Rote, Adakah Jejak Manusia Purba?

Oleh Jublina Tode Solo

Pulau Rote secara umum merupakan daerah batu gamping koral yang membentang atau memanjang dengan orientasi barat-timur. Pulau Rote terletak di sebelah barat daya Pulau Timor dengan dimensi panjang 75 km dan lebar 17 km, membujur di atas geantiklin Timor.

Dibentuk dari perluasan barat daya zona Niki-Niki-Baun pada sisi bagian timur dan dari cekungan tengah Pulau Timor bagian barat. Struktur pembentukan Pulau Rote umumnya terdiri dari batu gamping koral yang berwarna putih sampai kekuningan dan kadang-kadang kemerahan serta batu gamping napalan. Batu gamping koral naik di dalam teras/tingkat-tingkat dari muka laut dan bentukan tertingginya adalah 214 m dekat wilayah Bebalain dan 444 m di wilayah Talae.

Di bagian bawah biasanya menunjukkan perlapisan yang hampir datar atau terungkit sedikit (3º-5º), sedangkan di bagian atas perlapisan tersebut tidak terlihat. Satuan ini membentuk topografi yang agak menonjol berupa bukit memanjang dengan puncak-puncak yang hampir datar. Batu gamping koral terbanyak di wilayah Rote bagian timur, Nusaklain, Busalangga, sampai ke Rote bagian barat.

Struktur batu gamping koral ini memperlihatkan banyaknya gua dan ceruk yang ada di Pulau Rote yang berindikasi suatu tempat yang aman dan nyaman untuk dimanfaatkan sebagai tempat permukiman. Persoalan permukiman manusia purba di gua alam adalah sesuatu yang penting dalam perjalanan sejarah okupasi manusia pada masa prasejarah.

Manusia selalu terus-menerus berupaya penyesuaian diri (adaptasi) dengan lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengolah alam. Manusia yang semula tinggal di padang terbuka untuk memudahkan melakukan perburuan hewan dan meramu tumbuh-tumbuhan (hunter-gatherer) dan tinggal di tepi sungai karena dapat memanfaatkan sumber mata air tawar untuk keperluan makan dan minum dan juga tinggal di tepi pantai.

Kehidupan merambah hutan dilakukan, yakni berburu binatang, seperti stegodon, rusa, dan babi hutan dengan menggunakan batu atau menjerat binatang-binatang tersebut. Setelah mendapatkan, hasil buruan dikerat dengan menggunakan alat batu (stone artifact) yang dipangkas salah satu atau seluruh sisinya.

Berburu dan meramu
Kehidupan masa ini dikenal dengan kehidupan berburu dan meramu. Cara-cara hidup di padang terbuka terbukti di Situs Sangiran (Jawa Tengah). Pada situs ini ditemukan sisa fauna, fosil manusia purba, dan alat batu dalam satu lapisan budaya dan kehidupan di tepi sungai, terbukti antara lain di Situs Pacitan (Jawa Timur), pada tepian Sungai Baksoko ditemukan persebaran alat batu dan daerahnya subur untuk hunian, sedangkan kehidupan di tepi pantai terdapat di Situs Pantai Timur Sumatera Utara, situs ini banyak ditemukan tumpukan sisa kerang yang membukit yang merupakan sampah dapur dari manusia yang mengonsumsi kerang pada masa yang cukup lama.

Ketiga cara hidup manusia purba seperti di atas belum ditemukan pada padang terbuka, tepi sungai, dan tepi pantai yang ada di Kabupaten Rote Ndao. Penelitian awal telah dilakukan, tetapi indikasi temuan tidak mendukung prospek daerah-daerah tersebut digunakan sebagi tempat hunian manusia masa berburu dan meramu.

Proses belajar dan penyesuaian dengan alam terus berlanjut, dan dalam pengembaraan ditemukan gua dan ceruk sebagai hasil bentukan gejala alam. Bentuk gua dan ceruk yang bisa melindungi dari panas, hujan, dan serangan binatang buas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara yang nantinya akan berpindah lagi mencari tempat yang cocok dan alam sekitar yang subur artinya kehidupan berburu dan meramu masih terus dilakoni.

