`Kerinan`, Saat Air Danau Sentarum Surut

Kalimantan Barat- Perahu kayu membelah permukaan tenang Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Perahu itu meliuk-liuk di antara rerimbunan beragam tanaman yang tumbuh dari dasar Danau Sentarum, lahan basah terbesar kedua di Asia Tenggara.

Di tengah danau, di antara rimbunan pohon, perahu berhenti. Jhony Adi, warga Danau Sentarum, melompat keluar kapal. Di bagian kering itu, air danau hanya mencapai lututnya. Dia masuk ke rerimbunan pepohonan yang menyerupai lorong itu.

Di ujung lorong tampaklah pemandangan menyerupai sebuah kolam besar dengan belasan perahu nelayan mengapung-apung.

Pyarr......pyarr...beberapa nelayan menebar jalanya. Jhony lalu masuk ke sebuah kapal dan mulai menangkap ikan. Begitu jala ditarik, ikan-ikan menggelepar di dasar perahu kayu.

Kolam itu sebetulnya cekungan di dasar danau. Danau seluas 132.000 hektar tersebut terdiri atas danau-danau kecil yang satu sama lain dihubungkan aliran sungai. Saat danau surut, air bersama ikan-ikan terperangkap di dalamnya. Saat itulah, warga melaksanakan tradisi kerinan atau menangkap ikan bersama-sama.

Siang itu, kerinan dilaksanakan di Kolam Senampon, demikian warga menamai kolam itu. Pengambilan ikan harus bersama-sama. Mereka yang mendahului akan dikenai sanksi berupa denda uang lantaran dianggap sama dengan pencurian.

Hasil tangkapan dinikmati bersama-sama dan sebagian dijual guna mengisi kas desa untuk dana keagamaan, olahraga, kegiatan pemuda, dan kepentingan kampung lainnya.

Sekali kerinan bisa diperoleh sampai 800 kilogram ikan. Terkadang sekali kerinan dapat tiga juta rupiah. Ikan tidak boleh pula semuanya dikuras dari kolam di tengah danau tersebut. ”Harus ada bagian yang disisakan agar ikan tidak habis,” ujar Jhony Adi.

Ketua lembaga swadaya masyarakat Riak Bumi, Ade Jumhur, yang hadir dalam kerinan itu berkisah, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Kerajaan Selimbau, ratusan tahun lalu.

Di masa silam, kerinan biasanya didahului dengan ritual bebantar, yaitu memberi ”makan” atau sesaji kepada danau. Sajian berupa buah-buahan, gandum, dan tiruan bentuk ikan. Tradisi bebantar itu sekarang sudah tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Danau Sentarum yang sebagian besar Melayu tersebut.

Bergantung pada alam Taman Nasional Danau Sentarum berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, atau sekitar 700 kilometer dari Kota Pontianak. Di dalam kawasan Danau Sentarum terdapat lebih dari 40 dusun permanen dan belasan dusun musiman.

Dusun-dusun telah ada di kawasan itu sejak sebelum abad ke-18 atau lebih dari dua abad yang lalu. Dahulu, di kawasan itu terdapat sekitar lima kerajaan, yakni Kerajaan Selimbau, Suhaid, Jongkong, Bunut, dan Kerajaan Piasa. Kini, batas-batas kerajaan sudah lenyap menjadi kecamatan sehingga tidak jelas lagi batas-batas kerajaan masa lalu.

Masyarakat Danau Sentarum hidup berdampingan dengan alam sejak ratusan tahun lalu. Sebagian besar masyarakat mengandalkan hidupnya dari mencari madu hutan, perajin rotan dan kayu, budi daya ikan danau, serta nelayan penangkap ikan.

Danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen tersebut memiliki kekayaan flora dan fauna luar biasa. Ada 510 spesies tumbuhan dan 141 spesies hewan mamalia. Taman nasional itu tempat hidup 266 spesies ikan yang sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Di danau ini hidup pula 26 spesies reptil dan 310 spesies burung.

Hutan di kawasan tersebut juga surga bagi lebah liar (Apis dorsata) yang mampu menghasilkan madu terbaik di Kalimantan Barat. Keaslian madu hutan Danau Sentarum telah diakui dengan didapatkannya Sertifikat Sistem Pangan Organik untuk madu hutan dari Board of Indonesian Organic Certification (BIOCert).

Selain itu, kawasan danau itu menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Ikan yang bernilai ekonomis dan dikonsumsi warga, antara lain ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Bekerja sebagai nelayan ikan merupakan pekerjaan dan sumber penghasilan utama mereka

Populasi Ikan Terganggu

Belakangan populasi ikan terganggu. Permintaan dan harga yang bagus terhadap ikan toman membuat penduduk sejak 10 hingga 15 tahun terakhir bersemangat membudidayakan ikan toman di dalam keramba. Para nelayan mengambil bibit toman dari danau kemudian membesarkannya di dalam keramba.

”Bibit ikan toman biasanya mengelompok sehingga sekali menebar jala ukuran panjang 1 hingga 2 sentimeter, nelayan bisa mendapat 1.000 sampai 2.000 ekor bibit,” ujar Ade yang lembaganya mendampingi warga danau untuk pengorganisasian pencari madu hutan dan nelayan.

Persoalannya, warga mengambil ikan-ikan kecil lain dari danau sebagai pakan toman. Perlahan, terjadi ketidakseimbangan populasi ikan di danau. ”Mulai terasa efeknya. Dulu mereka hanya membutuhkan sepuluh bulan budi daya untuk mendapatkan ikan seberat 1 kilogram, sekarang harus memelihara selama satu tahun agar mencapai berat yang sama. Itu karena pakan ikan dari danau berkurang,” ujarnya.

Dalam pertemuan tahunan warga danau, permasalahan itu telah dibahas. Mereka berharap dibuat balai benih di daerah Danau Sentarum untuk nantinya disebar dan mengimbangi populasi ikan di danau.

”Di Kapuas Hulu ada satu balai benih, tetapi susah diakses lantaran jarak sangat jauh dan mereka merasa tidak mungkin bisa mengakses bibit ikan di sana,” ujar Ade.

Pemecahan lainnya yang diusulkan adalah penggantian jenis ikan di keramba. Ikan toman yang karnivora atau pemangsa ikan kecil dapat diganti dengan ikan pemakan tumbuhan, seperti gurami, betutu, dan bawal. Berkurangnya pengambilan ikan kecil sebagai pakan akan memulihkan populasi ikan danau.

Kalau ikan-ikan tidak sempat lagi besar di danau, bisa jadi kerinan nanti hanya tinggal cerita Jhony Adi ke anak cucunya. (Indira Permanasari)

Sumber: cetak.kompas.com (30 September 2008)
-

Arsip Blog

Recent Posts