Membaca Erau di Festival Sei Mahakam

Jakarta - Sri Wahyuni menatap lamat-lamat seisi ruangan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (6/11/2014) malam. Matanya memperhatikan dengan detil sudut-sudut yang memamerkan budaya dan tradisi Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Senyumnya ramah, ia dihampiri beberapa pengunjung yang mengenalnya. Sambil membalas sapa, ia mengisahkan beberapa gambar di bingkai yang menyajikan beragam upacara tradisional khas Kutai Kartanegara.

“Yang ini Erau, upacara adat tradisional Kutai Kartanegara yang kini hanya dapat dinikmati setahun sekali,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara itu sambil menunjuk beberapa bingkai.

Dengan santai dan tatapan mata yang teduh, ia mulai bertutur soal isi gambar tersebut. “Erau merupakan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang telah dilakukan sejak ratusan tahun lampau dengan tata cara dan ritual yang masih dipelihara hingga kini. Keberadaannya adalah untuk memperkuat kemampuan spiritual Sultan,” ujarnya.

Dahulu, Erau merupakan upacara yang memungkinkan masyarakat merayakannya selama 40 hari 40 malam, berpesta dengan aneka hidangan istimewa tradisi dan diselingi acara hiburan. Beberapa acara besar Kesultanan ditandai dengan adanya Erau.

“Dahulu, Erau bisa dilakukan berkali-kali. Penobatan raja-raja atau pun penyambutan tamu menjadi alasannya. Tapi saat ini, Erau dilakukan untuk menyambung warisan budaya, agar tidak hilang begitu saja. Masih menjadi acara Kesultanan, tapi tidak dilakukan beberapa kali. Tak dipungkiri, upacara seperti itu memakan biaya yang tak sedikit,” katanya lagi.

Saat Erau, sultan diperkenakan pelan-pelan berjalan kaki pada pijakan kain sesuai dengan pukulan gong. Kali ini, Sri menggambarkannya tidak dengan foto melainkan pijakan dan gong asli. Di Bentara Budaya Jakarta, pijakan dan gong yang dipakai untuk upacara Erau turut dipamerkan.

“Ini pijakan dan gongnya, untuk hitungan pukulan gong ada maknanya yang mempengaruhi langkah kaki Sultan,” sambung Sri.

Hingga saat ini, Erau masih identik dengan pesta rakyat, hanya saja perlakuannya tak sesakral dahulu. Erau saat ini sudah dijadikan festival tahunan dan dapat menggandeng beberapa negara. Festival ini bahkan menjadi ikon pariwisata nasional dan telah menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke sana.

Salah satu yang tak juga hilang dari perayaan Erau ini adalah Belimbur, yaitu budaya saling siram. Belimbur selalu menyenangkan bagi banyak masyarakat. “Saling siram itu tradisi yang juga menjadi puncak acara. Masyarakat yang hadir tak boleh protes kalau basah karena siapa pun yang hadir harus basah. Namanya saja saling siram,” tambah Sri sambil memperlihatkan salah satu bingkai yang menggambarkan tradisi ini. Terekam jelas pada gambar, masyarakat saling menyiramkan air sambil menggunakan perahu.

Belimbur memiliki makna yang dalam di sana. walaupun dilakukan dengan suka cita, sebenarnya Belimbur dimaknai sebagai pembersihan diri dari pembersihan diri dari hal-hal buruk. Orang ramai datang ingin ikut basah-basahan dengan maksud menyucikan diri.

“Bercerita tentang warisan budaya di Kutai Kartanegara memang tak cukup semalam, harus datang langsung ke sana untuk melihat keindahan daya tariknya,” pesannya.

-

Arsip Blog

Recent Posts