Aek Sibundong: Wisata Rindu Kampung

Oleh Fadmin Prihatin Malau

Banyak hal membuat orang datang ke satu daerah. Alam yang indah, kenangan yang manis, punya nilai sejarah dan lainnya. Hal yang membuat orang datang ke satu daerah adalah modal dasar untuk membangun satu daerah tujuan wisata. Semakin banyak hal yang membuat orang datang ke satu daerah maka semakin ramai daerah tujuan wisata itu dikunjungi.

Tersebut sebuah sungai (baca: Aek) Sibundong. Hadir dalam syair lagu Aek Sibundong. Lagu ini tidak diketahui siapa penciptanya, tapi lagu yang enak didengar dan tidak asing lagi bagi masyarakat yang dilalui aliran sungai itu.

Mulai dari asal sungai, kota Dolok Sanggul kabupaten Humbang Hasundutan, terus mengalir ke Parmonangan Kabupaten Tapanuli Utara, lantas ke daerah Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Lagu itu dari generasi ke generasi tetap berkumandang dan melekat pada kehidupan warga di jalur sungai. Begitu juga dengan masyarakatnya di perantauan. Ada apa dengan lagu itu?

Sudah banyak penyanyi yang melantunkannya, mulai dari Joel Simorangkir, Charles Simbolon sampai sederetan penyanyi Tapanuli lainnya. Sungguh indah syairnya, menceritakan tentang sebuah sungai bernama Sibundong.

“Oh Aek Sibundong, parhasak mi mansai uli, tudos hapas Palembang I, madabu tu sampuran I, di Dolok Sanggul na uli. (Wahai sungai Sibundong, aliran airmu sangat mempesona seperti kapas dari Palembang, jatuh ke air terjun, di Dolok Sanggul nan indah),” begitu syairnya berkata-kata.

Indahnya syair lagu itu membuat para perantau asal Dolok Sanggul, Parmonangan dan Sorkam selalu rindu kampung halamannya, ingin menikmati indahnya sungai itu. Marlon Simamora (32) lelaki ayah dari dua orang anak yang lahir dan besar di Jakarta mengungkapkan kerinduannya akan syair lagu Aek Sibundong itu dan itulah yang membuatnya pulang ke kampung halaman orangtuanya.

Kepada penulis akhir tahun 2008 lalu Simamora mengakui keinginan untuk melihat Aek Sibundong itu sudah cukup lama. Keinginan itu menggebu-gebu setiap kali didengarnya syair lagu Aek Sibundong. Kini, keinginan itu sudah terpenuhi dan ingin terus melihat dan menikmati airnya yang sejuk.

Aek Sibundong, asalnya dari Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan, mengalir melintasi Dusun Tumus, Dusun Simarsalaon di Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara. Aliran sungai itu menuju rimba belantara, terjun dari bukit yang tinggi, melahirkan air terjun yang diberi nama Sampuran Simindor di dalam hutan.

Air terjun itu kemudian mengalir menuju Desa Hajoran Kecamatan Parmonangan Kabupaten Tapanuli Utara. Tidak berhenti sampai di situ, terus mengalir memasuki Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah dan akhirnya bermuara ke samudera Indonesia di pantai Sorkam Kiri.

Ada tiga kabupaten dilalui aliran Aek Sibundong sebelum bermuara ke laut lepas. Sepanjang alirannya memberikan kehidupan kepada masyarakat, airnya menjadi sumber hidup dan kehidupan masyarakat. Ratusan, bahkan ribuan orang memanfaatkan airnya.

Ternyata bukan masyarakat Dolok Sanggul di perantauan saja yang merindukannya. Marganti Manalu (42) yang kini menetap di Medan sebagai seorang pegawai swasta selalu ingin pulang ke Parmonangan Kabupaten Tapanuli Utara ingin merasakan sejuknya air Aek Sibundong. Pun dengan Bajuri Tanjung (35), perantau asal Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah yang lahir dan besar di Bandung, Jawa Barat pulang ke kampungnya di Sorkam, ingin melihat keindahan Aek Sibundong. ”Sudah lama sekali saya ingin melihat dan mandi di Aek Sibundong ini,” katanya dengan logat Bandung yang kental.

Tanjung, selama ini hanya mendengar cerita dan menikmati syair lagunya saja, kini sempurna dia rasakan. Melihat dan mandi di Aek Sibundong kampung halaman orangtuanya. Perantau yang bukan lahir di sepanjang aliran Aek Sibundong saja merindukannya, apalagi mereka yang lahir, dibesarkan di aliran sungai itu. Pasti pernah menikmati kesejukan airnya dan tentunya menyimpan kerinduan yang lebih dalam lagi.

Subhan Tanjung, lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak di Kecamatan Sorkam Kanan kepada penulis mengatakan yang membuat dirinya terus ingin pulang ke kampung, tidak lain panggilan Aek Sibundong. Nostalgia yang tidak terlupakan, mandi, berenang sesama teman di sungai itu. Terus terkenang-kenang dan selalu membuat ingin pulang.

Ramai Saat Mudik
Wisata rindu kampung halaman akan ramai saat mudik yakni ketika Natal dan Tahun Baru, Hari Raya Idul Fitri karena para pemudik pasti mengagenda khusus untuk melihat daerah tujuan wisata di kampungnya.

Hal ini sudah biasa untuk daerah tujuan wisata di Indonesia, tetapi belum biasa dan terbiasa untuk daerah tujuan wisata yang ramai dikunjungi saat mudik oleh parantau dibenahi menjadi daerah tujuan wisata oleh pemerintah setempat.

Bila dibenahi sudah pasti daerah tujuan wisata itu bukan saja untuk para pemudik yang berwisata rindu kampung halaman tetapi akan dikunjungi para wisatawan yang bukan berwisata kampung halaman. Hal itu karena hampir semua daerah tujuan wisata itu memiliki daya tarik tersendiri, sayangnya belum dilirik secara baik oleh pemerintah setempat.

Idealnya dibenahi sehingga bukan saja menjadi daerah tujuan wisata bagi wisatawan yang rindu kampung halaman setahun sekali tetapi bagi wisatawan dalam negeri dan luar negeri yang ingin menikmati keindahan alam dan pesona yang ada di daerah itu setiap saat.

Kapan ini terjadi? Jawabnya segera karena minimal memperkaya khasanah daerah tujuan wisata di Indonesia dan dari sekian banyak pasti ada yang muncul menjadi daerah tujuan wisata berkelas nasional dan internasional.

Sumber: http://www.analisadaily.com
-

Arsip Blog

Recent Posts