Mengunjungi Situs Kota Cina di Dasar Danau Siombak

Oleh Muhammad Tazli

Tahun 1986 ’pasukan’ bekho (excavator, Red) mengobrak-abrik lahan yang kini dinamakan Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan. Areal yang awalnya lahan pertanian milik warga, dalam waktu singkat jadi kubangan air raksasa. Kerukan tanah di areal itulah yang digunakan untuk penimbunan jalan Tol Belmera yang memanjang dari Belawan hingga Tanjung Morawa.

“Sekitar Tahun 1963, kami berladang di Siombak, tidak hanya kami saja. Banyak warga sekitar yang bercocok tanam di daerah ini. Yang ditanam macam-macam, mulai padi, ubi, kacang tanah, jagung dan sayur-sayuran,” kata Raidah, warga Rengas Pulau yang lahir di daerah ini. Sejak pengerukan dimulai, warga tak beraktivitas lagi di lahan itu, tambah ibu kelahiran 17 Agustus 1945 ini.

Seiring berjalannya pengerukan lahan Siombak mulailah terungkaplah legenda yang selalu menjadi pengantar tidur bocah-bocah di daerah ini. Cerita dari mulut ke mulut tentang kejayaan Kota Tua Cina di kawasan itu pun mulai terbukti. Di areal pengerukan material Lumpur pada ke dalaman lima meter banyak ditemukan peninggalan barang-barang kuno.

Cerita tentang Kota Cina adalah Kerajaan yang makmur dan terdapat pelabuhan internasional yang dihuni imigran Cina pun, tak bisa disangkal. Menurut legenda, Kota Tua Cina hancur setelah menerima kutukan. Kota yang menurut legenda seluas 25 hektar itu terkubur setelah pasukan kepah (sejenis kerang, red) ’menyerang’ kota itu.

Dalam pengerukan kawasan Siombak ditemukan barang-barang peninggalan dengan aksara Cina dari tahun 800 Masehi, seperti piring, guci patung Dewa Siwa dan koin yang bertuliskan tahun 800 M. Salah satu yang masih tersisa adalah bangunan kelenteng tua yang berada di semak-semak, dekat pemukiman warga. Menurut berbagai sumber, bangunan itu peninggalan abad ke-11 Masehi. “Ketika itu, banyak yang menjumpai benda-benda kuno. Mereka menunggui beko-beko itu bekerja. Tanah terangkat, mereka berkejaran mencari benda itu,” beber ibu ini.
Sejak saat itulah, warga tak berhenti mencari benda-benda kuno. Para pencari kupang (sejenis kerang, red) pun berprofesi ganda. Mencari kupang sambil mencari harta karun. Tak jarang pula mereka mendapat hasilnya. Contohnya saja Anan, nelayan pencari kupang di Lingkungan VII, Paya Pasir ini, sering menemukan keramik kuno.

Sambil menunaikan tugasnya sehari-hari menyelami kupang untuk dijual sebagai bahan baku pembuat makanan bebek, ia juga sambil mencari benda kuno yang bisa dijual. Hasil penyelaman hingga lima meter ke dasar Danau Siombak, kini masih terpajang di rumahnya, berupa empat buah guci dan satu buah mangkuk tembaga. Anan berniat untuk menjual barang ini, sebagai tambahan biaya keluarganya. Memang ada yang telah menawarnya, namun harganya tak cocok,” kata istri Anan.

Dari data Balai Arkeologi Medan, benda-benda kuno yang ditemukan di kawasan itu antara lain Arca Buddha besar, Arca Laksmi, fragmen keramik dan bata dari masa Dinasti Sung dan Yuan, batu pahatan merupakan batuan beku yang berbentuk prisma segi empat dengan ukuran tinggi 50 cm, lebar atas 30 cm, lebar bawah 40 cm dan tebal 23 cm, dan lain-lain. Sebagian keramik yang ditemukan di Paya Pasir diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 13-14 Masehi) dan Dinasti Sung (abad akhir abad 10-13 Masehi). Sedangkan koin mata uang berasal dari masa Dinasti Tang (abad 10 Masehi) dan Dinasti Sung (abad 11 Masehi).

