Menciptakan Perpustakaan sebagai Wisata Baca

Oleh Farizal

Menciptakan pustaka sebagai wisata baca, bagian terpenting di dalam menciptakan manusia berkualitas. Menciptakan pustaka sebagai wisata baca berkaitan dengan minat baca. Bila minat baca rendah maka pustaka sebagai wadahnya akan ditinggalkan, tetapi jika minat baca masyarakat tinggi maka pustaka akan dicari ke mana saja.

Inilah wadah wisata baca yang dijadikan acuan di bawah ini. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian,pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.

Perpustakaan memiliki standar nasional terdiri dari standar koleksi, perpustakaan, standar sarana dan prasarana, standar pelayanan perpustakaan, standar tenaga perpustakaan, standar penyelenggara dan standar pengelolaan.

Perpustakaan bermacam jenis.

Pertama, perpustakaan nasional merupakan lembaga pemerintah non-departemen yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan dan berkedudukan di ibukota. Berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan depositi, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan.

Kedua, perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial ekonomi.

Ketiga, perpustakaan sekolah/madrasah wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib pada satu pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidikan.

Keempat, perpustakaan perguruan tinggi mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Kelima, perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah atau organisasi lain.

Penyelenggaraan perpustakaan berdasarkan kepemilikan terdiri dari atas : perpustakaan pemerintah, perpustakaan provinsi, perpustakaan kabupaten/kota, perpustakaan kecamatan, perpustakaan desa, perpustakaan masyarakat, perpustakaan keluarga dan perpustakaan pribadi.

Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban manusia bisa dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Perpustakaan memang sudah ada sejak zaman purba dengan dibuktikan adanya tulisan atau goresan pada dinding gua, batu ayu dan daun di sekitar mereka tinggal.

Masyarakat tersebut telah mulai merekam pengetahuan untuk disimpan dan disebarluaskan kepada sesama kelompoknya. Kemudian adanya tanda gambar, goresan atau tanda-tanda lainnya merupakan buah pikiran mereka dalam kehi, dupannya.

Dengan cara sederhana menggunakan media daun, batu, tanah, daun dan sebagainya suatu bukti zaman dahulu juga ada perpustakaan walau medianya tidak seperti sekarang ini.

Perpustakaan sekarang ini telah maju dengan dikelola secara profesional dengan berbagai teknologi dalam system pengelolaan rekaman, gagasan, pemikiran, pengalaman dan pengetahuan umat manusia dalam rangka melestarikan hasil budaya umat manusia berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam lainnya, serta menyampaikan gagasan, pemikiran, pengalaman dan pengetahuan umat manusia itu kepada generasi selanjutnya.

Dengan demikian lahirlah manusia yang mempunyai budaya baca dan belajar sepanjang hayat. Perpustakaan bagi manusia bertujuan untuk menciptakan manusia yang cerdas dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang bertujuan pada peningkatan mutu hidup. Dengan demikian perpustakaan menjalankan fungsi utamanya menjadi wahana pembelajaran masyarakat demi mempercepat tercapainya tujuan manusia cerdas.

Diharapkan di masa kini dan yang akan datang perpustakaan di Indonesia menjadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia dan merupakan kebutuhan hidup sehari-hari. Peranan perpustakaan dalam menumbuh kembangkan minat baca dan cinta buku merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Sebab menciptakan manusia cerdas, terampil, dan berkualitas ditentukan oleh membaca. Tanpa membaca tiada berarti apa-apa bagi manusia. Karena itu perpustakaan bagian dari sarana untuk mencerdaskan anak bangsa, baik itu perpustakaan negara, provinsi, kota/ kabupaten, perpustakaan remaja masjid, perpustakaan lembaga swadaya masyarakat individu dan lain-lainnya.

Dengan membaca buku manusia bisa belajar dari buku tersebut. Manusia bisa mencari dan menemukan apa yang belum diketahuinya. Karena itu peran perpustakaan untuk menciptakan manusia cerdas bagian terpenting untuk membentuk sumber daya manusia yang berstandar kompetensi di era global ini.

Bagaimana manusia bisa pintar tanpa membaca, bagaimana manusia bisa tahu tanpa membaca, bagaimana manusia bisa belajar tanpa membaca. Dengan membaca manusia mengerti apa yang dibacanya, setidak-tidaknya tidak buta terhadap perkembangan dunia ini. Membiasakan manusia membaca di mana saja berada, tidak harus pergi ke perpustakaan nasional. Bisa saja membaca di kendaraan dengan tas kita sebagai perpustakaan yang menyimpan bukubuku untuk keperluan kita sendiri.

