Rumah Cina di Pulau Penang

Oleh: Yovita Nani

Menjelang senja di Georgetown, ibu kota Penang, Malaysia, eksotika matahari tenggelam tampak sangat indah di sela-sela deretan pohon kelapa. Saat berjalan mendekati garis pantai, air laut terlihat biru sampai di batas cakrawala.

Penang terletak di sisi barat Semenanjung Malaysia, terdiri dari bagian Pulau Penang dan daratan Penang. Untuk menghubungkannya tersedia fasilitas penyeberangan dengan kapal feri atau melalui Jembatan Penang, sepanjang 13,5 kilometer.

Pulau Penang terkenal dengan pantainya yang indah, yaitu di Tanjung Bungah, Batu Ferringhi, dan Teluk Bahang. Pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Terlebih ketika diselenggarakan Penang International Dragon Boat Festival, yang berlangsung setiap bulan Juni dan menjadi momen untuk menyedot wisatawan.

Pulau Penang menjadi bagian sejarah kolonialisme Inggris. Pada tahun 1786 pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten Francis Light mulai menguasai pulau tersebut. Kemudian Kapten Francis membangun sebuah benteng pertahanan. Benteng itu dinamakan Fort Cornwallis dan menjadi ikon penting Negeri Bagian Penang.

Fort Cornwallis digunakan sebagai pertahanan menghadapi serangan tentara Perancis dan kawanan bajak laut. Nama ibu kota Penang yang diambil dari nama King of George III, mencerminkan warisan kekuasaan Kerajaan Inggris di Penang.

220 Jendela

Walaupun penduduk Pulau Penang berasal dari berbagai etnis di Asia, seperti Melayu, Cina, India dan Burma, mereka telah lama berbaur dengan selaras. Rumah ibadah berbagai agama hidup berdampingan dan pemeluk agama menjalankan ritualnya masing-masing.

Di Jalan Burmah terdapat dua kuil dari komunitas Budhis yang berbeda, yaitu Thailand dan Burma. Yang menarik, Wat Chaiya Mangkalaram letaknya berhadapan dengan Dhammikarama Burmese Buddhist Temple.

Di Wat Chaiya Mangkalaram, terdapat patung Budha yang berbaring miring sepanjang 33 meter dan dilapisi emas. Bangunan utama kuil Dhammikarama atapnya berhiaskan ukiran cantik khas Burma, berwarna keemasan. Di dalamnya terdapat sebuah patung Budha yang berdiri tegak, sementara di belakangnya berjajar rapi patung-patung Budha dengan ukuran lebih kecil.

Ketika menyusuri lorong kota, terlihat beberapa bangunan kuno yang dilestarikan sebagai peninggalan karya seni. Di antara megahnya bangunan-bangunan hotel di sepanjang Leith Street, tampak sebuah rumah besar bergaya Cina, dikenal sebagai The Cheong Fatt Tze Mansion.

Rumah bercat biru ini sering juga disebut La Mansion Bleu, memiliki 38 kamar tidur dan 220 jendela, selesai dibangun pada tahun 1880 di atas tanah seluas 1 hektare. Keindahan dan kerapian rumah mantan 'Rockefeller dari Timur', yang telah direnovasi hingga menyerupai bangunan aslinya, telah membuahkan penghargaan UNESCO Conservation Award tahun 2000.

Menjadi Landmark

Kecintaan pada seni arsitektur dari pasangan Lawrence Loh dan Loh Lim Lee, membuat La Mansion Bleu menjadi salah satu landmark Penang, juga objek wisata. "Saat membeli bangunan ini, turisme tidak menjadi tujuan utama kami. Kecintaan akan sejarahlah yang membuat kami merenovasinya," kata Lim Lee.

Pelestarian rumah Cheong Fatt Tze oleh pasangan Loh dilakukan dengan menggunakan dana pribadi, tanpa campur tangan pemerintah. Awalnya bagian dalam rumah sangat kotor, tangga marmernya telah rusak. Namun, seluruh lantai bangunan masih baik, juga tiang-tiang besi buatan Glasgow, Inggris, yang menyangga bangunan utama.

Ketika memasuki rumah tersebut, kita seakan berada di masa silam. Ruang utamanya begitu luas, dengan jendela dan pintu kayu berukir ornamen khas Cina. Di sudut ruangan terdapat meja bundar terbuat dari marmer dan kursi kayu berayaman rotan.

Sayap kanan bangunan antik tersebut kini disewakan kepada pengunjung yang ingin tidur di rumah abad lalu. Sewa kamar per malam sekitar 200 hingga 800 ringgit, tergantung dari luas kamar dan perlengkapannya. Ketika berbaring di ranjang kayu berukir, dengan tirai kelambu yang menjuntai, mata ini terasa enggan terpejam. Terbayang di benak saya, seorang putri Cina sedang memainkan harpa, sambil menyanyikan lagu tentang cinta.

Surga Makanan

Kehadiran berbagai etnis dengan sajian kuliner masing-masing, membuat Penang dikenal sebagai surga makanan. Mulai dari restoran mewah hingga hawker center, tersebar si sepanjang Jalan Penang. Menyajikan makanan khas Melayu, India, dan Cina.

Hawker center adalah food court yang terletak di udara terbuka. Harga makanan di tempat ini relatif murah. Pengunjung boleh memilih meja di mana saja di area hawker center. Pembayaran dilakukan di meja, setelah makanan diantar.

Aneka menu nasi dapat dipilih di sini. Ada nasi lemak, sejenis nasi uduk dengan lauk ikan bilis goreng, kacang tanah goreng, dan sambal belacan. Cicipilah nasi kandar khas India Selatan. Seporsi nasi putih disajikan di atas selembar daun pisang, dengan pilihan lauk seperti gulai telur ikan, sayur kari, dan rendang. Lauk pauknya mirip masakan Padang, tetapi bumbu rempah-rempahnya terasa lebih tajam.

Atau nasi briyani, dibuat dari beras basmathi dengan bumbu rempah-rempah, seperti bunga cengkih, kulit kayu manis, dan daun pandan. Nasi briyani biasanya disantap bersama chicken makhani, ditambah papadam (kerupuk khas India). Chicken makhani terbuat dari daging ayam yang direndam dalam yoghurt ditambah rempah-rempah, lalu dimasak dengan mentega dan tomat.

Lidah benar-benar diajak menari lewat sesuap nasi briyani ditambah satu gigitan chicken makhani. Paduan rasa pedas rempah-rempah dengan rasa gurih dan segar dari campuran mentega dan tomat, sungguh lezat. Apalagi ketika dicecap, ada aroma wangi pandan berbaur dengan kayu manis yang membelai saraf penciuman. Variasi olahan mi, dari mi rebus, mi hokian, hingga mi pedas szechuan juga dapat dinikmati di hawker center.

Selain makanan, Penang juga menyediakan tempat belanja yang menarik. Beberapa mal menggelar diskon yang menggoda. Namun, belanja di toko-toko kecil yang berjajar di Jalan Penang dan Lebuh Leight lebih mengasyikkan. (SENIOR/Yovita Nani)

Sumber: http://nasional.kompas.com
-

Arsip Blog

Recent Posts