Ketua MPR Dukung Kongres Kebudayaan Minangkabau

Jakarta - Ketua MPR RI Taufiq Kiemas Dt Basa Batuah meminta berbagai pihak untuk memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Minangkabau. Kegiatan itu rencananya akan diselenggarakan pada 23-24 September 2010 mendatang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).

"Kongres Kebudayaan Minangkabau ini sangat menarik dan strategis. Untuk itu, seluruh pimpinan MPR meminta berbagai pihak untuk memberikan dukungan demi suksesnya penyelenggaraan kongres," kata Taufiq Kiemas, didampingi dua Wakil Ketua MPR masing-masing Ahmad Farhan Hamid dan Hj Melani Leimena Suharli, saat menerima panitia kongres yang dipimpin Ketua Umum Gebu Minang, Mayjen TNI (Purn) Asril Tandjung, di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/8).

Sebagai sumber inspirasi dan soko guru demokrasi di Indonesia, lanjut Taufiq, adalah tepat bagi masyarakat Minangkabau untuk segera menyelenggarakan kongres kebudayaan, sebagai respon terhadap nilai-nilai demokrasi dan nasionalisme yang terus bergerak. "Sejarah mencatat, Minangkabau adalah inspirasi pergerakan kemerdekaan dan demokrasi. Setelah 65 tahun bangsa ini merdeka, maka sudah waktunya bagi masyarakat Minang untuk menyempurnakan nilai-nilai demokrasi dan nasionalismenya kembali," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Taufiq Kiemas pula, jangan sampai acara kongres kebudayaan ini terganggu atau batal, hanya karena hal-hal teknis yang secara substansif tak ada kaitannya dengan tema utama kongres, yakni "Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK, Red).

Di tempat yang sama, Ketua SC Kongres, DR Saafroeddin Bahar, mengakui bahwa saat ini mulai ada gerakan dari beberapa pihak di Sumbar untuk menggagalkan kongres ini. "Namun argumentasi mereka sangat subjektif, karena sebatas mempertanyakan kenapa harus orang rantau yang mengangkat tema ABS-SBK," ujar Saaf - sapaan akrabnya.

Selain itu, Saafroeddin juga mengungkap prasangka lain yang didengung-dengungkan pengkritik kongres, yakni bahwa kongres kebudayaan ini serta-merta akan merubah adat orang Minangkabau. "Padahal, disadari atau tidak, pasca tahun 1958, sesungguhnya kondisi riil orang Minang itu mengalami kemunduran yang sangat luar biasa. Kongres Kebudayaan Minangkabau ini ditujukan sebagai salah satu upaya memperbaiki keadaan," tegasnya.

Soal adanya upaya menggagalkan kongres, juga diungkap oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tandjung, dalam pertemuan dengan pimpinan MPR itu. "Ada memang saudara-saudara kita yang telah menulis surat kepada Mendagri dan Gubernur Sumbar, meminta agar Kongres Kebudayaan Minangkabau digagalkan," katanya.

Sejumlah alasan yang mereka ajukan untuk menggagalkan kongres tersebut, kata Asril, antara lain adalah adanya kecurigaan bahwa kongres pada akhirnya akan membentuk organisasi tanding Lembaga Kerabatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM). "Saya pikir itu satu kecemasan yang tidak punya alasan rasional. Jadi, sulit juga kita menerangkannya, karena secara bersamaan kami belum pernah diberi kesempatan oleh pihak-pihak yang kontra untuk menerangkannya secara langsung," pungkas Asril. (fas/jpnn)

-

Arsip Blog

Recent Posts