Tradisi Mandi Pangir Masih Digemari

Medan, Sumut - Tradisi lama mandi ramuan tradisional biasa disebut pangir yang dilakukan sore pada H-1 menjelang Ramadhan, masih banyak diminati warga Medan dan sekitarnya.

Para pedagang musiman yang menjual bahan tradisional untuk mandi yang sudah menjadi tradisi turun-temurun tersebut bermunculan di berbagai pasar tradisional pada H-1 menjelang Ramadhan.

Menurut Rahma, pedagang pangir di Pusat Pasar Medan, harga pangir yang berisikan daun jeruk, pandan, serei dan beberapa daun lainnya dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per bungkus.

Cara memakainya sederhana dan ringkas, yakni pangir cukup direndam dengan air panas beberapa saat saja, setelah air warna air panas berubah kekuningan dan suhu panasnya mulai turun menjadi hangat maka siap dibasuhkan ke kepala saat mandi sore, ujarnya.

Rahma mengatakan, omset penjualan ramuan pangir yang dikemas terbungkus dengan dedaunan tersebut juga lumayan, yakni sejak dimulai pada H-2 telah mendapat untung hingga Rp250 ribu setelah dihitung biaya keperluan saat berdagang, ujarnya.

Pembuatan ramuan dari daun-daunan tersebut dilakukan sendiri dengan membeli berbagai bahan-bahan yang diperlukan, karena sudah terbiasa dari tahun ke tahun mengumpulkannya tidak sulit.

Neneng salah seorang ibu rumah tangga warga Jaan Brigjen Katamso mengatakan, kebiasaan mandi pangir atau disebut mandi limau bagi sebagian etnik lainnya sudah merupakan kebiasaan turun-temurun yang biasa dilakukan menjelang Ramadhan.

“Rasanya ibadah puasa kurang semarak dimulai tanpa melakukan mandi sore dengan ramuan yang mengeluarkan aroma harum tersebut,” ujarnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts