Pesta Adat Naik Dango

Oleh Agustinus Handoko

”Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata…!” Lantang suara dari podium itu dibalas dengan gemuruh, ”Arus… arus… arus…!” Hujan malam sebelumnya yang meninggalkan becek di lapangan depan rumah betang (rumah khas masyarakat Dayak) di Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, itu tidak menyurutkan antusiasme ribuan masyarakat adat Dayak Kanayatn.

Mereka berjejal di sepanjang sisi lapangan dengan kaki-kaki kotor terkena lumpur, mengikuti ritual perayaan adat Dayak, naik dango ke-25 tingkat Kalimantan Barat di Kuala Behe, Selasa (27/4). Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata adalah salam khas masyarakat Dayak dalam setiap pertemuan.

Adil Ka’ Talino berarti ’adil dan toleran terhadap sesama’. Bacuramin Ka’ Saruga atau bercermin ke surga berarti ’harus selalu hidup baik’. Basengat Ka’ Jubata berarti ’setiap tarikan napas harus patuh terhadap Tuhan’. Jawaban dari salam itu, arus, arus, arus, berarti ’mengiyakan dan berharap salam itu akan terpenuhi dalam kehidupan semua orang yang hadir’.

Salam itu selalu mengawali sambutan tokoh masyarakat atau tokoh pemerintah dalam acara adat Dayak, termasuk perayaan adat naik dango. Salam itu sekaligus menjadi filosofi masyarakat adat Dayak untuk mewujudkan hidup yang tenteram bersama masyarakat lainnya.

Masyarakat adat Dayak Kanayatn yang mayoritas hidup sebagai petani itu mensyukuri ketenteraman dan panen yang mereka peroleh melalui upacara adat naik dango. Tradisi naik dango sudah ada dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn sejak ratusan tahun lalu. Sejak tahun 1985, naik dango dirayakan bersama di tingkat Kalimantan Barat oleh masyarakat adat Dayak Kanaytn.

Masyarakat adat Dayak Kanayatn mendiami wilayah Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, dan Kabupaten Kubu Raya. Dayak Kanayatn adalah satu dari 350 subsuku Dayak di Kalimantan.

Puncak perayaan naik dango ditandai dengan ngantar panompo ke rumah betang. Dalam tradisi masyarakat Dayak, panompo adalah semacam lumbung untuk menyimpan padi. Panompo memiliki macam-macam bentuk, seperti gubuk dan kapal. Itu tergantung dari kebiasaan masyarakat di suatu tempat.

Upacara adat naik dango ke-25 di Kuala Behe diikuti 23 kelompok atau utusan di tingkat kecamatan di Landak, Pontianak, dan Kubu Raya. Setiap kelompok datang dalam jumlah besar, hingga puluhan orang, tetapi yang terlibat dalam ngantar panompo paling banyak 15 orang per kelompok.

Ngantar panompo dalam naik dango selalu diiringi dengan tari-tarian dan musik khas masyarakat Dayak. Selain padi, masyarakat juga memberikan sesajian seperti ayam kampung panggang. Para pengantar berpakaian khas Dayak dari wilayah masing-masing. Ada yang masih menggunakan kulit kayu dihiasi biji-bijian. Namun, ada pula yang sudah menggunakan kain dengan renda atau bordir.

Salah satu tarian yang dibawakan oleh beberapa kelompok adalah tarian ngayau atau tarian menggunakan pedang dan tameng. Pada zaman dahulu, ngayau merupakan tradisi sejumlah subsuku Dayak untuk berburu kepala lawan.

Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat Yakobus Kumis mengatakan, dalam rapat besar masyarakat Dayak yang diikuti oleh semua subsuku pada tahun 1894, disepakati untuk mengakhiri tradisi ngayau. Kini tradisi itu hanya diteruskan dalam bentuk tarian.

Yakobus mengatakan, naik dango sekaligus menjadi ajang pertemuan seluruh masyarakat Dayak Kanayatn. ”Diharapkan, setiap kali pertemuan bersama masyarakat Dayak Kanayatn, ada pemikiran-pemikiran baru untuk kemajuan masyarakat Dayak,” kata Yakobus.

Masyarakat adat Dayak Kanayatn dari Kampung Jelimpo, Kecamatan Jelimpo, Landak, Rido (24) mengatakan, naik dango juga menjadi ajang tukar pengalaman dari masing-masing kelompok. ”Kami ini satu Dayak, tetapi masing-masing punya kegiatan sendiri-sendiri. Naik dango inilah yang bisa mempertemukan kami secara bersama-sama,” kata Rido.

Tetua adat Dayak Kanyatn di Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak, Satir (60), mengatakan, naik dango menjadi ajang yang tepat untuk bersama-sama merefleksikan hidup selama satu tahun. ”Selama satu tahun tentu ada kemajuan yang dicapai salah satu kelompok. Kelompok lain mungkin juga pernah mengalami kesulitan sehingga bisa bersama-sama memecahkan persoalan itu,” kata Satir.

Bagi masyarakat Dayak, naik dango selalu mengingatkan untuk terus menyelaraskan hidup dengan kehendak Jubata, Tuhan yang memberikan hidup, hidup yang toleran dengan sesama. Arus…arus…arus…!

Sumber: http://travel.kompas.com
-

Arsip Blog

Recent Posts