Mengelola Candi, antara Pelestarian dan Kepentingan Masyarakat

Jakarta - Terjadi tarik menarik kepentingan dalam pengelolaan Candi Prambanan dan Candi Sewu, yang merupakan salah satu kompleks warisan budaya dunia di Jawa Tengah. Pengunjung yang besar memasuki candi Prambanan dan Sewu, sangat berdampak negatif bagi pelestarian candi tersebut.

Demikian benang merah yang terungkap pada diskusi pelestarian candi, Jumat (15/1/2010) di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Diskusi merupakan salah satu rangkaian acara Pameran Candi Prambanan dan Candi Sewu, yang akan berlangsung hingga tanggal 24 Januari mendatang di BBJ. Diskusi dipandu Dahono dengan narasumber Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta Herni Pramastuti dan Tri Hatmadji dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Herni Pramastuti mengatakan, pengunjung dalam jumlah besar memasuki Candi Prambanan mungkin meningkatkan pendapatan, tapi dampak yang ditimbulkan relatif besar. Alas kaki pengujung dalam jumlah besar dan waktu tertentu yang menaiki candi, menyebabkan batu-batu tangga dan selasar bangunan menjadi aus.

"Pengunjung yang membawa kotoran berupa wadah makanan dan minuman akan menjadi polusi sampah yang mempercepat tumbuhnya jasad renik (mikrobiologi) pada bangunan candi. Asap kendaraan pengunjung yang memadati halaman parker, bahkan meluber sampai utara kantor unit PT Tamana Wisata Prambanan, membuat polusi asap dan hujan asap yang akan lebih mempercepat kerusakan bangunan candi," paparnya.

Sedang Tri Hatmadji mengatakan, kompleks candi Sewu di kawasan Prambanan merupakan unsur penting yang turut memperkaya Prambanan sebagai kawasan yang padat akan peninggalan budaya dan masing-masing memiliki karakteristik dalam aspek arsitektur maupun latar belakang historisnya.

"Candi Sewu bersama dengan candi-candi lainnya di sekitar Prambanan juga mengalami kerusakan. Hingga saat ini kerusakan tersebut masih dalam proses perbaikan yang pendanaannya melibatkan sumber dana dalam negeri maupun UNESCO," katanya.

Herni Pramastuti mengakui, masyarakat Indonesia dan dunia pada umumnya dan masyarakat sekitar Candi Prambanan khususnya, berkepentingan dalam pemanfaatan Candi Prambanan. Berbagai kepentingan untuk pemanfaatan benda cagar budaya ini , dapat dikelompokkan menjadi beberapa yaitu agama, pendidikin, ilmu pengetahuan, sosial, kebudayaan dan pariwisata.

Menurut Herni, untuk mengatasi dampak negatif pemanfaatan Candi Prambanan perlu ditangani dengan cara peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelestarian. Pada masa glo balisasi ini, partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan Candi Prambanan sangat diperlukan agar upaya pelestarian dapat berjalan secara efektif dan efisien.

"Masyarakat berhak ikut merencanakan pengelolaan Candi Prambanan karena peninggalan-peninggalan tersebut milik masyarakat yang diwariskan oleh leluhurnya. Agar bermanfaat langsung kepada masyarakat, maka upaya pelaksanaan pelestariaan dan pengawasannya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Kedudukan pemerintah dalam pengelolaan pelestarian Candi Prambanan hanya sebagai fasilitator," jelasnya.

Mantan Direktur Peninggalan Purbakala Suroso saat memberikan tanggapan mengatakan, dalam upaya pelestarian, tak cukup hanya candi saja yang jadi perhatian, tetapi juga pelestarian lingkungannnya. (Yurnaldi)

Sumber: http://oase.kompas.com
-

Arsip Blog

Recent Posts