Kehidupan di dalam gua dan ceruk banyak terbukti di Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, gua dan ceruk yang menunjukkan bekas hunian manusia prasejarah telah dilakukan ekskavasi yang berulang kali, yakni pada Situs Gua Oenaek (Camplong, Kabupaten Kupang) dan Situs Liang Bua (Ruteng, Kabupaten Manggarai).

Gua dimanfaatkan sebagai tempat hunian pada masa plestosen akhir sekitar 40.000-15.000 SM hingga masa holosen awal sekitar 15.000-5.000 SM (Cottrell, et.al, 1960). Namun, tidak semua gua dan ceruk digunakan sebagai tempat hunian sebab ada beberapa kriteria mengenai layak tidaknya gua dan ceruk dipilih sebagai tempat tinggal.

Gua haruslah datar, memiliki ruangan yang luas, tidak lembab, pencahayaan matahari yang cukup, dan memiliki sumber daya alam yang subur (sumber mata air, fauna, dan flora).

Gua Mbia Hudale
Dari hasil survei dan ekskavasi menunjukkan beberapa gua berindikasi sebagai tempat permukiman manusia purba. Ekskavasi (penggalian sistematis arkeologi) di Gua Mbia Hudale, Kelurahan Mokdale, Kecamatan Lobalain. Penggalian membuka 3 kotak dengan kedalaman 85 cm dan temuan berupa alat-alat batu (stone artefact) dan moluska yang melimpah serta juga menemukan fragmen tulang dan gigi.

Penggalian di Gua/Lua Bafak, Desa Oematamboli, Kecamatan Lobalain, membuka 1 kotak dan banyak menemukan alat-alat batu, gerabah, dan moluska, sedangkan di Gua/Lua Bote dibuka 2 kotak galian dan menemukan alat-alat batu, moluska, gerabah, fragmen tulang, dan muti dari kerang. Dari hasil temuan ketiga gua/lua yang digali berindikasi sebagai gua hunian manusia purba.

Gua di Pulau Rote yang telah disurvei berjumlah sekitar 30 gua/ceruk dan diharapkan survei permukaan ini dapat dilanjutkan dengan proses penelitian yang lebih sistematis dalam kapasitas waktu yang cukup lama untuk merekam data yang lebih kompleks.

Penelitian bisa dilanjutkan dengan proses ekskavasi atau penggalian sistematis dan penentuan umur yang absolute (dating) untuk menemukan budaya-budaya yang terpendam di dalam tanah selama waktu ribuan hingga jutaan tahun. Menurut hasil penelitian dating yang dilakukan Mahirta (Dosen UGM, Yogyakarta) dalam disertasi Phd "Human Occupation on Roti & Sabu Island, Nusa Tenggara Timur" di Australian National University, Gua/Lua Meko di Kecamatan Rote Barat Daya berumur 24.000 tahun yang lalu dan berasosiasi dengan peralatan batu manusia purba. Pertanyaan sekarang, di manakah fosil manusia purba itu? (perlu penelitian multidisipliner).

Obyek wisata
Pemerintah daerah juga dapat mengembangkan potensi gua sebagai bentukan alam yang unik ini untuk dijadikan obyek wisata alam yang tentunya harus dibarengi dengan penataan alam sekitar yang lebih menarik tanpa merusak lingkungan purba. Bentangan bukit gamping yang memiliki jejeran gua dengan alam yang sejuk membelah jalan raya terletak di Kecamatan Rote Barat laut, Desa Oetutulu, dikenal masyarakat sekitar sebagai jejeran Gua Kaiseu bisa dikembangkan sebagai obyek wisata alam. Diharapkan, keunikan dan keasrian alam itu dapat juga berdampak pada pemberdayaan perekonomian masyarakat lokal.

Sumber: http://travel.kompas.com
-

Arsip Blog

Recent Posts