Di kantor bisa membaca, di taman, di rumah dan di mana saja berada. Sebab perpustakaan yang paling lengkap adalah perpustakaan yang bisa menyediakan kebutuhan diri kita dalam membaca, kapan dan di mana saja berada. Dengan membaca kita dapat menikmati isi buku sebagai media informasi, pengetahuan dan lain sebagainya.

Karena itu menumbuhkembangkan minat baca sangat penting di dalam masyarakat modern yang humanis dan agamis sehingga persoalan-persoalan diri kita, masyarakat dan negara dapat dipahami sebagai konteks perubahan.

Ada pertanyaan dari sahabat saya, bagaimana bisa membaca, sedangkan ekonomi rakyat sekarang ini lagi krisis? Saya jawab, membaca tidak ada hubungannya dengan ekonomi lemah atau ekonomi krisis. Sebab membaca bisa di mana saja, di dapur, di tempat kerja dan di mana-mana saja.

Dan bahan bacaan tidak hanya buku yang luks dengan harga mahal, tetapi membaca robekan koran, makalah bekas dan buku lama pun bisa dimanfaatkan untuk media membaca. Karena itu membaca bisa di manamana dengan media apa saja. Tidak harus setiap hari beli buku, tetapi memanfaatkan bacaan apa saja bisa berguna bagi kita semua.

Karena itu perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang ada di mana-mana, tidak dengan fasilitas mewah dan ber -AC, tidak dengan bukubuku mahal. Tetapi memanfaatkan apa saja yang bisa dibaca sebagai media informasi dan pengetahuan juga bagian dari perpustakaan itu sendiri.

Tak pelak lagi, peranan perpustakaan untuk menumbuhkembangkan minat baca bagi manusia Indonesia merupakan urgensi dalam menghadapi segala tantangan zaman. Dengan membaca kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan dunia ini.

Dengan membaca kita dapat merasakan apa yang seharusnya dirasakan dan diperbuat. Sebab dengan membaca kita dapat memetik apa yang ada dalam buku tersebut. Menumbuhkembangkan minat baca membutuhkan waktu, dana, dan kemauan. Sebab kultur baca kalangan masyarakat Indonesia jauh tertinggal dibandingkan di negeri jiran seperti Malaysia.

Sebagai bukti setiap tahun negeri jiran menerbitkan 70 ribu judul buku. Sedangkan di Indonesia baru mencapai 10 ribu judul buku per tahun lain dengan buku pelajaran. Kondisi ini membuktikan minat baca masyarakat kita tertinggal. Walau demikian kita tidak boleh pesimis, sebab masih berpeluang masyarakat kita tumbuh minat bacanya.

Universitas yang paling lengkap adalah perpustakaan. Ini membuktikan perpustakaan sumber segala sumber ilmu pengetahuan. Di perpustakaan tersedia berbagai jenis buku yang bisa diakses secara cepat dan tepat untuk kebutuhan kita. Karena itu memanfaatkan perpustakaan secara optimal dalam rangka mencerdaskan anak bangsa merupakan keharusan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sebab pendidikan tidak akan berjalan sendiri-sendiri harus dibarengi dengan perpustakaan yang lengkap. Dari situlah ditumbuhkan minat baca dan cinta buku sehingga masyarakat benar-benar membutuhkan buku sebagai bahan bacaan sehari-hari. Tanpa membaca terasa ada kehilangan pada diri sendiri.

Peranan perpustakaan dalam mencerdaskan anak bangsa tidak bisa ditawar- tawar lagi. Dengan membaca masyarakat Indonesia mampu berkembang dan meningkatkan kualitas dirinya. Kultur membaca memang harus ditumbuhkembangkan, di mana saja sebab perpustakaan memang ada dan ada di mana-mana.

Dengan menumbuh kembangkan minat baca ini secara otomatis meningkatkan dunia pendidikan.

Kesimpulan
Mari kita ciptakan pustaka sebagai wisata baca sehingga menumbuh kembangkan minat baca sebagai sarana pengembangan diri dalam rangka aktualisasi diri, mencari jati diri sebagai manusia yang sadar akan dirinya dan sebagai makhluk sosial dan ciptaan Tuhan.

Penulis adalah pendidik. Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel di Media Massa dalam gelar Buku Budaya dan Teknologi, Pesta Buku Sumatera Utara Tahun 2009, Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara).

Sumber: http://www.waspada.co.id
-

Arsip Blog

Recent Posts