Benda-benda itu kini disimpan di Museum Negeri Sumut, sebagian masih berada di tangan warga. Tak Cuma itu, beberapa tahun lalu seorang warga Ismail, menemukan bangkai perahu yang panjangnya 30 meter. Perahu itu bukan perahun nelayan, dilihat dari ukurannya diperkirakan perahu niaga. Perahu tersebut hingga kini masih terkubur di dasar Danau Siombak, belum ada upaya untuk mengangkatnya.

Kota Cina banyak memiliki peninggalan arkeologi, baik dari jumlah mau pun jenisnya. Tempat ditemukannya benda-benda artefak itu pun berbeda-beda. Masih berupa barang yang utuh maupun pecahan.

Penemuan-penemuan benda arkeologi itu, begitu sangat membantu melalui identifikasi jenis bahan baku benda temuan itu, sehingga memungkinkan untuk dapat menggambarkan, apa sebenarnya yang telah terjadi pada masa itu.

Namun, hingga sekarang meskipun sudah banyak ditemukan arkeologi di situs sejarah Kota Cina ini, seperti keramik, koin dan barang lainnya. Namun, hingga sekarang belum diketahui siapa saja pemilik sekaligus pewaris dari benda tersebut. Hingga sekarang, pemerintah belum meperdulikan tentang sejarah kota Cina ini, sehingga tak ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui situs sejarah tersebut.

Syahrul Idrus, tokoh masyarakat setempat mengatakan hendaknya pemerintah merekontruksi ulang, bangunan rumah penduduk ditata sedemikian rupa. Menjadikan Danau Siombak ini sebagai wisata budaya. Digarap secara serius, untuk bisa menghasilkan aset yang menjadi pemasukan untuk Pemko juga nantinya.
“Dijadikanlah wisata budaya, mereka disuguhi danau, museum yang berisi benda peninggalan yang ditemukan di sini dan perpustakaan. Selain itu, warga juga akan lebih produktif dengan membuka usaha berjualan untuk melayani para wisatawan yang datang. Bukankah itu sangat menguntungkan semua pihak,” kata Syahrul.
Begitupun, bilang Syahrul, jangan sampai pembangunan ini mengabaikan warga di sini. Hendaknya janganlah investor dari luar membeli lahan ini, lalu warga di sini hanya bisa jadi penonton. “Parahnya, hendak menjenguk ke danau pun harus bayar, ini kan menyedihkan,” terang Syahrul.

Apa yang dikatakan Syahrul, sebenarnya bukanlah hanya impian di siang bolong. Hal itu bisa saja terjadi jika kita masih mau peduli terhadap budaya, yang dapat disajikan untuk anak cucu nantinya. Kalau kita berpikir, alangkah sayangnya perahu tua yang dijumpai Ismail yang diduga digunakan untuk menyeberangi Selat Malaka untuk perniagaan itu dibiarkan saja tertimbun di dasar Danau. Apa tidak lebih baik, jika dipajangkan di sebuah museum seperti yang dikatakan Syahrul.

Beberapa waktu lalu, investor Malaysia bahkan sudah memagari lokasi ini, penduduk tidak lagi bisa sembarangan di lokasi ini. Menurut pengakuan mereka, lahan ini telah dijual seharga Rp2 miliar. Namun, sekarang prosesnya tertunda, karena keadaan mantan Wali Kota, Abdillah yang sekarang ditahan.
Warga begitu tertekan ketika pihak pengelola, mulai memagari lokasi ini. Mereka yang lahir di sini, seakan tak mempunyai kuasa apa-apa terhadap kampung halamannya sendiri.

Satirnya, jika Anda ingin tahu lebih jelas tentang sejarah Kota Cina ini, Anda bisa pergi ke Prancis, bisa jadi di museumnya lebih jelas gambaran sejarah tentang Kota Cina ini, karena beberapa barang penemuan telah dijual warga kepada turis Prancis yang datang. Sebab, lebih sering mereka datang disbanding kepedulian dari masyarakat Indonesia sendiri.

Sumber: http://www.sorasirulo.net
-

Arsip Blog

Recent Posts