumatera Selatan. Sejumlah warisan budaya Sriwijaya turut disebutkan, salah satunya bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa nasional Indonesia.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan Wakil Gubernur Sumsel Ishak Mekki turut serta dalam pelayaran yang berakhir di danau seluas 623 meter x 325 meter persegi. Situs Karanganyar terdiri dari tiga subsitus dan dihubungkan oleh 7 kanal dan 3 danau serta 3 pulau yang seluruhnya diduga dibuat pada zaman Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Sebelumnya, sedimentasi kanal-kanal kuno dengan lebar sekitar 15 meter itu kerap membuat kanal mengering.

Pelestarian

Najib mengatakan, Festival Sriwijaya di Situs Karanganyar dimaksudkan untuk melestarikan situs serta mengenalkan kembali sejarah dan kebesaran Kerajaan Sriwijaya kepada masyarakat. Selama ini, Festival Sriwijaya digelar di luar situs karena lebih berorientasi pada sisi ekonominya.

”Tahun ini, kami benar-benar ingin mengembalikan Festival Sriwijaya sebagai upaya melestarikan budaya dan sejarah Sumsel,” kata Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel itu.

Festival yang digelar 16-22 Juni itu memakan biaya Rp 1,3 miliar yang dianggarkan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah Sumsel. Festival diikuti 16 kabupaten dan kota di Sumsel yang menampilkan kuliner dan kesenian khas daerah.

Dalam sambutannya, Staf Ahli Menteri Bidang Perlindungan Keanekaragaman Karya Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hari Untoro Drajat mengatakan, sebagai kerajaan maritim besar yang kekuasaannya mencakup sebagian Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya mewariskan sejarah dan budaya unggulan yang perlu dilestarikan. ”Warisan budaya ini menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” ujar dia.

Ribuan warga terlihat hadir memadati pembukaan festival yang digelar sekali setahun tersebut. Sebagian dari warga Palembang yang datang justru belum pernah mengunjungi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya itu sebelumnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts