Predikat Kota Batik Yogyakarta

Yogyakarta - Perhelatan akbar Jogja International Batik Biennale (JIBB) bukan tanpa makna. Kegiatan yang digelar 12-16 Oktober 2016 ini memiliki tujuan supaya predikat Yogya Kota Batik Dunia (The World Batik City) tetap bertahan.

"Supaya predikat itu tidak dicoret. Syaratnya, ada event batik untuk menunjukkan aktivitas dunia batik di Yogyakarta tidak mati," kata Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, Syahbenol Hasibuan seperti dilansir media.

Predikat Kota Batik diberikan Dewan Kerajinan Dunia saat peringatan 50 tahun organisasi itu di Dongyang Provinsi Zhejiang Cina, 2014 silam. Ini merupakan pertaruhan kita di mata dunia. Selain Yogya, kota Dongyang di China dinobatkan sebagai World Wondercarving City dan kota Donique di Chilie dinobatkan sebagai World City of Chamanto. Artinya, predikat yang disandang, memosisikan Yogya sebagai sebuah kota yang sejajar dengan kota-kota seni budaya lainnya di dunia.

Penobatan Yogya Kota Batik dunia tentunya tidak sembarangan. Ketua Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia Prof Rahardi Ramelan dan Ketua Asosiasi Kerajinan Thailand yang juga mantan Presiden WCC Rojanavongse mengatakan, Yogya sebagai kota kerajaan layak menjadi pusat perbatikan sedunia (KR, 22/10/2014). Meski dari segi ekonomi, industri batik Yogya tidak sepesat kota-kota industri batik lainnya, namun perbatikan Yogya punya kekuatan dari segi lainnya.

Dewan Kerajinan Dunia tentu punya metode evaluasi yang komprehensif, dalam memberi nilai. Dan parameternya pastilah tidak pragmatis. Sebab, jika semata-mata diukur dari segi ekonomi, produksi batik di daerah lain mungkin jauh lebih maju. Bahkan, bicara soal batik, sejak zaman dulu telah bermunculan kapitalis-kapitalis yang agresif-ekspansif.

Menurut buku Indonesia Indah: Batik (1997), para pengusaha Inggris berusaha memproduksi kain cetak sebagai batik imitasi setelah mempelajari buku History of Java karya Stamford Raffles. Pada 1835, Belanda pun membuat batik imitasi di Leiden dengan pekerja terlatih dari Jawa. Menurut catatan Philip Thomas Kitley (1987), Belanda juga mendirikan pabrik batik imitasi di Rotterdam, Haarlem, Helmond, Apeldoorn. Swis pun tak mau kalah. Batik imitasi dijual sampai Afrika dengan nama ‘Java Batik’.

Dalam mempertahankan predikat Yogya Kota Batik Dunia, kita harus membangun perbatikan Yogya dari dua sisi. Pertama, sisi kewirausahaan batik yang harus berimplikasi pada kesejahteraan rakyat. Kedua, sisi kualitas budaya batik Yogya. Hal ini akan menjadi dasar penilaian yang berujung pada pemberian predikat Yogya Kota Batik Dunia itu.

Kualitas (baca: keunggulan) budaya batik Yogya terletak pada beberapa poin penting. Pertama, poin akar sejarah batik Yogya. Ini yang membuat posisi tawar batik Yogya sangat kuat. Untuk itu kita harus benar-benar merawat museum batik, cagar budaya terkait batik, serta sentra batik yang bersifat heritage seperti Imogiri dan Tamansari.

Kedua, kraton (Kasultanan dan Pakualaman) sebagai sentra batik. Pemda DIY harus mendukung kraton untuk berkarya batik. Hal itu juga selaras dengan amanat UUK No 13 Tahun 2012 di mana keistimewaan Yogya bertujuan melembagakan peran kraton sebagai basis budaya asli Yogya.

Ketiga, rakyat sebagai elemen utama pengkarya batik. Ungkapan Jawa adoh ratu cedhak watu (jauh dari ratu namun dekat dengan batu) jangan lagi dimaknai sebagai terpinggirkannya (termarjinalisasikannya) rakyat. Keempat, budaya batik jangan melulu pada pengembangan aspek materi (kain dan busana) batik.

Sertifikat UNESCO menyebutkan bahwa “batik adalah warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi” (Masterpiece of Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity) dari Indonesia”. Artinya, Yogya harus lebih dari sekadar giat berkarya kain dan busana batik yang bagus, tetapi juga mengandung dan mengedepankan nilai-nilai luhur dari proses penciptaannya, motif dan ornamen simbolisnya, pemakaiannya sebagai adibusana. Termasuk penggunaannya sebagai media pewarisan ajaran luhur.

Perhelatan akbar berskala internasional JIBB kiranya menjadi pintu masuk bagi masyarakat internasional untuk melihat kedalaman kualitas budaya batik Yogya, sehingga predikat Yogya Kota Batik bukan sekadar tidak dicoret, namun justru semakin menguat di mata dunia.

-

Arsip Blog

Recent Posts