Terdampar di Kota Agung, Buru Kopi Lampung

Kota Agung – Tiga orang anggota tim ekspedisi Garis Depan Nusantara yang masuk tim Kodal (Komando Pengendali) I terpaksa kembali dan bertahan di Kota Agung. Rencana melakukan survei dan pendataan di kawasan konservasi di Teluk Belimbing, pantai barat Lampung, gagal karena tidak memegang izin masuk.

Selama sehari di Teluk Belimbing, Tim Kodal I hanya dapat memantau kondisi Dusun Pamekahan yang masuk dalam Desa Wayharu, Bangkunat, Lampung Barat. Daerah tersebut belum memperoleh sambungan listrik. Hanya da satu SD (Sekolah Dasar) di dusun tersebut sementara SMP dan SMA di Bangkunat. Sementara usaha masuk ke kawasan konservasi tidak bisa ditembus.

"Semua tempat, dari laut, hutan, diproteksi. Bahkan masyarakat setempat yang datang dan keluar harus lapor. Tempat tersebut dijaga keamanan 24 jam," ujar Jimmy Sisca, Koordinator Tim Kodal I, dengan nada kecewa saat dihubungi lewat telepon seluler. Alhasil, Jimmy dan kawan-kawan hanya bisa melihat dari luar kawasan saja.

Menurut salah satu petugas keamanan yang ditemui Jimmy dan kawan-kawan, kawasan tersebut memang tengah dikembangkan menjadi kawasan konservasi khusus hasil kerja sama Pemda Lampung Barat dan pengelola TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) dengan PT Adiniaga Kreasinusa, milik pengusaha Jakarta. Bahkan di kawasan hutan Teluk Belimbing akan dijadikan lahan penangkaran harimau Sumatera.

Daerah tersebut telah disulap menjadi kawasan privat dan dijaga ketat sehingga penduduk tidak bisa begitu saja keluar masuk. Tim ekspedisi juga tak diibolehkan kecuali membawa surat izin dari kantor pusat perusahaan di Jakarta.

Karena belum ada kejelasan, Jimmy dan kawan-kawan memilih kembali ke Kota Agung. Mereka berangkat dengan kapal motor komersial jurusan Teluk Semangka-Kota Agung, Rabu (21/5) pagi. Kberuntung mereka dapat segera berangkat karena kapal komersial ke Kota Agung hanya berangkat sekali seminggu dan menunggu angkutan penuh.

"Kapal dari Belimbing kebanyakan ngirim kopi dan beras ke Kota Agung. Penuhnya sama barang bukan penumpang,” ujar Jimmy. Ongkos penumpang Rp35.000 per orang, sedangkan barang Rp2000 untuk ongkos angkut per karung dan Rp5000 untuk ongkos kapal per karung.

Ya, tentu saja, Lampung memang sentra perkebunan kopi. Sambil menunggu instruksi dari Bandung, Jimmy dan kawan-kawan kini mengisi waktu berburu kopi Lampung terbaik. Jangan lupa cari kopi luwak yang asli dong!

Sumber: www.kompas.co.id (21 Mei 2008)
-

Arsip Blog

Recent Posts